Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Mati?


__ADS_3

Rahma yang saat ini terlelap tiba-tiba membuka matanya. Entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa begitu sakit, namun dia mengabaikan rasa nyeri di perutnya karena perasaannya saat ini juga begitu bimbang. Dia kemudian mengambil ponselnya, lalu membuka galeri dan melihat foto Dea yang ada di ponsel itu.


Tetes demi tetes air mata mulai mengalir dari sudut matanya. "Dea! Dea putriku!" ujar Rahma dengan begitu terisak.


"Oh Tuhan, kenapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi dengan putriku?" ucap Rahma sambil menatap foto itu. Tiba-tiba dia merasakan nyeri di perutnya semakin hebat. Rahma kemudian melihat ke arah perutnya dan mulai melihat darah yang merembes ke bajunya.


"Astaga apa ini apa? Ada apa dengan luka jahitku?" ucap Rahma. Dia kemudian merasakan sakit yang teramat sangat. Di saat itulah, Arka dan Kayla masuk ke dalam ruang perawatan itu.


"Mama!" teriak Arka. Dia lalu berlari mendekat ke arah Rahma yang saat ini tengah memegang perutnya. Betapa terkejutnya Arka dan Kayla saat melihat darah di pakaian Rahma.


"Kayla cepat panggil dokter!" perintah Arka pada Kayla, apalagi saat ini Rahma mulai tak sadarkan diri, mungkin karena tak sanggup lagi menahan rasa sakit di perutnya.


Kayla lalu keluar dari ruangan ituuntuk memanggil dokter. Beberapa saat kemudian, seorang dokter lalu masuk ke dalam ruang perawatan tersebut. Dia langsung memeriksa keadaan Rahma, sementara Kayla dan Arka tampak saling berpandangan.


"Bagaimana dokter?" tanya Arka.


"Luka ibu anda mengalami infeksi. Begini Tuan Arka, apakah ibu anda menderita penyakit diabetes?"


"Iya dok, ibu saya memang menderita penyakit diabetes. Memangnya kenapa?"


"Pantas aja, Tuan. Pantas saja luka itu sangat sulit untuk kering, apalagi jahitan pada luka itu juga sempat robek, dan sebenarnya ini sangat berbahaya. Maafkan saya Tuan Arka, kenapa anda tidak mengatakan ini sejak Ibu Rahma dibawa ke rumah sakit ini? Bukankah anda tahu kalau seseorang yang menderita penyakit diabetes itu lukanya sangat sulit untuk disembuhkan," ujar dokter tersebut.


"Maaf dokter, saat itu saya begitu panik jadi saya lupa mengatakan kalau mama juga menderita penyakit diabetes."


"Lalu bagaimana sekarang keadaannya, Dok?"

__ADS_1


"Kita berdoa saja Tuan Arka, semoga Bu Rahma bisa sembuh, untuk sementara saya hanya bisa memberikan pengobatan semampu saya."


"Iya dokter," jawab Arka lesu. Setelah dokter itu pergi Arka kemudian menatap Rahma.


"Mama, kenapa keadaan mama malah memburuk seperti ini?" ucap Arka sambil melihat wajah Rahma yang kini terlihat begitu pucat.


"Arka, bagaimana kalau kita panggil Mba Luna? Arka, bagaimanapun juga mama pernah melakukan kesalahan besar pada Mba Luna, dia menyembunyikan Mba Luna secara bertahun-tahun. Mungkin hanya dengan keikhlasan hati Mba Luna dan keluarganya, mama bisa sembuh, Arka."


"Iya, kau benar juga Kayla." Arka kemudian mengambil ponselnya, untuk menelepon Luna.


****


Di sebuah kamar mewah tampak sepasang suami istri yang baru saja selesai bergumul di atas sebuah ranjang. Mereka tampak begitu terengah-engah di atas ranjang tersebut.


Laki-laki itu lalu menatap wajah istrinya sambil membelai wajah cantik itu. "Apa kau suka permainan kita malam ini, Luna? Bagaimana dengan gaya baruku? Itu namanya gaya nomor 18."


"Itu tadi yang aku peragakan pada kamu, Luna. Apa kau tahu kedutan Dora pun hari ini tampak sangat mencengkram Joni. Joni bahkan hampir saja tidak bisa bernafas! Aku yakin Dora pasti suka dengan gaya nomor 18 itu."


"Kau ada-ada saja!"


"Bukankah memang benar seperti itu? Coba kau tanyakan pada Dora, pasti dia ingin meminta lagi!"


"Kau jangan mengada-ngada Devano!"


"Aku tidak sedang mengada-ada, Luna! Coba kau tanyakan lagi pada Dora! Pasti dia sekarang sudah merindukan Joni kembali!"

__ADS_1


"Itu maumu, bukan Dora ataupun Joni."


"Luna apa kau lupa kalau Devano bisa mengendalikan nafsunya, tapi tidak dengan Joni dan Dora. Mereka bahkan lebih bersemangat daripada kita, Luna."


"Dasar meesum!"


"Siapa yang messum? Aku hanya sedang bicara tentang aku, kamu, Dora, dan Joni. Mungkin besok kita perlu berbelanja kacamata dan masker lagi, sepertinya aku punya hobi baru."


"Hobi baru apa itu?"


"Kau tahu, Dora sekarang semakin montok. Jadi sekarang hobiku merobek masker milik Dora, ini sangat menantang, Luna. Ayo kita lakukan lagi!"


"Tidak Devano, aku mau istirahat. Aku lelah, hari ini kita sudah melakukannya dua kali."


"Kurang satu lagi, kan harusnya tiga kali biar dapat piring cantik."


"Devano!" teriak Luna. Tiba-tiba, ponsel Luna pun berdering. Sebentar aku angkat teleponnya dulu," ujar Luna. Dia kemudian melihat sebuah nama di ponsel itu.


"Arka."


***


Tiga orang polisi mendekat ke arah Dea yang saat ini terkapar di atas tanah. "Kenapa dia diam seperti itu? Apa dia mati?" tanya salah seorang polisi itu pada kedua rekannya.


Bersambung....

__ADS_1


NOTE: Mampir juga ya ke karya besti othor, novel Kak Nia Masykur, dijamin ceritanya keren banget loh. Nampol deh.



__ADS_2