Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Ciuman Manis


__ADS_3

"Ja-jadi anda?"


"Ya, Luna atau Sachi adalah cucuku. Dan asal kau tahu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah terima atas semua yang kau lakukan pada cucuku!"


"Maafkan saya Nyonya," ucap Rahma sambil menundukkan wajahnya, rasa cemas dan takut merasuk ke dalam hatinya.


"Maaf katamu? Mudah sekali kau berkata seperti itu setelah apa yang kau lakukan pada cucuku!"


"Maaf Nyonya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Tapi kalau ini belum cukup saya akan melakukan apapun untuk menebus semua rasa bersalahku."


"Cih! Bahkan semua yang kau lakukan di dunia ini pun tak akan bisa menebus kesalahanmu yang begitu besar itu! Kau begitu sembarangan telah menyembunyikan cucuku selama puluhan tahun dan parahnya dia hidup dengan kekurangan dan penderitaan. Bahkan dia juga harus menanggung hinaan dan perlakuan buruk dari Viona! Dan ini semua karena ulahmu! Karena kau yang telah menyembunyikan cucuku!"


"Maafkan aku, tolong katakan padaku apa yang bisa kulakukan untuk menembus semua kesalahanku, Nyonya."


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Bukankah ini sudah terlambat? Kami sudah bertemu dengan Sachi yang telah hilang selama dua puluh tahun lamanya! Dua puluh tahun dia hidup dengan penderitaan, dan itu semua karenamu!"


"Maafkan saya nyonya, mungkin anda sudah bosan mendengar permintaan maaf dari saya. Tapi, hanya itu yang bisa saya lakukan Nyonya, kalau pun ada yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan itu, maka saya akan melakukannya, Nyonya."


Mendengar perkataan Rahma, Fitri lalu tersenyum kecut. "Memangnya kau bisa apa?"


"Saya akan melakukan apapun yang Nyonya perintahkan untuk menebus kesalahan saya. Saya juga ingin menebus kesalahan saya pada Luna karena telah memisahkan dia dan keluarga kandungnya."


"Benar kau mau mengikuti semua perintahku? Iya Nyonya, tolong katakan saja apa yang bisa saya lakukan untuk anda."


"Baiklah, kalau begitu setelah kau sembuh tolong kau temui aku."


"Menemui anda?"


"Ya, setelah kau sembuh kau temui aku secepatnya."


"Baik," jawab Rahma.


Setelah itu Fitri kembali memanggil perawat yang mengantarnya ke ruangan tersebut, lalu dia keluar dari ruang perawatan Rahma menuju ke ruang perawatannya kembali.


****


Sementara itu Dea yang saat ini tampak hanyut dalam gurauan dan canda tawa, setelah mendengar gombalan dari Devano terlihat mulai memegang tangan Devano.


"Devano kau benar-benar menyukaiku kan?"

__ADS_1


"Tentu saja. Apakah kau masih meragukan cintaku? Kau mau bukti apalagi sayangku? My honey sweety, baby, cipirily seperti buah chery di pohon apel. Kau perlu bukti apalagi agar kau percaya padaku? Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu lebih dari yang kau tahu, seperti lagunya Dewa 19."


"Aku percaya padamu, Devano."


"Bagus, memang seharusnya begitu. Apa tatapan mata elang ini kurang bisa mengungkapkan sedalam apa rasa ini padamu?"


"Iya Devano, aku tahu. Aku percaya padamu, Sayang. Tapi, apa kau mau hubungan kita terus-menerus seperti ini? Kau ingin bersamaku kan?"


"Tentu saja, tentu aku ingin bersamamu."


"Kalau kau ingin bersamaku tolong bebaskan aku, apa kau rela aku hidup di penjara seperti ini?"


"Tentu saja tidak, Dea. Asal kau tahu, aku juga sedang memikirkan semua itu. Tentu aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mengeluarkanmu dari penjara ini, karena apapun akan kulakukan untuk mengeluarkanmu dari penjara ini."


"Benarkah?"


"Tentu saja, tapi sepertinya aku belum memiliki cara itu. Jika aku bertindak sekarang, ini terlalu berbahaya, Dea. Aku takut mereka curiga padaku kalau aku meminta kau dibebaskan begitu saja."


Mendengar perkataan Devano, sebuah senyuman pun tersungging di bibir Dea. "Devano, kau tidak perlu cemas karena aku sudah memiliki cara agar aku bisa keluar dari dari tahanan ini. Kau tinggal meneruskan rencanaku, Devano. Nanti kuberi tahu kalau sudah saatnya."


"Apa? Kau sudah memiliki cara agar bisa keluar dari tahanan ini?"


"Memangnya apa yang telah kau lakukan, Dea?"


"Begini Devano, tadi saat Kayla menjengukku, aku memerintahkan dia untuk memberikan ponselku pada Oma Fitri."


"Apa? Memberikan ponselmu? Memangnya ada apa di dalam ponsel itu, Dea?"


"Sebelumnya aku mau minta maaf dulu padamu, Devano."


"Minta maaf? Minta maaf untuk apa, Dea?"


"Aku minta maaf karena di dalam ponsel itu ada rekaman suara percakapan antara aku dan mamamu. Dan, aku telah mengedit salah satu rekaman suara itu."


"Kau mengedit rekaman suara Mamaku, Dea? Memangnya untuk apa?"


"Oh itu agar Oma Fitri membenci mamamu, maafkan aku Devano. Aku melakukan semua itu karena aku tahu bagaimana sifat Oma Fitri. Dia pasti sangat tidak terima kalau mendengar cucunya Luna dihina oleh mamamu. Selain itu dalam salah satu rekaman suara itu aku juga mengedit kalau tujuan mamamu menikahkanmu dengan Luna agar dia memperoleh harta keluarga mereka."


'Brengsek!' batin Devano saat mendengar perkataan Dea.

__ADS_1


'Wanita ini memang benar-benar kurang ajar,' batinnya kembali. Namun Devano mencoba meredam amarahnya, dan tetap bersikap manis pada Dea.


"Kenapa kau diam? Apa kau marah padaku?"


"Tidak Dea, Sayang. Kau memang kekasihku yang sangat pintar. Otakmu benar-benar begitu luar biasa, sama seperti spons. Kau begitu spektakuler dan cerdas, melebihi dua kata itu sendiri. Selain cantik kau memang begitu memukau Dea," ujar Devano yang membuat Dea tersipu malu.


"Kau bisa saja, Devano."


"Kalau begitu aku pulang dulu, Sayang. Aku tidak mau Luna dan keluarganya curiga kalau aku sedang mengunjungimu di sini."


"Iya Devano berhati-hatilah."


"Tentu saja sayang. Dea, apakah kau mau memejamkan matamu?"


"Memejamkan mata? Untuk apa?"


"Aku ingin menciummu, Dea."


"Tapi aku malu."


"Dea, please. Tolong tutup matamu."


Dea kemudian menutup matanya sambil tersipu malu, wajahnya pun tampak begitu merona. Saat melihat Dea sudah menutup matanya, Devano kemudian memanggil salah seorang office boy yang baru saja mengantarkan minuman ke salah seorang polisi di dekatnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya office boy tersebut.


Devano kemudian menempelkan telunjuknya di bibirnya seolah memberi kode agar office boy tersebut memelankan suaranya.


"Tolong cium dia," bisik Devano.


"Apa? Yang benar saja Tuan?"


"Iya, tolong cium dia! Cepat!" perintah Devano sambil menyelipkan beberapa uang lembaran warna merah.


"Baik."


Office boy tersebut kemudian mengecup pipi dan bibir Dea. "Kau boleh pergi!" ujar Devano.


"Bagaimana kecupan dariku?" tanya Devano setelah office boy tersebut pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Sangat manis, dan hangat Devano," jawab Dea sambil tersipu malu.


__ADS_2