
NOTE: Di bagian ini, setengahnya aku masukin bagian PROLOG ya, karena sudah masuk alur dari PROLOG.
***
Awalnya, Luna membalas ciuman Devano. Namun, semakin lama ciuman itu terasa menakutkan bagi Luna, hingga akhirnya dia melepaskan ciuman itu.
"Kau kenapa Devano?" tanya Luna sambil menatap Devano dengan tatapan sendu. Namun dibalas tatapan mata tajam dari Devano.
"Devano apa kau masih marah padaku?"
"Tolong maafkan aku, Devano. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh, aku tidak melakukan apapun. A-aku sangat mencintaimu, Devano!"
"Cinta? Cihhhh!"
"Devano, jadi kau masih marah padaku?"
Devano kembali terdiam. "Devano, come on."
"Lebih baik kau pulang, terima kasih pernah hadir dalam hidupku."
"Apa maksudmu Devano? Bukankah kau yang mengatakan kalau cinta kita harus diperjuangkan? Kau mau memperjuangkan cinta kita lagi kan, Devano?"
"Tolong jangan sebut kata cinta lagi di hadapanku!"
"Devanooo.... "
"Luna! Tau apa kau tentang cinta, hah?"
"Devanooo, aku sangat mencintaimu... "
"Mencintaiku katamu? Tolong buang semua kata-kata menjijikkan itu lagi di depanku!"
"Apa kau sudah tidak mencintaiku, Devano?"
"Cinta katamu? Cintaaa hah? Tau apa kau tentang cinta, Luna? Tau apa kau tentang cinta?"
"Kau!"
"Shhhittttt! Tidak usah banyak bersandiwara! Lebih baik sekarang kau pergi tinggalkan aku!"
"Tapi, Devano. Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini."
"Bukankah tadi siang sudah kukatakan? Tidak ada yang perlu dijelaskan!"
"A-aku sangat mencintaimu..."
"Tolong jangan pernah sebut kata-kata cinta lagi di depanku! Apa kau tahu rasanya bagaimana cinta itu Luna? Cinta sangat menyakitkan! Tahukah kau bagaimana besarnya cintaku padamu? Rasanya aku hampir mati karena tergila-gila padamu! Apa kau tidak pernah melihat seberapa besar pengorbanan cintaku untukmu? Semua kulakukan semua untukmu! Aku bahkan rela dan mau meninggalkan kedua orang tuaku, semua yang kumiliki, dan semua kehidupan lamaku hanya untukmu! Tapi lihat apa yang kau lakukan padaku? Kau selalu menyakitiku! Kau selalu menyakitiku! Hanya itu yang kau bisa!"
__ADS_1
"Maafkan aku Devano... "
"Lebih baik kau pergi, dan jalani hidup kita masing-masing. Kembalilah pada Brian. Sudah cukup kau menabur garam di hatiku!"
"Tapi Devano... "
"Cukup! Sudah terlalu sakit! Bahkan rasanya sangat sakit!"
"Devano..."
"Tolong pergi, Luna!"
Luna kemudian mendekap tubuh Devano. "Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu!"
"Tapi kau sudah melakukannya! Dan itu tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Seharusnya aku sadar tapi aku terlambat menyadari itu, saat aku memberimu sebuket bunga dan cokelat, dan kau tidak pernah sekalipun menganggap ada pemberianku itu! Kau selalu mengabaikan apa yang selalu kuberikan padamu! Termasuk saat aku mengajakmu untuk pergi, meninggalkan keluargaku dan hampir saja aku mempermalukan mereka akibat perjodohan gila itu, tapi kau malah tidur dengan Brian! Apa kau tahu bagaimana rasanya? Sangat menyakitkan, Luna! Sangat menyakitkan! Bahkan aku hampir saja mengakhiri hidupku karena tak sanggup menahan rasa sakit ini! Apa kau tahu bagaimana rasa sakitnya, Luna!"
"Devano, sungguh aku tidak pernah berniat seperti itu!"
"Lebih baik kau pergi, dan lanjutkan hubunganmu dengan laki-laki itu!"
"Tidak Devano, aku akan memperjuangkan cinta kita. Aku akan membuktikan kalau kau sudah salah paham padaku!"
"Tidak usah, waktu kita sudah habis. Lebih baik kau kembali pada laki-laki itu, lelaki yang kau pilih, karena aku juga sudah memilih wanita lain."
"Apa maksudmu?"
Mendengar perkataan Devano, perasaan Luna pun terasa begitu hancur. Dia kemudian memeluk tubuh Devano. "Pulanglah! Aku sudah lelah! Rasanya sangat sakit, Luna. Aku sudah lelah selalu kau sakiti!"
"Tidak Devano! Kau sudah salah paham padaku!"
"Pulanglah!"
Namun, Luna kian erat memeluk Devano. Pelukan yang begitu kencang, hingga Devano merasa kesulitan untuk bernapas. Devano kemudian membalikkan tubuhnya, lalu melonggarkan pelukan Luna, dan menatap wajah cantik itu.
"Devano..."
"Pulanglah... "
Luna menggelengkan kepalanya, dan semakin lekat menatap Devano. Mata mereka akhirnya bertatapan begitu dalam, hingga tanpa mereka sadari, bibir mereka telah menempel satu sama lain. Nafsu dan emosi yang begitu membuncah diantara keduannya membuat mereka kehilangan kendali. Keduanya saling memaggut satu sama lain dengan begitu bergairah, bahkan tangan Devano juga mulai membuka kancing dres Luna dan merremass benda kenyal miliknya.
"Devanoooo... "
Mendengar ******* Luna, Devano kemudian mendorong tubuh Luna memasuki private room yang ada di dalam ruangannya tanpa melepaskan ciuman mereka. Setelah masuk ke ruangan itu, dia kemudian membuka drees yang dikenakan oleh Luna, dan menyisakan lingerie warna hitam di dalamnya.
Akal sehat keduanya seakan hilang, rasa rindu dan emosi yang begitu menyelimuti keduanya terasa begitu menguasai hati mereka masih-masing.
Dia dalam private room tersebut, kecupan penuh gairah menuntun Devano mengecup setiap inchi tubuh wanita berkulit putih mulus di hadapannya yang hanya mengenakan sebuah lingerie hitam transparan yang begitu meliarkan jiwa kelaki-lakianya.
__ADS_1
"Ahhhh Devanooo!!!" legguh wanita yang ada di depannya dengan pandangan sayu, seakan meminta lebih.
Devano pun tersenyum, dengan penuh gairah dia mengoyak lace lingerie yang dikenakan oleh wanita itu sampai terlepas dan menyajikan pemandangan tubuh yang begitu indah, sedangkan Luna masih menatapnya dengan tatapan sayu dan begitu dalam.
'Tatapan mata ini? Ahhh tatapan mata apa ini? Kenapa dia menatapku seperti itu?' batin Devano saat melihat tatapan kesedihan di manik mata cokelat milik Luna, yang kini juga terlihat berkaca-kaca.
"Devano, fvvck me for farewall gift!" pinta Luna.
'Memang aku sangat bodoh mengiba cinta darimu! Tapi aku bisa apa? Aku sangat mencintaimu, memang semua ini salahku, aku terlalu menyepelekanmu Devano,' batin Luna.
"Devano!" pangggil Luna kembali.
"Sure, farewall gift for you, Luna. Thanks for everything, ini yang terakhir."
"Ini yang terakhir," jawab Luna sambil mengangukkan kepalanya. Devano kemudian mendekatkan wajahnya, lalu melummat habis bibir merah milik Luna, dan dibalas dengan paggutan seolah tak ingin melepasnya.
'Kenapa aku baru menyadari rasa ini saat besok dia akan pergi? Sebuah rasa yang teramat dalam. Maafkan aku jika selama ini aku memang selalu meremehkan cintamu, Devano. Dan saat aku menyadari semua ini, kau akan pergi menjadi milik wanita lain dengan membawa separuh hatiku,' batin Luna sambil meneteskan setetes air mata yang keluar dari sudut matanya.
Luna kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar Devano, melekatkan tubuh keduanya. Devano mengerram, menyentak kasar seiring gelayar yang terkumpul di pangkal paha. Napas keduanya berkejaran, Devano berteriak kala ledakan itu menyemburkan cairan ke liang hangat milik Luna.
"Terima kasih, Luna. Thanks for everything," ucap Devano saat menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Luna seraya mengecup keningnya. Luna pun hanya tersenyum kecut.
Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.
"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.
"Sudah," jawab Luna singkat.
"Ayo kuantar pulang!"
Luna menganggukan kepalanya sambil menahan rasa sakit dan kebodohan yang telah dia perbuat, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.
Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.
"Terima kasih, Luna."
Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.
'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.
"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."
Devano pun menganggukan kepalanya. "Terima kasih, Luna."
"Saya turun dulu."
Luna kemudian bergegas turun dari mobil Devano. Sakit, hanya itu yang dia rasakan. "Tanpa sengaja, aku telah mengukir namamu, seharusnya aku sadar itu adalah sebuah kesalahan. Tapi aku bisa apa? Terkadang cinta datangnya begitu tiba tanpa memberi aba-aba, dan terpaksa aku harus menerimanya tanpa tahu penyebannya, karena hati tidak pernah memiliki banyak alasan untuk bisa jatuh cinta."
__ADS_1