Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Dimana Sachi?


__ADS_3

"Kenapa kita harus kawin lari Devano?" tanya Luna sambil mengerutkan keningnya, dan menatap Devano dengan tatapan sayu. Devano kemudian memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menggenggam tangan Luna.


"Luna, bukankah sudah kukatakan padamu, waktu kita hanya tinggal dua hari. Dua hari saja Luna."


"Apa maksudnya Devano? Dua hari?"


"Iya Luna pertunanganku dan Shakila akan dilangsungkan dua hari lagi, sebelum pertunanganku dilakukan aku harus mengambil keputusan secepatnya. Mungkin tindakan ini bisa dibilang tindakan pengecut, tapi hanya in satu-satunya yang bisa kita lakukan."


"Astaga apa tidak bisa dibicarakan baik-baik dengan kedua orang tua kita?"


"Tidak, ini sudah tidak mungkin. Setelah kejadian itu, setelah kita diadu domba, hidupku terasa begitu kacau. Rasanya, aku bahkan sudah tidak memiliki masa depan. Aku hanya bisa pasrah dengan masa depanku, dan terpaksa aku menerima perjodohan itu. Aku sudah bertemu dengan Oma Fitri, bahkan aku juga sudah menandatangani perjanjian pranikah dengan Shakila. Luna, kita harus pergi sejauh mungkin. Kita harus meninggalkan semua orang yang mengenal kita. Kau mau kan pergi denganku? Kau mau kan memlertahankan cinta kita?"


"Tapi Devano, aku tidak mau seperti ini. Apa tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan?"


Devano kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak ada Luna, tidak ada cara lain."


Luna menundukkan kepalanya, lalu butiran-butiran bening mulai menetes membasahi tangan yang digenggam oleh Devano.


"Ada apa Luna kenapa kau menangis?"


"Sesulit inikah jalan kita, Devano?" Devano kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tidak Luna jalan kita tidak sulit hanya saja, kita perlu melewati beberapa perjuangan. Kau mau kan berjuang denganku? Kau mau kan mempertahankan cinta kita?"


Luna terdiam merasakan rasa sakit dan sesak yang ada di dalam dadanya. 'Oh Tuhan inikah jalan takdirku? Sebegitu hinakah aku di mata orang tua orang yang kucintai? Sebegitu tidak pantaskah aku bersanding dengan putra mereka hingga tidak mau menerima kehadiranku?' batin Luna.


Tetes demi tetes butiran bening itu kian deras membasahi wajah Luna, Devano kemudian menarik tubuh Luna ke dalam pelukannya.


"Luna kenapa kau menangis? Ada aku, ingat aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan selalu memilihmu."


"Wanita mana yang tidak sakit saat menerima kenyataan kalau kedua orang tua kekasihnya tidak mau menerima kehadirannya? Mungkin seharusnya kau mengikuti kata-kata orang tuamu untuk menikah dengan Shakila. Aku memang tidak pantas bagimu, Devano."


"Sayang ini bukanlah salahmu, kau wanita yang pantas untukku. Aku sangat mencintaimu."


"Tapi kenyataannya seperti itu kan Devano? Orang tuamu saja sangat membenciku."


"Bukankah sudah kukatakan ini adalah sebuah perjuangan yang harus kita lalui, Luna. Ini adalah takdir yang harus kita lalui. Kita harus berjuang, kita harus berjuang untuk mempertahankan cinta kita, dan semua ini bukan kesalahanmu karena semua ini terjadi diluar batas kemampuan kita."


Devano kemudian melonggarkan pelukannya, lalu mengangkat dagu Luna. Menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam lalu mengecup kening dan menghapus sisa air mata di wajah cantik itu yang kini mulai terlihat tenang.


"Luna, aku sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang tidak kukenal, bahkan sejak aku belum lahir di dunia ini. Luna, maaf aku tidak bisa menampik perjodohan yang membuat hidupku begitu terbelenggu. Semua ini bukan salahmu, bukan tentang kamu tapi tentang aku."


Luna tersenyum. "Ini juga bukan tentang kau Devano, tapi tentang kita. Kita tidak salah, karena rasa cinta itu tidak pernah salah."


"Ya, kau mau kan mempertahankan cinta kita?"

__ADS_1


Luna menganggukan kepalanya. "Ya, aku mau. Meskipun satu-satunya jalan kita harus pergi."


"Terima kasih, Luna. Nanti sore kita pergi."


"Kemana?"


"Tempat yang jauh, aku akan membawamu pergi sejauh mungkin, ke suatu tempat dimana tidak ada yang bisa menggangu kebahagiaan kita. Aku hanya ingin hidup bahagia denganmu, Luna."


Luna pun tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. "Tapi aku ijin pulang dulu, Devano. Aku ijin pamit pada Mama. Meskipun dia bukan orang tua kandungku, tapi dia yang sudah merawatku sejak aku masih bayi."


"Tentu Luna, tentu saja. Mau kuantar?"


"Tidak, aku bisa sendiri."


"Baik, nanti sore kutunggu kau di Bandara."


"Ya, sekarang aku mandi dulu."


"Lunaaaa..."


"Apa?"


"Ikut..., mandiin Abang Neng," ujar Devano sambil mengedipkan matanya, dengan raut messum yang kembali menghiasi wajahnya.


"Nengggg... "


"Iya, iya. Aku siapkan airnya dulu," ujar Luna. Dia kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dan mengisi bathtub dengan air hangat lalu diisi dengan liquid bubble foam dan cairan aromatherapy.


"Devano, ayo mandi!" teriak Luna. Tak berapa lama, Devano kemudian masuk ke dalam kamar mandi itu sambil menatap Luna dengan tatapan genitnya. Dia kemudian masuk ke dalam bathtub.


"Sayang, ayo mandi. Temani aku!" perintah Devano.


"Manja sekali... "


"Luna, please..." Luna kemudian ikut masuk ke dalam bathtub itu, dan duduk di atas paha Devano, seperti yang diperintahkan olehnya.


"Ini namanya bukan mandi Devano."


"Mandi sambil gelli-gellian, bukankah ini sangat menyenangkan?"


"Dasar messum!"


"Tapi Neng Luna suka, ecieee cie cieer." Belum sempat Luna menjawab, Devano sudah merengkuh wajahnya lalu mellummat bibir tipis itu dengan begitu bergairah, bahkan merremass himalaya kembar milik Luna.


"Ahhhh... " sebuah legguhhan pun lolos begitu saja. Devano kemudian melepaskan ciumannya lalu berpindah ke leher jenjang Luna.

__ADS_1


"Eughhh... " dessah Luna lirih sambil memejamkan matanya saat lidah Devano menyapu seluruh lehernya.


Tangan Devano kemudian menjalar ke arah depan, membelai dua gudukan kenyal, merremass dan membelai ujungnya yang membuat Luna kembali mengerrangg, merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya.


"Ahhhh, Devano. Fvcck me, please!" pinta Luna.


"Ayo kita mulai," bisik Devano sambil mengigit telinga Luna. Luna pun menganggukan kepalanya. Bibir Devano kemudian menyusuri kulit pundak hingga leher Luna, meninggalkan tanda merah di sana, bahkan sampai menggigit dagu Luna karena sejak tadi dia terus mengerram.


"Ouhhhh, ahhhh Devano... "


"Kenapa?"


"Fvvcck me!"


Devano kemudian menyunggingkan senyuman di bibirnya. Luna pun terhenyak saat merasakan sebuah benda tumpul masuk ke dalam tubuhnya.


"Ahhhhh... "


"Shhhhhitttt, selalu saja sempit! Sama seperti saat baru pertama! Ahhhh Lunaaa!"


Suara erranggan dan desaahaan kini terdengar begitu merdu memenuhi seluruh kamar mandi itu.


'Joni, bukankah ini begitu luar biasa?' batin Devano sambil terus memainkan pinggullnya dan menghentakkan senjatanya ke dalam liangg hangat milik Luna.


"Ahhh Devano, aku..., ah...!"


"Kau sudah keluar? Sekarang giliranku!"


Devano kemudian mendongakkan wajahnya ke atas, diiringi legguhan merdu setelah menembakkan cairan kental ke dalam liang hangat itu. Setelah itu punggungnya dia sandarkan ke dinding bathtub sementara Luna masih duduk di atasnya dengan milik mereka yang masih menyatu.


"Devano, aku bersihakan badan dulu. Aku harus pergi sekarang."


"Iya Luna, jangan lupa nanti sore, kutunggu kau di Bandara."


***


Delia tampak mendekat ke arah Dimas yang sedang menatap rintik hujan. "Kau kenapa Dimas?"


"Aku tidak bisa menikahkan Shakila dan Devano. Apa kau sudah lupa, Delia. Aini dan Roy adalah penyelamat kita, aku tidak bisa membiarkan Shakila menikah dengan Devano, ingat kita sudah banyak berhutang budi pada Aini dan Roy, dan kita harus menikahkan Shakila dengan putra mereka, Darren. Bukan dengan Devano!"


"Tapi bagaimana dengan perjodohan itu?"


"Masih ada Sachi, Delia."


"Tapi, dimana Sachi? Kita bahkan tidak tahu dimana keberadaanya, Dimas?"

__ADS_1


__ADS_2