Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Bercerai


__ADS_3

Devano keluar dari kamar mandi lalu mendekat pada Luna yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya. Dia kemudian melingkarkan tangannya di perut Luna lalu mengecup bahunya, dan meninggalkan jejak warna merah kembali di bahunya.


"Neng, lagi yuk!"


"Devano diluar banyak tamu!"


"Biarkan saja, apa hubungannya dengan kita?"


"Dasar! Tentu saja ada hubungannya karena kita yang menikah!"


"Neng, sebentar ya Neng!"


"Apaan sih?"


"Kiss kiss dikit sebelum pake lipstik, Neng. Tadi ga asik ah, banyak lipstik yang nempel, jadi lengket kaya dodol garut, Neng."


"Devano! Lebih baik kau temui tamumu itu di depan!"


"Males Neng, kan buat abang tamu di hati abang cuma satu, Neng Luna seorang."


"Gombal! Dasar kang modus!"


"Tapi Neng cinta kan? Coba kalau abang nikahanya sama cewek lain, apalagi si bidadari empang, pasti neng nangis sampe tiga belas purnama kan? Nemenin Cinta nungguin Rangga."


"Terserah kau saja!"


"Cihuyyyy, jadi boleh kan kiss kiss dikit." Luna hanya terdiam, sambil menggerutu kesal. Saat Devano mulai memajukan wajahnya, tiba-tiba sebuah ketukan pintu mengagetkan mereka.


TOK TOK TOK


"LUNA! DEVANO!" panggil sebuah suara di depan pintu.


"Sial!"


"Hahahhaha, Bang Devano buka pintunya sayang. Aku mau merapikan riasanku dulu!"


Devano kemudian berjalan ke arah pintu sambil bersungut-sungut. Saat pintu itu terbuka, tampak Delia dan Dimas berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Papa Dimas, Mama Delia," sapa Devano.


"Devano, apa Luna sudah selesai beristirahat?"


"Oh ya, sudah Ma. Luna sudah selesai beristirahat, memangnya ada apa Ma? Apa ada tamu yang ingin menemui kami?"


"Iya memang masih banyak tamu, tapi ada hal lain yang lebih penting, yang ingin kami bicarakan dengan kalian."


"Hal yang lebih penting? Memangnya ada apa Ma?"


"Kita masuk kedalam! Kita bicarakan di dalam kamar kalian!" ujar Dimas. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar milik Luna.


"Papa, Mama ada apa?" tanya Luna yang baru selesai berdandan.


"Luna, Devano, sebenarnya adalah sesuatu yang ingin kami sampaikan pada kalian."


"Iya, ada apa Pa?"


"Maaf Devano, sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah benar dulu mamamu sering bersikap tidak baik pada Luna?"


Delia dan Dimas selalu saling bertatapan, Delia kemudian memeluk Luna sambil menangis. "Maafkan mama, maaf kalau mama telah membuatmu seperti ini. Maaf karena mama hidupmu jadi penuh dengan hinaan seperti ini. Ini semua terjadi karena ulah mama."


"Mama, kenapa bicara seperti itu? Mama tidak pantas berbicara seperti itu. Ini semua bukan kesalahan mama."


"Tapi karena ulah mama kau jadi mengalami berbagai kesulitan di dalam hidupmu. Pasti dulu hidupmu tidak mudah, apalagi saat kau menjalani hubungan dengan Devano," isak Delia.


"Mama sudahlah! Ini sudah lama berlalu, aku tidak apa-apa, Ma. Memang saat itu Mama Viona seringkali menghinaku, tapi aku tahu dia melakukan semua itu karena dia tidak ingin mengecewakan kalian. Dia melakukan semua itu karena dia tidak tahu kalau Sachi ternyata adalah aku, sama seperti kalian. Coba mama pikir, mama dan papa pasti akan melakukan hal yang sama kalau ternyata anak yang sudah kalian jodohkan memiliki hubungan dengan orang lain. Pasti kalian akan berusaha memisahkan mereka kan?"


"Kau benar Luna, jika aku ada di posisi Viona, mungkin kami akan melakukan seperti itu. Hanya saja mungkin sikap kami tidak akan sekasar Viona. Luna, sekali lagi maafkan mama."


"Mama tolong, sudah jangan bicara seperti itu lagi. Hal ini sudah tidak perlu dibicarakan lagi," ucap Luna.


"Papa, Mama, memangnya ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba papa dan mama menanyakan hal itu?" tanya Devano.


Dimas dan Delia lalu saling bertatapan. "Mama Fitri sudah tahu apa yang Viona lakukan padamu, Luna. Dan dia tidak terima kau diperlakukan seperti itu oleh Viona. Kau tahu kan, dia selalu menjunjung tinggi darah biru yang mengalir pada keluarga kita. Dia tidak terima kau menjadi menantu Viona karena sikap buruknya padamu dulu, dia merasa begitu sakit hati kau telah diperlakukan seperti itu oleh Viona."


"Oma Fitri juga meminta kalian bercerai karena dia tidak mau kau menjadi menantu Viona, dia tidak mau Viona menyakitimu lagi Luna," timpal Dimas.

__ADS_1


Mendengar perkataan Delia dan Dimas, seketika emosi Devano memuncak. "Tidak mungkin! Aku tidak mau! Aku tidak mau berpisah dengan Luna! Apa Oma tidak berfikir kalau saat ini Luna sedang mengandung darah dagingku? Kami tidak mungkin dipisahkan!" teriak Devano.


"Begitu pula, dengan Joni dan Dora, kan Luna?" bisik Devano yang mendapat tatapan tajam dari Luna.


"Iya Devano aku tahu itu, kami juga tidak akan menyuruh kalian untuk bercerai. Karena itulah kami ingin bertemu dengan kalian untuk membicarakan semua ini, agar kesalahpahaman ini bisa diluruskan."


"Jadi semua ini karena Oma Fitri yang tahu sikap mama dulu kan? Lalu darimana Oma Fitri tahu tentang sikap buruk mama pada Luna?"


"Kalau masalah itu, kami juga tidak tahu Devano. Tiba-tiba Mama menelponku dan mengatakan kalau dia memintaku agar segera mengurus perceraian kalian."


"Aneh sekali, pasti ada sesuatu dibalik semua ini? Pasti ada orang yang ingin berniat buruk padaku dan Luna, sehingga membuat Oma Fitri marah. Aku yakin pasti ada yang menyulut kemarahan Oma Fitri."


"Kau benar Devano, lalu menurutmu siapa yang menyuruh Oma Fitri?" tanya Luna.


"Pasti si bidadari empang, mimi peri kita tercinta, si Dea Similikiti weleh-weleh!" jawab Devano.


"Dea?" tanya semua orang yang ada di ruangan itu.


"Ya, siapa lagi kalau bukan bidadari empang yang sayapnya sudah patah? Hanya dia yang tidak menyukai pernikahan kami."


"Tapi dari mana dia bisa melakukan semua itu? Bukankah saat ini dia sedang dipenjara?"


"Aku tahu, aku akan menyelidiki semua ini!" ujar Devano sambil meninggalkan mereka semua.


"Devano! Sabar Devano!" teriak Luna. Namun teriakan Luna diabaikan begitu saja oleh Devano karena emosi yang sudah begitu memuncak.


***


Viona yang saat ini sudah sampai di rumah sakit tampak berjalan dengan begitu tergesa-gesa, menuju ke sebuah ruang perawatan yang ada di rumah sakit tersebut.


Saat dia berdiri di depan pintu ruang perawatan itu, dia tampak menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, mencoba untuk menenangkan hatinya. Rasa takut kini begitu melanda hatinya. Perlahan, dia membuka pintu ruang perawatan itu.


Akhirnya, Viona memasuki ruangan itu meskipun dengan tubuh yang begitu bergetar. Seorang wanita tua yang tidur di atas ranjang rumah sakit tersebut perlahan membuka matanya saat menyadari seseorang yang datang mendekat ke arahnya.


"Selamat sore Oma Fitri, maaf sudah mengganggu."


"Akhirnya kau datang juga Viona."

__ADS_1


__ADS_2