Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Puasa


__ADS_3

"Oh selamat sore."


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ibu Panti pada Arka.


"Perkenalkan saya Arka," jawab Arka sambil mengulurkan tangannya lalu dibalas uluran tangan dari Ibu Panti disertai senyuman yang begitu hangat.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Arka?"


"Maaf sebelumnya Ibu Panti, saya hanya ingin menanyakan tentang Ibu Rahma, apakah benar dia sering mengunjungi panti asuhan ini? Kebetulan saya putra dari Ibu Rahma, saya hanya ingin tahu aktifitas ibu saya. Kalau untuk hal positif, tentu saja saya juga mendukungnya."


"Oh jadi anda putra dari Ibu Rahma?"


"Iya."


"Benar, sejak dulu ibu anda memang seringkali mengunjungi panti asuhan ini."


"Sejak dulu? Sejak kapan?"


"Sejak dia menitipkan seorang bayi perempuan yang dia temukan di dalam gerbong kereta api."


DEG


Jantung Arka pun seakan berhenti berdetak. 'Kenapa Mama tidak pernah menceritakan semua ini pada kami? Kenapa dia tidak pernah menceritakan kalau dia pernah menemukan seorang bayi di gerbong kereta api?' batin Arka.


"Arka!" panggil Ibu Panti.


"Oh iya Ibu Panti, jadi dia sering mengunjungi panti asuhan ini untuk menemui bayi yang dia temukan di dalam gerbong kereta api?"


"Ya, benar sekali. Bu Rahma sangat menyayanginya, sejak kecil sampai dia dewasa ibumu selalu memberikan perhatian lebih, Nak. Saat kutanya alasannya dia memberikan perhatian lebih pada anak itu, ibumu selalu mengatakan kalau dia memiliki perasaan yang mendalam pada bayi itu, ibumu selalu mengatakan kalau dia tidak bisa melupkakan tangis dan rengekan bayi yang dia temui di dalam gerbong kereta api tersebut hingga menggoreskan perasaan yang begitu mendalam di hatinya, Nak."


Arka pun hanya terdiam mendengar penuturan Ibu Panti. "Oh," jawabnya singkat karena saat ini masih menahan perasaan yang begitu berkecamuk.


'Astaga, kenapa aku benar-benar bodoh? Mengapa aku tak tahu kalau Mama sudah begitu lama menyembunyikan rahasia ini? Apa sebenarnya maksud Mama? Kenapa dia sampai begitu menyayangi bayi yang ditemukannya?' batin Arka.


"Lalu, dimana bayi yang ditemukan oleh Mama? Berapa usianya, Ibu Panti? Apa saya bisa bertemu dengannya?"


"Oh tadi kau sudah bertemu dengannya Arka. Wanita yang membukakan pintu untukmu, dia yang ditemukan oleh ibumu di dalam gerbong kereta api. Namanya, Dea."


'Astaga, jadi wanita yang seumuran dengan Mba Luna itu adalah bayi yang ditemukan oleh Mama, ini benar-benar seperti suatu kebetulan dan penuh dengan teka-teki. Ah lebih baik aku beritahukan saja informasi ini pada Devano,' batin Arka.


"Ibu Panti, terima kasih atas waktunya. Emh saya permisi dulu. Ini sudah sore, saya harus pulang ke rumah sekarang."


"Oh iya Arka."


"Sekali lagi, terima kasih banyak," pamit Arka.

__ADS_1


"Sama-sama, Arka."


Dia kemudian keluar dari panti asuhan tersebut. "Sebaiknya besok aku temui Devano untuk membicarakan hal ini, aku harus berhati-hati jangan sampai Mama curiga kalau aku sedang menyelidiki tentang semua ini. Semua kebenaran harus terungkap. Mba Luna berhak tahu siapa jati dirinya, dan aku juga harus tahu siapa kakak kandungku sebenarnya. Dia adalah Dea? Atau orang lain?" ujar Arka sambil meninggalkan panti asuhan tersebut.


***


Devano yang baru saja menutup pintu apartemen tiba-tiba langsung menerjang tubuh Luna dan menempelkannya ke tembok lalu menatapnya dengan tatapan nakalnya.


"Devanoooo! Apa-apaan ini?" bentak Luna.


"Kangen..."


"Devano, aku mandi dulu!"


"Little kiss for me!"


"Nanti saja!"


"Sekarang!"


"Baik."


CUP


Luna kemudian mengecup bibir Devano. "Lagi!" rengek Devano sambil mengedipkan matanya.


"Lunaaaa!"


"Devanooo, aku mau mandi!" teriak Luna sambil mendorong tubuh Devano.


"Baik, baik sayang. Ayo kutemani, nanti kumandikan!"


"Astaga Devanooooo!!!"


"Iya, iya. Galak banget sih!"


"Luna... "


"Apa lagi?"


"Pakai lingerienya sayang, yang warna hitam. Yang menantang ya, Sayang," ujar Devano, namun hanya dibalas dengusan kesal oleh Luna. Dia kemudian berjalan meninggalkan Devano yang masih menatapnya saat masuk ke dalam kamar. "Joni, are you okay?" tanya Devano sambil menatap ke arah bawah.


"Oh baik, kau masih sanggup bertahan setengah jam lagi kan? Oke kau memang pintar dan penurut. Sekarang ayo siap-siap untuk bertempur, Joni. Kita bersihkan dulu senjatamu agar wangi biar Neng Luna suka. Ah, Joni sebenarnya aku sudah tidak sabar mendengar suara manja dari Luna, ah, awww, Devano kau hebat sekali, kau benar-benar jantan dan luar biasa Devano, awww ah Devano?" ujar Devano dengan bibir menye-menye sambil berjalan ke kamarnya.


Tak berapa lama, mereka pun keluar dari kamar masing-masing dan berjalan ke arah meja makan untuk menikmati makan malam. Saat melihat Luna keluar hanya dengan menggunakan lingerie warna hitam dan ditutupi kimono satin tipis, Devano pun hanya bisa menatapnya sambil menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


'Luar biasa, it's beautiful. Ini benar-benar keindahan dunia. Benar kan Joni? Kau bahkan sudah berkedut kan Joni? Tenang saja, enjoy this night."


"Neng Luna, Neng Luna mau abang suapin?" kekeh Devano saat Luna duduk di sampingnya.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri."


"Kalau begitu, suapi aku saja Neng," pinta Devano.


"Dasar manja!"


"Come on, Luna."


Luna pun akhirnya menyuapi Devano, sedangkan Devano tampak beberapa kali mengintip buah dada Luna yang beberapa kali menyembul di balik lingerie tipisnya.


'Anjayyy besar sekali, Joni. Ahhhh sussu yang ada buah chery nya memang selalu nikmat,' batin Devano.


"Sudah selesai, Devano. Sekarang aku mau makan lalu tidur," ujar Luna.


"Apa? Tidur?"


"Iya tidur."


"Geli-gelian, Lunaaa."


"Geli-gelian apa, Devano?"


"Yang seperti kemarin malam."


"Astaga, tidak!"


"Tapi kenapa? Apa kau tidak merindukan sentuhanku, Luna?"


"Aku tidak mau."


"Kenapa? Jahat sekali."


"Aku sedang datang bulan Devano!"


"TIDAKKKK"


"Kenapa kau menjerit?"


"Tidak apa-apa, salah strategi. Mengasah senjata di saat yang tidak tepat."


"Aneh sekali," gerutu Luna.

__ADS_1


'Maafkan aku Joni kita gagal bertempur, sepertinya kau masih harus berpuasa,' batin Devano sambil menatap ke bawah. Dia saat itulah ponsel Devano juga berbunyi.


__ADS_2