
Setelah Luna tak lagi terlihat di apartemen itu, Viona kemudian bergegas masuk ke dalam kamar Devano lalu mengambil beberapa bareng mewah di dalam kamar itu, dan menuliskan sebuah surat yang dia taruh di atas meja yang ada di sofa ruang tamu.
"Aku tidak tahu bagaimana tulisan Luna, aku tulis suratnya pakai huruf kapital saja," ujar Viona sambil mengamati surat tersebut.
Dia kemudian meninggalkan apartemen Devano sambil tersenyum menyeringai. "Saat Devano pulang dan melihat barang-barang mewah di rumahnya hilang, sekaligus menemukan surat di atas meja, pasti dia akan merubah pola pikirnya tentang Luna karena Luna, tidaklah seperti yang dia pikirkan selama ini, hahahahaha. Devano, kembalilah pada kehidupan lamamu, dan jadilah anak yang penurut padaku. Aku ibumu, dan aku yakin, perjodohan ini adalah yang terbaik bagimu," ujar Viona sambil tersenyum kecut.
Dia kemudian menatap beberapa barang-barang mewah milik Devano yang dia bawa dari apartemen itu.
"Itulah akibatnya kalau kau berani main-main denganku, Luna. Kau hanyalah butiran debu bagiku yang bisa dengan mudahnya kusingkirkan kapanpun kumau. Aku yakin, setelah ini Devano tidak mungkin akan kembali padamu. Mungkin, dia bahkan akan sangat membencimu," kekeh Viona saat berjalan meninggalkan apartemen itu.
***
Jam sudah menunjukan hampir pukul dua belas siang, Devano yang baru saja selesai meeting, keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.
"Ini sudah hampir jam makan siang, aku harus cepat pulang ke apartemen. Aku tidak mau meninggalkan Luna terlalu lama sendirian," kata Devano sambil berjalan meninggalkan kantornya.
Dia kemudian berhenti di sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah berukuran jumbo. Setelah itu, dia mengendarai mobilnya ke sebuah mini market dan apotek, dan yang terakhir ke sebuah rumah makan untuk membeli makan siang untuknya dan Luna.
Devano kemudian menarik kedua sudut bibirnya takkala melihat jok mobilnya, sudah penuh berbagai barang-barang yang dia belikan untuk Luna.
"Satu buket bunga mawar merah yang cantik, seperti Neng Luna. Satu buah papper bag full cokelat yang manis yang manis, semanis Neng Luna. Lalu, satu kantong obat yang pahit, sepahit aku. Tapi biarpun pahit, aku adalah obat yang membuat Neng Luna sembuh, Neng Luna... Abang datang, Sayang," kekeh Devano saat mengendarai mobilnya menuju ke apartemennya.
Tak berapa lama, Devano pun sudah sampai di unit apartemen miliknya. Sebelum membuka pintu apartemen itu, Devano tampak menyugar rambutnya dan merapikan penampilannya.
"Sepertinya aku sudah cukup tampan. Pasti Luna akan semakin terpikat padaku. Ah Devano, kau tampan sekali, aku sangat merindukanmu Devano, ayo cium aku, aku juga rindu Joni, gelli-gellian lagi sayang," ujar Devano dengan bibir menye-menye. Dia kemudian membuka pintu apartemennya.
CEKLEK
__ADS_1
"Lunaaaa!"
"Sepi sekali, apa dia tidur?" ujar Devano. Dia kemudian berjalan ke kamarnya, namun saat membuka kamar miliknya, kamar itu tampak sepi.
"Tidak ada di kamar. Ah, mungkin saja dia ada di kamarnya," kata Devano sambil berjalan menuju ke kamar Luna. Namun, setelah dia membuka pintu kamar, kamar itu pun terlihat kosong.
"Dia juga tidak ada di kamarnya. Ah kau dimana Luna?" ujar Devano yang kini mulai terlihat panik dan membuang begitu saja barang-barang yang akan dia berikan pada Luna.
Dia kemudian mencari Luna di dalam setiap ruangan apartemen miliknya, tapi apartemen itu kosong. Devano kemudian mengambil ponselnya, dan mencoba menghubungi Luna, tapi panggilan itu ditolak oleh Luna, dan selanjutnya, dia tidak bisa menghubunginya kembali.
"Apa-apaan ini? Kenapa Luna menolak panggilanku? Bahkan memblokir nomerku. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Luna?" ujar Devano.
Devano yang begitu cemas, kini tampak mondar-mandir di dalam apartemen sambil beberapa kali mengumpat dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ada apa ini? Apa yang telah terjadi pada Luna? Kenapa Luna tiba-tiba seperti ini? Apa Jangan-jangan Mama telah berbuat sesuatu padanya? Ahhhh, benar. Mama mungkin sudah datang ke sini dan berbicara hal yang tidak-tidak pada Luna. Sebaiknya, kuhubungi Mama sekarang agar dia minta maaf pada Luna."
UNTUK DEVANO,
TERIMA KASIH ATAS SEMUA YANG TELAH KAU BERIKAN PADAKU. MAAF JIKA AKU TIDAKLAH SELUGU DAN SEPOLOS SEPERTI YANG KAU PIKIRKAN SELAMA INI, AKU HANYALAH WANITA BIASA, YANG MEMBUTUHKAN MATERI UNTUK BERTAHAN HIDUP, DAN SAAT INI AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG AKU INGINKAN.
DEVANO, MAAF JIKA INI TERDENGAR KEJAM. TAPI KAU SALAH JIKA SUDAH MENARUH HARAPAN YANG BEGITU BESAR PADAKU. KARENA KEKECEWAAN ITU BUKAN KARENA SIAPA YANG MEMATAHKAN HARAPAN, TAPI KARENA KAU YANG TERLALU BERHARAP LEBIH PADAKU.
AKU BUKANLAH WANITA YANG PANTAS KAU HARAPKAN, KARENA SEMUA CINTAKU ITU PALSU.
SELAMAT TINGGAL DEVANO..
"A-apa? Ti-tidak mungkin."
__ADS_1
Devano pun hanya menatap surat itu dengan tatapan nanar. "Tidak mungkin, tidak mungkin Luna berbuat seperti ini padaku," ujar Devano.
Kini butiran bening pun mulai keluar dari sudut matanya, mata yang tampak memerah.
"Tidak Luna, kau tidak mungkin melakukan ini. Kau tidak mungkin membohongiku dan mempermainkan perasaannku, kan Luna?" ujar Devano yang kini mulai terisak.
Dia kemudian menatap butiran bening yang mulai jatuh ke atas tangannya. "Apa-apaan ini? Kenapa aku menangis? Aku tidak pernah menangis karena wanita. Apa-apaan ini?" teriak Devano sambil berteriak dan menjatuhkan barang-barang miliknya.
"ARRRGGHHHHHH LUNAAAAA KAU JANGAN BERCANDA! LUNA KAU JANGAN BERCANDA! AKU TAHU KAU SEDANG MENGERJAIKU KAN LUNA! JANGAN BERBOHONG LUNA! AKU TAHU KAU JUGA SANGAT MENCINTAIKU!" teriak Devano sambil terisak.
Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya, berniat untuk memeriksa barang-barang milik Luna. Namun, betapa terkejutnya Devano saat melihat kamar itu dan mendapati barang-barang mewah miliknya telah hilang, termasuk uang yang dia simpan di dalam brankasnya, isi brankas itu telah kosong.
Devano pun tampak begitu frustasi, dia hanya bisa menangis dan berteriak-teriak menahan perasaan yang begitu sakit dan menyesakkan dadanya. Sakit, dan kecewa tapi bukan karena materi yang telah hilang, tapi karena dikecewakan separuh hati yang telah dia titipkan.
"Selama ini, aku tidak pernah jatuh cinta. Tapi saat aku benar-benar merasakan apa arti cinta, aku dikecewakan. Dikecewakan hingga terjerumus ke jurang yang paling dalam. Aku patah, aku jatuh pada seseorang yang hatinya telah kujaga, dan ternyata dia hanya ingin menyakitiku. Kini aku sadar, kalbu memang selalu berbohong padaku. Karena sejatinya di dunia ini kebenaran hanyalah milik logika saja."
"JUST SEXXXX NO LOVE!"
NOTE:
CCTV dimatikan?
🍒Yang ributin kenapa CCTV dimatiin, othor mah mau pake logikanya othor ya, kalo othor mah ga suka kalo mesra²an kerekam CCTV, ga nyaman. Ga tau kalo kalian yang masih ributin, mungkin kalo kalian lagi duduk mesra-mesraan di ruang tamu, ruang TV, ruang makan kalian tetep nyaman kalo kerekam CCTV, schrol lagi ke atas deh mereka kan pernah mesra-mesraan di ruang tamu sama ruang TV. Masa lagi mainan sama Joni di ruang tamu kerekam CCTV, ga enak bener 😅😅😅
KALO CCTV di taruh di kamar, emang kalian mau lagu ML kerekam CCTV?
🍒Lagipula kalo orang marah mana ada yang berfikiran dingin? wkwkwk
__ADS_1