Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Si Cantik Dora


__ADS_3

"Dokter Vallen!" panggil Luna.


"Luna, bagaimana keaadaanmu?"


"Aku baik-baik saja, Dok. Semua karena Dokter Vallen, dokter sudah merawatku dengan baik, bahkan memberikan solusi pada masalahku. Bukankah begitu, Devano?"


"Emh, i-iya, Sayang," jawab Devano sambil tersenyum getir. Vallen pun terkekeh melihat tingkah gugup Devano.


"Syukurlah. Lebih baik kau masuk dan beristirahatlah. Kau jangan terlalu lelah, buang semua pikiran burukmu, Luna. Ada aku di sini yang selalu membantumu," ujar Vallen.


"Iya dokter, sekali lagi terima kasih banyak," jawab Luna. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Devano masih tersenyum getir pada Vallen.


"Selamat sore, Dokter. Permisi, saya masuk dulu."


"Devano! Kau ingat kan dengan semua kata-kataku?"


"Tentu saja Tante Dokter, bukankah saya sudah berjanji untuk membahagiakan dan menjaga Luna?" jawab Devano.


"Bagus jika kau masih ingat, Devano!"


"Tentu saja Tante Dokter, percayalah saya bukan species berbahaya seperti yang anda pikiran."


"Benarkah?"


"Tentu saja Dok."


"Baik, aku pegang janjimu Devano! Ingat Luna sekarang adalah istrimu, dan dia sedang mengandung anakmu. Kau harus ingat Surat Al Furqan ayat 74, Wallazina yaqụlụna rabbana hab lana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yuniw waj’alna lil-muttaqina imama. Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Ayat tersebut harus menjadi renungan sekaligus doa penyejuk hati para suami, agar istri diberikan kehidupan yang layak serta penuh cinta. Selain itu, agar bisa selalu bertakwa pada Allah SWT."


"Subhanallah, Tante Dokter memang sangat luar biasa dan spektakuler."


"Syukron Akhi. Ingat, kalau kau sampai menyakiti Luna. Aku tidak segan-segan untuk mengkebiri dirimu!"


'Astaga! Menakutkan sekali! Kalau aku dikebiri, kasihan Joni, nanti dia layu sebelum berkembang dan tidak bisa bermain-main dengan si cantik Dora,' batin Devano sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Devano!!! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"


"Oh... Emhhh, e iya Tante Dokter. Saya mengerti! Saya tidak akan menyakiti Dora, Tante."


"Dora? Siapa itu Dora? Apa dia selingkuhmu? Baru saja kau berjanji padaku, kau sudah mau macam-macam, hah? Baik, kau akan kukebiri sekarang juga! Papaaaaaa tolong ambilkan suntikan kebiriku Pa!" teriak Vallen.


"Tante, tolong jangan Tante. Tante salah sangka. Dora adalah panggilan kesayanganku untuk Luna."


"Benarkah?"


"Benar, kalau Tante tidak percaya, Tante bisa tanya ke Luna."

__ADS_1


"Baik, untuk saat ini aku percaya! Sekarang cepat masuk! Temani Luna di dalam!"


"Owhhh emm iya, Tante Dokter," jawab Devano. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Setelah berdiri di ruang tamu rumahnya, dia lalu mengambil ponselnya dan menempelkan ponsel itu di telinganya.


[Mama!] panggil Devano saat panggilan sudah diangkat.


[Ada apa Devano? Kenapa kau berteriak-teriak seperti ini?]


[Mama! Kenapa Mama membelikan aku rumah di samping rumah dokter galak itu!]


[Benarkan? Benarkan rumahmu di samping dokter galak itu? Astagaaaa! Maaf, Devano. Mama tidak tahu menahu tentang hal itu, Mama dan Papa hanya mendapat rekomemdasi rumah itu dari Pak Firman, ya dia salah satu manager di perusahaan Kenzo!]


[Astaga, Mama!!! Firman itu suami dari Dokter Vallen Ma! Dia juga mertua dari Kenzo!]


[Ja-jadiiii Mama sudah salah ambil keputusan?]


[Iya Ma, rumahku sekarang di samping rumah dokter galak itu!]


[Astaga, menakutkan sekali! Lebih baik kau terima saja nasibmu! Sudah terima saja, yang terpenting tidak ada yang tahu kau sudah menikah karena kau harus melanjutkan perjodohan itu.]


[Tapi Ma..,]


[Tidak ada tapi-tapian. Atau Mama akan memecat Arka, dan menghancurkan keluarga Luna. Apa kau mengerti?] Devano hanya terdiam.


[Apa kau mengerti Devano?] tanya Viona lagi.


Tanpa dia sadari, Luna yang saat ini berdiri di lantai atas, mendengar percakapannya dengan Viona. 'Devano tetap akan melanjutkan perjodohan itu? Jadi, kau sudah berbohong padaku?' batin Luna.


Devano lalu menahan rasa kesal saat berjalan menuju ke kamarnya. "Luna! Luna!" panggil Devano.


Namun, tak ada jawaban. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mendengar percikan air dari dalam kamar mandi. "Oh, jadi Luna sedang mandi?"


Devano kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Luna lalu keluar dari kamar mandi dengan menggunakan dress piama di atas lutut berbahan satin tipis. Sedangkan rambutnya dia tutup dengan menggunakan handuk kecil.


Luna kemudian berjalan ke depan meja rias lalu membuka handuk yang membungkus rambutnya dan mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer.


Sementara Devano yang melihat tubuh seksi Luna hanya terbungkus piama tipis, hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Naluri kelaki-lakianya mulai bergejolak, sedangkan juniornya di bawah pun mulai berkedut.


Devano kemudian bangkit dari atas ranjang lalu mendekat ke arah Luna dan melingkarkan tangannya pada perut Luna. Luna pun begitu terkejut saat tiba-tiba melihat tangan Devano yang sudah menempel di perutnya.


"Luna," dessah Devano di telinga Luna. Junior Devano yang kini terasa menegang dan berkedut pun kian terasa di bokong Luna. 'Apa-apaan ini? Baru saja kau mengatakan akan melanjutkan pertunanganmu. Sekarang kau bersikap seperti ini padaku, Devano? Kau pikir aku ini apa?' batin Luna sambil tersenyum kecut.


Luna kemudian menyatukan rambutnya lalu mengikat ke atas yang membuat tengkuk indahnya terlihat semakin menggairahkan bagi Devano. Luna juga sengaja memundurkan bokongnya agar bokong sintalnya yang kini semakin besar akibat hormon kehamilan kian menempel di junior Devano.


"Ahhhh Lunaaa," dessah Devano lolos begitu saja.

__ADS_1


Mendengar Devano yang kian terpancing Luna pun tersenyum, dia kemudian membuka kancing piama yang paling atas lalu membalikkan tubuhnya ke arah Devano dan tersenyum dengan begitu manis yang membuat hasrat Devano semakin menggebu-gebu.


Devano kemudian mengangkat tangannya lalu membelai wajah Luna. Luna pun mendekatkan tubuhnya dan menempelkan buah dadanya yang membuat Devano kini semakin bernafsu melihatnya. Dia pun menelan ludahnya dengan kasar saat melihat buah dada Luna yang menyembul di balik kancing piama yang terbuka, apalagi Luna menggoyang-goyangkan buah dadanya di dada Devano yang semakin membuat kepalanya seakan ingin pecah untuk segera meremmas dan melummat buah dada itu.


Hasrat yang kian menggelora membuat jantung Devano berdegup semakin kencang, apalagi saat ini Luna tampak mendekatkan wajahnya. Devano pun mulai menutup matanya dan membayangkan sensasi yang akan dirasakannya.


Namun, tiba-tiba bisikan dari Luna seolah nenghancurkan angan-angannya. "Aku tidur dulu, Devano!"


Mendengar bisikan dari Luna, Devano pun terbelalak. "Apa maksudmu, Luna?"


"Tidur."


"Ya, tidur."


"Apaaa? Bukankah kita?" ujar Devano sambil memberikan kode dengan menggunakan kedua jari telunjuknya yang dia tempelkan.


"Kita apa Devano?"


"Joni sudah sangat merindukan Si Cantik Dora."


"Upsss maaf Devano! Aku lupa belum memberi tahu kalau kau tidak boleh menyentuhku sampai satu atau dua bulan lamanya."


"Benarkah seperti itu?"


"Ya, Dokter Vallen yang mengatakan seperti itu. Kalau tidak percaya akan kutelepon Dokter Vallen sekarang juga! Karena kondisiku masih belum aman untuk berhubungan badan," ucap Luna sambil tersenyum kecut.


"Oh-tidak usah, Luna. Sebaiknya kita jangan mengganggu Dokter Vallen."


"Baiklah, kalau begitu aku tidur dulu Devano!" ucap Luna ketus.


"Selamat tidur, Luna sayang!"


Luna pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sedangkan Devano hanya mendengus kesal lalu berjalan ke arah balkon. "Sial! Aku sudah memuncak, dan dia malah meledekku!" umpat Devano sambil melirik ke arah juniornya yang kembali mengempis.


"Kasihan sekali kau, Joni!"


NOTE:


Follow ig & fb othor juga ya.


ig: queenweny


fb: Weny Hida

__ADS_1


Terima kasih, salam sayang untuk kalian semua 🤗😘


__ADS_2