
Devano merendam setengah tubuhnya, sedangkan Luna hampir seluruh tubuhnya tertutup busa tebal, menyisakan kepalanya saja yang bersandar pada dada bidang Devano.
Devano tersenyum tipis, sebelum akhirnya meraih wajah Luna dan langsung mellumat bibir Luna dengan lambat, perlahan menyelami bibir itu dengan begitu dalam dan memberikan lummatan yang membuat dessahan Luna keluar begitu nyaring.
"Devano, sebentar," keluh Luna, yang membuat Devano melepaskan lumattannya.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Devano saat melihat Luna yang tiba-tiba menolaknya.
"Aku lagi nggak pengen gelli-gellian, Devano."
"Ada apa sebenarnya, Luna? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Ya," jawab Luna dengan muka ditekuk.
"Kau kenapa, Sayang? Katakan saja padaku!"
"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Tentu saja, Luna. Everything for you, kau mau apa? Ngomong mau apa, Neng. Semua Abang lakuin buat Neng, asal jangan minta Abang mati, ntar Dora sedih ditinggal Joni."
"Devanoooo... "
"Iya, iya sayang. Maaf sayang, kau mau apa?" ujar Devano sambil memainkan gundukan kenyal milik Luna.
"Ahhhhh, Lunaaa..."
"Devanooo, nantiiiii!!!!"
"Iya, iya galak banget sih, untung udah laku Neng."
"Hihhhh... "
"Iya, iya... Maaf... "
Luna kemudian memiringkan tubuhnya, lalu semakin erat memeluk Devano. Kakinya dia timpahkan ke atas kaki Devano dengan kepalanya yang menyandar pada dada Devano.
"Kau jadi mengajakku jalan-jalan malam ini?"
"Iya Luna, setelah mandi kita jalan-jalan."
"Aku tidak ingin jalan-jalan, Devano."
"Tidak ingin jalan-jalan? Padahal aku ingin mengajakmu pergi nonton ke bioskop. Memangnya kau ingin pergi kemana?"
"Rumah Mama Rahma."
"Ke rumahmu? Kenapa Luna? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
__ADS_1
"Iya, aku ingin menanyakan pada Mama tentang jati diriku."
"Oh kalau itu, maaf aku belum sempat melakukan penyelidikan lagi, Luna."
"Tidak apa-apa, kita lakukan bersama," ucap Luna sambil menggenggam tangan Devano dan tersenyum padanya.
"Cie, cie Neng Luna udah senyum. Sekarang udah mood lagi gelli-gellian kan?"
Luna tersipu malu, dia hanya menjawab dengan gerakan. Kini Luna memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka ke dalam ciuman yang hangat.
Ciuman itu semakin dalam, karena keduanya semakin menekan diri, hingga tak berjarak sama sekali.
"Devanoooo.. " dessah Luna pelan saat kepala Devano mulai turun dan mengigit buah chery di atas gundukan kenyal miliknya. Dessahan keduannya bersahutan memenuhi kamar mandi, menambah kesan erotis malam ini. Apalagi saat Devano menyuruh Luna untuk duduk di atasnya, dan memainkan pinggullnya, sesuai ritme yang disukai Devano. Awalnya perlahan, lalu bertambah kencang seiring errangan yang dikeluarkan dari bibir keduanya. Legguhan panjang akhirnya terdengar dari bibir mereka, saat keduannya mencapai pelepasan.
***
Dea tampak masih canggung dengan suasana yang dia rasakan. Sebuah keluarga baru, yang entah mengapa terasa begitu asing baginya. Hangatnya sikap Delia yang penuh dengan kasih sayang, serta keramahan sikap kakaknya, Shakila masih saja membuat dirinya merasa tak nyaman.
Apalagi, saat melihat kemesraan Darren dan Shakila yang ada di hadapannya. Semuanya, terasa begitu menyakitkan baginya. Rasanya begitu sakit saat mengingat masa lalu saat dia hidup di panti dengan segala kekurangan, sedangkan Shakila hidup dengan segala kemewahan, serta bertemu dengan Darren.
'Ah ini benar-benar tidak adil. Kenapa kakakku bisa begitu beruntung sedangkan aku? Hidupku begitu menyedihkan dua puluh tahun terakhir ini. Bahkan status yang kusandang selama ini hanyalah sebagai anak panti asuhan yang dibuang dan tidak memiliki orang tua,' batin Dea.
"Permisi, bisakah aku ke kamar sekarang? Aku ingin beristirahat," ucap Dea.
"Tentu saja, Sachi sayang. Kamarmu ada di atas, di samping kamar kakakmu."
"Ayo Mama antar!"
Dea menganggukkan kepalanya lalu bangkit dari atas sofa dan naik ke lantai atas, ditemani oleh Delia.
"Shakila, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."
"Apa, Kak?"
"Sepertinya orang tuamu terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan."
"Ceroboh dalam mengambil keputusan? Apa maksudmu, Kak?"
"Shakila, tolong berfikirlah secara jernih. Mereka menarik kesimpulan jika Dea adalah Sachi hanya berdasarkan latar belakang cerita yang mirip dengan apa yang mereka alami saja. Tidak berdasarkan data yang bisa dipercaya, misalnya dengan tes DNA. Shakila sayang, coba kau pikir, bagaimana jika ternyata di hari yang sama ada seorang bayi lain yang mengalami kejadian yang sama seperti yang Sachi alami? Meskipun kemungkinannya itu juga sangat kecil, tapi tidak seharusnya orang tuamu cepat berkesimpulan seperti itu. Lalu, bagaimana jika kesimpulan orang tuamu salah, sedangkan Sachi yang asli masih ada di luar sana?"
"Kau benar juga, Kak. Papa dan Mama memang terlalu cepat mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi."
"Iya Sayang. Yang aku khawatirkan jika ternyata Dea itu bukanlah Sachi."
"Lalu, kita harus bagaimana Kak?"
"Kita harus mengambil tindakan, Shakila. Tapi, sebaiknya jangan bilang dulu pada kedua orang tuamu. Biar kita lakukan ini di belakang mereka agar mereka tidak tersinggung jika kita meragukan tindakan mereka."
__ADS_1
"Iya benar, Kak. Jadi kita akan melakukan tes DNA itu secara diam-diam?"
"Ya, kita akan melakukan tes DNA secara diam-diam. Tolong kau ambil sampel dari tubuh orang tuamu, dan juga dari Dea."
"Kak Darren, mengambil salah satu bagian tubuh dari Papa dan Mama itu mudah, aku bisa mengambil rambut yang rontok di sisir mereka, tapi bagaimana dengan Dea? Sepertinya akan sulit mengambil bagian rambut Dea, Kak."
"Shakila, mengambil bagian tubuh itu bukan hanya dari rambut saja, Sayang."
"Lalu?"
"Air liurnya. Kau bisa berpura-pura membuatkan minuman untuk Dea. Lalu setelah dia meminum minuman itu, kita bawa cangkir bekas itu ke rumah sakit."
"Astaga, ke rumah sakit? Bagaimana kalau pihak rumah sakit juga minta persetujuan dari kedua orang tuaku, Kak? Kita tidak mungkin mendapatkan tanda tangan mereka untuk melakukan tes DNA karena kita saja melakukan ini secara sembunyi-sembunyi."
"Kau benar juga, Shakila."
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Lebih baik kita bicarakan hal ini dengan Mamaku. Setahuku, Mama Aini punya seorang teman baik yang bekerja di rumah sakit. Namanya Dokter Vallen."
"Jadi kita minta bantuan Dokter Vallen untuk membantu kita?"
"Iya Shakila, karena kita akan melakukan tes DNA ini secara sembunyi-sembunyi."
Shakila lalu menganggukkan kepalanya. "Adikku, siapapun kau. Baik itu Dea ataupun kau di luar sana yang masih belum bisa kami temukan. Kalau Tuhan bisa mengubah siang dan malam dengan begitu mudah, maka aku percaya Tuhan juga akan menunjukkan kebenaran. Meskipun kebenaran itu tertutupi oleh kabut yang begitu tebal," ujar Shakila lirih. Entah kenapa tiba-tiba ada sebuah rasa nyeri yang seolah-olah menghujam jantungnya. Shakila kemudian memegang dadanya.
"Kau kenapa Shakila?"
DEG
"Kau kenapa Luna?"
Bersambung...
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Arandiah. Dijamin keren banget, luar biasa, othor juga langsung jatuh cinta sama tokoh utamanya 😍😭
Blurb:
Derry Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 28 tahun. Selama 13 tahun hidup dalam pengasingan, akhirnya ia bisa kembali untuk mewarisi dunia bawah dari sang Ayah, Deva Ghazanvar. Menjadi pemberontak dalam keluarga, membuat Derry terpaksa harus melawan ayahnya dan berusaha menculik sang ibu untuk melindunginya. Pertarungan pun tak terelakkan, hingga membuat Derry hilang karena kecelakaan.
Sebuah Obsesi dimulai saat Derry menjadikan seorang wanita yang sudah menolongnya sebagai tawanan. Edrea Chandara, wanita malang yang hidup dalam penjara cinta sosok pria kejam, yang bisa membunuhnya kapan saja. Hidup dalam tekananan obsess sang suami, membuat ia tidak tahan dan ingin melarikan diri. Bahkan, Edrea tak sungkan untuk membunuh suaminya.
Apa penyebab Derry ingin menculik ibunya dan memisahkannya dari sang ayah? Lalu, bagaimana kah rencana Edrea untuk melarikan diri dari obsesi gila suaminya?
__ADS_1