
Keesokan Harinya...
Matahari tampak masih malu-malu dan belum seutuhnya menampakkan cahayanya, saat seorang wanita baru saja selesai dirias oleh seorang MUA. Wanita itu tampak telah berdandan begitu cantik, dengan mengenakan kebaya berpayet sederhana yang melekat pada tubuh indahnya. Rambutnya pun tertata rapi dengan tatanan sanggul modern disertai sebuah mahkota minimalis di puncak kepalanya. Meskipun saat ini dia hanya bisa duduk di atas brankar yang ada di ruang perawatan rumah sakit, tak menyurutkan rasa bahagia di dalam hatinya.
CEKLEK
Pintu kamar perawatan itu pun terbuka, seorang wanita paruh baya, dan sepasang pasangan suami istri yang masih muda tampak memasuki kamar perawatan tersebut.
"Mama, Arka, Kayla," ucap Luna sambil menyunggingkan senyumnya. Rahma kemudian memeluk Luna. "Selamat Luna, akhirnya kau menikah dengan Devano."
"Terima kasih, Ma."
Saat masih asyik bercengkrama dengan keluarganya, tiba-tiba Devano dan kedua orang tuanya pun datang. Melihat Luna yang sudah berdandan begitu cantik, Devano kemudian mendekat ke arah Luna, dan membelai wajahnya.
"Luna, kau cantik sekali," ucap Devano. Luna hanya tersenyum, sambil tersipu malu akan sikap Devano, karena di ruang itu ada keluarga inti dari kedua pengantin dan penghulu yang akan menikahkan mereka.
"Sabar Devano!" teriak Viona.
"Kita mulai sekarang?" tanya penghulu tersebut.
"Ya, kita mulai sekarang, Pak!" ucap Devano bersemangat. Acara ijab qabul pun dimulai, Devano mengucapkan ijab qabul dengan begitu lancar dalam sekali tarikan nafas. "Bagaimana saksi?"tanya penghulu.
"SAHHHH," jawab beberapa orang yang ada di ruangan tersebut bersama-sama. Devano dan Luna kemudian saling bertatapan sambil tersenyum. Sedangkan Viona menatap mereka dengan begitu sinis. 'Dasar wanita jallang! Jangan merasa kau sudah menang, Luna. Lihat saja, tidak akan kubiarkan pernikahan ini berjalan lama! Devano harus menceraikanmu secepatnya karena aku tidak sudi memiliki menantu miskin sepertimu. Hanya satu wanita yang berhak menjadi menantuku, yaitu Sachi!' batin Viona.
Beberapa saat kemudian, Viona dan Roni pun berpamitan. "Kami pulang dulu," ujar Roni pada Devano dan Luna.
"Iya," jawab mereka bersamaan. Viona lalu mendekat ke arah Luna, kemudian memeluknya sambil mencium pipinya. "Jangan pikir kau menang, dasar wanita jallang! Bersiaplah menghadapi kejutan dariku, karena kalian tidak akan kubiarkan hidup bahagia! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi memiliki menantu seperti dirimu! Tidak ada tempat bagi dirimu di keluarga kami!" bisik Viona yang membuat wajah Luna seketika pucat pasi.
__ADS_1
Viona lalu melepaskan pelukannya. "Jaga kandunganmu baik-baik Luna," ucap Viona, berpura-pura baik di hadapan semua orang, terutama di depan Devano agar dia tidak curiga.
Viona dan Roni kemudian keluar dari ruang perawatan itu tanpa berpamitan sama sekali dengan keluarga Luna. Devano yang melihat tingkah kedua orang tuanya, hanya bisa berdecak sebal.
"Mama, Arka, Kayla. Maafkan sikap kedua orang tuaku," ucap Devano.
"Tidak apa-apa, Devano," jawab Rahma menutupi rasa sedihnya. Apalagi, saat melihat Luna. Raut kesedihan begitu tergambar di wajahnya, meskipun sejak tadi dia menutupi raut sedih itu dengan senyuman di bibirnya.
'Maafkan aku Luna, jika saja dulu aku memilih untuk mengembalikanmu pada keluargamu, tentu kau tidak akan mengalami nasib seperti ini, disepelekan oleh keluarga Devano. Aku tahu, kau sebenarnya pasti dari kalangan berada. Saat aku menemukanmu saja, semua yang kau kenakan bukanlah barang-barang bayi murahan seperti yang kukenakan pada putri kandungku,' batin Rahma.
***
Satu Minggu Kemudian.
Rahma tampak sedang membereskan pakaian milik Luna di ruang perawatannya, hari ini Luna memang sudah diijinkan pulang. Pulang ke rumah barunya dengan Devano, dan memulai kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Setelah mengemasi barang-barang milik Luna, Rahma kemudian mendekat pada Luna lalu memeluknya. "Baik-baik, Sayang. Semoga kau bahagia hidup dengan suamimu."
"Kenapa kau harus berkata seperti itu, Luna? Mama memang awalnya kecewa padamu saat mama tahu selama ini ternyata kau sering membohongi mama, tapi setelah tahu yang sebenarnya kau melakukan semua itu untuk mempertahankan pekerjaanmu dan membayar hutang-hutang Arka, Mama bisa apa? Mama yang seharusnya minta maaf karena kau pasti beberapa bulan ini merasa sangat tertekan akan semua keadaan ini. Tertekan oleh sikap adikmu, sikap orang tua Devano, dan hubunganmu dengan Devano yang tak mudah, lalu kau juga harus menanggung kehamilan ini. Seharusnya Mama yang minta maaf. Maafkan Mama, Nak."
"Tidak apa-apa, Ma."
"Untuk saat ini, yang terpenting Devano sudah mau bertanggung jawab atas kehamilanmu, menjadi suami yang bertanggung jawab dan ayah yang baik bagi anak yang ada di dalam kandunganmu, itu sudah cukup bagi Mama."
'Mama, andai saja kau tau, pernikahan ini mungkin juga sebenarnya tidak mudah bagiku. Pernikahan ini berdiri di atas sebuah ancaman dan berjalan bersamaan dengan perjodohan yang masih membelenggu Devano. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya padamu Ma,' batin Luna.
"Kau kenapa Luna? Apa kau memikirkan sikap orang tua Devano? Sebaiknya kau tidak usah memikirkan dia lagi! Devano sangat mencintaimu, pasti dia bisa melindungimu dan mempertahankanmu, Nak."
__ADS_1
Luna pun menganggukan kepalanya. "Iya Ma."
"Luna, Mama masih ingat saat kau ada di dalam kandungan Mama, kau bayi yang tenang dan tidak pernah merepotkan, sangat berbeda dengan adikmu, dan entah kebetulan semata atau sebuah pertanda jika saat kalian dewasa menjadi sosok yang berbeda."
"Sudah Ma, jangan diungkit bukankah setiap anak itu berbeda-beda, memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing."
'Mama, kenapa kau harus mengatakan semua ini? Kenapa kau harus berpura-pura padaku, Ma? Aku tahu, aku bukanlah anak kandungmu, dan bayi yang kau kandung, itu bukanlah aku," batin Luna.
"Emh.., iya Luna."
TOK TOK TOK
"Luna apa kau sudah siap? Ayo kita pulang sekarang?" ujar Devano yang kini berdiri di ambang pintu.
"Sudah," jawab Luna.
"Aku pulang dulu, Ma."
"Iya Luna," jawab Rahma. Dia kemudian keluar dari ruang perawatan Luna. Setelah Rahma pulang, Devano lalu menuntun tangan Luna keluar dari rumah sakit dan berjalan ke arah mobilnya. Luna lalu melirik Devano sambil tersenyum saat menggengam erat tangannya.
"Nengggg jangan liatin terus, nanti tambah jatuh cinta sama Abang..."
"Devanooo!"
"Hahahahaha..."
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah komplek perumahan mewah yang tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Namun, baru saja mereka turun dari mobil, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua. "Halooo Luna, haiiii Devano, ternyata kalian tetangga baruku? Aku sangat bahagia bisa bertetangga dengan kalian berdua!" sapa sebuah suara seorang wanita.
'Astaga, dia lagi! Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi? Bahkan menjadi tetangga kami?' batin Devano sambil menelan ludahnya dengan kasar.