
Luna kemudian mengangkat panggilan di ponselnya.
[Halo Pak Kenzo, apa ada yang bisa saya bantu?]
[Iya Luna, aku minta tolong ambilkan berkas di dalam map berwarna merah yang ada di atas meja di dalam ruanganku. Aku tunggu sekarang! Nanti alamatnya aku kirimkan padamu.]
[Ta.. Tapiii..., tapi Pak.]
[Luna aku sangat membutuhkan berkas itu, cepat antarkan sekarang!]
[Tapi Pak Kenzo...]
[Luna, sudah tidak ada waktu lagi, tolong cepat antarkan berkas itu sekarang juga!] Saat Luna akan membuka mulutnya kembali, tiba-tiba panggilan itu telah terputus.
"Astaga bagaimana ini? Ah lebih baik aku antarkan saja berkas itu sekarang, sekalian aku pamit dan mengundurkan diri dari perusahaan Pak Kenzo," ujar Luna.
Beberapa saat kemudian, dia pun sudah sampai di kantor milik Kenzo, dia lalu bergegas masuk ke ruangan Kenzo dan mengambil berkas yang diminta olehnya. Setelah mengambil berkas itu, dia kemudian pergi ke alamat yang telah dikirimkan oleh Kenzo. Alamat yang dikirimkan tersebut ternyata adalah sebuah hotel bintang lima yang ada di pusat kota. Luna langsung masuk kedalam hotel tersebut dan menghubungi Kenzo.
[Halo Pak Kenzo saya sudah ada di lobi hotel]
[Oh baik Luna, tunggu aku sebentar.]
Lima menit kemudian, Kenzo mendekat ke arah Luna yang sedang duduk di sofa yang ada di lobi hotel tersebut.
"Pak Kenzo ini berkasnya,"
"Terima kasih banyak Luna."
"Iya sama-sama, Pak."
"Kau boleh kembali ke kantor Luna!" petintah Kenzo.
"Emhhhh Pak Kenzo sebenarnya begini..."
"Ada apa Luna? Apa ada yang ingin kau bicarakan?"
"Iya Pak, begini Pak Kenzo, sebenarnya pagi ini saya datang ke kantor dan ingin menemui Pak Kenzo untuk berpamitan."
"Berpamitan? Apa maksudmu Luna?"
"Iya Pak, emh begini, saya berniat mengundurkan diri dari perusahaan Pak Kenzo."
"Mengundurkan diri? Ada apa Luna? Kenapa mendadak sekali seperti ini?"
"Emhhhh, e, iya Pak. Sebenarnya ada suatu alasan yang tidak bisa saya ceritakan pada pada anda. Maafkan saya Pak Kenzo, saya tidak bisa menceritakan alasan pengunduran diri saya karena bersifat pribadi."
"Oh baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu."
"Sekali lagi, maafkan saya."
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi kalau kau membutuhkan pekerjaan kau bisa datang ke kantorku kapan saja kau mau, Luna."
"Iya Pak, terima kasih banyak. Anda dan Nyonya Cleo sudah begitu baik pada saya."
"Iya Luna, terima kasih juga sudah banyak membantuku. Semoga suatu saat kita bisa bertemu di lain kesempatan."
"Iya Pak, saya pamit dulu."
Kenzo kemudian menganggukkan kepalanya, sedangkan Luna berjalan keluar dari hotel tersebut menuju ke arah seberang jalan. Namun saat akan menyebarang jalan raya di depan hotel tersebut, tiba-tiba sebuah mobil mengejutkan dirinya.
BUGH
"Ah!" pekik Luna setelah sebuah mobil sedan yang akan masuk ke hotel tersebut tiba-tiba menyerempet dirinya. Dia pun kemudian tersungkur ke atas aspal.
"Awww!" teriak Luna sambil memegang kakinya yang terasa begitu sakit. Di saat itu juga seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut.
"Luna!" teriak laki-laki itu. Luna kemudian mengangkat wajahnya dan melihat seorang laki-laki yang kini berdiri di sampingnya.
"Tuan Brian!" ujar Luna.
"Kau ada di sini?"
"Iya Tuan, saya habis mengantar berkas milik bos saya."
"Astaga kupikir kau sudah menikah dengan Devano." Luna pun tersenyum kecut, Brian kemudian berjongkok dan melihat kaki Luna.
"Ya, mungkin sedikit terkilir."
"Astaga maafkan aku, aku sedang tergesa-gesa Luna."
"Tidak apa-apa Tuan, saya juga sedang tergesa-gesa."
"Apa mau kubawa ke rumah sakit?"
"Tidak usah Tuan, bukankah anda sedang ada urusan penting?"
"Tapi Luna..."
"Tidak Tuan, saya tidak apa-apa."
Luna kemudian mencoba untuk bangun dan berdiri, tapi dia sangat kesusahan karena kakinya terasa begitu sakit.
"Lihat kau bahkan sangat kesakitan Luna, sebaiknya kita masuk ke dalam sebentar. Di dalam, ada pertemuan penting dengan beberapa pengusaha, termasuk Devano. Nanti biar kuberitahu Devano kalau kau sedikit mengalami insiden."
"Jadi, Devano juga ada di hotel ini?"
"Ya, ada Devano. Kau masih menjalin hubungan kan dengan Devano?"
Luna pun tersenyum sambil mengangukkan kepalanya. "Kalau begitu, ayo masuk ke dalam. Biar kubantu!"
__ADS_1
Brian kemudian membantu Luna berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam mobilnya, dan setelah memarkirkan mobil tersebut, mereka berjalan ke lobi hotel. Mereka kemudian duduk di lobi hotel tersebut, Brian lalu mengangkat kaki Luna yang sakit ke atas sofa, dan sedikit mengurut kaki Luna.
"Tidak usah Tuan, tidak apa-apa."
"Tapi ini sepertinya sedikit parah Luna."
"Tidak Tuan, hanya terkilir."
"Tapi Luna, ini kesalahanku, aku yang telah menyerempetmu, jadi aku harus bertanggung jawab. Luna, bagaimana kalau kau istirahat saja? Kau istirahat saja di dalam kamar hotel. Lebih baik kau kupesankan kamar, dan beristirahatlah. Setelah rapat itu selesai nanti kau bisa pulang dengan Devano."
Luna terdiam dan tampak berfikir sejenak. 'Sepertinya itu ide yang bagus,' batin Luna.
"Bagaimana Luna?"
"Sepertinya itu ide yang bagus Tuan Brian. Biar nanti saya yang memberi tahu Devano kalau saya juga ada di hotel ini."
"Baik kalau begitu, aku pesankan kamar untukmu, nanti kau hubungi Devano agar menjemputmu di kamar itu."
"Iya Tuan Brian, terima kasih banyak atas bantuan anda."
"Sama-sama Luna, sebentar aku pesankan dulu kamarnya."
Brian kemudian berjalan ke resepsionis hotel untuk memesan kamar. Setelah memesan kamar, Brian kemudian menghampiri Luna kembali.
"Ayo Luna, biar kubantu."
"Terima kasih, Tuan Brian."
Brian membantu Luna bangkit dari atas sofa yang ada di lobi, dan membantu Luna mengantarnya ke kamar yang telah dipesan olehnya. Tepat di saat itulah, Devano juga masuk ke hotel tersebut.
"Astaga, urusanku hari ini banyak sekali di kantor. Semoga aku belum terlambat," ujar Devano saat masuk ke dalam hotel itu. Namun, tiba-tiba netranya tertuju pada sosok yang sangat mirip dengan Luna tampak sedang berjalan dituntun oleh seorang laki-laki yang sosoknya juga dia kenal.
Melihat sosok yang sangat mirip dengan Luna, Devano pun tampak mengernyitkan keningnya. "Luna?" ujar Devano.
"Ah sepertinya tidak mungkin itu Luna, tidak mungkin dia bermesraan dengan laki-laki lain. Tapi, bukankah laki-laki itu adalah Brian? Bukankah itu Brian?" ujar Devano sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Ah lebih baik kuikuti saja mereka sekarang," sambung Devano. Dia kemudian mengikuti dua sosok yang menurutnya mirip dengan orang yang dikenalnya. Dengan mengendap-endap, Devano pun mengikuti kedua sosok tersebut menuju ke sebuah kamar. Saat lelaki tersebut hendak membuka kamar hotel, Devano kemudian berteriak.
"HAIIII APA-APAAN INI!!"
Mendengar sebuah teriakan, spontan Luna dan Brian membalikkan tubuh mereka ke arah sumber suara. Luna pun begitu terkejut melihat Devano yang sedang berdiri menatapnya dengan tatapan tajam
'Devano,' batin Luna.
NOTE:
Mampir juga ya ke karya bestie othor, ke novelnya Kak Aisy Arbia. Dijamin ceritanya keren dan seru abis deh.
__ADS_1