
Tepat saat Luna masih mengamati beberapa mobil yang keluar dari rumah Vallen, tiba-tiba Devano sudah berdiri di belakangnya dan memeluknya. Bersamaan dengan rintik hujan yang mulai turun. Hawa dingin pun mulai menusuk kulit putih pualam Luna, yang membuatnya mengeratkan pelukan Devano.
"Sayang, maafkan aku. Kau mau kan memaafkanku? Aku tahu semua ini salahku, tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini, Luna. Aku janji, aku tidak akan pernah meniggalkanmu, dan anak kita. Aku hanya butuh waktu, kau mengerti kan?"
Luna terdiam sesaat, kemudian mulai menganggukan kepalanya. Melihat anggukan Luna, Devano pun menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Terima kasih, Sayang," bisik Devano sambil mengulum telinga Luna yang membuat Luna kegelian.
"Kenapa?"
"Geli, Devano."
"Bagus, kalau begitu kita gelli-gellian."
"Dua bulan kata Dokter Vallen."
"Tidak usah bohong, aku sudah tahu semuanya. Kau sudah sehat, aku sudah membaca hasil pemeriksaan terakhirmu tadi pagi, jadi jangan coba-coba bohong padaku."
Luna hanya tersipu malu, perlahan dia melepaskan pelukan Devano, dan memutar tubuhnya menghadap laki-laki itu. Menatap tepat ke arah netra sebening jelaga, dan mencari arti di balik sorot mata yang ditampilkan Devano. Sorot mata yang begitu dalam, dan menunjukkan rasa sayang yang begitu besar.
"Sayang, tolong jangan marah dan bersikap ketus lagi padaku. Kau tahu kan, aku sangat mencintaimu."
Luna menganggukkan kepalanya kembali, Devano kemudian mengangkat dagu Luna dan membelai wajah cantik itu. Lalu, mengecup kening kemudian turun menjelajahi seluruh wajahnya, dan berhenti dengan sebuah kecupan di bibir. Sebuah kecupan yang begitu hangat dan dalam yang membuat Luna memejamkan matanya.
"I never believed in love, before i saw you. Never believed in marriage, before i spoke with you. But now i do believe in life because have you. We always together because i love you, only you."
"I love you too," jawab Luna, dia kemudian mengecup bibir Devano. Devano pun tersenyum, lalu secepat kilat merengkuh wajah Luna, dan mellummat bibirnya dengan begitu lembut.
Devano kemudian mengangkat tubuh Luna, masuk ke dalam kamar mereka, dan membaringkan tubuh Luna di atas ranjang, tanpa melepaskan ciuman mereka.
Devano masih bermain dengan lidahnya, membelitkan lidahnya hingga membuat Luna mendessah pelan. Mendengar dessahan Luna, membuat gairah Devano semakin terpancing, jemari laki-laki itu bahkan sudah menjelajahi tubuh sang istri melepaskan satu per satu kain yang melekat di tubuh istrinya dan juga dirinya.
Luna meremas lengan berotot Devano, mencengkeramnya dengan kuat sebagai pelampiasan permainan bibir Devano yang begitu menggairahkan. Devano kemudian melepaskan ciumannya lalu mulai menyapukan lidahnya di leher Luna sambil merremas gundukan kenyal milik Luna, dan memainkan ujungnya yang kini sudah menegang, dan membuat Luna mengerrang.
__ADS_1
Suara errangan Luna, semakin menggugah hasrat Devano. Dia kemudian mulai menurunkan kepalanya ke bagian dada Luna dan mulai menyapukan lidahnya di gundukan kenyal memiliki Luna, sedangkan tangannya merremas gundukan kenyal lainnya.
Devano dengan begitu bergairah memainkan lidahnya di gundukan kenyal tersebut, mengulum, menghisap, dan menggigit buah ceri milik Luna yang kini tampak sudah menegang.
"Ahhhh... Devano...."
"Devanooo fvck me, fvck me please!"
"Sure, Dora cantik sekali hari ini, Luna! Jauh lebih tembam, chuby, sangat cocok dengan Joni yang sudah siap bertempur."
"Devano, jangan bercanda!"
"Aku tidak becanda, memang Joni sudah kulatih terlebih dulu!"
Luna hanya menggelengkan kepalanya, sambil mendessah lirih. Tubuhnya, kini terasa bergetar saat benda keras yang sudah mengacung tegak itu menerobos bagian bawahnya.
"Ahhhh... Devano!"
"Ahhhhh, shiitttt! Kau seperti menyedotku Luna!Masih saja sempit!" dessis Devano, yang saat ini mendorong miliknya hingga masuk ke dalam liang hangat milik Luna, dengan sekali hentakan.
"Fasster Devano, fasster!"
"Kita main-main dulu, Luna. Milikmu sangat ketat, Sayang," ucap Devano yang masih mendiamkan miliknya di dalam, dan menurunkan wajahnya lalu memainkan kembali gundukan kenyal milik Luna. Luna hanya bisa mengerrang keras sambil merremas sprei saat Devano mengullum, mellumat, dan mengissap gundukan kenyal miliknya, sambil meninggalkan tanda warna merah di leher, dada, dan gundukan kenyal itu.
Devano lalu menunduk menatap Luna yang kini pipinya sudah memerah, dia mengecup kening Luna sebentar dan memainkan pinggullnya bergerak pelan awalnya sangat lambat dan mengundang errangann kecil dari Luna, namun detik selanjutnya dia kembali merasakan sensasi berbeda saat sesak menusuk hingga sampai rongga terdalam.
"Arrhhhh Luna! Shhiittt...!"
"Oughhhh... Fassterr Devanoooo, fassterrr"
Devano kemudian mengullum dan memainkan benda milik Luna, gerakan Devano semakin cepat memaju mundurkan pinggullnya berkali-kali sambil meremmas gundukan dada Luna dengan begitu bergairah. Dia mendekatkan wajah mereka, membelai pipi Luna dengan lembut, dan menempelkan pipinya kearah pipi Luna untuk mendengar suara ******* itu lebih dekat, sementara pinggullnya terus memberikan gerakan semakin kencang.
"Ah, Devanooo... Ah, akuuu... "
__ADS_1
"Ah Lunaaa... Fvckkk, aku hampir keluar, Luna!"
Devano mulai merasakan semakin terjepit, Luna menjerit sambil mencengkram kain sprei. Detik selanjutnya, legguhann panjang pun terdengar di antara keduanya, saat Luna merasakan cairan panas menyembur di dalam rongga rahimnya.
Tubuh yang sudah bermandikan keringat itu, seketika terkulai lemas Devano tumbang setelah mereka berdua mencapai pelepasan. Devano menghentikan gerakannya dan melepaskan penyatuan mereka lalu menggulingkan tubuhnya ke samping Luna. Nafas mereka kini masih tersengal-sengal dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh mereka. Devano kemudian menarik tubuh Luna ke dalam dekapannya.
"I love you," bisik Devano.
***
Hampir satu jam lamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah Panti Asuhan tempat Dea tinggal. Saat sampai di Panti Asuhan tersebut, jantung Delia pun berdegup begitu kencang. Tubuhnya seakan bergetar hebat.
'Putriku? Benarkah putriku hidup di sini? Benarkah putiku hidup di sini selama dua puluh tahun lebih lamanya?' batin Delia, sambil merasakan hatinya yang kini terasa begitu sesak.
'Rasanya benar-benar menyesakkan dada!' batin Delia kembali.
"Ayo kita turun, Delia!" panggil Dimas.
Delia menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah mereka yang datang bersamanya. Akhirnya, mereka pun sampai di ambang pintu Panti Asuhan tersebut. Kenzo lalu memencet bel panti itu.
TETTT TEETTTT
***
Devano terkejut saat tiba-tiba mendengar isakkan Luna yang saat ini masih ada di dalam dekapannya. "Luna, kau menangis?"
Luna menganggukkan kepalanya. "Kau menangis kenapa? Apa aku menyakitimu? Apa perutmu sakit lagi?"
"Tidak Devano, tidak. Ini bukan karenamu."
"Lalu?"
"Entah kenapa tiba-tiba rasanya hatiku begitu sakit, sesak sekali, hingga rasanya aku begitu sulit untuk bernafas."
__ADS_1
"Mengkin kau kelelahan, Sayang. Kau istirahat di sini saja, biar kuambilkan obat untukmu," ujar Devano. Dia kemudian membantu Luna mengenakan pakaian milik Luna, baru mengenakan pakaian miliknya. Devano bangkit dari atas ranjang, dan keluar dari kamar itu, sedangkan Luna yang sedang berjalan ke arah kamar mandi tiba-tiba netranya tertarik pada sebuah foto bayi yang ada di atas meja riasnya.
Luna kemudian mengambil foto bayi tersebut. "Foto bayi? Bukankah ini fotoku saat aku masih bayi? Kenapa foto ini ada di sini?"