Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Flashback End


__ADS_3

Dua Bulan Kemudian..


"Sudah dua bulan lamanya aku mencari informasi tentang Dea, setelah mengumpulkan semua bukti, sekarang aku tahu kalau Dea adalah anak kandung Mama, tapi aku juga butuh pengakuan dari Mama. Namun, sangat sulit mendapat pengakuan dari Mama. Apalagi sejak Mama sakit dan Mba Luna pulang ke rumah. Aku semakin sulit bicara empat mata dengan Mama," ucap Arka di suatu sore saat dia berjalan menuju ke rumahnya setelah pulang dari kantor.


Namun, saat dia akan memasuki rumahnya, tiba-tiba netranya tertuju pada sosok Rahma yang baru saja keluar dari rumah itu.


"Mama?" ujar Arka sambil mengerutkan keningnya.


Arka kemudian berjalan di belakang Rahma dengan mengendap-endap. Tak berapa lama, dia pun sudah sampai di sebuah panti asuhan yang ada di dekat stasiun.


"Yeah, akhirnya. Akhirnya aku bisa memergoki Mama pergi ke tempat ini!" ucap Arka setengah berteriak. Dia kemudian menunggu Rahma, duduk di sebuah warung kopi yang ada di dekat panti asuhan tersebut. Selama satu jam menunggu, Rahma pun akhirnya keluar dari panti asuhan itu.


"Mama!" panggil Arka setelah berjalan keluar dari panti asuhan itu. Rahma yang mendengar suara yang dikenalnya kemudian membalikkan badannya dan melihat Arka yang berdiri di belakangnya.


"A-Arka?"


"Kenapa? Mama terkejut?"


"Kenapa kau ada di sini, Nak?"

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada Mama? Apa alasan Mama sering menemui Dea di panti asuhan itu? Siapa Dea sebenarnya, Ma? Apa Dea kakak kandungku?"


"Arkaaa... "


"Mama, tolong jujur. Kalau Mba Luna bukan kakak kandungku, lalu dimana kakak kandungku, Ma? Kakak kandungku Dea kan, Ma?"


"Arka, kenapa kau bertanya seperti itu? Siapa itu Dea?"


"Mama, tidak usah berpura-pura Ma. Aku sudah tahu semuanya. Mama mengatakan pada Ibu Panti kalau Mama menemukan Dea di dalam gerbong kereta api kan? Tapi aku tidak yakin, yang sebenarnya Mama menemukan Mba Luna di dalam gerbong kereta api kan? Lalu Mama mengangkat Mba Luna jadi anak Mama, dan menaruh anak kandung Mama di panti asuhan itu kan? Kenapa Ma? Kenapa Mama melakukan semua itu?"


"Arka..."


"Tidak usah basa-basi lagi, Ma. Apa susahnya jujur?"


"Tenangkan diri Mama. Tenang dan tolong ceritakan semuanya padaku. Aku janji Ma, aku janji tidak akan membocorkan rahasia ini pada Mba Luna."


Rahma pun menganggukan kepalanya. "Arka, mama terpaksa melakukan semua itu karena takut pada Papa, Nak."


"Takut pada Papa? Kenapa Mama takut pada Papa? Bukankah Papa sangat baik, Ma?"

__ADS_1


"Mama takut diceraikan..."


"Diceraikan? Kenapa Mama sampai berfikir kalau Papa akan menceraikan Mama sampai Mama tega menukar Mba Luna dan Dea?" tanya Arka sambil mengerutkan keningnya.


"Mama memang menukar Luna dan Dea, karena Dea menderita penyakit jantung bawaan. Saat itu di kereta yang sama, Mama duduk tidak jauh dengan seorang ibu muda yang membawa seorang anak kecil berumur sekitar dua tahu, dan seorang bayi baru lahir dan dia adalah Luna. Saat di dalam kereta, ibu muda itu tampak begitu ketakutan dan cemas. Sampai akhirnya kereta api tersebut berhenti dan dia meninggalkan Luna di dalam kereta api itu yang dia taruh di atas kursi."


Kata-kata Rahma terhenti, sesak itu yang dia rasakan mengingat kejadian dua puluh tahun silam. Begitu pula Arka yang saat ini hanya terdiam disertai tatapan mata kosong.


"Lanjutkan Ma," ucap Arka lirih.


"Melihat Luna yang ditinggalkan begitu saja, Mama berfikir kalau ibu muda itu sengaja meninggalkan Luna karena sepanjang perjalanan ibu muda itu tampak begitu cemas. Jadi, setelah melihat ibu muda itu meninggalkan Luna begitu saja, Mama menghampiri bayi mungil itu dan menggendongnya, dalam gendongan yang sama dengan kakakmu, Dea. Awalnya Mama memang akan menitipkan Luna ke pihak stasiun atau puskesmas terdekat. Tapi Mama terbujuk rayuan setan hingga menukar Luna dan Dea," kata Rahma dengan begitu terisak.


"Jadi Mama menukar mereka karena Dea menderita penyakit jantung bawaan?"


"Ya, mama takut, Arka. Saat itu mama melahirkan Dea di kampung halaman mama karena saat itu hidup kami sangatlah pas-pasan, Mmma melahirkan tanpa didampingi Papa, hanya bersama orang tua. Dan ternyata bayi yang mama lahirkan menderita penyakit jantung bawaan, yang memerlukan biaya pengobatan dan perawatan yang besar. Mama takut kalau Papa tahu, dia marah dan menceraikan mama. Jadi, saat melihat ada kesempatan di depan mata, tanpa berfikir panjang, mama menukar Dea dan Luna. Mama sengaja menaruh Dea di panti asuhan agar mama bisa bertemu dengannya kapanpun mama mau. Dan mama juga yakin, di panti asuhan itu mereka bisa mengobati Dea karena panti asuhan itu memiliki donatur tetap yang selalu membantu mereka merawat anak-anak panti."


"Mama, bagaimana kalau selama ini keluarga Mba Luna mencari keberadaannya, Ma? Kenapa Mama sangat egois sampai berbuat seperti ini?"


"Maafkan mama, mama juga menyesal dengan apa yang telah mama lakukan."

__ADS_1


Arka pun hanya diam membeku mendengar semua penuturan Rahma.


'Maafkan aku Mba Luna, maaf kalau selama ini aku sering kali merepotkanmu, padahal kau bukanlah kakak kandungku. Aku janji akan membuat Mba Luna bahagia, aku akan membantu menemukan keluarga Mba Luna,' batin Arka. Hatinya pun kini ikut merasakan sesak.


__ADS_2