Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Waktuku Telah Habis


__ADS_3

Devano kemudian mengambil ponselnya, lalu menempelkan ponsel itu untuk menelepon seseorang. "Cepat cari tahu keberadaanya!" perintah Devano pada seseorang yang ada di sambungan telepon.


Dia kemudian menutup telepon itu, membuka laptopnya dan mencoba berkonsentrasi pada pekerjaannya. Meskipun, itu sangat sulit.


Menjelang jam makan siang, Devano bergegas bangkit dari atas kursinya. Lalu pergi dari kantornya menuju ke sebuah rumah mewah di komplek perumahan elit.


Deru suara dan decit ban mobil yang terhenti di depan rumah, begitu mengagetkan seorang wanita paruh baya yang sedang menyantap makan siangnya dengan begitu tenang.


"MAMAAAAA!!!"


"MAMMAAAA!!!"


"Devano? Ada apa dia tiba-tiba pulang ke rumah?" Saat baru selesai berujar pelan, sosok Devano pun sudah berdiri di depannya.


"Devano? Ada apa sayang? Apa kau ingin makan siang dengan Mama?"


"Mama, aku sedang tidak ingin berbasa-basi. Mama, jadi Mama yang nenjadi dalang atas kepergian Luna kan? Mama pagi itu datang ke apartemen dan menemui Luna, lalu mengatakan hal yang tidak-tidak pada Luna? Mama, sekarang katakan padaku, apa yang Mama katakan pada Luna sampai dia marah dan meninggalkan aku pergi begitu saja?"


"Devano! Lancang sekali kau menuduh mama bertindak seperti itu?"


"Mama! Tidak usah mengelak dan berbohong padaku! Aku tahu pasti Mama mengatakan hal yang tidak-tidak pada Luna! Dia tidak mungkin meninggalkan aku begitu saja tanpa alasan yang jelas, Ma!"


"Jangan asal bicara, Devano! Bukankah dia meninggalkanmu karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan? Bukankah kau yang bilang kalau dia sudah mengambil barang-barang serta uang di apartemenmu?"


"Cih, aku yakin Luna bukanlah wanita yang seperti itu!"


"Kau jangan terlalu polos, Devano! Kalau bukan Luna, lalu siapa yang mengambil barang-barang milikmu? Pencuri? Mana ada maling di apartemen mewah seperti itu?"

__ADS_1


Mendengar perkataan Viona, Devano hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya sambil berdecak kesal.


"Ck! Tidak usah pura-pura lagi, Ma. Mama kan yang mengambil uang dan barang-barang mewah dari apartemenku? Pagi itu, saat Luna sedang sakit, Mama pergi ke apartemenku dan menemui Luna kan? Lalu Mama bicara hal yang tidak-tidak sampai Luna marah dan meninggalkanku begitu saja. Setelah Luna pergi, Mama mengambil barang-barang dan uang yang ada di dalam brankas agar seolah-olah Luna yang melakukan semua itu. Mama sudah mengadu domba aku dan Luna kan?" bentak Devano.


"Kau jangan asal bicara hanya berdasarkan spekulasi dan kesimpulanmu saja, Devano!"


"Aku tidak berspekulasi, karena aku punya buktinya, Ma. Aku sudah melihat CCTV di basemen dan lobi apartemenku pada pagi itu. Aku melihat Luna yang keluar dari lobi apartemen degan wajah begitu sedih! Dia juga tidak membawa barang-barang apapun kecuali pakaiannya! Sedangkan Mama? Mama keluar melalui basemen dengan membawa barang-barang yang Mama ambil dari apartemenku! Mama juga membuat surat palsu yang menjijikan itu! Mama pasti yang menulis surat palsu itu kan? Apa lagi yang mau Mama sangkal?"


Viona pun hanya bisa terdiam. "Mama sekarang tolong katakan padaku, apa yang Mama katakan pada Luna? Apa yang membuat Luna begitu marah padaku?"


Viona pun masih saja terdiam, dengan tatapan jumawanya yang tetap lurus memandang ke kedepan.


"Mama aku bertanya padamu, Ma!" Perlahan, Viona pun membuka bibirnya. "Mama hanya mengatakan apa yang kau katakan pada Mama."


"Mengatakan apa yang kukatakan pada Mama? Memang apa yang pernah kukatakan pada Mama?"


"Jadi kau sudah lupa, Devano? Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau dia hanyalah sekedar pelampiasan bagimu? Apa kau sudah lupa kalau kau pernah mengatakan seperti itu pada Mama?"


"Keterlauan bagaimana maksudmu? Kau yang mengatakan semua itu pada Mama, sedangkan mama hanya meneruskan kata-katamu pada Luna. Luna hanyalah sekedar pelampiasan bagimu karena semboyan hidupmu just sexxx no love!"


"MAMA! SEJAK AKU MENJALIN HUBUNGAN DENGAN LUNA AKU SUDAH MENGUBUR DALAM-DALAM SEMBOYANKU ITU MA!"


"Kenapa kau marah padaku? Apa kau sudah lupa kalau aku adalah ibumu, aku adalah orang tuamu? Mama berhak mengatur hidupmu karena mama tahu yang terbaik untukmu!"


"Terbaik bagiku apa terbaik bagi Mama? Sekarang ikut aku dan jelaskan pada Luna agar dia tidak salah paham lagi padaku, Ma!"


"Menemui Luna? Yang benar saja, aku tidak akan melakukan semua itu! Devano lebih baik kau tidak usah menemui dia lagi, hapus dia dari dalam hidupmu! Dia tidak pantas untukmu! Ingat Devano, sebentar lagi kau akan bertunangan dan menikah dengan Shakila. Apa kau sudah lupa? Tiga hari kau akan bertunangan dengan Shakila!"

__ADS_1


Devano pun hanya terdiam mendengar perkataan Viona. "Apa kau sudah lupa? Kau sendiri yang sudah menyetujui pertunanganmu dengan Shakila, Devano! Kau sudah menyetujui pertunangan itu dua bulan yang lalu!"


DEG


Jantung Devano pun seakan berhenti berdetak, memorinya kembali pada kejadian dua bulan silam saat dia sedang begitu patah hati, dan dia mengiyakan begitu saja pertunangannya dengan Shakila. Dia melakukan semua itu karena perasaannya begitu diselimuti oleh rasa emosi, marah dan dendam pada cinta.


'Astaga, kenapa aku ceroboh sekali? Saat itu aku memang tidak bisa berfikir dengan jernih,' batin Devano.


"Devano, apa kau sudah lupa? Dua bulan yang lalu, kau bahkan sudah bertemu dengan Oma Fitri dan meminta maaf padanya karena hampir saja membatalkan pertunangan kalian? Lalu, apa kau juga sudah lupa kalau kau sudah menandatangani surat perjanjian pra nikah antara kau dan Shakila? Ingat kita punya hutang budi yang harus dibalas pada mereka dan hanya kau yang bisa melakukan itu, Devano! Kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu begitu saja karena ini menyangkut kehormatan dari keluarga kita!"


Devano pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tubuhnya terasa membeku menahan rasa sesak di dada. Ingin rasanya dia berlari, lari dari kenyataan yang terjadi di dalam hidupnya.


'Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang menanggung semua beban ini? Apakah aku tidak punya hak untuk memilih?'


"Devano, ingat kehormatan keluarga kita ada di tanganmu. Apa kau mau mempermalukan keluargamu hanya untuk mempertahankan gadis miskin itu?"


"Aku pergi dulu, Ma. Aku banyak urusan!" jawab Devano sambil berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh sedikitpun pada Viona. Sakit, dan hancur yang dia rasakan di dalam hatinya.


"Just sexxx, no love, itulah yang selalu kukatakan padamu, tapi terkadang ada banyak hal di luar dugaan, termasuk mengendalikan hatiku untuk tidak jatuh cinta padamu, padahal waktuku telah habis denganmu," ujar Devano saat bejalan keluar dari rumah dan tampak menyeka air matanya dengan kasar.


***


'Semesta, mengapa kau seringkali bercanda padaku? Kau hadirkan pertanda begitu saja tanpa aba-aba. Kau turunkan hujan di saat duka menyelimuti hatiku, lalu saat aku kembali merasakan kebahagiaan, langit di atas pun kembali cerah seperti sedang tersenyum padaku. Semesta, tolong sampaikan padanya, aku sungguh merindukannya. Aku hanya ingin bertemu dengannya, aku hanya ingin dia pulang sebagai doa yang selalu kupanjatkan dan hati yang selalu kurindukan. Tahukah kau Kak, cinta kita tidak pernah salah. Aku berhak memiliki hatimu, jiwamu, dan semua tentangmu. Tolong pulang, Kak Darren,' batin Shakila sambil menatap awan yang mulai berarakan.


***


Sydney 04.00 pm

__ADS_1


Darren duduk di atas rumput di sebuah taman sambil menatap langit sore yang begitu cerah. "Shakila, apa kau sudah bertemu dengan jodohmu? Orang yang dijodohkan denganmu? Tahukah kau jika aku begitu tersiksa karena rindu ini? Sekarang aku tahu kenapa Tuhan menciptakan sebuah rindu. Tuhan hanya ingin mengajarkan bagaimana agar kita lebih menghargai sesuatu sebelum dia menjauh. Kau tidak akan pernah tahu jika setiap saat aku selalu merindukanmu. Semua tentangmu selalu aku rindukan, entah itu tentang kamu, kita, ataupun kisah kita yang telah usai."


Bersambung...


__ADS_2