Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Membuat Cemburu


__ADS_3

Devano pun masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat Luna yang kini sudah tertidur. Perasaannya pun begitu tak menentu melihat dress Luna yang tersingkap dan menunjukkan pahanya yang terlihat begitu putih dan mulus yang semakin menggoda naluri kelaki-lakian Devano. Namun, dia hanya bisa mengendalikan nafsunya sambil berdecak kesal.


"Ck! Kupikir malam ini kita akan bersenang-senang Joni. Ini malam pertamaku bersama Luna tinggal di rumah setelah kami menikah, tapi ternyata malah jadi malam kelabu. Sekarang, bagaimana aku mengandalikan hasratku ini jika melihat Luna seperti ini? Apalagi selama dua bulan. Sungguh sangat menyiksa batinku saja! Joni, malang sekali nasib kita hari ini?" ujar Devano sambil melirik ke arah bawahnya.


Devano kemudian menghembuskan nafasnya lalu tidur di samping Luna sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Bahkan, kepalanya rasanya seakan mau pecah saat melihat buah dada Luna yang terlihat begitu montok kini menyembul di balik piamanya.


Perlahan, Devano pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Luna. Luna yang kaget tiba-tiba mendapat kecupan di bibirnya lalu menautkan keningnya.


"Apa yang kau lakukan, Devano?"


"Sedikit!" ujar Devano sambil meringis. Namun, Luna malah menghapus bekas kecupan di bibirnya.


"Apa-apaan ini!" gerutu Luna.


"Luna! Kenapa kau bersikap seperti itu? Bukankah aku suamimu? Aku berhak atas dirimu! Kenapa kau bersikap ketus sekali padaku, Luna! Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"


"Maaf Devano, sekarang aku tidak mau mengumbar tubuhku begitu saja!"


"Mengumbar? Apa maksud kata-katamu, Luna?"


"Ya, aku tidak mau mengumbar tubuhku begitu saja karena aku juga tidak tahu sampai kapan aku akan jadi istrimu! Aku tidak mau rugi untuk kedua kalinya, Devano!"


"Luna, aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!"


"Devano, apa kau sudah lupa saat ini kau juga sudah bertunangan dengan seorang wanita? Lalu bagaimana denganku nanti? Bagaimana nasibku nantinya? Apa kau bisa menjamin posisiku? Bagaimana setelah dua bulan kau menikah dengan wanita itu? Bagaimana nasibku?" ujar Luna.


Devano pun hanya terdiam mendengar perkataan Luna. "Kenapa kau diam, Devano? Kau tidak bisa menjawab pertanyaanku kan? Kau tidak bisa menjamin posisiku dan anak yang ada di dalam kandunganku?"


"Luna, dengarkan aku. Aku tahu ini semua memang salahku. Tapi aku janji, Luna. Aku janji, tidak akan menelantarkan anak kita. Aku tidak akan membuatmu dan anak yang ada di dalam kandunganmu tersakiti, Luna. Aku janji akan bertanggung jawab atas dirimu dan anak yang ada di dalam kandunganmu, aku janji. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."


"Aku butuh kepastian. Aku minta kepastian darimu, Devano!"


Devano terdiam, hatinya terasa begitu berkecamuk. 'Maafkan aku Luna, bukannya aku tidak bisa memberikan kepastian padamu. Hanya saja, ada banyak yang harus dipertimbangkan agar kau dan keluargamu tidak mendapat gangguan dari Mama. Aku pasti akan mempertahankan kalian. Tapi tolong beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini, Luna,' batin Devano sambil


Devano menatap wajah polos Luna yang tertidur dengan begitu pulas. Dia kemudian membelai wajahnya lalu mengecup keningnya.


***


Luna yang sedang menyiapkan sarapan tampak begitu terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


"Selamat pagi, istriku!" ujar Devano sambil mengecup tengkuk Luna.


"Apa-apaan ini, Devano?" bentak Luna.


"Galak sekali, memangnya aku tidak boleh bersikap manis seperti ini? Biasanya kau juga langsung menciumku saat aku memelukmu! Memangnya kau tidak rindu padaku? Kau tidak rindu membelai Joni? Bahkan tadi malam Joni menanyakan kabar Dora padaku? Apakah Dora sekarang sudah bertambah chuby, Luna?"

__ADS_1


"Kau bisa diam atau tidak, Devano! Keaadaannya sudah berbeda! Lebih baik sekarang kau sarapan! Ini sudah siang! Bisa-bisa kau dimarahi Papa kalau terlambat ke kantor!"


"Dasar galak! Aku bangun kesiangan seperti ini juga karenamu! Semalaman aku menahan rindu padamu, dan kau malah bersikap seperti ini padaku," gerutu Devano.


"Jangan banyak bicara!"


Devano kemudian menyantap sarapannya sambil melirik Luna yang kini juga sedang menikmati sarapannya.


"Devano, jangan menatapku seperti itu. Aku tahu kau pasti sedang mengeluh karena sikapku, kan?"


"Jangan berfikiran buruk padaku, Luna. Aku hanya sedang ingin sarapan susu kenyal! Sarapan susu kenyal boleh?"


"Bukannya kau sedang sarapan!"


"Pengin sarapan susu kenyal yang ada buah cherynya, Luna...."


"Dasar messum!" umpat Luna.


"Aku tidak messum Luna, aku hanya ingin mendapatkan hakku sebagai suami yang tidak kau penuhi! Tolong berikan hakku Luna! Bukankah kau tahu, semalaman aku sampai tidak bisa tidur!" keluh Devano.


"Itu bukan urusanku!"


"Galak sekali, aku sudah selesai istri galakku! Kalau begini, lebih baik aku cari pacar saja!"


"Jangan sebut dia! Bukankah sudah sering kukatakan padamu kalau kita tidak boleh membicarakan wanita lain saat sedang berdua!" gerutu Devano.


"Itu bukan urusanku!"


"Luna, tolong jangan bersikap seperti ini padaku!"


"Aku mau ke kamar Devano, aku mau istirahat!" ujar Luna. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya. Namun, saat akan berjalan menuju ke kamar, tiba-tiba Devano mengikutinya lalu memeluknya.


"Apa-apaan ini, Devano?"


Devano terdiam, dia kemudian mencengkram pundak Luna lalu membalikkan tubuhnya, dan memandang wajah Luna dengan tatapan begitu dalam.


"One kiss, Please. One kiss as you be my wife! Please," pinta Devano.


Luna kemudian menghembuskan nafasnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Devano, dan mengecup pipinya.


Mendapat kecupan di pipi. Devano pun tersenyum. "Thanks, thanks a lot!" ujar Devano.


Luna pun tersenyum. "Cepat berangkat, ini sudah siang!"


Devano pun menganggukan kepalanya, lalu perlahan mencuri kecupan di bibir Luna kemudian berlari sebelum Luna marah padanya.

__ADS_1


"Devano! Lancang sekali!" teriak Luna. Namun Devano hanya terkekeh sambil memeletkan lidahnya.


"Dasar!" gerutu Luna. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya sambil tersenyum dan memegang bibirnya.


"Thanks for sweet kiss in this morning!" ujar Luna.


Sementara Devano yang kini berdiri di ambang pintu tampak menggerutu. "Kenapa dia tiba-tiba berubah jadi galak seperti itu? Ah sebaiknya kubuat Luna cemburu! Ya, aku harus membuat Luna cemburu!"


Tepat di saat itulah, Devano melihat seorang wanita cantik yang sedang duduk di taman yang ada di halaman rumahnya. Wanita itu duduk sambil meminum secangkir teh dan tampak asyik memainkan ponselnya.


"Kesempatan sepertinya ini umpan yang bagus untuk membuat Luna cemburu!" ujar Devano. Dia kemudian mendekat ke arah tembok pembatas rumah tersebut.


"Haiii!" sapa Devano pada wanita cantik yang sedang duduk, dan sapaan itu hanya dibalas dengan senyuman tipis.


"Hai selamat pagi, saya tetangga baru anda. Perkenalan namaku Devano! Siapa nama anda?" ujar Devano sambil tersenyum begitu manis dan tatapan jahil yang begitu menggoda.


"Selamat pagi Pak Devano! Saya Cleo."


Devano pun terkejut mendengar jawaban Cleo. "Pak? Kenapa anda memanggil saya dengan sebutan Pak? Bukankah kita seumuran? Mungkin lebih akrab kalau anda memanggil saya Devano saja, atau biar lebih akrab anda juga bisa memanggil saya honey, baby, atau juga bestie," kata Devano sambil mengedipkan matanya.


Cleo pun tersenyum. "Bukankah sebentar lagi anda juga akan menjadi menjadi seorang ayah?"


Devano pun berpura-pura terkekeh sambil menautkan alisnya. "Siapa yang mengatakan seperti itu Cleo? Siapa yang mengatakan aku akan memiliki seorang anak? Ada-ada saja, itu pasti gosip. Kau tahu sendiri kan, laki-laki tampan dan sukses sepertiku pasti sering digosipkan, Cleo. Kalau aku bertemu orang itu akan kucubit mulutnya. Berani-beraninya dia berbicara seperti itu."


"Benarkah?"


"Tentu saja, anggap saja itu angin lalu Cleo!" ujar Devano sambil menyunggingkan senyum lebarnya.


Cleo pun tersenyum, namun saat dia akan menjawab perkataan Devano, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Akkuuu Devanoooo!" teriak Vallen. Dia kemudian mendekat ke arah Devano lalu menjewer telinganya.


"Tante Dokter!" ujar Devano sambil menelan salivanya dengan kasar dan meringis saat mendapat jeweran di telinganya oleh Vallen.


"Aku yang mengatakan pada keluargaku kalau ada spesies aneh yang kurang bermoral tinggal di samping rumahku! Aku juga sudah memperingatkan pada putriku agar berhati-hati pada spesies aneh itu! Kau tadi bicara apa Devano? Mau mencubit mulutku? Sekarang cubit aku! Cubit aku Devano!"


"Ti-tidak Tante Dokter! Tante Dokter tolong maafkan aku! Aku hanya sedang ingin membuat Luna cemburu, tidak lebih."


Vallen kemudian melepaskan jewerannya pada Devano. "Devano, bukankah sejak pertama kali bertemu sudah kuperingatkan untuk tidak merayu putriku!"


"Maaf Tante, mana aku tahu Cleo itu putri anda. Aku hanya ingin membuat Luna cemburu agar dia lebih perhatian padaku."


"Alasan saja, bukankah kau tahu ini rumahku? Dan aku sudah pernah mengatakan kalau aku memiliki seorang putri! Seharusnya otakmu berfikir jika ada wanita di rumahku itu artinya dia putriku!"


'Oh-tidak, jadi wanita cantik ini istri Kenzo? Mampusss!' batin Devano.

__ADS_1


__ADS_2