Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Melarikan Diri


__ADS_3

Setelah Devano pulang dari rumah sakit, dia kemudian bergegas menuju ke rumah Dimas. Sesampainya di rumah itu, dia langsung menghampiri Luna dan keluarganya.


"Bagaimana Devano?" tanya Luna.


"Seperti dugaanku, Dea yang melakukan semua ini."


"Memangnya apa yang Dea lakukan?"


"Dia mengirimkan rekaman percakapan antara dia dan mama, dan juga mengedit rekaman suara mama. Dalam rekaman percakapan itu, mama beberapa kali memang terdengar sangat menyudutkanmu, mama juga menceritakan semua hal buruk yang pernah dilakukan padamu. Selain itu, dia juga mengedit rekaman suara mama agar dalam rekaman suara itu seolah-olah mama mengatakan kalau dia ingin menguasai harta milik keluargamu, Luna."


"Astaga!" teriak semua orang yang ada di ruangan itu.


"Dea memang benar-benar keterlaluan!" teriak Dimas.


"Memang, bukankah sudah pernah kukatakan sejak dulu kalau dia bukanlah orang yang baik," tambah Shakila.


"Tapi dia bersikap seperti itu semua karena kita Dimas, karena kita yang melakukan kesalahan. Kalau kita tidak salah sangka tentang Dea, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya."


"Tapi kau juga harus ingat akar dari masalah ini juga dari orang tua Dea, dari Bu Rahma. Jika Bu Rahma tidak menukar anaknya, tentu kita tidak berkesimpulan kalau dia adalah putri kita. Setiap orang yang dalam keadaan panik, pasti akan mengambil kesimpulan secara mendadak. Apalagi kita sudah 20 tahun terpisah dengan anak kita, pasti kita akan merasa emosional saat mendengar cerita dari Ibu Panti. Delia, aku yakin setiap orang pasti akan menarik kesimpulan yang sama seperti kita tanpa berpikir jernih terlebih dulu. Karena rasa emosional dalam hati kita terkadang lebih kuat dibandingkan logika yang ada di dalam otak kita."


"Iya Ma, benar kata Papa. Kalian bertindak tergesa-gesa karena rasa emosional dan rasa sayang yang begitu menggebu-gebu, puluhan tahun kalian terpisah dari anak kandung kalian, tentu sangat menguras emosi dalam hati kalian," sambung Shakila.


"Iya benar yang Papa Dimas dan Kak Shakila katakan," tambah Devano .


"Dan memang tidak sepantasnya Dea bertindak seperti itu, dia telah jahat pada Mama Rahma dan juga bertindak diluar batas seperti ini. Dia memang pantas mendapatkan hukuman," ujar Luna.


"Iya, jadi mama tidak sepantasnya selalu memiliki perasaan bersalah pada Dea." Delia pun hanya terdiam, sambil merenung perkataan keluarganya.


"Tapi aku merasa heran saat aku bertemu dengan Oma Fitri," kata Devano.


"Memangnya ada apa Devano?:


"Saat aku pergi ke rumah sakit, aku tidak melihat Oma Fitri di ruangannya, lalu aku bertanya pada suster dan ternyata dia sedang ada di ruang perawatan Mama Rahma."


"Memangnya apa yang Mama lakukan?" ujar Dimas.


"Aku juga tidak tahu Pa, tapi aku memiliki firasat kalau oma Fitri akan berbuat sesuatu pada Mama Rahma."


"Astaga ini tidak boleh dibiarkan Devano," ujar Luna.


"Iya Luna, aku pasti memikirkan semua ini. Tapi aku yakin Oma Fitri tidak akan bertindak secepat ini, dia pasti akan menunggu sampai Mama Rahma sembuh."

__ADS_1


"Iya Luna, kau benar. Sekarang saatnya kau harus beristirahat lagi Luna sayang?"


"Apa istirahat? Bukankah tadi aku sudah istirahat Devano?"


"Luna apa kau lupa kata Dokter Vallen? Selama dua bulan kau tidak boleh kelelahan. Kalau tidak kau bisa pendarahan lagi, Luna."


"Apa? Pendarahan?" teriak Delia dan Dimas.


"Iya Pa, Ma. Luna pernah mengalami pendarahan, jadi dia tidak boleh terlalu lelah."


"Astaga, kalau begitu cepat bawa Luna ke kamar, Devano! Tadi dia sudah banyak berdiri dan menemui tamu undangan."


"Iya Ma, aku bawa Luna ke kamar sekarang," ucap Devano. Dia kemudian menuntun Luna ke dalam kamar.


"Apa-apaan ini Devano? Bukankah aku sudah sembuh?"


"Luna, kalau tidak seperti ini, aku tidak punya alasan untuk bermesraan denganmu, Luna. Apalagi kau tahu, ini sedang hujan. Joni pingin yang anget-anget Luna."


"Tinggal masuk ke dalam selimut!"


"Tapi Joni juga pingin yang licin-licin, kau tahu kan Devano bisa mengendalikan nafsu, tapi tidak dengan Joni."


"Tidak, dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dariku."


"Astaga...."


"Apa kau sudah lupa, aku maha benar Devano. Kau tidak boleh membantahku, Luna. Sekarang aku ingin bermain dengan susu chery kenyal milikmu, Luna. Karena waktuku tidak banyak."


"Memangnya kenapa?"


"Karena kalau anak kita sudah lahir, aku harus mengalah pada anakku. Coba kau pikir dimana harga diri seorang Devano kalau harus berebut dengan bayi?"


"Astagaaaaa... "


***


Seorang office boy tanpak mendekat ke arah Dea yang sedang tersenyum saat melihat setangkai bunga dan sebatang coklat pemberian darinya. Dea yang melihat kedatangan office boy tersebut lalu mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kau? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Kamu suka coklat sama bunga itu?" tanya office boy tersebut.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" bentak Dea.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Memangnya kau siapa? Kenapa kau lancang sekali bertanya seperti itu padaku?"


"Karena itu pemberianku, Nona."


"Lancang! Berani-beraninya kau memberikan seperti itu padaku?"


"Memangnya kenapa? Bukankah tadi kita sudah melalui hari yang indah?"


"Hari yang indah? Hari yang indah apa maksudmu?"


"Apa kau sudah lupa dengan kecupan dariku, Nona?"


"Kecupan apa maksudmu?"


"Tadi aku yang sudah menciummu nona manis."


"Apa? Tidak mungkin! Jangan mengada-ada kau!"


"Aku memang tidak mengada-ngada, Nona. Tadi seorang laki-laki yang mengunjungimu menyuruhku untuk menciummu."


"Apa? Kau jangan berbohong!"


"Aku tidak berbohong! Kalau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada salah satu polisi yang ada di sini. Dia melihatku saat sedang menciummu."


Mendengar perkataan office boy tersebut, seketika Dea pun sangat marah. "Pergi kau dari sini dan jangan pernah berharap apapun padaku! Ingat sampai kapanpun kau tidak pantas untukku! Melihatmu saja nembuatku sudah sangat mual!"


Office boy tersebut kemudian pergi dengan raut wajah yang terlihat begitu sendu. Sedangkan Dea berulang kali berulang kali mengumpat dan berteriak di dalam sel.


"Brengsekk semua ini pasti gara-gara Devano! Dia telah berhasil mengelabuiku lagi! Dasar laki-laki kurang ajar! Aku harus melarikan diri dari penjara terkutuk ini!" ujar Dea lirih.


NOTE :


tetep ikutin kisah Gavin dan Cheryl di novel Terjerat Pesona Suami Tanteku, ya. Othor up pelan² soalnya itu novel event jadi up nunggu perintah Editor. Tapi sekali up Insyaa Allah langung banyak.


🍒 Jangan lupa mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Teh Ijo, dijamin keren dan baper abis loh.


__ADS_1


__ADS_2