
Setelah selesai mandi, Luna keluar dari kamar Devano dan masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, dia sudah tampak rapi dengan mengenakan kemeja warna biru muda dan celana skiny jins warna biru donker. Dia lalu duduk di depan meja rias di dalam kamar itu. Saat sedang membuka handuk di atas kepalanya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
CEKLEK
Luna menyunggingkan senyum tipisnya saat melihat Devano yang masuk ke dalam kamar itu, hanya dengan menggunakan celana boxer. Tubuh seksi dan perut six pack nya yang terbuka begitu saja, membuat Luna menelan salivanya dengan kasar saat mendekat ke arahnya.
"Mau kubantu?" tanya Devano.
"Kau mau bantu apa, Devano?"
"Seperti biasa," jawab Devano. Dia kemudian mengambil hair dryer yang ada di atas meja rias itu, lalu mengeringkan rambut Luna. Luna pun tersenyum melihat Devano yang kini tampak dengan lincah memainkan hair dryer di rambutnya sambil menatap lekat wajah tampan Devano.
'Laki-laki ini, laki-laki yang dulu sangat menjijikan bagiku. Bahkan awal pertemuan kami, membuatku merasa trauma saat bertemu dengannya. Ciuman pertama kami di ruang kerjanya, bahkan masih begitu membekas dalam ingatanku. Dia begitu nakal dan messum, bahkan tak ragu tiba-tiba menciumku begitu saja padahal kami baru pertama kali bertemu, bahkan baru mengenal. Sekarang sikapnya bahkan begitu manis, sangat manis hingga aku tak bisa hidup tanpanya. Kau telah membawa separuh hatiku, Devano,' batin Luna sambil terus menatap Devano.
"Kenapa kau terus menatapku? Bukankan aku sangat menawan? Sangat tampan kan, Luna?"
Luna tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Melihat anggukan kepala Luna, Devano kemudian menurunkan wajahnya, tepat di samping wajah Luna, dan pipi keduanya saling menempel. Tangan Devano kemudian menarik tubuh Luna agar menghadap ke arahnya, lalu mulai menatap wajah cantik itu, membelainya dari ujung kepala kemudian berhenti di bibir Luna, dan melummat kembali bibir merah itu dengan begitu rakus.
Luna yang kaget tiba-tiba Devano mellumat bibirnya kembali, hanya bisa pasrah dan sedikit kesulitan mengimbangi ciuman Devano yang sangat bergairah memainkan dan melilitkan lidahnya di dalam mulut Luna, bahkan juga beberapa kali menggigit bibir itu karena merasa begitu gemas.
"Ahhh Devano..."
"Ssshhhiiitttt! Kau mendessahh lagi Luna! Joni sedang sangat sulit dikendalikan!" ujar Devano. Dia kemudian tampak membuka kancing atas kemeja Luna, lalu memainkan lidahnya di bahu Luna, dan meninggalkan tanda merah di bahu itu.
"Tidak Devano! Aku harus pulang!"
"Sebentar saja!"
"Tidak! Aku harus pulang sekarang atau aku tidak akan menikah denganmu!"
"Astaga, baiklah!" ujar Devano. Dia kemudian menghentikan sapuan lidahnya di leher dan dada Luna.
Nafas keduanya, kini sudah terdengar menderu. Devano kemudian menempelkan wajahnya pada wajah Luna, sedangkan Luna menautkan kembali kancing kemejanya.
"Jangan pergi terlalu lama, Luna. Aku tak sanggup lagi jauh darimu! Dan tolong jangan kecewakan aku."
Luna kemudian menganggukan kepalanya, lalu memeluk tubuh Devano. "Aku akan menemuimu secepatnya, tunggu aku."
"Iya Luna."
__ADS_1
"Apa perlu kuantar?" tanya Devano.
"Tidak usah," jawab Luna sambil memegang wajah Devano.
"Kenapa?"
"Sebaiknya kau pergi saja ke kantor sekarang, dan selesaikan pekerjaanmu. Bukankah kau banyak urusan? Sebelum kita pergi kau harus menyelesaikan semua urusanmu Devano! Selesaikan dulu urusanmu di kantor, setelah itu kita akan pergi untuk sementara, meninggalkan semua orang terdekat kita. Seperti itu kan?
"Iya Luna sayang, kau benar."
"Aku pergi dulu ya."
Devano kemudian mengecup kening dan bibir Luna, seraya tersenyum padanya.
"Hati-hati, Sayang."
Luna kemudian menganggukan kepalanya, dan keluar dari apartemen itu lalu menaiki sebuah taksi menuju ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di sebuah rumah sederhana dengan halaman kecil yang dipenuhi dengan berbagai bunga di depannya. Luna kemudian bergegas turun dari taksi tersebut dan masuk ke dalam rumahnya.
CEKLEK
Setelah pintu rumah itu terbuka, tampak Rahma sedang menyiapkan makan siang di atas meja makan. Luna kemudian menatap wajah wanita paruh baya itu sejenak dan merasakan sebuah rasa sesak di dada. Wanita yang selama ini begitu dia sayangi dan hormati, ternyata bukanlah ibu kandungnya. Ya, wanita yang telah merawat dirinya sejak dulu hingga saat ini dia dewasa, ternyata bukan orang tua kandungnya.
Dengan menegarkan hatinya, perlahan Luna pun mendekat ke arah Rahma sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Mama!" panggil Luna. Rahma yang sedang menyiapkan makanan diatas meja mendengar panggilan Luna kemudian mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah Luna.
"Luna kau sudah pulang?"
"Iya Ma. Emhhh..., Mama Bolehkah aku izin untuk pergi beberapa hari?" Luna pun tampak ragu saat harus berdusta pada Rahma.
"Kau mau ke mana, Sayang?"
"Ada urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan Ma."
"Oh baiklah Luna, Sayang. Semoga pekerjaanmu berjalan lancar agar kau bisa cepat pulang, Nak."
Sejenak ada rasa bersalah dalam diri Luna saat dia membohongi Rahma. "Iya Ma. Emh Mama, sebenaranya aku pulang untuk mengambil barang-barangku Ma."
"Oh kalau begitu, Mama bantu berkemas ya."
__ADS_1
"Iya Ma terima kasih banyak."
Setelah mengemasi barang-barangnya Luna berpamitan pada Rahma. "Aku pergi dulu, Ma."
"Iya Luna hati-hati di jalan." Luna pun menganggukkan kepalanya, dia kemudian memeluk Rahma dengan begitu erat. Sebuah pelukan erat yang jarang dia lakukan dari biasanya, rasanya sungguh berbeda saat merasakan pelukan itu. Sebuah pelukan hangat dari wanita yang selama ini dia pikir ibu kandungnya.
Rasanya terasa sesak dan sakit, hingga tanpa Luna sadari, air mata pun menetes dari sudut matanya. Beberapa saat kemudian, Luna melepaskan pelukannya setelah menyeka air mata di wajahnya. Melihat sisa air mata di wajah Luna, Rahma pun mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau menangis Luna? tanya Rahma.
"Oh, emh tidak apa-apa, Ma. Aku hanya merasa berat berpisah dengan Mama," jawab Luna.
"Luna, bukankah ini hanya sebentar saja? Setelah kau selesai mengerjakan pekerjaanmu, kau bisa pulang kerumah dan kita bisa berkumpul kembali kan?"
"Iya Ma setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku akan pulang ke rumah secepatnya."
"Iya Luna, semangat sayang."
Luna menganggukan kepalanya. "Aku pergi sekarang, Ma."
Rahma kemudian menganggukan kepalanya, setelah itu Luna tampak berjalan keluar dari rumah itu lalu masuk ke dalam taksi. Dia berniat pergi ke kantor Kenzo untuk mengajukan surat pengunduran diri. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Pak Kenzo," ucap Luna saat melihat sebuah nama di layar ponselnya.
NOTE:
Hai gaes, othor punya rekomemdasi novel yang keren abis nih, punya Kak Nona Ree, judulnya Hello Ex, I'm Coming.
Blurb :
Sebuah rencana besar yang tidak sengaja di dengarnya, membawanya kembali ke negara asalnya.
Demi sang mantan yang dia tinggalkan dulu.
Dia bahkan harus merahasiakan identitasnya, agar semua rencananya berjalan lancar.
Bisakah dia menyelesaikan misinya dan kembali ke kehidupannya normalnya?
__ADS_1
Atau malah terjebak dalam skenario yang dia ciptakan?