
Dimas tampak tersenyum pada beberapa tamu undangan yang pamit dari rumahnya. "Dimas! Mama mau bicara!" ujar Fitri sambil menarik tangan Dimas menuju ke bagian dalam rumah.
"Ada apa, Ma?" tanya Dimas saat mereka duduk di sebuah sofa.
"Apa kau sudah gila, Dimas?"
"Gila bagaimana, Ma?"
"Kau juga belum sadar? Kau telah menjodohkan Devano dengan putrimu yang bahkan kau tidak ketahui dimana keberadaanya!"
"Sachi, maksud Mama?"
"Siapa lagi? Kau yang menyebutkan nama Sachi di pesta itu!"
"Mama, aku pasti akan menemukan Sachi!"
"Tapi bagaimana kalau kau tidak bisa menemukan Sachi? Mau ditaruh dimana muka keluarga kita, Dimas?"
"Aku ayah kandungnya! Dan aku yakin, aku pasti bisa menemukan putriku!"
"Aku tidak yakin! Bukankah kau tahu selama dua puluh tahun, Mama juga sudah berusaha mencari Sachi, tapi Mama juga belum bisa menemukan Sachi! Jadi, kau jangan bermimpi bisa menemukan Sachi dalam waktu dekat!"
"Tapi aku juga sangat yakin akan bisa menemukan Sachi dalam waktu dekat! Jadi, Mama tolong jangan menyurutkan rasa optimisku! Aku pasti akan menemukan Sachi!" ucap Dimas sambil meninggalkan Fitri yang masih menggerutu.
****
Malamnya...
Devano tampak berdiri di balkon kamarnya sambil terlihat sibuk mengetik dan menempelkan ponselnya di telinga. Beberapa kali, dia melihat Luna mencoba menghubunginya, tapi saat dia menelepon balik Luna, tak ada jawaban olehnya.
"Oh Shitttt!! Kenapa kau tidak mau mengangkat panggilan dariku, Luna! Apa maksud dari semua ini? Apa kau mau mempermainkan perasaanku lagi?" geramnya saat berulang kali mencoba menghubungi Luna.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Luna? Jangan-jangan sesuatu terjadi padanya! Ah, kepala ini rasanya mau pecah! Kenapa kau tidak bisa hilang dari kepalaku, Luna! Brengsekkkk! Aku tidak bisa seperti ini! Aku harus menemuinya sekarang juga!" ujar Devano sambil keluar dari rumahnya.
Sementara di ujung sambungan telepon, tampak Luna sedang duduk dan menangis di dalam kamarnya sambil memegang sebuah benda pipih dengan dua garis merah pada benda tersebut. Luna kemudian melirik lagi ke arah ponselnya yang kini sudah berhenti berdering.
Luna kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu mengelus perutnya. "Anakku, maafkan aku. Maafkan mama jika kelak kau lahir, kau tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Maafkan mama jika kau harus lahir di tengah keterbatasan. Namun, mama janji tetap akan selalu memberikan yang terbaik untukmu," ujar Luna.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba ketukan pintu kamarnya pun terdengar. "Lunaaaa!" panggil seseorang dari balik pintu itu.
"Iya Ma, sebentar!" jawab Luna. Dia pun bangkit dari atas lantai lalu menyembunyikan test pack miliknya, baru kemudian berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
CEKLEK
Pintu itu pun terbuka. Sesosok wanita paruh baya pun berdiri di balik pintu tersebut. "Luna, kau kenapa? Ayo makan malam, Nak!"
Luna kemudian menganggukan kepalanya lalu mengikuti langkah wanita tersebut ke arah meja makan, dan duduk di meja makan tersebut.
"Luna bagaimana pekerjaan barumu?"
"Jauh lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, Ma. Setidaknya Tuan Kenzo jauh lebih baik dibandingkan dengan Tuan Devano," jawab Luna sambil menahan perih di hatinya saat mengucapkan nama Devano.
'Untung saja Pak Kenzo mau menerimaku bekerja di perusahaannya kembali, tapi aku tak tahu bagaimana kalau Pak Kenzo tahu jika aku sedang hamil. Ah, mungkin dia akan langsung memecatku. Tapi untuk saat ini aku belum bisa memberi tahu Pak Kenzo jika aku sedang hamil, karena saat ini aku sedang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi kami semua, termasuk anak yang ada di dalam kandunganku,' batin Luna.
"Luna!" panggil Rahma yang membuat Luna tersadar dari lamunannya.
"Ohhh.., emh iya Ma. Ada apa?"
"Kau kenapa melamun? Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu? Apakah ada hubungannya dengan pekerjaanmu? Atau dengan pekerjaan lamamu?"
"Emh, tidak apa-apa Ma. Aku hanya sedang merasa lelah."
"Oh kalau begitu, cepat habiskan makan malammu lalu beristirahatlah! Pekerjaanmu pasti sangat menguras tenaga kan?"
"Iya ma," jawab Luna. Dia kemudian melanjutkan makan malamnya, meskipun berbagai pikirkan kini menari dalam benaknya. Di saat itulah, tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar.
TOK TOK TOK
"Luna..., ada Tuan Kenzo dan Nyonya Cleo."
'Tuan Kenzo dan Nyonya Cleo?' batin Luna. Dia kemudian berjalan ke arah ruang tamu untuk menemui Kenzo dan Cleo.
"Tuan Kenzo, Nyonya Cleo. Silahkan masuk!" ucap Luna, seraya tersenyum pada mereka. Kenzo dan Cleo pun masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ada apa Tuan dan Nyonya?" tanya Luna.
"Kami tidak sengaja lewat rumah ini, Luna. Lalu, Kenzo mengatakan kalau kau tadi sakit, jadi kami mampir ke sini."
"Oh, anda tidak perlu berlebihan seperti ini, Nyonya."
"Tidak apa-apa, aku tahu, sejak kecil kau sahabat adikku, kau sering membantu dia saat kalian sekolah dulu kan? Jadi, sudah sepantasnya aku juga membalas kebaikanmu dulu pada adikku."
"Terima kasih banyak, Nyonya Cleo. Saya sudah sehat, besok saya juga sudah berangkat ke kantor," jawab Luna.
"Oh kebetulan sekali, Luna. Besok tolong kau gantikan aku untuk menemui salah seorang klienku saat jam makan siang. Kau mau kan?"
__ADS_1
"Apa-apaan ini Kenzo, dia baru saja sembuh, tapi kau sudah memberinya perkerjaan di luar!"
"Tidak apa-apa, Nyonya Cleo. Dimana saya harus menemui klien Pak Kenzo?"
"Nanti alamat rumah makannya aku kirimkan padamu, Luna."
"Baik Pak Kenzo."
Namun, tanpa mereka sadari di depan rumah itu, tampak sepasang mata di dalam mobil tengah mengamati ruang tamu di rumah Luna yang tampak ramai.
"Ada mobil mewah di depan rumah Luna? Mobil siapa ini?" ujar Devano. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oh ssshhiiit! Kenapa aku masih saja bodoh seperti ini? Pasti mobil ini milik pacar Luna! Kau memang benar-benar bodoh, Devano! Sshhiiit!" umpat Devano sambil mengendarai mobilnya menjauhi rumah itu.
****
Saat Devano baru saja selesai makan siang dengan beberapa kliennya di sebuah rumah makan mewah, netra Devano tertuju pada sosok Shakila yang sedang makan siang dengan seorang laki-laki.
"Apa itu tunangan Shakila? Seperti yang diceritakan oleh Om Dimas? Ah lebih baik aku menyapa mereka sebentar," ujar Devano.
Devano kemudian mendekat pada Shakila dan Darren. Namun di saat sedang berjalan mendekat ke arah Shakila, karena sedikit tergesa-gesa dia menabrak seseorang yang sedang berdiri sambil membawa setumpuk berkas hingga wanita itu terjatuh.
"Awwww!" pekik wanita itu saat terjembab ke atas lantai.
Devano pun menghentikan langkahnya, dia kemudian melihat seorang wanita yang kini terlihat duduk di atas lantai sambil memungut berkas miliknya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Saya memang sedang terburu-buru," ujar Devano. Mendengar suara yang tak asing baginya. Wanita itu lalu mengangkat wajahnya.
Betapa terkejutnya Devano saat melihat wanita yang ada di depannya. "Luna!" panggil Devano.
Luna pun terlihat salah tingkah. "Maaf, saya sedang sibuk," ujar Luna.
Setelah selesai memungut berkas-berkas miliknya. Luna pun mencoba berdiri, namun tiba-tiba perutnya terasa amat sakit.
"Awwwwww perutku!" pekik Luna kembali.
"Kau kenapa Luna? Ayo kubantu! Aku juga perlu bicara denganmu," ujar Devano.
"Tidak apa-apa, Tuan Devano! Maaf, saat ini saya sedang sibuk. Saya harus kembali ke kantor," jawab Luna ketus.
Luna yang merasakan rasa sakit di perutnya semakin menjalar ke seluruh bagian tubuhnya kini berjalan dengan begitu tertatih-tatih. Devano pun hanya menatap kepergian Luna sambil tersenyum kecut.
"Sombong sekali!" gerutu Devano sambil menatap kepergian Luna. Namun secara tak sengaja, tiba-tiba dia melihat darah segar yang mengalir di kaki Luna.
__ADS_1
"Astaga, apa itu? Kenapa ada darah di kaki Luna?" ujar Devano sambil mengerutkan keningnya.
"Tunggu Luna!"