
"Ayo Devano kita ke dalam!" ujar Dea sambil menarik tangan Devano masuk ke dalam rumah.
"Devano, Papa dan Mama belum pulang, kita tunggu mereka di sini ya."
"Iya Sachi," jawab Devano.
Saat mereka baru saja duduk di atas sofa yang ada di dalam ruang tengah tersebut, tiba-tiba Shakila datang mendekat ke arah mereka.
"Bolehkah aku ikut duduk di sini bersama kalian?" tanya Shakila.
"Oh tentu saja, Shakila," jawab Devano.
"Terima kasih."
"Dea, kau tidak terganggu denganku kan?"
"Oh tentu saja tidak, Kak," jawab Dea, meskipun sambil menahan rasa kesal di dalam hatinya karena Shakila masih saja memanggilnya dengan nama Dea, sekaligus menggangu kebersamaannya dengan Devano.
"Maaf kalau aku mengganggu, aku sedang ingin menonton televisi, sedangkan televisi di kamarku rusak. Jadi, sekali lagi maaf kalau aku mengganggu kalian disini."
"Benar kami tidak apa-apa, Shakila. Kau tenang saja, kau tidak mengganggu kami sama sekali."
"Terima kasih banyak, Devano."
"Iya Kak, tidak apa-apa. Kita bisa ngobrol bersama."
"Terima kasih adikku sayang," jawab Shakila.
"Kau mau nonton apa Shakila? Kenapa kau terlihat antusias sekali," tanya Devano.
"Aku hanya ingin nonton perkembangan berita artis yang lagi hot, Devano."
"Berita apa Shakila?"
"Itu Devano, kasus KDRT yang menimpa salah seorang artis terkenal kita."
"Apa? Kasus KDRT?"
"Iya Devano, ada salah satu artis terkenal kita yang tersangkut kasus KDRT. Kasihan sekali, bahkan sang istri harus sampai dirawat di rumah sakit karena tenggorokannya bergeser."
"Astaga, kejam sekali. Aku paling paling tidak tahan melihat kasus KDRT, Shakila. Kau tahu kan, aku sangat penyayang."
"Ya, aku tahu itu, kau memang sangat penyayang."
__ADS_1
"Iya Shakila, aku tidak mungkin tega melukai orang lain apalagi kalau orang itu masih satu hubungan darah dengan kita. Hukuman untuk pelaku KDRT juga sangat berat. Jika korban KDRT mengalami luka berat dan jatuh sakit, maka pelaku bisa terancam pidana selama 10 tahun. Jika KDRT menyebabkan korban hingga meninggal dunia, maka hukuman untuk pelaku bisa berupa pidana penjara paling lama 15 tahun, sungguh mengerikan," ujar Devano sambil bergidik ngeri.
"Sepuluh tahun," ucap Dea lirih, sambil menelan salivanya dengan kasar. Melihat raut wajah Dea yang ketakutan, Shakila pun tersenyum kecut.
'Sepuluh tahun, Dea. Ya, jika ibumu mau, dia bisa menuntutmu karena tadi malam kau sudah menusuk perutnya, agar dia tidak membuka kebenaran tentang jati dirimu, kau pasti bisa dipenjara selama sepuluh tahun. Kau panik kan? Seharusnya, memang itulah tempatmu,' batin Shakila.
"Bagaimana Sachi kau juga kan? Kau juga pasti tidak suka melihat kekerasan dalam sebuah hubungan keluarga?" tanya Devano yang membuyarkan lamunan Dea.
Dea pun terlihat gugup mendapat pertanyaan seperti itu dari Devano. "Oh tentu saja tentu, aku juga tidak suka tindak kekerasan. Apalagi dalam sebuah keluarga."
"Bagus kau memang calon istriku yang sangat penyayang, sangat cocok denganku cie, cie, cie."
Dea pun tersipu malu mendengar perkataan Devano. "Tentu saja Devano, adikku sama lembutnya sepertiku."
"Iya kau benar Shakila, sikap Sachi sangatlah lembut. Kelembut hatinya seperti kapas. Apalagi tatapan matanya, tatapan matanya bahkan seperti GPS di hatiku."
"GPS apa maksudnya, Devano?"
"Ya, GPS karena engkau yang sudah menunjukkan arah kemana hatiku akan berlabuh, cie cie cie."
"Kau bisa saja, Devano."
"Hai, lihat itu. Ada berita baru lagi!" seru Shakila. Spontan, mereka bertiga pun melihat ke layar televisi.
"Itu bukan sembarangan Romlah karena dia blasteran Turki."
"Apa kau yakin dia benar-benar blasteran Turki, Shakila?"
"Tentu saja aku percaya kalau wanita bercadar yang bernama Romlah itu keturunan Turki."
"Tidak, menurutku dia mengada-ada. Aku tidak yakin."
"Devano, kalau kau tidak percaya, baca saja nama lengkapnya Romlah Guvizar Ercel, apa menurutmu itu belum menunjukkan kalau dia memang benar-benar keturunan Turki?"
"Jadi kau percaya hanya berdasarkan nama? Come on Shakila, kau jangan terlalu polos. Banyak orang di dunia ini yang mengaku-ngaku menggunakan nama dan identitas seseorang agar dia mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Apa maksudmu Devano?"
"Iya, di dunia ini banyak sekali Shakila, orang yang berpura-pura menjadi orang lain, yang bukan dirinya sendiri. Bahkan menutupi identitas dirinya yang sebenarnya hanya untuk kepentingan dirinya semata."
"Astaga, itu sagat menyeramkan sekali, Devano."
"Iya, dan itu bisa termasuk kasus pemalsuan identitas."
__ADS_1
"Pemalsuan identitas?"
"Iya, dan hukuman atas kasus pemalsuan identitas, bisa dikenakan hukuman maksimal 4 tahun penjara."
"Astaga menakutkan. Devano, aku jadi membayangkan kalau ada seseorang yang melakukan kejahatan pemalsuan identitas sekaligus KDRT, pasti dikenakan pasal berlapis kan?"
"Ya, dan hukumannya juga pasti sangat berat. Sama saja menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Ini sangat menyeramkan, Shakila."
"Iya Devano."
Mendengar perbincangan Devano dan Shakila, Dea pun hanya terdiam. Hatinya terasa begitu berkecamuk. 'Kasus KDRT dan pemalsuan identitas? Lalu dikenakan hukuman berlapis? Astaga itu terasa sangat menakutkan bagiku! Apa yang harus kulakukan agar aku bisa lepas dari semua ini? Aku harus berbuat sesuatu,' batin Dea.
Irama detak antungnya pun terasa begitu kencang. "Sachi, kenapa degup jantungmu bahkan terdengar olehku? Apakah karena kita itu sudah satu hati, satu jantung, dan satu jiwa?"
"Ah kau bisa saja Devano, kau tahu kan aku sedikit mengalami gangguan pada jantung, jadi mungkin kondisi jantungku sedang tidak terlalu stabil."
"Astaga jadi kondisi jantungmu tidak stabil? Bagaimana kalau kau istirahat saja Sachi."
"Iya Devano, sepertinya kondisi jantungku sedang tidak baik-baik saja. Aku mau istirahat dulu Devano. Maaf kalau kau harus pulang sekarang. Kau tidak apa-apa, kan?"
"Oh tentu saja tidak apa-apa, Sayang. Kau memang harus beristirahat karena besok kita akan menikah kan?"
"Terima kasih atas pengertianmu Devano. Aku masuk dulu ke kamar," ujar Dea.
"Iya Sayang, aku juga mau pulang sekarang."
"Iya Devano." Dea kemudian bergegas masuk ke kamarnya, karena perasaanya sudah begitu tak menentu. Hatinya, diselimuti oleh ketakutan. Padahal, Devano belum meninggalkan rumah itu."
Sementara itu, Devano hanya berbisik pada Shakila. "Aku belum selesai mengerjainya tapi kenapa dia sudah panik seperti itu, Shakila?"
"Mungkin dia takut masuk penjara, Devano."
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu. Aku sudah rindu pada istriku, aku sudah tidak sabar mau nubruk Neng Luna."
"Nubruk? Apa itu nubruk, Devano?"
"Ah itu hanya ada dalam kamus Devano, Shakila. Kau tidak perlu tahu karena kau belum menikah."
"Ya, ya, ya."
"Baik, aku pulang dulu. Joni pun sudah tidak sabar bertemu dengan Dora."
"Joni lagi Dora lagi," gerutu Shakila, setelah Devano meninggalkan dirinya. Saat berjalan ke arah luar, tiba-tiba Devano melihat ke bagian bawahnya.
__ADS_1
"Tenang Joni, tidak perlu cemas. Kau hanya milik Dora seorang, bukan mimi peri."