
"Hilang?" ujar Devano sambil mengerutkan keningnya.
"Iya Tuan, banyak yang mengatakan kalau Sachi itu sebenarnya hilang."
"Benarkah?"
"Ya kalau, Tuan tidak percaya mungkin Tuan bisa menyelidikinya ke sana langsung ke rumah Nyonya Fitri, tempat mereka dulu tinggal, sebelum mereka semua pindah ke Jakarta."
Devano terdiam, dan tampak berfikir sejenak. Dia kemudian menatap Fabian yang masih duduk di depannya.
"Kau tetap selidiki Sachi, dan akupun akan menyelidikinya dengan caraku sendiri juga."
"Baik tuan."
"Kau boleh pergi sekarang."
Fabian kemudian beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja Devano. Sementara itu Devano tampak menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memijat keningnya.
"Kenapa aku jadi berfikir kalau Luna adalah Sachi? Bagiku tampaknya ini bukan hanya sebuah kebetulan. Tetapi semunya terasa seperti ada benang merahnya. Logikanya, bagaimana mungkin tiba-tiba Tante Delia memiliki foto Luna saat masih bayi? Lalu keberadaan Sachi pun masih sangat misterius. Bahkan mereka juga tidak mau menunjukkan foto Sachi untukku."
Devano kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Mereka mengatakan kalau tidak mau memberikan foto itu untuk memberikan kejutan padaku. Tapi bagiku alasan itu tidak terlalu mengada-ngada, ini benar-benar sangat mencurigakan. Kalau begitu sebaiknya aku pergi ke rumah Tante Delia sekarang juga, kalau benang merahnya sejalan, baru aku menyelidikinya ke Jogja, ke rumah Oma Fitri," ujar Devano.
Dia lalu bergegas keluar dari ruangannya kemudian pergi ke rumah Delia. Tak berapa lama, Devano pun sudah sampai di rumah mewah bergaya minimalis tersebut.
TETTTT TETTT
Setelah pintu rumah itu terbuka, tampak seorang pembantu rumah tangga berdiri di depan Devano. "Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Bisakah saya bertemu dengan Tante Delia?"
"Oh iya, silahkan. Silahkan masuk Tuan," kata pembantu rumah tangga tersebut.
Devano lalu masuk ke dalam rumah itu, entah kenapa debaran jantungnya terasa berdegup begitu kencang.
Devano lalu mengamati sekeliling rumah itu. Dia kemudian melihat foto keluarga yang ada di ruang tamu rumah itu. Namun, dalam foto keluarga itu hanya terdapat Fitri, Dimas, Delia dan Shakila, tidak ada Sachi.
Devano kemudian mengamati beberapa foto yang ada di dinding sisi lain di dalam rumah tersebut. Namun, pada dinding itu hanya terdapat foto-foto Shakila, tidak ada wanita foto wanita muda lainnya, hanya ada foto Shakila di dinding rumah itu.
"Kenapa tidak ada foto Sachi di rumah ini? Ini benar-benar sangat mencurigakan. Namun, saat asyik mengamati beberapa foto tersebut sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Devano.
"Devano!" panggil suara tersebut. Devano lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Delia yang sudah berdiri di belakangnya.
"Oh Tante Delia," sapa Devano.
__ADS_1
"Devano, kenapa kau tidak bilang terlebih dulu kalau kau mau mampir ke rumah ini, Nak?" ujar Delia.
'Astaga, kenapa dia tidak bilang kalau mau ke rumah ini. Kalau aku tahu Devano mau datang ke rumah ini, aku tidak mungkin membiarkan Dea atau Sachi yang sebenarnya pergi mengambil berkasnya di kantor Kenzo,' batin Delia.
"Oh aku hanya tidak sengaja mampir Tante, kebetulan aku baru saja pergi ke salah satu seorang temanku yang rumahnya tidak jauh berada di dekat sini. Jadi, aku mampir ke sini. Bukankah kita sudah lama tidak bertemu?"
"Oh jadi begitu, kau memang anak yang baik Devano."
Devano pun tersenyum. "Astaga, maaf Tante lupa, mungkin Tante terlalu bahagia melihat kedatanganmu ke sini, jadi Tante lupa tidak menyuruhmu duduk. Ayo duduk dulu Devano!" ujar Delia sambil memerintahkan Devano duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut.
"Bagaimana keadaanmu Devano?"
"Baik Tante. Bagaimana keadaan tante dan keluarga Tante?"
"Kami juga baik-baik saja Devano. Emh, Devano kebetulan Sachi sudah pulang dari Australia. Tetapi, saat ini dia sedang pergi menemui salah seorang temannya."
DEGGGG
Mendengar nama Sachi disebut, Devano pun tampak tertegun. "Sachi?" ucap Devano lirih.
"Ya, Sachi. Sachi putri kedua Tante. Tunanganmu Devano, dia sudah pulang dari luar negeri."
'Oh shhitttt, tidak!' umpat Devano dalam hati.
Mendengar perkataan Delia, tubuh Devano pun menegang, seluruh tubuhnya bergetar hebat, seakan dialiri aliran listrik.
"Devano, sebenarnya tante ingin kalau kau dan Sachi bisa menikah bersama dengan Darren dan Shakila. Nanti kami bicarakan dengan kedua orang tuamu, semoga saja mereka setuju."
GLEK
Devano pun hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. 'Aku tidak mau menikah dengan Sachi,' batin Devano. Perasaannya pun begitu campur aduk, bahkan keringat dingin juga keluar dari sekujur tubuhnya.
'Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh diam saja. Aku harus melakukan sesuatu,' batin Devano.
"Tante, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan," kata Devano.
"Kenapa buru-buru sekali, Devano? Apa kau tidak ingin bertemu dengan Sachi?"
'Sachi lagi,' batin Devano.
"Oh kapan-kapan saja Tante, biar surprise."
"Baiklah. Tante yakin kau pasti sangat menyukai Sachi, karena dia adalah dia adalah gadis yang manis."
__ADS_1
Devano pun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Delia. "Ya, iya Tante," jawab Devano lemas.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang, Tante."
"Iya Devano hati-hati di jalan."
Devano kemudian keluar dari rumah tersebut sambil mengumpat. "Aku pikir aku akan mendapat titik terang dari teka-teki Luna, tapi malah aku harus mendapat kenyataan pahit kalau ternyata Sachi ternyata sudah pulang dari luar negeri dan mereka semua akan merencanakan pernikahanku dengan Sachi? Astaga ini tidak boleh terjadi, aku harus menggagalkan rencana pernikahan ini, apapun caranya. Aku tidak sanggup kalau aku harus berpisah dengan Luna," ucap Devano sambil berjalan keluar dari rumah itu.
Sementara Shakila yang sejak tadi melihat perbincangan Devano dan Delia hanya bisa bergumam dalam hati. 'Benarkah Dea itu adalah Sachi? Bagaimana kalau ternyata Dea bukan Sachi? Kalau Dea ternyata bukan Sachi, Devano akan menikahi wanita yang salah. Oh tidak,' gumam Shakila.
"Shakila, kau kenapa?" tanya Delia saat melihat Shakila yang kini tampak termenung di dalam rumah itu.
"Oh tidak apa-apa Ma, aku hanya sedang menunggu Kak Darren menjemputku," jawab Shakila untuk menutupi kegundahan hatinya.
"Baiklah, kalau begitu mama pergi ke kamar dulu ya, Sayang."
"Iya Ma."
Delia kemudian mengambil ponselnya, saat berjalan ke kamar. "Aku harus memberitahu Viona kalau Devano baru saja datang ke rumah ini."
[Halo Viona.]
[Halo Delia, apa kabarmu?]
[Baik Viona. Viona tahukah kau, Devano baru saja pulang dari rumah ini.]
[Benarkah?]
[Iya Viona. Mana mungkin aku bohong padamu. Devano baru saja pulang dari rumah ini, dan sepertinya dia sedang mencari tahu tentang Sachi.]
[Mungkin dia sudah mulai tertarik pada Sachi, Delia.]
[Viona kau benar juga, mungkin Devano sudah mulai tertarik dan penasaran dengan Sachi, ini benar-benar berita yang bagus.]
[Ya, aku pun merasakan hal yang sama denganmu Delia. Bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan antara Sachi dan Devano?]
[Ya, itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita bertemu untuk membicarakan pertemuan pernikahan mereka?]
[Iya nanti kubicarakan ini dengan suamiku dan Mama Fitri.]
[Aku tunggu kabar darimu secepatnya.] jawab Viona. Beberapa saat kemudian, Viona lalu menutup panggilan ponsel tersebut.
"Devano mencari tahu tentang Sachi? Ini benar-benar sebuah berita bagus. Aku harus secepatnya memisahkan Devano dan Luna," ujar Viona.
__ADS_1
"Sebaiknya aku temui wanita sialan itu sekarang juga," ujar Viona sambil keluar dari rumah tersebut untuk menemui Luna.