Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Tentang Luna


__ADS_3

"Kenapa kau menunduk terus seperti itu?"


"Tidak apa-apa, Tuan Devano."


"Kalau begitu, cepat angkat wajahmu, dan tatap aku!"


Jantung Arka pun berdegup begitu kencang, meskipun hatinya cemas karena takut Devano akan berbuat hal yang buruk padanya, dia akhirnya mengangkat kepala lalu menatap Devano yang saat ini sedang tersenyum kecut padanya.


"Selamat siang Arka."


"Se-selamat siang, Tuan Devano."


"Bagaimana kabarmu?"


"Ba-baik, Tuan."


"Bagus."


"Bagaimana? Apa kau betah kerja di sini?"


"Iya, Tuan."


"Bagus, tapi kau harus ingat Arka. Akulah pemilik perusahaan ini. Aku bisa memecatmu kapanpun kumau."


DEG


"Jangan Tuan, tolong jangan pecat saya. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini."


"Ck, kau sudah tidak pernah mengganggu kakakmu, Luna lagi kan?"


"Tidak Tuan, sungguh saya tidak pernah menggangu Mba Luna. Lagipula, Mba Luna saat ini juga sedang tidak tinggal bersama kami."


"Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu."


"Terima kasih, Tuan."


"Tapiiiii, kalau kau masih ingin bekerja di kantor ini sampai waktu yang relatif lama, kau harus jujur menjawab pertanyaanku padamu. Kalau kau mau menjawab dengan jujur pertanyaanku padamu, aku akan memberikan jaminan padamu di kantor ini untuk bekerja sampai kapanpun kau mau."


"Menjawab dengan jujur pertanyaan Tuan? Apa maksud Tuan? Apa yang harus saya lakukan? Saya mau melakukan apapun asalkan Tuan tidak memecat saya dari sini."


"Hehhh, kau tenang saja. Aku tidak mau berbuat sesuatu hal yang menyulitkanmu. Aku hanya minta kau jujur padaku."


"Jujur? Jujur tentang apa, Tuan?"


"Tentang Luna. Kau harus jujur tentang siapa sebenarnya Luna padaku!"


"Te-tentang Mba Luna? Apa maksud Tuan?"


"Heh, tidak usah berpura-pura bodoh, Arka! Bukankah kau sering memanggil Luna dengan sebutan anak pungut kan? Apa maksudmu berkata seperti itu pada Luna? Apa kau tidak sadar, kata-katamu sangat menjijikan dan sangatlah tidak sopan!"


BRAKKKK

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya, tapi memang itulah kenyataannya."


"Apa maksudmu? Jadi, Luna bukan anak kandung dari kedua orang tuamu?"


Arka kemudian menggelengkan kepalanya. "Bu, bukan Tuan. Dia bukanlah anak kandung dari orang tuaku."


"Kau tidak bohong kan?"


"Tidak Tuan. Bukankah tadi anda menyuruh saya untuk jujur? Saya jujur, Tuan."


'Astaga, ini benar-benar seperti yang kupikirkan jika ternyata Luna bukanlah kelurga kandung mereka. Bentuk fisik dan wajah Luna dengan Mamanya dan Arka juga sangat jauh berbeda. Ini benar-benar hal yang menantang bagiku karena aku harus mencari tahu siapa keluarga kandung Luna sebenarnya,' batin Devano.


"Arka, lalu darimana kau tahu jika Luna bukanlah anak kandung dari orang tuamu? Kau tidak mengada-ada kan?"


"Maaf Tuan, saya tidak mengada-ada karena Mama saya yang menceritakan sendiri jika Luna bukanlah anak kandungnya."


"Mamamu mengatakan semua ini padamu? Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin sesuatu hal yang seharusnya menjadi rahasia bisa dia ceritakan begitu saja, apalagi pada orang sepertimu?"


"Emh sebenarnya Mama tidak sengaja menceritakan semua ini padaku. Saat itu, keadaan yang membuatnya menceritakan hal itu padaku."


"Keadaan? Keadaan apa?"


"Kecelakan."


"Kecelakan?"


"Ya, satu tahun yang lalu Mba Luna dan Papa mengalami kecelakaan yang menewaskan Papa. Saat itu kondisi Mba Luna juga sangat parah dan kehilangan banyak darah. Mama begitu bingung mencari donor darah untuk Mba Luna, karena golongan darah keluarga kami tidak cocok dengannya. Dari kejadian itulah, aku tahu jika Mba Luna bukanlah anak kandung dari kedua orang tuaku. Sejak kejadian itu pula, aku begitu membenci Mba Luna karena aku selalu beranggapan jika Papa meninggal gara-gara Mba Luna. Dan, akibat kejadian tersebut aku aku jadi gagal melanjutkan kuliah karena Papa meninggal. Bahkan, aku terpaksa harus menjadi pelayan restoran. Ini benar-benar sebuah kehidupan yang jauh dari ekpektasiku."


"Arka, kau harus sadar. Di dunia ini, tidak semua apa yang kita inginkan, dan apa yang kita harapkan akan berjalan sesuai rencana karena ada Tuhan yang Maha berkehendak. Dia memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita harapkan. Dan, ini semua adalah bagian dari jalan takdir yang harus kau lalui, mengertilah dan pahamilah semua arti kehidupan!"


"Iya Tuan."


"Iya Tuan."


"Satu lagi."


"Apa Tuan?"


"Tentang panti asuhan itu."


"Panti asuhan apa?"


"Jadi kau tidak tahu kalau mamamu sering pergi panti asuhan yang ada di dekat stasiun?"


"Oh, kalau itu maaf saya tidak tahu. Hanya saja, semua orang memang tahu kalau Mba Luna anak Papa dan Mama karena dulu memang Mama hamil. Sebenarnya saya pun sering bertanya dalam hati jika Mama hamil dimana kakak kandungku yang sebenarnya? Karena para sanak saudara tidak ada yang curiga kalau Mba Luna adalah anak angkat dan selalu mengatakan kalau bayi yang dilahirkan Mama adalah Mba Luna."


"Astaga, jadi ini benar-benar sebuah misteri? Keberadaan anak kandung dari orang tuamu yang sebenarnya juga masih menjadi misteri kan?"


"Iya Tuan."


"Arka, bagaimana kalau ternyata kakak kandungmu yang sebenarnya ada di dalam panti asuhan itu? Panti asuhan yang sering dikunjungi oleh Mamamu?"

__ADS_1


"Tidak mungkin, Tuan. Untuk apa Mama menaruh anak kandungnya di panti tersebut sedangkan dia malah mengangkat Mba Luna sebagai anaknya?"


"Itulah pertanyaanku yang harus kau cari tahu, Arka!"


"Apa? Saya Tuan?"


Devano kemudian melemparkan amplop cokelat ke atas meja.


"Ambil! Dan tolong selidiki semua ini! Cari tahu pada orang tuamu siapa Luna sebenarnya!"


Arka hanya menatap amplop cokelat itu yang begitu menggelitik hatinya. "Kenapa hanya kau lihat? Kau mau kan? Jangan malu-malu! Cepat ambil!"


Arka pun mengambil amplop cokelat itu sambil tersenyum getir. "Terima kasih, Tuan."


"Iyaaaa tapi di dunia ini tidak ada yang gratis, kau mengerti kan?"


"Iya Tuan, saya mengerti. Saya akan mencari tahu asal-usul Mba Luna, dan tentang panti asuhan itu."


"Bagus, anak pintar! Hahahaha..., sekarang kau boleh pergi, Arka! Ingat lakukan tugasmu dengan baik! Aku tunggu kabar darimu!"


"Baik Tuan, saya permisi dulu."


Devano kemudian menganggukan kepalanya, dan berjalan keluar dari ruangan kepala cabang itu untuk kembali ke kantornya.


"Pulang, pulang! Neng Luna, abang datang! Hahahaha," kekeh Devano saat mengendarai mobilnya menuju ke kantornya.


Setengah jam kemudian, dia pun sudah sampai di kantornya, dan langsung menghampiri Luna yang kini tengah sibuk larut dengan berkas yang ada di mejanya.


"Luna! Ikut ke ruanganku sekarang!"


Luna kemudian bangkit dari kursinya lalu berjalan mengikuti Devano.


"Devano, kau tenang saja. Aku sudah mengerjakan semua pekerjaanmu."


"Terima kasih, Sayang. Tapi ada yang lebih penting. Ayo cepat masuk!"


Mereka kemudian masuk ke ruangan kerja Devano. Namun, baru saja pintu itu ditutup, Devano sudah mendorong tubuh Luna hingga menempel ke tembok.


"Astaga, Devanoooo!" teriak Luna.


"Luna, Joni rindu..."


"Joni? Joni adikmu?"


"Ya."


"Lancang sekali, berani-beraninya dia merindukan pacar kakaknya sendiri!"


"Joni datang bersamaku Luna!"


"Astaga, kenapa aku tidak melihatnya? Dimana Joni, Devano? Dimana Joni sebenarnya?"

__ADS_1


"Di bawah. Joni menggantung di bawah, Lunaaa!"


PLAKKKKK


__ADS_2