Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Pilih Siapa?


__ADS_3

"Jadi, dia sering mengunjungi panti ini untuk bertemu dengan Dea?"


"Ya, sejak Dea bayi sampai dewasa, dia selalu mengunjunginya ke panti asuhan ini. Selain itu, dia juga sangat menyayangi Dea. Dia seringkali membelikan Dea mainan, pakaian, dan makanan saat dia mengunjungi panti ini."


Shakila dan Darren pun tersenyum kecut mendengar perkataan Ibu Panti. "Ibu panti, apakah saya boleh minta alamat dari Bu Rahma?"


"Ini alamatnya," kata Ibu Panti pada Shakila. Dia kemudian mencatat alamat yang diberikan oleh Ibu Panti tersebut.


"Terima kasih banyak," ucap Shakila setelah mendapatkan alamat tersebut.


"Sama-sama."


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih banyak atas bantuannya Ibu Panti," pamit Darren.


"Iya sama-sama."


Shakila dan Darren kemudian keluar dari panti asuhan tersebut. Darren kemudian terkekeh saat melihat tingkah Shakila yang masih tampak kesal di dalam mobil.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Darren sambil membelai wajah Shakila.


"Kak Darren, kau dengar kan penjelasan Ibu Panti? Bukankah itu sebuah hal yang aneh?"


"Hal yang aneh?"


"Ya, bukankah sikap Bu Rahma tidak wajar? Dia terlihat sangat menyayangi dan memperhatikan Dea, padahal dia hanya menemukan Dea di dalam gerbong kereta api, dan aku yakin pertemuan yang singkat itu, tidak mungkin menimbulkan sebuah rasa yang begitu dalam. Bahkan, sikap Bu Rahma pada Dea, layaknya sikap seorang ibu pada anak kandungnya."


"Kau berlebihan, Shakila. Mungkin memang pertemuan antara Dea dan Bu Rahma, menimbulkan kesan yang dalam padanya, seperti yang dikatakan Ibu Panti."


"Ahhh, Kak Darren. Kenapa kau berkata seperti itu? Jadi, kau tidak setuju padaku?" gerutu Shakila.


"Hahhaha, bukannya seperti itu Shakila. Memang sikap yang ditunjukkan oleh Bu Rahma pada Dea sedikit tidak wajar, apalagi mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Hanya saja, kita harus tetap berfikiran positif, kau tidak boleh terlalu yakin karena keyakinan yang berlebihan, jika tidak terbukti hanya akan menimbulkan kekecewaan. Apa kau mengerti?"


"Ya, kau benar Kak. Meskipun aku berharap jika Dea bukanlah adik kandungku, tapi aku tidak boleh terlalu banyak berharap, karena hanya akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam jika tidak sesuai harapan."


"Iya Shakila. Sekarang kita pergi ke rumah Bu Rahma?"


"Iya Kak,"


Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di alamat tersebut. Sebuah rumah mungil yang begitu sederhana dengan halaman yang tidak begitu luas tapi dipenuhi oleh berbagai tanaman dan bunga yang begitu terawat.


"Ayo kita turun!" perintah Darren.


"Iya Kak," jawab Shakila. Mereka kemudian turun dari mobil lalu berjalan ke rumah itu.


TOK TOK TOK


Pintu rumah itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya membuka rumah itu, lalu tersenyum dan menyapa Darren dan Shakila.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita tersebut.


"Selamat sore, bisakah kami bertemu dengan Ibu Rahma?"


"Oh iya, kebetulan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ibu Rahma, perkenalkan saya Shakila, dan ini pacar saya Kak Darren. Bisakah kami mengobrol sebentar dengan Ibu?"


"Oh iya, silahkan masuk. Ayo masuk, Nak!"


Shakila dan Darren lalu masuk ke dalam rumah itu dan duduk di dalam ruang tamu.

__ADS_1


"Bu Rahma, maaf sudah mengganggu. Kami mendapat alamat ibu, dari Ibu Panti, penanggung jawab dari panti asuhan yang sering anda kunjungi.


DEGGG


Mendengar kata panti asuhan disebutkan oleh Shakila, jantung Rahma pun seakan berhenti berdetak.


"Panti asuhan?"


"Ya, panti asuhan yang ada di dekat stasiun. Bukankah anda sering mengunjungi panti asuhan tersebut?"


Tubuh Rahma pun kini seakan bergetar hebat mendengar perkataan Shakila. 'Ada apa ini? Ada apa sebenarnya? Dua bulan yang lalu Arka mencecarku mengenai panti asuhan itu. Sekarang, wanita asing ini yang menanyakan hal yang sama. Apa sebenarnya yang telah terjadi?' batin Rahma.


"Bu Rahma! Anda kenapa?" tanya Shakila yang melihat Rahma termenung.


"Oh tidak apa-apa, Nak. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang panti asuhan tersebut, Nak?"


"Begini Bu Rahma, kebetulan adik saya yang hilang selama puluhan tahun, ditemukan di panti asuhan tersebut. Dan Ibu Panti mengatakan andalah yang menemukan adik saya tersebut. Jadi saya ingin mengucapkan terima kasih pada anda."


"A-adik anda? Si-siapa yang anda maksud?"


"Dea, bukankah anda yang menemukan Dea di dalam gerbong kereta api dua puluh tahun lalu?"


'OHHHH TIDAKKKKKK!!!' batin Rahma. Shakila hanya tersenyum kecut melihat perubahan wajah Rahma.


'Sudah kuduga,' batin Shakila.


"Kenapa wajah anda tiba-tiba pucat Bu Rahma? Anda takut kan?"


"Apa maksud anda, Nona Shakila?"


Rahma pun hanya terdiam, hanya butiran bening yang keluar dari sudut matanya. "Kenapa anda diam? Cepat jawab pertanyaanku! Dea adalah anak kandung anda kan?"


"Kenapa? Kenapa anda harus takut pada almarhum suami anda, Bu Rahma?"


"Saya takut diceraikan..."


"Diceraikan? Kenapa? Apa yang membuat anda berfikir jika suami anda akan menceraikan anda hingga anda tega menukar Sachi dan Dea?" tanya Shakila sambil mengerutkan keningnya.


"Benar seperti yang kau katakan, Nona. Saya memang menukar Sachi dan Dea karena Dea menderita penyakit jantung. Saat itu di kereta yang sama, saya duduk tidak jauh dengan ibu anda yang membawa seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun yang kemungkinan itu adalah anda, dan seorang bayi baru lahir dan dia adalah Sachi. Saat di dalam kereta, ibu anda tampak begitu ketakutan dan cemas. Sampai akhirnya kereta api tersebut berhenti dan dia meninggalkan Sachi di dalam kereta api tersebut yang dia taruh di atas kursi karena saat itu dia sedang tidur."


"Lanjutkan," ucap Shakila lirih.


"Melihat Sachi yang ditinggalkan begitu saja, sungguh saya tidak pernah berfikir kalau ibu anda tidak sengaja meninggalkannya. Saya berfikir kalau sepanjang perjalanan ibu anda tampak begitu cemas karena akan meninggalkan adik anda di dalam kereta. Jadi, setelah melihat ibu anda meninggalkan Sachi begitu saja, saya menghampiri bayi mungil itu dan menggendongnya, dalam gendongan yang sama dengan anakku, Dea. Awalnya saya memang akan menitipkan Sachi ke pihak stasiun atau puskesmas terdekat. Tapi saya terbujuk rayuan setan hingga menukar Sachi dan Dea," kata Rahma dengan begitu terisak.


"Jadi benar, kau menukar mereka karena Dea menderita penyakit jantung bawaan?"


"Saya takut, Nona. Saat itu saya melahirkan Dea di kampung halaman saya, tanpa didampingi suami saya, hanya bersama orang tua. Dan ternyata bayi yang saya lahirkan menderita penyakit jantung bawaan, yang memerlukan biaya pengobatan dan perawatan yang besar. Saya takut jika suami saya tahu dia marah dan menceraikan saya, karena kondisi ekonomi kami sangatlah pas-pasan. Jadi saat melihat ada kesempatan di depan mata, tanpa berfikir panjang, saya menukar Dea dan Sachi. Saya sengaja menaruh Dea di panti asuhan agar saya bisa bertemu dengannya kapanpun saya mau. Dan saya juga yakin, di panti asuhan itu mereka bisa mengobati Dea karena panti asuhan itu memiliki donatur tetap yang selalu membantu mereka merawat anak-anak panti."


"Kau benar-benar picik dan sangat egois! Tahukah kau bagaimana mati-matiannya keluarga kami mencari Sachi? Dan kau menggunakan Sachi hanya untuk kepentinganmu semata!"


"Maafkan saya. Tapi sungguh, selama ini saya juga sangat menyayangi Sachi, saya sudah menganggap Sachi sebagai anak kandung saya sendiri, karena bagi saya Sachi adalah penyelamat hidup saya. Saya sangat menyayangi Sachi, dia gadis yang sangat baik, pintar, dan menyenangkan."


"Dan kami sudah kehilangan Sachi yang baik, pintar, dan menyenangkan itu karena anda. Jadi, semua kata maaf yang anda ucapkan juga tidak cukup karena akibat kesalahan fatal yang kau perbuat, orang tuaku sampai salah mengambil keputusan dan menyangka jika Dea adalah Sachi!"


"Maafkan saya, maafkan saya Nona. Saya akan meluruskan kesalahpahaman ini. Tolong maafkan saya."


"Tidak semudah itu Bu Rahma! Orang tuaku sudah terlanjur menganggap Dea adalah putrinya, dan dia tidak mungkin begitu saja mempercayai perkataan anda tanpa bukti yang jelas!"


"Bukti yang jelas? Apa maksud anda?"

__ADS_1


"Tes DNA. Anda juga harus melakukan tes DNA agar bisa membuktikan kalau Dea adalah anak kandung anda."


"Tes DNA?"


"Ya, anda mau kan melakukan tes DNA tersebut?"


"Bu Rahma, semua yang terjadi adalah sebuah kesalahan fatal dan ini terjadi karena kecerobohan anda. Anda harus bertanggung jawab atas semua kesalahpahaman ini. Anda harus mau melakukan apa yang diminta oleh Shakila agar bisa meluruskan permasalahan ini," tambah Darren.


"Baik, baik saya mau melakukan itu. Saya mau melakukan seperti yang kau inginkan, saya mau melakukan tes DNA."


Shakila kemudian menutup matanya sambil menghembuskan nafas panjangnya. "Bu Rahma, sekarang katakan padaku, dimana Sachi?"


DEG


"Dimana adikku Sachi? Apakah itu Sachi?" tanya Shakila sambil menunjuk sebuah foto seorang gadis cantik yang ada di dinding, dadanya terasa begitu sesak, dan sakit mengingat Sachi. Sachi adiknya yang seharusnya bisa hidup bahagia dengannya, kini dia bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya.


Rahma pun kembali meneteskan air matanya kembali. "Bu Rahma, saya bertanya pada anda. Apa itu Sachi? Sachi adikku?"


"Namanya Luna, dulu saat saya akan melahirkan di kampung karena keterbatasan biaya, suamiku memberi pesan agar memberi nama Luna pada anak kami. Dan saya akhirnya membawa Sachi pulang dan memberi nama Luna padanya. Selama dua puluh tahun lebih, yang Sachi tahu namanya adalah Luna."


"Luna?" tanya Shakila sambil terisak.


"Ya, Luna. Dia gadis yang sangat baik. Dia sangat bertanggung jawab pada keluarga ini, terutama saat suamiku meninggal. Dia langsung mengambil alih sebagai tulang punggung dari keluarga ini, bahkan dia sengaja mengambil pekerjaan part time saat kuliah. Suamiku sangat menyayangi Luna, dia selalu memberikan yang terbaik pada Luna termasuk pendidikan. Sayangnya suamiku meninggal dunia akibat kecelakan, jadi saat Luna belum menyelesaikan kuliah, dia harus bekerja paruh waktu untuk menghidupi kami dan membiayai kuliahnya."


"Kau jahat!" teriak Shakila.


"Shakila tenangkan dirimu!"


"Kak Darren, apa kau tidak dengar dia sudah mengambil Sachi dari kami lalu Sachi juga harus menjadi tulang punggung untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Sachi harus menafkahi mereka! Padahal Sachi bukan bagian dari keluarga mereka, Kak! Entah pengorbanan apa saja yang sudah Sachi lakukan pada mereka tapi yang jelas Sachi sudah menjadi korban dari keegoisan mereka, Kak! Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Sachi selama ini!"


"Iya aku tahu Shakila, aku tahu. Tapi tolong tenangkan dirimu! Tenangkan dirimu, Shakila!" ujar Darren sambil memeluknya.


Shakila kini pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan Darren. Sementara Rahma juga masih tampak meneteskan air matanya.


***


Sementara Devano, tampak begitu cemas saat mengendarai mobilnya setelah pulang dari rumah Delia.


"Apa yang harus kulakukan? Aku harus menggagalkan pernikahan ini. Ayo berfikir Devano, gunakan otak jeniusmu untuk mengagalkan rencana pernikahan itu."


"Bagaimana kalau aku bilang saja pada keluarga Om Dimas kalo aku impoten? Sepertinya itu ide yang bagus. Coba pikir, mana ada orang tua yang mau menikahkan anaknya pada seorang laki-laki yang impoten? Ya, hanya itu cara yang sangat keren untuk menggagalkan rencana pernikahanku dengan Sachi, meskipun itu sama saja menjatuhkan harga diriku sebagai laki-laki paling tampan sejagad raya. Tapi nggak masalah, yang terpenting gue bisa terus sama Neng Luna. Cie, cie, cie..." kekeh Devano di dalam mobil.


Devano kemudian melihat arlojinya dan menunjukkan sudah waktunya jam makan siang. "Ini sudah jam makan siang, lebih baik aku kembali ke rumah saja, siapa tahu aku bisa melanjutkan sarapan susu kenyalku yang tertunda, ah Luna, Luna, Luna. Abang dateng Neng. Hahahahahhaha..."


Tak berapa lama, Devano pun sudah sampai di rumahnya. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah tersebut dan memanggil Luna.


"Luna, Luna sayang, abang dateng Neng!"


Namun, rumah itu terlihat sepi. Devano kemudian naik ke kamar mereka, dan melihat Luna yang sedang menangis di dalamnya. Dia kemudian mendekat ke arah Luna.


"Neng!" panggil Devano. Namun, Luna hanya terdiam.


Devano kemudian bersimpuh di depan Luna yang kini masih terisak. "Luna, kau kenapa?"


Luna hanya terdiam, yang terdengar hanya isakkan dari bibirnya. Devano kemudian mengangkat wajah Luna.


"Neng, ngomong Neng."


Luna menatap Devano dengan tatapan tajam. "Kau pilih siapa?"

__ADS_1


__ADS_2