Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Setangkai Mawar


__ADS_3

"Tentu saja pasti sangat mengesankan bagimu kan, Sayang?"


"Iya Devano, tapi kenapa saat kau menciumku aku merasa aroma tubuhmu berbeda dengan saat ini?"


"Oh kalo itu mungkin tadi ada setan lewat."


"Apa? Setan lewat?"


"Iya Dea, kau kan tahu kalau ada dua orang yang sedang bermesraan, orang ketiganya pasti setan."


"Oh iya aku bener juga, Devano."


"Mungkin setan itu iri pada hubungan kita berdua karena tidak pernah bisa bermesraan seperti kita, mereka pasti juga sangat iri melihat kita sebagai pasangan yang paling cocok sejagay, tidak ada yang bisa menandingi kekerenan kita Dea."


"Oh tentu saja, Devano."


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu, honey, baby sweety."


"Iya sayang, hati-hati di jalan."


"Iya," jawab Devano. Dia kemudian meninggalkan Dea keluar dari kantor kepolisian itu sambil mengumpat kesal. "Dasar wanita brengssek! Berani sekali kau bermain-main denganku! Kau mau mengadu domba keluargaku dan keluarga Luna? Jangan pernah bermimpi mimi peri karena kau seharusnya hidup di alammu sebagai bidadari empang yang tinggal di khayangan alam baka!" ujar Devano.


Dia kemudian mengambil ponselnya lalu melihat ponsel itu. "Dea, memangnya hanya kau saja yang bisa merekam percakapan? Aku pun bisa dan aku sudah merekam percakapan diantara kita," kekeh Devano. Dia kemudian meninggalkan kantor polisi tersebut mengendarai mobilnya menuju ke sebuah rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Devano lalu bergegas pergi ke ruangan Fitri. Namun, saat Devano masuk ke dalam ruangan itu, Fitri tidak ada di dalam ruangan tersebut. Dia kemudian berjalan menuju ke ruang perawat jaga untuk menanyakan keberadaan Fitri.


"Permisi suster, apa anda tahu dimana Nyonya Fitri?" tanya Devano.


"Oh iya, Nyonya Fitri dia tadi meminta salah seorang perawat kami untuk mengantarnya ke sebuah ruangan."


"Ke sebuah ruangan? ruangan siapa, Suster?"


"Maaf Tuan, kami juga tidak tahu."


Devano pun tampak mengernyitkan keningnya. "Memangnya Oma Fitri pergi kemana? Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Oma Fitri? Bukankah saat ini kondisinya belum sehat?" ujar Devano.


"Suster, bolehkah saya tahu kemana arah mereka pergi?" tanya Devano kembali. Mereka kemudian menunjuk ke sebuah koridor yang arahnya menuju ke ruangan milik Rahma.


"Astaga apakah ini artinya Oma Fitri pergi ke ruang perawatan Mama Rahma?" ujar Devano. Dia kemudian bergegas berjalan ke arah ruangan Rahma. Saat baru saja dia tiba di ruangan itu, tampak seorang perawat berdiri di depan ruangan tersebut.


"Kenapa anda berdiri di depan sini, Suster?" tanya Devano.

__ADS_1


"Oh saya sedang menunggu Nyonya Fitri, saat ini dia sedang berada di dalam. Dia mengatakan kalau dia ingin bicara pada Nyonya Rahma."


Jantung Devano pun seakan berhenti berdetak. "Jadi benar apa yang kupikirkan? Oma Fitri pasti sedang menemui Mama Rahma?" ujar Devano. Dia kemudian menunggu Fitri keluar dari ruangan itu.


Beberapa saat kemudian, suster yang menunggu Fitri masuk ke dalam ruangan Rahma, dan mendorong Fitri keluar dari ruangan ruangan itu. Melihat Fitri yang keluar dari ruangan itu, Devano kemudian bergegas mengikuti mereka yang berjalan ke arah ruangannya.


Setelah Fitri merebahkan tubuhnya di atas brankar, Devano lalu masuk ke dalam ruangan itu. "Oma Fitri!" panggil Devano.


Melihat Devano yang datang ke dalam ruangannya, Fitri lalu menatapnya dengan tatapan tajam. "Mau apa kau kesini, Devano? Aku sudah sangat muak denganmu dan Viona!"


"Oma Fitri, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Ini benar-benar sebuah kesalahpahaman."


"Kesalahpahaman? Apa maksudmu?"


"Oma, tolong dengarkan aku. Ini semua adalah ulah dari Dea, Oma. Dia yang sudah memfitnah Mama. Sungguh kami tidak punya niatan sama sekali untuk menguasai harta milik Oma. Bukankah Oma juga tahu aku sangat mencintai Luna? Bahkan sebelum aku tahu kalau Luna adalah Sachi, aku sudah sangat mencintainya, Oma."


"Iya itu kau Devano, tapi tidak dengan mamamu Viona!"


"Oma semua ini hanyalah rekayasa dari Dea, sungguh kami tidak memiliki niatan seperti itu."


"Kau jangan mengada-ada, Devano. Aku sudah mendengar rekaman perkataan Viona yang mengatakan kalau dia ingin menguasai hartaku!"


"Aku tidak percaya padamu, karena aku sudah mendengar sendiri rekaman itu."


"Oma, rekaman itu adalah sebuah rekaman rekayasa."


"Apa maksudmu Devano?"


"Iya Oma, Dea telah merekayasa rekaman suara itu. Dia sudah mengedit rekaman suara itu."


"Kau jangan berbohong, Devano!"


"Aku tidak sedang berbohong, Oma. Kalau Oma tidak percaya, coba dengarkan rekaman suara ini," ucap Devano sambil memperdengarkan sebuah rekaman suara percakapan antara dirinya dan Dea, beberapa saat yang lalu.


Saat mendengar rekaman suara itu, seketika emosi Fitri pun memuncak. "BRENGSEK! Jadi dia telah membohongiku?"


"Iya Oma, dia sudah membohongi Oma."


"Aku harus memberi pelajaran pada wanita kurang ajar itu."


"Oma sebaiknya Oma tenangkan diri Oma terlebih dulu, saat ini Oma masih sakit."

__ADS_1


"Tapi aku sudah tidak sabar bertemu dengan wanita sialan itu."


"Oma, sabar. Jangan bertidak gegabah. Kalau Oma bertindak gegabah, Dea bisa berbuat hal yang tidak-tidak, dia sangat nekat Oma."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kita ikuti saja permainan dariku, Oma."


"Permainan darimu?"


"Iya Oma."


"Baiklah, kali ini aku percaya padamu, Devano."


"Tentu Oma harus percaya padaku, karena aku sangat sprektakuler dan mempesona."


"Astaga..."


"Emh Oma, tadi Oma ke ruangan Mama Rahma?"


"Darimana kau tahu?"


"Semua CCTV rumah sakit ini terhubung ke ponselku, Oma."


"Benarkah?"


"Iya, memangnya apa yang Oma lakukan di ruangan Mama Rahma?"


"Tidak apa-apa, hanya ingin bertemu saja."


"Benarkah?"


"I-iya," jawab Fitri gugup.


'Pasti ada yang sedang disembunyikan,' batin Devano.


****


Pagi harinya saat Dea terbangun, betapa terkejutnya dirinya saat melihat satangkai bunga dan cokelat yang ada di depan jeruji besi. Dea kemudian mengambil bunga dan cokelat itu, wajahnya kini pun tampak begitu merona. Apalagi setelah melihat ucapan di atas mawar itu.


"Pasti Devano yang memberikan ini padaku."

__ADS_1


__ADS_2