Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Panti Asuhan


__ADS_3

Saat Devano masuk ke dalam kamar mereka, dia melihat Luna yang tampak sedang memandang foto yang baru saja dia temukan tadi sore. Sebuah foto bayi yang dijatuhkan oleh Delia di halaman rumah Vallen.


"Luna!" panggil Devano. Luna lalu mengangkat kepalanya, sambil mengernyitkan keningnya dan menatap Devano dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa Luna?" Luna hanya diam, lalu mengangkat foto tersebut, dan memperlihatkannya pada Devano.


"Apa ini Devano?"


"Oh itu foto seorang bayi, Luna. Tadi aku menemukannya di halaman rumah Dokter Vallen."


"Di halaman rumah Dokter Vallen?" ucap Luna sambil membuka mulutnya tertahan.


"Kenapa Luna? Kenapa kau tampak terkejut seperti ini?"


"Devano, tahukah kau siapa bayi di dalam foto ini?"


"Tentu saja tidak Luna, aku hanya menemukan foto itu. Bagaimana? Bayi itu memang sangat lucu dan menggemaskan kan? Kalau bayi itu ada di sini, sudah kucubit-cubit," kekeh Devano.


"Devano, bayi dalam foto ini adalah aku."


"Apa? Jadi bayi ini adalah kau Luna? Jadi aku sudah sering mencubit bayi ini? Pantas saja bayi ini sangat lucu. Ternyata bayi ini adalah pemilik Dora yang begitu indah."


"Devano, ini bukan saatnya becanda. Apa kau tidak merasa aneh! Bagaimana fotoku bisa ada di rumah Dokter Vallen?"


Devano terdiam mendengar perkataan Luna, berbagai pikiran kini mulai berkecamuk di dalam benaknya.


'Benar juga apa yang dikatakan Luna, ini memang hal yang aneh. Tapi aku tidak mungkin memberitahu pada Luna kalau foto itu tanpa sengaja dijatuhkan oleh Tante Delia, karena dia adalah orang tua dari Sachi, tunanganku sendiri. Aku tidak mau Luna semakin penasaran dan mencari tante Delia, lalu tahu kalau aku adalah tunangan dari putrinya,' batin Devano.


"Luna, mungkin saja foto itu terjatuh saat kita pindah kemarin, kemudian tanpa sengaja mungkin terbawa oleh angin atau kucing masuk ke halaman Dokter Vallen."


"Tapi aku tidak membawa foto bayiku, Devano."


"Luna sebaiknya tidak usah dipikirkan, kapan-kapan saja kita tanyakan ini pada Dokter Vallen. Sebaiknya sekarang kau mandi, lalu kita makan malam. Setelah itu aku akan mengajakmu pergi jalan-jalan.


"Pergi jalan-jalan kemana Devano?"


"Rahasia..." ujar Devano sambil menjulurkan lidahnya.


"Luna..., mandi bareng...."


"Tidak Devano, aku cape."


"Aku yang mandiin deh."


"Luna, please. Ingat, seorang Istri harus menuruti kata-kata suaminya. Apa kau mengerti?"


Luna menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Hufttt, baiklah."


"Bagus sekali, istriku tersayang. Lebih baik, sekarang kau masuk dulu ke kamar mandi, lalu siapkan bathtub seperti biasa. Aku mau ambil aromatherapy dulu di bawah," kata Devano.


Luna menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi, setelah mengisi bathtub dengan air dan liquid foam, dia tampak berdiri di depan cermin terlebih dulu sambil menatap wajahnya yang ada pada pantulan cermin itu.


"Siapa aku? Siapa aku sebenarnya? Tolong katakan padaku, siapa aku sebenarnya?"

__ADS_1


Luna lalu memejamkan matanya, dan menghapus air mata yang mulai keluar dari sudut matanya. "Mungkin sekarang aku tidak boleh tinggal diam, aku juga harus mulai menyelidiki jati diriku yang sebenarnya, dan satu-satunya kunci adalah Mama. Ya, lebih baik besok aku menemui Mama."


Saat baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Devano sudah berdiri di belakang Luna. "Kau kenapa sayang? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan? Apa kau masih memikirkan pernikahan kita? Pernikahan yang terjadi beriringan dengan pertunangan yang kujalani?"


Luna kemudian menundukkan wajahnya. Devano lalu mengangkat wajah Luna. "Biarkan saja orang berkata apa, aku menikahimu bukan karena orang lain tapi karena kau adalah orangnya. Satu-satunya orang yang menjadi belahan jiwaku. Aku tidak akan membiarkan retina ini menjadi basah karena air mata, sebab yang dirasakan oleh hati siapapun tidak berhak menghakimi, karena rasa itu datang dengan sendirinya."


Luna kemudian menganggukkan kepalanya. "Kenapa kau masih menangis?"


"Devano, saat kehamilanku semakin besar, tubuhku melebar, dan wajahku membulat, apa kau masih bisa berkata seperti itu padaku? Bukankah kau selalu tertarik pada wanita cantik dan seksi? Bagaimana kalau kau tertarik pada wanita di luar sana yang lebih cantik dariku? Lihat, pipiku saja sekarang sudah membulat, tembam sekali."


Devano hanya terkekeh mendengar perkataan Luna. "Luna sayang, tahukah kau saat ini jauh lebih terlihat cantik dan seksi dibanding saat kita pertama bertemu?"


"Bohong!"


"Untuk apa aku bohong, apa kau tahu bukan hanya pipimu yang lebih tembam, tapi Dora juga semakin chuby, lalu susu kenyal ini juga semakin besar dan buah cherinya yang semakin ranum. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu kalau kau semakin menggemaskan, Luna."


"Gomballllll..."


"Luna, Joni sudah rindu lagi pada Dora."


"Joni atau Devano?"


"Ingat Luna, Devano bisa menahan nafsunya tapi tidak dengan Joni."


"Itu sama saja Devano..."


"Benarkan? Kalau begitu biarkan Joni dan Devano bertemu si chuby... "


"Tapi Neng Luna suka, cie, cie, cie..."


"Deva... "


Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, Devano sudah mellummat bibir itu, lalu mengangkat tubuh Luna masuk ke dalam bathtub.


***


Mendengar penjelasan tamu yang datang, jantung Ibu Panti seakan berhenti berdetak. 'Astaga!' batin Ibu Panti sambil menutup mulutnya.


Melihat reaksi Ibu Panti tersebut yang terlihat terkejut, Delia kemudian menghampirinya.


"Ibu Panti, apakah anda tahu sesuatu tentang putriku? Tolong katakan yang anda ketahui? Ibu Panti, lihat aku. Aku adalah wanita bodoh itu. Aku adalah wanita bodoh yang telah meninggalkan putriku di dalam gerbong kereta api. Aku wanita bodoh itu, Ibu Panti. Tapi tolong percayalah, di balik kebodohanku ini, aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Aku tidak sengaja meninggalkan putriku di dalam gerbong kereta api itu, karena saat itu hatiku sedang begitu kalut. Saat itu aku sedang mengalami ujian terbesar sepanjang hidupku. Itulah alasannya aku melakukan hal itu. Tapi sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan putriku. Aku sangat menyayangi putriku. Ibu Panti, tolong aku. Beri tahu aku jika kau tahu tentang keberadaan putriku. Selama dua puluh tahun lebih, kami selalu mencari keberadaan putriku, tapi aku tidak pernah menemukan titik terang keberadaan putriku itu," ucap Delia dengan begitu terisak.


Dimas lalu mendekat ke arah Delia yang kini bersimpuh di hadapan Ibu Panti itu yang kini juga tampak terisak.


"Delia, tegarkan dirimu. Tegarkan dirimu, Delia!"


"Nyonya, tolong tenangkan diri anda, Nyonya," sahut Ibu Panti.


"Ibu Panti, tolong jujurlah padaku. Panti Asuhan ini, adalah tempat yang paling dekat dengan statsiun tempat aku turun saat aku meninggalkan bayiku di dalam gerbong."


"Nyonya, se-sebenarnya.."


"Sebenarnya apa, Ibu Panti?"

__ADS_1


"Nyonya, sebenarnya dua puluh tahun lalu, ada seorang wanita yang membawa bayi perempuan ke Panti Asuhan ini, dan mengatakan jika dia menemukan bayi tersebut di dalam gerbong kereta. Memang, dia mengatakan jika Ibu dari bayi itu terlihat seperti orang linglung karena saat beberapa orang memanggilnya, Ibu bayi itu seperti ketakutan. Jadi, setelah wanita itu menitipkan bayi perempuan tersebut, kami asuh di sini hingga dia dewasa."


"AAAAAAAAAA!" raung Delia sambil menangis.


"Ibu Panti, tolong katakan dimana bayi itu, dia putriku Ibu Panti. Kuakui, saat itu aku memang sedang dalam tekanan mental. Psikologisku sangat terganggu. Aku memang seperti orang yang tak waras hingga bisa meninggalkan putriku begitu saja di dalam gerbong kereta! Ibu Pantiiiii, tolong katakan dimana putriku, aku ingin bertemu dengan putriku!" teriak Delia.


"Delia... Delia tenangkan dirimu, Delia!" ucap Dimas sambil memeluk Delia yang saat ini terlihat begitu hancur.


"Ibu Panti, bisakah anda beritahu dimana putriku? Aku ingin bertemu dengan putriku?" raung Delia kembali.


"Ibu Panti, dimana putri kami?" sambung Dimas.


"Di-dia ada di sini. Dia masih ada di dalam Panti ini. Dia mengabdikan hidupnya untuk Panti ini. Bayi itu, bayi yang dititipkan dua puluh tahun yang lalu, sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan pintar."


"Ja-jadi dia masih ada di sini? Bisakah kami bertemu dengannya, Ibu Panti?"


"Tentu saja, sebentar kupanggilkan."


"DEAAAAA! DEAAAAA!"


NOTE:


Mampir juga ya ke karya Kak Yunita Yanti dijamin ceritanya keren abis loh.




Eps. 06. Kesalahan Satu Malam


#TerjebakDalamPerselingkuhan


"Terima kasih banyak atas pelayananmu yang sangat luar biasa malam ini, Nona! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi antara kita malam ini," ucap pria itu sambil mendekat ke ranjang serta mengecup bibir ranum Sherina yang sudah tidak sadar dan tertidur dengan lelapnya.


"Selamat tinggal, Cantik. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi," lirih pria itu di telinga Sherina.


Dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh bugil Sherina dan segera keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Sherina seorang diri disana.


Beberapa menit tertidur pulas, Sherina sedikit demi sedikit mulai sadar. Dia mengerjapkan matanya yang sedikit silau oleh cahaya lampu di kamar itu.


"Aku ada dimana? Kenapa kepalaku rasanya pusing sekali?" Perlahan Sherina bangun dari tempat tidur. Namun, ia merasa sangat linglung.


"Hah ... apa yang terjadi denganku?" Sherina terlonjak kaget ketika menyadari tubuhnya sedang tidak mengenakan sehelai benangpun saat itu.


"Aaww!" ringisnya seraya menyentuh bagian kewanitaanya yang terasa perih. Bisa dibayangkan betapa ganasnya seseorang telah menjamahnya malam itu.


"Siapa yang membawaku ke tempat ini dan apa yang tadi sudah terjadi?" Sherina memukul-mukul kepalanya, mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi terhadap dirinya.


"Apa mungkin pria yang aku temui di club itu yang membawaku kesini? Tapi siapa dia? Aahh, aku tidak ingat sama sekali," sesal Sherin. Meski berusaha keras mengingat siapa pria yang sudah bersamanya, tetapi karena saat itu dia dalam pengaruh alkohol, dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.


Gadis itu kemudian mengendus bantal di sebelahnya, walau hanya samar-samar, dia bisa mencium aroma maskulin tubuh seorang pria masih menempel di bantal itu.


"Dasar laki-laki pengecut. Setelah melampiaskan hasratnya padaku, dia langsung kabur begitu saja!" sungutnya kecewa dan merasa frustasi. Namun, dia tidak tahu harus meluapkan amarahnya kepada siapa. Dia sama sekali tidak mengingat siapa laki-laki yang tadi sudah melewatkan malam bersamanya. Bahkan, ini pertama kali dalam hidupnya ada seorang pria yang meninggalkannya tanpa jejak, bahkan setelah laki-laki itu puas menikmati tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2