
"Pilih siapa? Bukankah kau sudah tahu jawabannya, Luna? Tentu saja aku memilihmu, kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu padaku?"
"Jangan bohongi aku lagi Devano!"
"Aku tidak bohong, Luna. Bukankah kau tahu aku sangat mencintaimu? Apa selama ini semua bukti itu kurang? Apa yang harus kulakukan? Cepat katakan padaku, apa yang harus kulakukan untukmu?"
"Tidak usah melakukan apapun, cukup jawab pertanyaanku saja."
"Kau mau bertanya apa sayang?" tanya Devano sambil membelai wajah Luna.
"Jangan sentuh aku!"
"Galak banget, Neng. Cium boleh?"
"Devanoooo... "
"Iya, iya, iya, kau mau tanya apa sayangku? Jangan marah-marah mulu, Neng. Kasihan anak kita, ntar cepet tua di dalam kandungan."
"Devano, please. Ini bukan saatnya becanda."
"Iya, iya, ya udah cepet ngomong. Jangan kebanyakan marah, abang udah pengen cium nih. Kiss, kiss bentar ya."
"TIDAK!"
"Astaga, galaknya.... Ya udah cepet ngomong Neng."
"Kau ingin mempercepat pernikahanmu dengan tunanganmu itu kan?"
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti, Luna."
"Jangan bersikap seperti orang bodoh. Tadi pagi kau pergi ke rumah tunanganmu kan? Itulah sebabnya kau tidak melanjutkan sarapanmu, dan memilih pergi ke rumah tunanganmu itu! Bahkan aku juga sudah membaca pesan dari orang tua tunanganmu itu kalau kau mulai tertarik pada dia, iya kan?"
Devano mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghembuskan nafasnya, dan menatap Luna dengan tatapan dalam.
"Luna sayang, lihat aku. Kau tahu kan aku tidak pernah berbohong padamu?"
__ADS_1
Luna terdiam. "Ya, tadi aku memang ke rumah tunanganku, tapi percayalah padaku. Aku datang bukannya aku mulai tertarik padanya hanya mampir sebentar karena urusan pekerjaan, mungkin orang tua dari tunanganku mengartikan ini berbeda. Dia menganggapku datang ke rumah itu karena aku mulai tertarik pada tunanganku."
"Jangan bohong!"
"Jadi kau tidak percaya padaku? Sekarang apa yang harus kubuktikan? Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu hingga tiba-tiba kau bersikap seperti ini, Luna? Apa semua ini gara-gara Mama? Mama sudah mempengaruhimu lagi kan?"
Luna kembali terdiam. "Baik, kalau kau tidak menjawab, akan kuselesaikan ini sekarang!" teriak Devano.
"Kau pilih siapa?"
"Kau sudah tahu jawabannya, Luna."
"Aku perlu bukti!"
"Baik, kau tunggu di dini sebentar!"
Devano lalu pergi meninggalkan Luna, dia kemudian masuk kembali ke mobilnya.
Beberapa saat kemudian Devano sudah sampai sampai di rumah Viona. "Mama.., Mama!" teriak Devano. Tak lama, Viona pun keluar dari kamar dan menghampiri Devano.
"Mama sekarang katakan padaku? Apa yang telah Mama perbuat? Apa yang telah Mama lakukan pada Luna? Mama sudah menyakiti hati Luna lagi kan?"
"Enak sekali kau berkata seperti itu Devano! Mama tidak melakukan apapun pada Luna. Pasti wanita itu yang sudah mempengaruhimu kan? Mama tidak berbuat apa-apa padanya, Devano!"
"Tidak mungkin, Ma! Jangan berbohong padaku! Kalau Mama tidak berbuat sesuatu pada Luna, tidak mungkin dia tahu kalau aku pergi ke rumah Sachi hari ini. Ini pasti karena Mama kan? Mama yang sudah memberi tahu pada Luna!"
"Memangnya kenapa? Apa salahnya kalau mama berkata seperti itu pada Luna? Bukankah benar hari ini kau datang ke rumah Sachi?"
"Iya aku memang datang ke rumah Sachi, tapi aku tidak sengaja mampir ke sana Ma, bukan karena sengaja ingin bertemu dengan Sachi. Dan karena Mama lah kesalahpahaman antara aku dan Luna kembali lagi terjadi. Kenapa Mama selalu bersikap seperti itu? Apa Mama tidak bisa membiarkan kami hidup dengan tenang?"
"Bukankah itu bagus? Bukankah seharusnya kalian memang harus berpisah? Ingat Devano, kau harus melanjutkan perjodohanmu dengan Sachi! Kau harus menikah dengan Sachi secepatnya!"
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Aku akan memutuskan pertunanganku dengan Sachi sekarang juga!"
"Tidak bisa Devano! Apa kau sudah lupa ancaman mama? Mama akan menghancurkan kehidupan kalian, memecat Arka dan membuat hidup kalian tidak bahagia selamanya!"
__ADS_1
"Silakan saja aku tidak takut dengan ancaman Mama! Aku sudah memberikan modal pada Arka agar dia bisa membuka usaha sendiri! Dan asal Mama tahu, ikatan cinta antara aku dan Luna sangat kuat tidak semudah itu dihancurkan oleh fitnah dan adu domba dari Mama!"
"Berani sekali kau berkata seperti itu Devano! Jadi kau sudah sudah tidak menghormatiku lagi sebagai mamamu?"
"Ingat Ma. Aku bersikap seperti ini karena Mama. Dan tolong ingat baik-baik, jangan pernah coba-coba untuk mengatur hidupku, Ma. Aku sudah dewasa dan berhak mengambil keputusan sesuai kata hatiku. Dan satu lagi, masalah perjodohanku dengan Sachi, nanti akan kubicarakan sendiri dengan keluarga mereka!" ucap Devano, lalu pergi meninggalkan Viona yang masih termenung.
"DEVANO! MAMA BELUM SELESAI BICARA!" teriak Viona saat menyadari Devano sudah pergi meninggalkannya.
...***...
Setelah Dea masuk ke dalam kamarnya, Delia lalu menarik tangan Shakila ke dalam kamar miliknya. "Shakila Apa apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Delia saat mereka sudah ada di dalam kamar.
"Mama, adik kandungku adalah Luna bukan Dea. Bu Rahma lah yang menemukan Luna di dalam gerbong kereta, tapi dia membawa Luna pulang ke rumah, sedangkan anak kandungnya dia titipkan di dalam panti asuhan itu karena dia menderita penyakit jantung bawaan. Dan anak kandung Bu Rahma adalah Dea yang Mama pikir adalah anak kandung Mama."
"Kau tidak mengada-ngada kan Shakila?
"Untuk apa aku mengada-ngada? Aku sudah melakukan penyelidikan ini dengan Kak Deren, dan itulah kenyataannya, Bu Rahma sendiri yang menceritakan semua itu padaku. Selain itu, tanpa Papa dan Mama tahu, aku pun sudah melakukan tes DNA."
"Tes DNA? Kenapa aku sampai tidak memikirkan semua itu? Perasaan bahagiaku saat bertemu Dea telah menghilangkan akal sehatku," ujar Delia lirih.
Delia pun termenung, hatinya terasa begitu campur aduk, memikirkan semua yang telah terjadi, termasuk kebodohannya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan jika Dea adalah anak kandungnya.
"Luna... "
"Iya Ma, Luna adalah Sachi."
"Shakila, aku pernah bertemu dengan seorang wanita muda bernama Luna. Apakah Luna yang pernah kutemui itu adalah Sachi?"
"Sebentar Ma, aku punya foto Luna," ujar Shakila sambil mengambil ponselnya, dan memperlihatkan foto yang pernah dia ambil saat berada di rumah Rahma. Melihat foto Luna yang ada di ponsel Shakila, Dea pun begitu terperanjat.
"Astaga Shakila, dia adalah Luna. Dia adalah Luna yang pernah Mama temui, Mama pernah bertemu dengannya, Shakila," ucap Delia dengan begitu terisak.
"Benarkah Ma?"
"Iya Shakila! Shakila, ayo temani Mama. Kita harus bertemu dengan Luna secepatnya!"
__ADS_1