
Devano yang sejak tadi mengamati Luna dari arah seberang jalan, tampak terkekeh saat melihat Luna yang saat ini sedang tersenyum melihat semua pemberiannya.
Saat Luna sudah masuk ke dalam rumah, Devano lalu mengendarai mobilnya masuk ke dalam rumahnya. Saat baru saja turun dari mobilnya tiba-tiba Devano dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggilnya.
"Devano!" panggil Delia, yang baru saja mengambil foto Sachi di dalam mobil saat masih bayi.
Devano yang terkejut mendengar namanya dipanggil lalu melihat ke arah suara. Namun, betapa terkejutnya dirinya saat melihat Delia yang ada di depannya.
"Ta-tante Delia? Ke-kenapa Tante ada di sini?" tanya Devano terbata-bata.
"Oh ini rumah teman tante."
"A-apa? Ja-jadi Tante Dokter teman tante?"
"Ya, Vallen dan Firman teman kami."
'Asataga, ini benar-benar sebuah bencana! Bagaimana kalau Tante Dokter yang comel dan menggemaskan itu mengatakan kalau aku sudah memiliki istri?' batin Devano.
"Devano... Devano!" panggil Delia.
"Oh, emh iya. Ada apa, Tante Delia?"
"Lalu, apa yang kau lakukan di situ? Bukankah itu rumah Luna?"
'Astaga, ini bukan hanya berbahaya, tapi rasanya seperti kiamat sugra? Astaga, kenapa aku jadi seperti ustadz?' batin Devano kembali.
"Devano! Devano! Kenapa kau tiba-tiba diam?"
"Oh tidak apa-apa, hanya membayangkan kiamat sugra."
"Apa? Kiamat sugra? Bukankah yang kutanyakan mengapa kau ada di rumah Luna? Kenapa kau berfikir sampai sejauh itu, Devano?"
"Oh itu, iya maaf Tante. Aku memang sedikit overthinking. Hahahaha."
"Lalu, kenapa kau ada di rumah Luna?"
'Astaga, tidak. Jangan sampai Tante Delia tahu aku adalah suami Luna. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Luna dan keluarganya,' batin Devano.
"Oh itu karena, Luna saudaraku. Dia sepupuku, Tante."
"Oh syukurlah kalau kau saudara Luna. Emh Devano, tolong jaga Luna baik-baik. Aku dengar dari Vallen kalau suaminya menyebalkan dan tidak bertanggung jawab."
'Astagaaaa, itu aku, Tante. Ah tidak apa-apa dia menjelek-jelekan aku di depanku sendiri. Ini artinya, dia tidak tahu kalau suami Luna adalah aku,' batin Devano.
"Devano, tolong kau jangan jadi lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti suami Luna. Tante ingin, kau bisa menjaga Sachi dengan baik."
"I-iya, Tante. Emh, pasti, pasti itu."
"Iya Devano, kalau begitu tante masuk ke rumah Vallen dulu."
"Iya, silahkan Tante."
__ADS_1
Saat Devano akan melangkahkan kakinya ke dalam rumah tiba-tiba dia melihat foto bayi yang terjatuh. Dia kemudian mengambil foto bayi tersebut.
"Foto bayi siapa ini? Mungkin milik Tante Delia. Kukembalikan kapan-kapan saja, kalau sekarang terlalu berbahaya. Ada si dokter comel itu," ujar Devano sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Saat memasuki rumah miliknya, Devano melihat Luna yang saat ini sedang memasak. Dia kemudian menghampiri Luna dan mengecup tengkuknya.
"Selamat sore istriku tersayang." Luna hanya terdiam, hati terdalamnya sebenarnya merasa luluh saat melihat pemberian istimewa dari Devano. Tapi, tak dapat dipungkiri jika rasa kesal pun masih memenuhi isi hatinya. Akhirnya, Luna hanya terdiam dan membiarkan Devano terus memeluknya dan mengecup pundak dan tubuhnya.
"Devano, aku sedang memasak," sentak Luna saat Devano menenggelamkan kepalanya di ceruk lehernya dan memainkan lidahnya di leher Luna.
"Devano... "
"Kangen Luna..." ucap Devano sambil terus menciumi tubuh istrinya.
"No Devano! Aku sedang masak untuk makan malam."
"Setelah masak ya, aku tunggu di kamar!" bisik Devano sambil mengigit telinga Luna, dan meninggalkan salivanya di telinga itu.
"Devanooo... "
"Luna tahukah kau, seorang istri memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak seorang suami. Perempuan yang sudah menikah, maka surganya berpindah kepada suaminya. Sementara dia akan menjadi surga bagi anak-anaknya. Jadi itu artinya, kau harus menuruti perintah suamimu, Luna. Seperti yang tercantum pada Hadist Riwayat Muslim no 2376 yang menjelaskan bahwa "Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika dia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, dia mendapat pahala.” Bagaimana kau mengerti kan Luna?"
Luna menghembuskan nafasnya pelan mendengar semua ceramah Devano, lalu menganggukkan kepalanya. "Bagus sekali, Sayang! Aku tunggu di atas!" ujar Devano sambil mencubit pipi Luna, dan naik ke atas kamarnya.
"Dasar!" gerutu Luna.
Sementara Delia, saat ini sudah masuk ke dalam rumah Vallen sambil membawa foto Sachi saat masih bayi. "Ini foto Sachi, Vallen."
"Iya, terima kasih Vallen."
Vallen lalu tampak sibuk mengotak-atik ponselnya. Beberapa saat kemudian, Vallen pun sudah mendapatkan jawaban dari beberapa temennya.
"Dua puluh tahun lalu, tidak ada bayi yang mirip dengan putrimu, Delia. Beberapa fasilitas kesehatan di sekitar stasiun tidak ada yang mendapat laporan bayi hilang seperti ciri-ciri putrimu," ucap Vallen yang membuat Delia kini semakin putus asa. Dia pun hanya bisa menangis dalam pelukan Dimas yang berusaha menenangkannya. Saat masih dalam suasana sedih. Tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapa mereka semua.
"Selamat sore semua!"
"Oh Kenzo, Cleo, kalian sudah pulang?"
"Iya Ma, maaf kami sedikit terlambat karena kami harus mengantar sekretaris Kenzo yang tiba-tiba sakit," jawab Cleo.
"Oh tidak apa-apa."
"Kenzo, Cleo, lama tak berjumpa," sapa Aini.
"Iya Tante," jawab Cleo dan Kenzo sambil menyalami Aini, lalu Dimas dan Delia.
"Perkenalkan mereka Tante Delia dan Om Dimas, teman Papamu," kata Aini sambil memperkenalkan Dimas dan Delia.
"Oh jadi ini Tante Delia, mantan istri Papa yang pernah berkelahi dengan Mama?" teriak Cleo.
"CLEOOOO!" bentak Vallen. Kenzo lalu membungkam mulut Cleo, sedangkan Delia dan Dimas tampak salah tingkah.
__ADS_1
"Maaf aku tidak sengaja," gerutu Cleo.
"Dasar kau, mulut ember. Kenzo, nanti tolong belikan saringan di mulur istrimu itu, agar dia bisa menyaring kata-katanya," gerutu Vallen.
"Tidak apa-apa, Vallen. Jangan seperti itu, aku yakin Cleo pasti tidak sengaja mengatakan seperti itu. Iya kan Cleo sayang?"
"Tentu saja, Tante Delia. Aku tidak sengaja! Mama saja yang terlalu sensitif," ujar Cleo sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar kau!" gerutu Vallen.
"Cleo, Kenzo, kalian baru saja mengantarkan sekretaris Kenzo ke rumah sakit? Kalian baik sekali. Jarang-jarang ada orang seperti kalian yang selalu memperhatikan karyawannya," kata Aini.
"Emh, eh. Sebenarnya tidak seperti itu, Tante. Awalnya kami sedang memberikan oleh-oleh ke anak-anak Panti Asuhan. Kebetulan, sekretaris Kenzo tinggal di Panti Asuhan. Dan, di saat itulah tiba-tiba sekretaris Kenzo pingsan. Jadi, kami membawanya ke rumah sakit terlebih dulu."
"Oh, jadi seperti itu. Memangnya, sekretarismu sakit apa, Kenzo?"
"Dia sakit jantung, Tante. Jantung bawaan, tapi untungnya tidak terlalu parah. Jadi, tidak terlalu berdampak saat dia bekerja di kantor."
"Oh, syukurlah," jawab Aini.
"Memangnya, Panti Asuhan yang kalian kunjungi ada di daerah mana, Kenzo?" tanya Vallen.
"Panti Asuhan yang ada di dekat stasiun, Ma."
Mendengar perkataan Kenzo, Delia pun begitu tertegun. "Panti asuhan di dekat stasiun? Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku?" ujar Delia lirih.
"Ada apa Delia?" tanya Dimas saat melihat raut wajah Delia yang tiba-tiba berubah.
"Dimas, Vallen, Aini. Kenapa ini tidak terpikirkan olehku? Ya, panti asuhan. Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini? Coba kalian pikir, mungkin saja saat aku meninggalkan Sachi di dalam kereta, ada orang yang menemukannya dan membawanya ke Panti Asuhan di dekat stasiun, jadi para petugas stasiun tidak tahu ada bayi yang tertinggal di dalam kereta. Bukankah bisa saja seperti itu?"
"Ya, ini sangat masuk akal," sambung Vallen. Sedangkan Aini dan Dimas pun tampak mengangukkan kepalanya.
"Delia, Dimas. Bagaimana kalau kita ke Panti Asuhan tersebut? Barangkali ada bayi yang dibawa ke panti asuhan itu di hari yang sama ataupun setelah Sachi hilang di dalam kereta."
"Iya kau benar, Vallen. Ayo kita ke Panti Asuhan tersebut!" seru Dimas.
"Kenzo, Cleo, kalian mau kan mengantarkan kami ke Panti Asuhan itu lagi?" pinta Delia.
"Tentu saja, kami akan mengantarkan Om dan Tante ke Panti Asuhan itu."
"Mama juga ikut!! Kenapa kau hanya menyebut mereka bertiga?"
"Iya, Iya, Ma," gerutu Cleo.
"Iya Ma, ayo kita ke sana sekarang!"
****
Beberapa saat kemudian, Luna mengikuti Devano ke dalam kamar. Namun, entah kenapa tiba-tiba kata hatinya menuntunnya untuk berjalan ke arah balkon kamar. Saat berdiri di balkon kamar itu, tiba-tiba netral Luna tertuju pada Vallen dan beberapa orang tamunya yang masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa.
"Kenapa mereka tergesa-gesa sekali?" ujar Luna sambil mengerutkan keningnya dan memegang dadanya diiringi rasa sesak yang kembali merasuk ke dalam hatinya.
__ADS_1