
"Mama, apa Mama sadar kalau suatu saat nanti kesalahan Mama ini sangat fatal?"
"Arkaaaa..."
"Mama, bagaimana kalau ternyata ibu muda yang meninggalkan Mba Luna saat itu sedang dalam masalah dan tidak sengaja meninggalkan Mba Luna di dalam gerbong kereta api itu, Ma? Bagaimana kalau selama ini mereka mencari keberadaan Mba Luna?"
"Arka, tolong jangan bicara seperti itu, Nak. Kau semakin membuat Mama merasa bersalah."
"Kita harus menebus semua ini, Ma. Kita harus menebus semua kesalahan kita pada Mba Luna."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku mungkin tidak bisa, Ma. Tapi Devano bisa."
"Devano?"
"Ya," jawab Arka sambil mengangukkan kepalanya.
***
Seorang laki-laki tampak berjalan ke dalam sebuah gedung kantor dengan langkah kaki yang begitu tegap. Sorot matanya tajam ke depan seolah ingin menerkam setiap orang yang berlalu lalang di hadapannya. Tak berbeda dengan sebelumnya, sosok itu pun selalu mengabaikan sapaan orang-orang yang dilaluinya dan berjalan menuju ke ruang kantornya.
"Selamat pagi, Tuan Devano."
Sudah dua bulan lamanya, suasana kantor itu terasa mencekam. Devano bukanlah Devano yang dulu, semua pekerjaan harus sempurna di matanya. Sikapnya pun begitu dingin terhadap semua orang, termasuk sekretaris barunya. Sekretaris, yang biasanya selalu dia jadikan sebagai pemuas nafsu, sekarang tak ubahnya seperti pekerja lain yang harus bekerja dengan sempurna di bawah perintahnya.
"Selamat pagi, Tuan Devano. Ada seorang laki-laki yang menunggu anda di dalam," ucap seorang sekretaris yang ada di depan ruangannya.
"Siapa?"
"Namanya Arka."
"Kenapa kau langsung menyuruhnya masuk? Lancang sekali!"
"Maaf Tuan, tapi dia memaksa ingin bertemu dengan anda."
"Kalau kau melakukan kesalahan seperti ini lagi kau akan kupecat tanpa pesangon!"
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan."
"Arka? Mau apa dia kemari?" gumam Devano sambil mengerutkan keningnya.
Devano kemudian masuk ke dalam ruangannya, dan melihat Arka yang sudah duduk di atas sofa dan tersenyum padanya.
"Selamat pagi, Tuan Devano."
Devano hanya terdiam sambil berjalan mendekat ke arah Arka. "Kau mau apa? Apa belum cukup uang yang dibawa oleh kakakmu untuk menghidupi kalian semua?"
"Uang? Uang apa yang anda maksud Tuan Devano?"
"Tidak usah berpura-pura, Arka. Kakakmu Luna pergi meninggalkan aku begitu saja dengan membawa semua barang-barang milikku dan uang yang sangat banyak bukan?"
"Tuan Devano, kau jangan mengada-ada karena Mba Luna, bukanlah wanita seperti itu! Asal anda tahu, saat Mba Luna pulang ke rumah, dia bahkan tampak begitu hancur!"
"Tidak mungkin, bukankah dia bahagia karena sudah berhasil membohingiku?"
"Bahagia? Bahagia darimana Tuan Devano? Kau jangan mengada-ada! Dia bahkan sangat terpuruk sampai dirawat di rumah sakit!"
"Luna sakit?"
"Tidak mungkin, kau jangan mengada-ada, Arka. Bukankah seharusnya dia bahagia pergi dari hidupku? Kenapa dia harus sakit?"
"Tidak pernah ada raut kebahagiaan dari wajah Mba Luna seperti yang anda bayangkan, Tuan Devano! Dan asal anda tahu, dia tidak pernah membawa barang-barang apapun dari rumah anda! Kalau anda tidak percaya, anda bisa memeriksa rumah kami sekarang juga! Sebaiknya anda jangan terlalu banyak berspekulasi sebelum menyelidiki kebenaran tentang Mba Luna terlebih dulu! Bukankah anda tahu bagaimana polosnya Mba Luna?"
Devano pun hanya termenung mendengar perkataan Arka. 'Luna tidak berbuat seperti itu? Lalu siapa yang melakukan itu? Apa semua kejadian ini masih ada sangkut pautnya dengan Mama? Apakah aku telah dipermainkan? Ah, astaga ini semua memang kesalahanku. Aku telah mematikan semua CCTV di seluruh ruangan, termasuk ruang tamu, ruang televisi, dan balkon karena aku tidak nyaman saat aku bermesraan dengan Luna hingga aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di hari itu,' batin Devano.
"Maafkan aku, Arka. Mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekarang kau ada perlu apa?"
"Maaf saya sudah tidak ingin membicarakan hal ini dengan anda, Tuan Devano!"
"Arka, maafkan aku. Aku tidak tahu semua yang terjadi pada Luna, mungkin kami telah diadu domba. Tolong maafkan aku, apa ada yang ingin kau sampaikan tentang Luna?"
Arka kemudian diam dan mencoba mengendalikan emosinya. Tuduhan yang dilakukan oleh Devano, terasa begitu menyakitikan baginya. Tapi, dia ingin meredam amarahnya, semua demi Luna.
"Arka, sekali lagi, tolong maafkan aku. Tolong ceritakan apa keperluanmu?"
__ADS_1
"Ini tentang Mba Luna. Aku ingin kau bisa ikut membantuku mencari tahu siapa orang tua kandung Mba Luna?"
"Jadi benar Luna bukan kakak kandungmu?"
"Bukan, ini coba kau dengarkan," jawab Arka sambil memutar rekaman suara di ponselnya.
"Astaga, Luna malang sekali nasibmu," gerutu Devano.
"Baik, aku akan membantumu mencari tahu siapa orang tua kandung dari Luna. Arka, bisakah kau tanya pada ibumu, kapan dia menaiki kereta api tersebut bersama dengan orang tua kandung dari Luna?"
"Baik, nanti akan kutanyakan. Nanti kukirimkan lewat pesan padamu."
"Terima kasih, Arka."
"Saya pamit, Tuan Devano. Saya harus kembali bekerja."
"Sebentar Arka, bukankah dulu aku menjanjikan sesuatu padamu?"
Arka pun tersenyum. "Tidak usah, Tuan. Saya tidak mau apapun dari anda. Bisa membantu Mba Luna mencari orang tua kandungnya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, sekali lagi terima kasih. Permisi," ujar Arka sambil berjalan keluar dari ruangan Devano. Meninggalkan Devano yang masih termenung.
Dia kemudian mengambil ponselnya lalu mengutak-atik ponsel tersebut dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
[Halo, tolong cek CCTV pada tanggal yang kukirimkan padamu di sekitar basemen apakah ada wanita yang datang ke apartemen seperti yang kukirimkan fotonya padamu?]
[Baik Tuan.] jawab seseorang di ujung sambungan telepon. Tak berapa lama, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Devano.
"Jadi benar pagi itu Mama datang ke apartemen kami? Jadi kami telah diadu domba oleh Mama?" ujar Devano saat melihat pesan yang dikirimkan oleh petugas CCTV di dalam gedung apartmen.
****
Shakila duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Lalu membuka galeri ponselnya dan melihat foto-foto kebersamaannya dengan Darren. Sebuah foto terakhir yang begitu dia sukai adalah saat foto kebersamaan mereka sebelum Darren pergi ke Australia. Beberapa jam sebelum Darren pergi ke Australia, saat mereka sedang duduk di balkon kamar Shakila.
Dalam foto itu, tampak Shakila tengah duduk dalam dekapan Darren. Di foto yang lain, tampak mereka sedang menempelkan bibir mereka satu sama lain.
"Kak Darren, Oma memang telah menjodohkanku dengan seorang laki-laki yang tak kukenal. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu, karena cintaku hanya untukmu, Kak. Dan aku akan menunggumu, sampai kapanpun."
NOTE:
__ADS_1
🍒Maaf ye, othor selipin dikit adegan Shakila di Bed Friend saat masih ngarep sama Darren, soalnya ada benang merahnya.