
Luna pun seketika menelan salivanya dengan kasar. 'Oh tidak,' batin Luna.
"Kenapa kau tidak menjawab salamku?"
"O-oh iya, selamat pagi, Nyonya Viona."
Viona kemudian menerjang tubuh Luna, lalu masuk ke dalam unit apartemen itu begitu saja. "Jadi benar kata orang-orang kantor kalau kalian tinggal satu atap?" tanya Viona setelah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Luna pun hanya terdiam, kepalanya tertunduk menahan perasaan yang begitu berkecamuk.
"sebentar, saya buatkan minum dulu. Nyonya mau minum apa?"
"TIDAK USAH! AKU TIDAK SUDI MEMINUM MINUMAN DARI TANGAN KOTORMU ITU! LEBIH BAIK KAU DUDUK!" bentak Viona.
Dengan langkah berat, Luna kemudian duduk di atas sofa, di dekat Viona. "Kau memang benar-benar wanita murahan! Berani-beraninya kau tinggal dengan putraku, hah? Dasar wanita yang tak punya harga diri, sangat menjijikan!"
"Maaf Nyo..."
"Apa? Kau mau bicara apa? Mau membela dirimu? Apa kau tidak sadar pakaian yang kenakan itu? Benar-benar seperti wanita murahan! Kau pasti juga sudah menggoda putraku kan dengan memintanya untuk tinggal di sini?" ucap Viona yang sambil menatap tajam ke arah Luna yang masih mengenakan lingerie berbahan brukat warna hitam ditutupi kimono satin tipis dengan warna yang senada.
"Ma-maaf tapi bukan saya yang minta. Tapi Tuan Devano."
"Alasannnnn! dasar wanita penggoda! Aku tahu kau cantik dan seksi, pasti putraku yang flamboyan itu dengan mudah masuk ke dalam perangkapmu, itu kan?"
Luna pun memilih diam, karena untuk saat ini baginya diam adalah jalan terbaik. Berkata satu kata pun percuma, karena apapun yang dia lakukan ataupun dia katakan selalu saja salah.
"Kenapa kau diam? Bukankah kau sudah tahu kalau putraku sebentar lagi akan bertunangan dan menikah dengan Shakila? Tapi kau masih mau saja jadi budak pelampiasan dari putraku? Apa kau tidak sadar kau hanyalah wanita pemuas nafsu putraku, dan dia hanya menjadikanmu SEKEDAR PELAMPIASAN saja!"
"Maafkan saya, Nyonya. Ta-Tapiii..."
__ADS_1
"Maaf? Kau minta maaf? Dasar wanita sialan! Kau memang tidak punya harga diri!"
"Maafkan saya, Nyonya. Saya bukan wanita seperti itu, tapi kami melakukan semua ini karena kami saling mencintai," ucap Luna dengan menahan rasa takut di dalam hatinya.
"APA CINTA? CUIH!" Viona pun meludah di dekat kaki Luna.
"Apa kau bilang? Cinta? Helowwww, bangun Luna! Bangun! Jangan pernah bermimpi putraku akan jatuh cinta padamu! Apa kau tidak sadar, dia hanya menginginkan kemolekan tubuhmu saja! Asal kau tahu, kau bukan wanita pertama yang dibawa putraku ke apartemen ini! Jadi, jangan terlalu bangga dengan putraku karena kau hanya sekedar pelampiasan saja untuknya! Kau hanyalah pemuas nafsu putraku!"
"Tidak," ujar Luna lirih sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kau tidak percaya? Seharusnya sejak awal pertemuan dengan putraku, kau tahu bagaimana sifat putraku? Dia begitu flamboyan dan selalu berbuat hal yang tidak-tidak dengan semua sekretarisnya! Jadi kau salah jika kau merasa istimewa di hadapan putraku, karena sebenarnya kau sama saja dengan yang lain!"
"Tidak mungkin, Devano sendiri yang mengatakan kalau dia mencintaiku, dan ingin menikahiku."
"Jadi kau percaya dengan kata-kata manis putraku? Benar-benar BODOH!"
"Kau memang keras kepala! Sekarang dengarkan ini baik-baik!" ucap Viona sambil memperdengarkan sebuah rekaman suara di ponselnya.
"Siapa wanita itu?"
"Hanya sekretaris baru, Ma."
"Benar kau tidak ada hubungan apa-apa dengannya?"
"Mamaaaa... Mama berkata seperti itu seolah-olah tidak mengenalku saja! Kapan aku pernah menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita Ma? Semua wanita yang dekat denganku hanya sekedar pelampiasanku saja, Ma."
"Devano! Apa kau tidak mendengar perkataan Mama?"
__ADS_1
"Dengar, Ma."
"Apa?"
"Just sexxx, no love. Hahahaha!"
"Ingat, jauhi Luna, ataupun wanita lain! Ubah sikapmu karena sebentar lagi kau akan menikah!"
"Menyuruhku untuk menjauhi Luna? Yang benar saja, Ma. Aku baru saja bertemu dengan wanita sepolos Luna, dan kau menyuruhku untuk menjauhi Luna? Menjauhi Luna adalah sebuah kebodohan bagiku. Dia begitu polos dan lugu, heh. Luna, Luna, Luna, aku yakin kau pasti masih suci kan Luna? Dan akan kupastikan jika kesucianmu itu pasti akan jadi milikku. Ah tidak, aku tidak ingin ada pemaksaan. Aku ingin Luna yang memberikan sendiri padaku, sensasinya tentu akan berbeda jika dia yang memberikannya tanpa paksaan dariku. Ahhhh, emmmhhh rasanya pasti sangat nikmat! Hahhahha. Aku akan membuat Luna menyerahkan kesuciannya sendiri padaku, meskipun aku harus melakukan sedikit sandiwara untuk mendapatkan itu, hahahaha!"
KLIK
Viona mematikan rekaman percakapannya dengan Devano beberapa saat yang lalu. Dia pun menyunggingkan senyum seringainya saat melihat Luna yang saat ini terlihat begitu hancur.
'Untungnya aku sempat merekam percakapanku dengan Devano, karena aku sudah mengantisipasi hal buruk yang kemungkinan bisa saja terjadi. Aku tidak mau pertunangan Shakila dan Devano gagal begitu saja. Dan, untungnya saat aku sudah pamit dari ruangan Devano beberapa waktu lalu, aku belum benar-benar pergi dan juga sempat merekam gumamannya sendiri di akhir rekaman, hahhahaha,' batin Viona.
Luna pun hanya bisa terdiam, seluruh tubuhnya terasa membeku, rasanya begitu sakit mendengar pengakuan Devano yang baru saja dia dengar. Ingin rasanya dia berteriak dan menyangkal semua perkataan itu. Ingin rasanya dia menjerit dan mengatakan kalau semua itu salah, karena yang dia tahu Devano begitu mencintainya. Tapi, ternyata semua ini ternyata hanya sebuah ilusi.
'Aku yang sudah bodoh. Aku yang sudah salah mengartikan semua ini. Seharusnya aku sadar, laki-laki seperti apa itu Devano? Just sexxx no love, itu adalah semboyan hidupnya dan selamanya akan seperti itu. Aku bodoh, aku bodoh sudah hanyut ke dalam cinta palsu yang selalu dia ucapkan padaku. Padahal selama ini semua hanyalah sandiwara, hanya sandiwara karena dia menginginkan kesucianku. Dan bodohnya aku, aku hanyut ke dalam sandiwara dan cinta palsunya,' batin Luna sambil menahan perasaan yang begitu sesak. Tetes demi tetes butiran bening yang keluar dari sudut matanya, pun kini mulai membanjir wajahnya.
Melihat Luna yang kini mulai terisak, Viona pun tersenyum kecut. "Jadi, kau sudah sadar kan? Kau sudah menyadari siapa dirimu di mataku. Sekarang, lebih baik kau angkat kaki dari sini, dan jauhi putraku. Ingat kau hanyalah SEKEDAR PELAMPIASAN bagi putraku! SEKEDAR PELAMPIASAN! jadi jangan berharap lebih!"
Hancur, sakit, kini bercampur jadi satu, dan begitu mengoyak perasaan Luna. Dia pun bangkit dari atas sofa, lalu berjalan ke dalam kamar dan mengemasi pakaiannya, kemudian meninggalkan apartemen itu. Melihat kepergian Luna, Viona pun tersenyum menyeringai sambil berujar lirih. "Itulah akibatnya jika kau bermain-main denganku, kau hanyalah wanita bodoh yang tidak berguna!"
Luna melangkahkan kakinya dengan langkah gontai, tubuhnya memang masih sakit, tapi rasa sakit itu tidak sebanding sengan apa yang dia rasakan di dalam hatinya saat ini.
"Jika sebelumnya aku bisa membaca skenario kehidupan, mungkin aku akan menghapus bagian tentangmu. Sakit, itu aku, dan cukup diriku karena kisah cinta ini hanya ada aku tanpa ada kamu."
__ADS_1