
NOTE: Di bab ini juga ada tambahan, ga kaya di Bed Friend 😉 Yang belum kenal Vallen, ya mulailah membiasakan diri untuk Istighfar kalo ada Vallen 😂
"Saya takut dipecat dok, saat ini saya ada dalam kondisi yang sulit."
"Kondisi yang sulit?"
Luna pun menganggukan kepalanya perlahan. "Ya, saya dalam kondisi yang sulit. Saat ini saya sedang mengandung, kalau saya tidak bekerja, lalu bagaimana saya bisa mencukupi kehidupan keluarga saya dan anak yang ada di dalam kandungan saya, Dok."
"Lalu dimana suamimu?" tanya Vallen dengan sedikit berhati-hati. Namun, Luna hanya menggelengkan kepalanya. Yang terlihat saat ini hanya tetes demi tetes butiran bening yang keluar dari sudut matanya.
"Saya belum menikah," jawab Luna dengan suara parau. Vallen pun begitu terkejut mendengar perkataan Luna, namun dia menutupi rasa terkejutnya dengan bersikap biasa saja agar tidak menyakiti hati Luna.
Kini, tangis Luna pun pecah, Vallen tak kuasa melihat wanita muda yang kini menangis di depannya. Seorang wanita yang terlihat begitu rapuh. Dia kemudian memeluk Luna sambil membelai rambutnya.
"Menangislah, menangislah untuk mengurangi bebanmu. Anggap aku sebagai orang terdekatmu, aku tahu saat ini kau pasti menjalani hidup yang tak mudah Luna. Aku tahu itu."
Luna pun terisak dalam pelukan Vallen. "Terima kasih banyak, dokter. Anda baik sekali."
Vallen kemudian melepaskan pelukannya pada Luna. Dia lalu tersenyum sambil menghapus air mata yang membasahi wajah Luna.
"Kau pasienku, aku harus selalu memberikan kesehatan pada pasienku. Bukan hanya tentang kesehatan tubuhnya tapi juga jiwa dan mentalnya. Apa kau mengerti sayang?"
Luna pun menganggukan kepalanya. "Luna, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu, apa yang ingin dokter tanyakan?"
"Emh maafkan aku Luna, bolehkah aku tahu siapa laki-lali yang ada di depan itu? Laki-lali yang menunggumu?"
Mendengar pertanyaan Vallen, Luna pun memundukkan kepalanya.
"Dia, dia mantan bos di tempat saya bekerja, Dok."
Luna pun hanya bisa tertunduk lesu. "Benarkah hanya sebatas itu hubungan kalian?" tanya Vallen yang membuat Luna kini terlihat begitu gugup.
"Emhhhh... Ya, dia mantan bos saya dulu, Dok."
"Benarkah hanya sebatas mantan bos bagimu? Apa tidak pernah ada hubungan lebih?
"Ya, hanya sebatas hubungan profesional sebagai atasan dan bawahan."
"Tapi kenapa matamu mengatakan jika kalian memiliki hubungan yang lebih dari itu, Luna?"
Luna pun hanya memejamkan matanya lalu meremmas dadanya yang kini terasa begitu sesak.
Vallen kemudian menggengam tangan Luna kembali. "Baik jika kau belum ingin memberi tahu padaku, Luna. Kau bisa memberi tahu kapanpun kau mau. Aku akan mendengar keluh kesahmu, maaf bukannya aku terlalu ikut campur pada kehidupan pribadimu. Tetapi, aku hanya ingin membantu meringankan bebanmu, itu saja."
"Iya saya tahu maksud anda baik, Dok."
"Baik kalau begitu, beristirahatlah. Aku keluar dulu," ucap Vallen.
"Iya Dokter, terima kasih banyak."
Vallen kemudian tersenyum. "Gadis cantik, aku tahu kau wanita yang kuat," ujar Vallen sambil membelai wajah Luna sebelum keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Luna pun tersenyum. Setelah Vallen keluar dari ruangan itu, Devano pun masuk ke dalam ruangan dan mendekat pada Luna.
"Apa perlu kutelepon kekasihmu itu? Dia pasti sangat bahagia saat tahu kau mengandung darah dagingnya."
Luna pun hanya terdiam mendengar perkataan Devano. "Tuan jika tujuan anda di sini hanya ingin membicarakan hal itu, lebih baik anda pergi dari sini! Karena anak yang saya kandung bukanlah anak Brian, tapi anakmu!"
"Bohong!"
"Saya tidak pernah berbohong padamu! Kalau anda tidak percaya, silahkan hitung saja tanggal terakhir kita berhubungan badan dua bulan yang lalu, sebelum orang tua anda mengadu domba kita, dihitung dari hari terakhir saya menstruasi terakhir saat masih menjalin hubungan dengan anda, bukankah usianya sama dengan usia kandungan saya, Tuan Devano? Seharusnya anda bahagia saya tidak pernah meminta pertanggung jawaban anda atas bayi ini. Jadi, tolong anda tidak usah ikut campur atas hidup saya! Dan, lebih baik anda pergi dari sini, Tuan! Pergi!" bentak Luna.
"Pergi Tuan Devano!" teriak Luna kembali.
Devano pun mendengus kesal lalu membalikkan tubuhnya. Namum, saat dia baru saja membalikkan tubuhnya tersebut, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
PLAKKKK PLAKKK PLAKKK
Devano pun begitu terkejut saat melihat seorang wanita yang kini ada di hadapannya.
"Andaaaaa? Berani sekali anda menampar saya, Dokterrrr!"
"Laki-laki sepertimu memang wajib ditampar! Mungkin juga harus dimusnahkan dari muka bumi! Species sepertimu memang tidak layak hidup di dunia! Kalau aku boleh meminta, mungkin aku ingin meminta malaikat untuk mencabut nyawamu sekarang juga!"
"LANCANG!"
"KAU LEBIH LANCANG ANAK MUDA! KAU SUDAH MENGHINA SEORANG WANITA POLOS YANG TELAH KAU PERMAINKAN! TIDAK HANYA ITU, TAPI KAU JUGA MENGHINA SEORANG WANITA YANG SEDANG MENGANDUNG DARAH DAGINGMU!" bentak Vallen kembali dengan begitu tersengal-sengal sambil membereskan tatanan rambutnya.
"Sebaiknya anda tidak usah ikut campur masalah pribadi kami!"
"Luna baik-baik saja, Nyonya Dokter. Sebentar lagi kekasihnya juga datang!"
"Apa kau tuli? Bukankah dia tadi mengatakan kalau dia mengandung darah dagingmu! Dasar sakit jiwa!"
"Lancang sekali anda mengatakan saya sakit jiwa!"
"Memang kau sakit jiwa, apa kau tidak sadar, hanya laki-laki yang sakit jiwa yang bisa menghina wanita yang sedang mengandung darah dagingnya!"
"Maaf Tante Dokter, saya tidak yakin dia mengandung darah daging saya, karena Luna juga berkencan dengan laki-laki lain selain saya!"
PLAKKK PLAKKK
"Kenapa anda menampar saya lagi?"
"Dasar tidak konsisten tadi kau memanggilku dengan sebutan Nyonya Dokter tapi sekarang Tante Dokter, sama tidak konsistennya dengan perkataanmu yang telah memberi harapan palsu pada wanita polos seperti Luna!"
"Saya baru pernah bertemu dengan Dokter yang sangat lancang seperti anda! Dan asal anda tahu, dia tidak sepolos yang anda pikirkan!"
"Saya juga baru pernah bertemu dengan laki-laki tidak tahu diri seperti anda. Untungnya anakku yang cantik jelita dan mempesona sudah menikah dan tidak pernah bertemu dengan laki-laki seperti anda! Dasar laki-laki kamseupay, stupid tiada tara!"
"Sombong sekali! Tante bisa berkata seperti itu karena belum tahu siapa diriku yang sebenarnya!"
"Memangnya kau siapa? Hanya sebatas laki-laki tidak bermoral yang sudah menuduh hal yang tidak-tidak pada wanita yang sedang mengandung darah dagingmu kan?"
"Aku masih ragu apakah dia sedang mengandung darah dagingku!"
__ADS_1
"Cihhh dasar laki-laki pengecut! Munafik! Penjahat kellammin!"
"Tante sangat tidak sopan, apa Tante tahu sedang berbicara dengan siapa?"
"Memangnya dengan siapa aku bicara, hah?"
"Saya pemilik perusahaan konstruksi Ranch Building, salah satu perusahaan konstruksi terbaik di negeri ini."
"Apa kau bilang?" ujar Vallen sambil mendekatkan telinganya.
"Ranch Building Tante, kenapa Tante seperti sedang mengolokku seperti ini?"
"Memang kau pantas untuk diolok-olok! Aku pantas berkata seperti itu pada laki-laki tidak bermoral sepertimu," ujar Vallen sambil terkekeh.
"Dokter yang sangat aneh!"
"Apa aneh? Apa kau tahu, dengan siapa kau berbicara?"
"Dengan Tante Dokter yang tidak tahu diri," jawab Devano ketus.
"Hei sebentar lagi kau harus mencabut kata-katamu karena aku bisa saja mematikan semua proyekmu!"
"Hah mana mungkin seorang dokter seperti Tante mematikan proyek pengusaha besar sepertiku!"
"Tentu saja bisa, sekarang dengarkan baik-baik kata-kataku. Apa kau mengenal Kenzo Mahendrata?"
"Kenzo Mahendrata? Tentu saja, dia salah satu investor terbesar di perusahaan kami."
"HAHAHAHAHA... HAHAHAHAHA!"
"Kenapa Tante Dokter tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Ya, sangat lucu. Dan itu adalah dirimu! Kau sangat lucu, bodoh, dan tidak bermoral."
"Tante jangan main-main, kenapa Tante tertawa?"
"Tentu saja aku harus tertawa, berani-beraninya kau menyobongkan diri di depan mertua dari Kenzo Mahendrata. Hahahahaha."
"A-apa maksud Tante? Mertua dari Kenzo Mahendrata? Jadi Tante adalah mertua dari Pak Kenzo?"
"Tentu saja, akulah mertua dari Kenzo! Bahkan sebelum anakku lahir, Kenzo sudah jadi menantuku! Apa kau mengerti, hah?"
Devano pun terdiam dan kini terlihat salah tingkah. "Kenapa kau diam? Coba kau keluarkan kata-kata sombongmu lagi di depanku!"
Devano pun hanya tersenyum getir, Vallen kemudian mendekat ke arah Devano lalu memegang rahangnya. "Sekarang minta maaf pada Luna dan tolong bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat! Kau harus bertanggung jawab atas bayi yang ada di dalam kandungan Luna!"
"Tidak, bagaimana kalau aku tidak mau? Aku bukan ayah kandung dari bayi itu!"
"Akan kubuktikan kalau kau ayah kandung dari bayi itu! Kalau kau tidak mau, aku akan memerintahkan Kenzo untuk mencabut investasi yang dia tanamkan di perusahaanmu! Itu sangat mudah bagiku! Sangat mudah bagiku untuk membuat perusahaanmu gulung tikar! Apa kau mengerti?"
Devano pun menutup matanya lalu menganggukan kepalanya. Vallen kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada rahang Devano.
"Sekarang berjanjilah agar kau menikahi Luna secepatnya! Kau tidak perlu takut, karena aku sendiri yang akan membuktikan kalau Luna sedang mengandung darah dagingmu! Apa kau mengerti laki-laki kamseupay, stupid tiada tara!"
__ADS_1