Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Sebatas Nikah Siri


__ADS_3

"Mama!" teriak Devano sambil menghampiri Viona.


"Ma, bangun Ma!" teriak Devano. Di saat itulah, suara langkah kaki pun terdengar mendekat ke arahnya.


"Ada apa Devano?" tanya sebuah suara laki-laki yang kini berdiri di belakangnya.


"Mama, Pa! Mama!" teriak Devano. Roni, pun mendekat lalu memeriksa keadaan Viona. "Tidak apa-apa Devano, dia hanya pingsan. Pasti dia banyak pikiran jadi seperti ini," ujar Roni.


"Lebih baik kita angkat mamamu masuk ke dalam kamar!"


"Iya Pa."


Mereka kemudian mengangkat tubuh Viona ke dalam kamarnya. Setelah membaringkan tubuh itu di atas ranjang, Devano lalu menggosok-gosokan minyak aromatherapy yang dia ambil di laci nakas di bawah hidung dan di pelipis Viona.


Beberapa saat kemudian, mata Viona pun tampak bergerak. "Mama!" panggil Devano dan Roni.


Perlahan, mata Viona pun terbuka. Dia tampak bingung dan memandang ke arah sekeliling ruangan itu.


"Mama, mama sudah sadar?" tanya Roni yamg kini duduk di tepi ranjang. Dia kemudian memijit pelipis Viona.


"Mama, Mama kenapa? Apa ada sesuatu yang mama pikirkan?"


Viona kemudian menatap ke arah sekeliling lalu menatap sosok Devano yang kini diam terpaku dan terlihat salah tingkah. "Papa! Itu semua gara-gara dia Pa!" bentak Viona.


Roni kemudian mengalihkan pandangannya pada Devano. "Devano! Apa sebenarna yang telah kau lakukan?"


"Papa maaf, ini memang salahku yang sudah terlalu cepat mengambil keputusan. Tidak seharusnya aku bertunangan dengan Sachi."


Viona pun tampak terisak. "Ma, kenapa Ma? Apa yang sebenarnya diperbuat oleh Devano?"


"Devanoooo Pa, Devano... Dia menghamili seorang wanita, Pa!"


Roni pun begitu terkejut mendengar perkataan Viona. "Astaga! Kau memang benar-benar memalukan, Devano! Mau ditaruh dimana muka kami jika Tante Fitri tahu semua ini?" ucap Roni sambil menatap Devano dengan tatapan tajam.


Viona pun menggelengkan kepalanya. "Entahlah Pa, dia memang benar-benar memalukan!"


"Mama, Devano, lebih baik kita temui wanita itu dan keluarganya. Kita selesaikan semua ini dengan jalan kekeluargaan. Bagaiman?"


"Tidak mungkin Pa! Tidak mungkin!" isak Viona.

__ADS_1


"Tidak mungkin bagaimana Ma? Kita masih bisa melakukan jalan damai dengan memberikan uang yang cukup untuk mereka, dan juga membiayai anak itu, anak Devano. Bagaimana? Papa yakin, mereka pasti mau, Ma."


"Tidak Pa! Keputusannya sudah final! Besok Devano akan menikah dengan gadis itu!"


"Kenapa, kenapa harus seperti ini Ma? Kenapa Devano mengambil keputusan sepihak seperti ini?"


Roni lalu mengalihkan pandangannya pada Devano. "Kenapa kau ceroboh sekali, Devano? Kenapa kau ceroboh sekali?" ujar Roni.


"Maaf Pa, aku sangat mencintai Luna. Aku memang salah sudah terlalu cepat mengambil keputusan untuk bertunangan dengan Sachi. Sebenarnya wanita yang kucintai hanya Luna. Lagipula aku juga sudah berjanji dengan seseorang."


"Kau sudah berjanji? Berjanji dengan siapa? Apa dari pihak keluarga wanita itu? Lancang sekali merela melakukan semua itu padamu!"


Devano lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan Pa, bukan dari pihak wanita itu."


"Lalu siapa yang sudah berani memaksamu seperti itu, Devano? Mau-maunya kau tunduk pada perintah orang lain! Kau seperti tidak punya harga diri saja!"


"Masalahnya tidak sesederhana itu Pa!"


"Tidak sederhana bagaimana Devano? Memangnya siapa yang memaksamu?"


"Dokter kandungan Luna."


"Apa dokter kandungan? Kau tunduk pada seorang dokter kandungan? Bodoh sekali kau, Devano!"


Sementara Roni yang mendengar penjelasan Devano hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Astaga! Kita bagaikan memakan buah simalakama, jika kau tidak menikah dengan Luna maka kita akan gulung tikar, jika aku membatalkan pertunangan ini maka harga diriku yang akan hancur," ucap Roni sambil memijit kepalanya.


"Papa, Devano! Usahakan jangan sampai ada yang tahu pernikahan Devano dan Luna!" pekik Viona.


"Bagaimana caranya Ma?" tanya Roni.


"Setelah kalian menikah, kalian tidak boleh tinggal di rumah ini. Hal ini untuk menghindari agar tidak ada yang tahu dan mengenal siapa Luna sebenarnya. Dan, kalian hanya boleh menikah secara siri. Bagaimana?"


"Lalu aku harus tinggal dimana? Di apartemenku? Luna sedang hamil, Ma. Hidup di apartemen tidak terlalu cocok untuknya."


"Tidak Devano! Itu juga terlalu berbahaya!"


"Lalu dimana aku harus tinggal?"

__ADS_1


"Kau tenang saja, Mama akan membelikan rumah baru di komplek perumahan untuk kalian. Setelah Luna keluar dari rumah sakit, kalian langsung menempati rumah itu. Mama yakin rahasia pernikahan ini akan aman. Bagaimana?"


"Baik sepertinya itu ide yang bagus Ma," jawab Roni.


"Jadi Papa menyetujui pernikahanku dengan Luna?"


"Memangnya kami punya pilihan, Devano?"


"Terima kasih."


"Tapi kau jangan senang dulu, Devano. Meskipun kami menyetujui pernikahanmu dan Luna, tapi kau juga harus melanjutkan perjodohanmu dengan Sachi. Dan pernikahanmu ini hanyalah sebatas nikah siri karena kau hanya boleh memiliki istri sah, yaitu Sachi!"


"Apa maksud Mama? Tidak mungkin Ma. Aku tidak mungkin melanjutkan perjodohanku dengan Sachi! Apalagi memiliki dua istri. Bagiku seorang laki-laki harus bisa memilih dan poligami bukanlah pilihan! Aku tidak mau, Ma. Aku hanya ingin menikah dengan Luna!"


"Jadi, kau tidak mau menuruti perintah Mama?"


"TIDAK! TIDAK AKAN KARENA AKU HANYA AKAN MENIKAH DENGAN LUNA!"


Viona lalu menarik sudut bibirnya. "Benar kau tidak mau menuruti perintah mama? Kalau begitu, mama akan akan membuat kehidupan keluarga Luna hancur! Memangnya kau pikir mama tidak tahu kalau kau sudah memasukkan adik Luna ke perusahaan kita! Asal kau tahu, mama bisa saja memecat adik Luna kapanpun mama mau, Devano!"


"Maksud Mama Arka?"


"Ya siapapun itu namanya itu tidak penting bagi mama, tapi mama bisa saja memecat dia kapanpun yang kumau! Mama tahu, istrinya sedang mengandung kan? Dan dia membutuhkan uang untuk menghidupi istri dan orang tuanya karena saat ini dia adalah tulang punggung keluarganya kan?


Devano pun hanya terdiam, sambil membatin dalam hati. 'Ini tidak boleh terjadi, Arka tidak boleh dipecat dari perusahaanku. Kalau sampai Arka dipecat, Luna bisa sedih. Aku tidak mau membuat Luna sedih yang bisa berdampak pada kandungannya.'


"Apa yang Mama inginkan?"


"Bukankah itu sudah jelas Devano. Kau boleh menikah dengan Luna tapi kau juga tetap harus melanjutkan perjodohan itu."


"Tidak mungkin!"


"Jadi kau lebih memilih Mama menghancurkan kehidupan keluarga Luna dan memecat Arka sekarang juga?"


'Huh sepertinya aku tidak punya pilihan, untuk saat ini mengikuti perkataan Mama adalah jalan terbaik, tapi selanjutnya akan kupikirkan lagi cara agar aku bisa membatalkan perjodohanku dengan Sachi,' batin Devano.


"Bagaimana Devano?"


"Aku setuju Ma."

__ADS_1


"Bagus." Viona kemudian tersenyum menyeringai 'Tidak akan kubiarkan kehidupan rumah tangga kalian berjalan lancar Devano,' batin Viona.


'Aku harus mempertahankan rumah tanggaku dengan Luna, dan membatalkan perjodohanku dengan Sachi, apapun caranya,' batin Devano.


__ADS_2