Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Selamat Pagi


__ADS_3

"Devanooo!" teriak Luna saat Devano melepaskan ciumannya.


"Apa? Memangnya ada yang salah? Jangan berisik, Sayang! Mau alasan apa lagi? Kau berbohong padaku kan? Aku rindu, begitu pula Joni."


"Tapi Devano, aku lelah. Bukankah kau tahu tadi pekerjaanku di kantor banyak sekali," gerutu Luna.


"Aku tahu, Luna. Pekerjaanmu yang banyak tadi di kantor pasti membuatmu merasa stres kan?"


"Tentu saja aku sangat stres, lelah dan aku ingin ististirahat sekarang juga, Devano!"


"Tidak Luna, obat stres bukan istirahat."


"Bukan istirahat? Lalu apa?"


"Gelli-geliaan."


"Gelli-geliaan? Kau jangan becanda."


"Luna, sebuah studi menyebutkan, berpelukan dan berciuman bisa membuat seseorang merasa senang dan mengurangi rasa stres. Ini karena ketika berpelukan, tubuh akan melepaskan hormon oksitosin, hormon dopamin, dan hormon serotonin yang bisa meningkatkan suasana hati dan memberikan kebahagiaan sehingga menghilangkan rasa stres itu sendiri. Apa kau mengerti?"


"Maha benar Devanoooo.."


"Memang, jadi sekarang peluk aku. Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau sedang stres?"


"Astaga... "


"Come on Luna!" ucap Devano sambil memonyongkan bibirnya.


"Dasar messum!"


"Tapi Neng Luna suka," kekeh Devano. Luna kemudian memeluk Devano, merasakan hangatnya dan aroma maskulin Devano dari tubuh Devano membuat hatinya mulai bergejolak.


"Messum," bisik Luna di telinga Devano saat masih memeluknya. Mendengar bisikkan manja di telinganya, Devano kemudian melepaskan pelukannya. Dia lalu merengkuh wajah Luna sambil membelai wajah cantik itu, dan mulai mengecupnya di pada setiap inchi bagian wajahnya.


"I love you."


"Bukankah just se*** no love?"


"Sudah kukubur, dan selamanya akan seperti itu. Just Luna, Luna my love. Jadi tolong jangan pernah kecewakan aku, aku telah membuang masa laluku karenamu. Dan tolong jangan buat aku kembali pada masa kelam itu, kau mau kan sayang? Always with me."


"Sure, i will beside you. Kau juga Devano, jangan pernah kecewakan aku," pinta Luna dengan tatapan mengiba.


"Never, and always only you."


Devano kemudian mulai mengecup bibir Luna dengan lembut, lalu dibalas oleh Luna.


"I will marry you."


"Thanks, i'm yours."


Devano kemudian menganggukan kepalanya lalu merengkuh wajah cantik itu kembali dan melu*mat bibirnya.


"Devano!"


"Kenapa?"


"Kaget."


"I love you, honey," bisik Devano.


Belum sempat Luna membalas perkataannya, Devano sudah melu*mat habis bibirnya kembali.

__ADS_1


'Joni, enjoy this night,' batin Devano.


"Devanooo!" teriak Luna.


"Kenapa sayang? Gelli-gellian enak kan?"


Luna hanya tersenyum getir.


"Jadi kau sudah merindukan Joni?"


"Di saat seperti ini kau masih bisa berkata seperti itu?"


"Karena Joni juga sudah merindukan si cubby yang berponi."


"Kau pikir aku Dora?"


"Mirip."


"Devanoooo!"


"Baik-baik sayang, sekarang serius. Mau Joni kan?"


"Devano...."


"Oke baby, and just for you," bisik Devano. Dia kemudian tersenyum, lalu memasukkan Joni ke dalam lia*g hangat milik Luna.


"I love you, Luna!" ucap Devano, hingga sebuah leng*uhan panjang keluar dari bibir keduanya. Devano kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Luna.


"I love you, aku tidak akan meninggalkanmu Luna."


"I know."


Devano kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping Luna, lalu menarik tubuh Luna ke dalam dekapannya dan mengecup bahu dan tengkuknya.


"Devano."


"Apa?"


"Bagaimana dengan pertunanganmu dengan Shakila?"


"Bukankah sudah kukatakan, aku akan membatalkan pertunangan itu. Sebentar Luna."


Devano kemudian bangkit dari atas ranjang, lalu mengambil ponselnya, dan mengutak-atik ponsel itu.


"Lihat ini. Aku sudah mengirimkan pesan pada Oma Fitri kalau aku akan membatalkan pertunangan tersebut."


Luna pun tersenyum. "Terima kasih, terima kasih sudah memilihku."


"Tentu karena Joni juga sudah memilihmu."


"Devanooo!!"


PLAKKK


***


Wajah Viona terlihat memerah saat baru saja melihat pesan di ponselnya.


"DEVANO BENAR-BENAR KURANG AJAR! BERANI-BERANINYA DIA MENGATAKAN DENGAN BLAK-BLAKAN PADA OMA FITRI UNTUK MEMBATALKAN PERTUNANGANNYA DENGAN SHAKILA! MAU DITARUH DIMANA MUKAKU? DEVANO MEMANG BENAR-BENAR MEMALUKAN! PASTI GADIS ITU! PASTI KARENA GADIS TERKUTUK ITU!" teriak Viona.


Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa sambil memijit keningnya. "Ini tidak bisa dibiarkan, ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Aku harus cepat bertindak sebelum mereka semakin sulit untuk dipisahkan. Aku harus berbuat sesuatu agar Devano membenci gadis miskin itu!"

__ADS_1


"Ahhhh, just se*** no love. Aku harus mengembalikan slogan Devano itu lagi agar bisa memisahkan dia dengan gadis itu. Tapi, apa yang harus kulakukan?" gerutu Viona.


Dia kemudian mengutak-atik ponselnya, hingga tanpa sengaja, dia menemukan sesuatu yang membuat matanya terbelalak dan membuat senyuman penuh seringai menghiasi bibirnya.


"Hahhahhahaa... Hahhaha, akhirnya aku menemukan ide untuk memisahkan kalian berdua. Dan, selamat datang kembali Devano. Selamat datang kembali dengan sloganmu yang menjijikan itu, just sexxx no love! Setidaknya itu jauh lebih baik daripada kau harus menikah dengan gadis miskin, itu. Cuihhh... "


***


Devano membuka matanya dan melihat wanita cantik yang ada di hadapannya masih terlelap.


'Tumben dia belum bangun,' batin Devano. Dia kemudian membelai wajah Luna. Namun, baru saja Devano menempelkan tangannya. Dia begitu terkejut karena tubuh Luna yang terasa begitu hangat.


"Astaga, dia demam," batin Devano.


"Sayang, sayang...."


Perlahan, Luna pun membuka matanya. Dia kemudian tersenyum saat melihat Devano yang ada di depan wajahnya.


"Messummku, kau sudah bangun?" ujar Luna.


"Luna ini bukan saatnya becanda."


"Memangnya kenapa?"


"Luna, suhu tubuhmu sangat tinggi. Kau demam Luna, jadi jangan becanda seperti itu," gerutu Devano.


"Memangnya kenapa kalau aku demam? Demam itu penyakit biasa, Devano. Kalau aku sudah minum obat juga sembuh."


"Lunaaa, maafkan aku. Maaf tadi malam aku memaksamu, maaf aku tidak menyadari kalau kau kelelahan dan memaksakan egoku untuk bermesraan denganku. Maafkan aku, Sayang."


"Tidak apa-apa Devano, nanti kalau aku sudah minum obat juga sembuh."


"Aku akan menemanimu, aku akan menemanimu disini."


"Tidak Devano! Kau ada meeting pagi ini, kau harus berangkat ke kantor."


"Tapi nanti kau sendirian, Luna."


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Aku cuma demam biasa Devano. Nanti kalau sudah minum obat juga sembuh. Tolong kau berangkat saja ke kantor. Jangan mengorbankan pekerjaanmu hanya untukku, lagipula kau bisa pulang setelah meeting selesai kan?"


Devano pun tampak cemberut. "Devano, please!"


"Baiklah aku berangkat ke kantor. Kau istirahat saja di sini, nanti kupesankan makanan untuk sarapan dan jangan lupa minum obat!"


"Ya," jawab Luna sambil mengangukkan kepalanya.


"Sekarang cepat ke kantor. Ini sudah siang, cepat pergi lalu pulang dan temani aku."


"Baik sayang, aku mandi dulu."


Luna pun menganggukan kepalanya. Sementara itu Devano tampak masuk ke kamar mandi kemudian bersiap pergi ke kantor.


"Aku pergi dulu, Sayang," ujar Devano sambil mengecup kening Luna.


"Iya, hati-hati."


Devano kemudian keluar dari apartemennya, menuju ke kantornya. Sedangkan Luna, kini tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang kembali. Tiba-tiba, suara bel pun berbunyi.


TETTTTT TETTTTT


"Mungkin itu makanan yang dipesan Devano untukku," ujar Luna. Dia kemudian bangkit dari atas ranjang lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu apartemen tersebut.

__ADS_1


CEKLEK


"Selamat pagi, Luna."


__ADS_2