Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Devano kemudian melihat ke layar ponselnya dan melihat nama Dimas di layar ponsel itu. 'Om Dimas? Ada apa Om Dimas menghubungiku?' batin Devano


Melihat raut wajah Devano yang tampak bingung, Luna lalu bertanya. "Siapa yang menghubungimu, Devano?"


"Hanya rekan bisnis, tidak terlalu penting."


"Kenapa tidak kau angkat saja?"


"Tidak penting Luna, aku sangat merindukanmu. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan orang lain."


Devano kemudian memegang tangan Luna, "Maafkan Aku, aku akan mencoba lebih mengendalikan emosi agar tidak melakukan hal-hal bodoh yang berdampak buruk pada hubungan kita."


Luna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. 'Seperti yang kualami sekarang, mungkin aku bisa menjelaskan pada kedua orang tuaku, dan memaksa mereka menerima kehadiran Luna. Tapi apa yang harus kukatakan pada keluarga Om Dimas? Bagaimana kalau tiba-tiba Sachi pulang dari luar negeri dan mereka menyuruhku untuk menikah dengan Sachi? Apa yang harus kuperbuat? Aku juga tidak akan pernah sanggup kehilangan Luna dan darah dagingku yang ada di dalam kandungan Luna,' batin Devano.


"Devano, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Apa Luna? Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kau benar-benar ingin menikahiku?"


"Ya," jawab Devano sambil menganggukan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan pertunanganmu? Bukankah kau sudah bertunangan dengan Shakila?"


"Itu bisa diatur Luna, itu adalah urusanku," jawab Devano sambil menutupi kegundahan hatinya.


"Tapi, bagaimana dengan kedua orang tuamu dan keluarga dari Shakila? Mereka tentu kecewa dan marah padamu."


"Aku akan menikah denganmu, apapun yang terjadi karena kau satu-satunya wanita yang kucintai dan orang yang sedang mengandung buah hatiku. Luna, maafkan aku. Aku memang sangat bodoh, aku tidak bisa mengendalikan emosiku, hingga selalu membuat keputusan ceroboh dan berdampak buruk pada hubungan kita ini. Kalau saja aku tidak diselimuti oleh emosi pasti kita sudah pergi sejauh mungkin, dan tanpa ada gangguan masalah lain seperti ini."


"Lalu apa yang harus kita lakukan Devano? Orang tuamu pasti tidak akan merestui hubungan kita kan?"


"Bukankah tadi sudah kukatakan kalau itu adalah urusanku, Luna. Kau tidak perlu memikirkan apapun kecuali kehamilanmu."


"Iya Devano."


"Neng Luna..."


"Apa?"


"Kangen, Neng. Kangen banget," ucap Devano dengan tatapan genitnya.


"Lalu kau mau apa?"


"Kiss kiss bentar boleh kan, Neng? Tester, tester Neng.. "


"Ini rumah sakit, Devano..."


"Bentar doang, Neng..."

__ADS_1


"Deva... "


Belum sempat Luna menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba bibir Devano sudah menempel begitu saja di bibirnya, dan mengecup bibir tipis itu.


"I love you," ucap Devano sambil membelai wajah Luna, lalu menempelkan bibirnya kembali di bibir Luna dan memaggutnya dengan begitu rakus hingga Luna kesulitan mengimbangi permainannya. Saat keduanya asyik memaggut satu sama lain, tiba-tiba pintu kamar perawatan itu terbuka.


CEKLEK


"Astagfirullah, apa-apaan ini? Ini rumah sakit!" teriak sebuah suara cempreng dari ambang pintu. Devano dan Luna kemudian melepaskan ciuman mereka.


"Do-dokter Vallen," ucap Luna gugup.


"DEVANOOOO KAU PASTI YANG SUDAH MEMAKSA LUNA UNTUK MENGIKUTI NAFSUMU KAN? DASAR LAKI-LAKI TIDAK TAHU DIRI! PENJAHAT KELAMMIN!"


"Tante Dokter yang cantik rupawan, kami hanya melepas rindu. Memangnya tidak boleh?"


"Tidak! Jangan kau tambah daftar maksiatmu, Devano. Lebih baik kau temui orang tuamu sekarang agar bisa secepatnya menikahi Luna! Kalian jangan terlalu lama dalam kubangan zina! Seperti yang tercantum pada Surat Al Isra ayat 32 “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”


"Subhanallah, Tante Dokter memang sangat keren. Kenapa Tante tidak jadi ustadzah saja?"


"Udah keduluan sama Mamah Dedeh, males kalo suruh saingan gituuuu, lagipula Tante kuliah di London bukan di Al Azhar, Kairo. Astaga, kenapa kau jadi banyak bertanya! Lebih baik kau pulang sekarang dan nikahi Luna secepatnya!"


"Baik Tante Dokter."


"Neng, Abang pulang dulu ya Neng," ucap Devano sambil mengedipkan matanya.


***


Devano yang kini sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya, terlihat masuk ke dalam rumah dengan perasaan begitu tak menantu.


Irama jantungnya berdegup kian kencang saat langkahnya memasuki rumah itu. Dia pun tampak melihat ke sekeliling rumah tersebut


"Kenapa sepi sekali?" ujar Devano saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Hingga tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dirinya.


"Devano!"


Devano yang tampak sibuk mengamati sekeliling pun begitu terkejut saat mendengar namanya dipanggil.


"Mama! Mengagetkan saja!" keluh Devano.


"Ada apa Devano? Kenapa sikapmu aneh seperti ini?"


"Emh, Mama, Papa dimana?"


"Papa? Tentu saja masih di kantor. Untuk apa kau menanyakan semua itu pada Mama?"


"Emhhh begini Ma, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Devano bicarakan."


"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan? Kenapa kau tampaknya serius sekali? Ada apa Devano?"

__ADS_1


"Emhhh begini, Ma. Begini...."


"Begini apa Devano? Cepat bicara yang jelas!"


"Emh begini Ma, sebenarnya..."


"Sebenarnya apa Devano?"


"Begini Ma, sebenarnya Devano besok mau menikah."


"APAAAA MENIKAHHH???"


"MENIKAH DENGAN SIAPA DEVANO? KAU JANGAN BERCANDA!"


Devano pun memundukkan kepalanya. "Emh, begini Ma. Sebenarnya Luna... Lunaaa.."


"Devano bicara yang jelas, ada apa dengan Luna? Ada apa dengan sekretaris miskin itu? Tolong jangan katakan kau mau menikah dengan sekretaris itu, Devano!"


"Mama, itulah yang akan Devano katakan. Devano besok akan menikahi Luna, Ma. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah Mama tahu sejak dulu Devano sangat mencintai Luna?"


"AAPAAA? APA KAU SADAR DENGAN SEMUA KATA-KATAMU, DEVANO? BUKANKAH TADI MALAM KAU MENGATAKAN JIKA KAU SUDAH TIDAK DEKAT DENGAN WANITA ITU?"


"Aku yang salah, aku sudah salah paham pada Luna. Dan, tadi siang aku bertemu dengan Luna kembali, dan di saat itulah aku baru tahu jika Luna saat ini sedang hamil. Hamil anak kandungku, aku harus menikahi Luna, Ma."


"Apa kau yakin jika anak yang Luna kandung adalah darah dagingmu?"


"Aku yakin, Ma. Aku yakin karena aku sangat mengenal Luna. Lagipula jika Mama curiga, itu bukan hal yang sulit, Ma. Karena saat bayi itu lahir, kita bisa melakukan tes DNA. Iya kan? Tapi tanpa tes DNA pun aku yakin jika anak itu adalah anak kandungku, hanya aku laki-laki yang pernah menyentuh Luna, dan kami saling mencintai satu sama lain."


"Oh tidak, kau benar-benar membuatku menjadi gila, Devano!"


"Tapi aku harus menikahi Luna, Ma. Aku sudah berjanji untuk menikahi Luna."


"Berjanji? Berjanji pada siapa? Apa orang tua Luna?"


"Bukan orang tua Luna, tapi dengan Luna sendiri dan dengan dokter kandungan yang menangani Luna."


"Hah, kau berjanji dengan dokter kandungan? Yang benar saja, Devano! Kau tidak sedang bercanda kan? Apa urusannya dia mengurusi kehidupanmu seperti ini? Memangnya siapa dia? Kenapa kau harus takut padanya? Jangan mau, Devano. Jangan mau menikahi gadis itu! Mama tidak mau punya menantu orang miskin, Devano!"


"Tapi Ma, Devano harus menikahi Luna! Karena sejak dulu aku sudah berjanji pada Luna, kalau aku akan menikahinya. Lagipula kalau aku tidak menikahi Luna, memangnya Tante dokter juga mengancam akan membuat perusahaan kita gulung tikar!" rajuk Devano agar Viona mengabulkan permintaannya.


"Memangnya siapa dia, Devano? Berani sekali dia mengatakan seperti itu?"


"Mama, dokter itu adalah mertua dari Kenzo Mahendrata, dia bisa mengancam dan melakukan apapun yang dia mau, termasuk membuat perusahaan kita gulung tikar!"


"Astaga, ini benar-benar pilihan yang sulit dan menyeramkan. Jadi pilihannya perusahaan kita gulung tikar atau menikahi Luna?"


Devano pun menganggukan kepalanya. Sedangkan Viona yang sejak tadi sudah beberapa kali memijit kepalanya, tampak tersungkur ke atas lantai.


"MAMMAAAA!!!"

__ADS_1


__ADS_2