Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Rindu Yang Belum Tersampaikan


__ADS_3

"Tante, maaf aku khilaf, aku janji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, meskipun tujuanku hanya untuk membuat Luna cemburu. Jika aku mengingkari janjiku, maka ketampananku dan kekerenanku akan berkurang!"


"Hahahahaha, memangnya kau tampan?"


"Sangat tampan."


"Memangnya kau keren?"


"Sangat keren."


"Cuihhhh! Tampan darimana? Keren darimana?"


"Yah, setidaknya semua gadis yang pernah kukencani mengatakan seperti itu."


"Mereka pasti menyesal mengatakan itu, mungkin mereka juga sedang khilaf. Atau saat bertemu denganmu mereka sedang menderita katarak!"


"Tante kenapa berkata seperti itu? Apa Tante Dokter tidak menyadari semua itu?" gerutu Devano sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Tidak sama sekali karena bagiku kau spesies aneh. Lebih baik kau cepat pergi ke kantor sekarang, sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan kelakuanmu pada Kenzo karena sudah menggoda istrinya."


"Astaga! Tante! Cleo! Tolong jangan lakukan itu! Maaf, aku lupa kalau Cleo itu istri dari Kenzo!"


"Meskipun terpaksa, untuk kali ini kau kumaafkan. Asal kau janji ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, tolong jangan berbuat seperti ini lagi! Ingat janjimu untuk membahagiakan Luna!"


"Baik Tante, ini untuk yang terakhir. Aku tidak akan berbuat seperti ini lagi. Mulai hari aku akan selalu membahagiakan Luna. Luna, Luna, Luna, itu yang ada di dalam isi kepala dan hatiku!"


"Baik, kupegang janjimu! Sekarang, kau tanya pada Cleo. Apa dia mau memaafkanmu?"


Devano kemudian menatap Cleo. "Cleo, tolong maafkan aku."


Cleo pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Cleo."


"Sekarang pergilah ke kantor!"


"I-iya, Tante Dokter, Cleo aku pergi dulu."


"Hemmm!" jawab Vallen. Devano kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobil itu keluar dari rumahnya.


Setelah mobil Devano keluar dari rumah itu, Vallen dan Cleo pun tampak terkekeh. Mereka kemudian melihat ke arah balkon kamar lalu melingkarkan jempol dan jari telunjuknya membentuk sebuah lingkaran sambil mengedipkan mata mereka.

__ADS_1


Luna pun tersenyum sambil memberikan kode yang sama. "Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Nyonya Cleo!" ujar Luna sambil setengah berteriak.


Cleo dan Vallen pun tersenyum, sedangkan Luna kini tampak terkekeh. "Rasakan kau, Devano!" ujar Luna. Saat akan membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Luna merasakan sesak di dadanya.


"Ah, apa ini? Kenapa tiba-tiba rasanya dadaku sesak sekali?" ujar Luna sambil memegang dadanya. Dia kemudian mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.


"Mungkin aku terlalu banyak pikiran, ah sebaiknya aku istirahat saja di dalam. Aku tidak boleh terlalu memikirkan si messum itu," sambung Luna sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.


****


Sebuah mobil sedan warna hitam, tampak berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis yang ada di dalam komplek perumahan mewah. Sepasang suami-istri, lalu turun dari mobil tersebut.


"Ayo turun Delia!" perintah Dimas pada istrinya.


Mereka kemudian berjalan ke arah pintu, dan memencet bel pintu rumah tersebut. Beberapa saat kemudian, seorang pembantu rumah tangga pun keluar dari rumah itu.


"Oh Tuan Dimas, Nyonya Delia."


"Bisakah kami bertemu Roy dan Aini?"


"Oh Tuan Roy masih di kantor, sedangkan Nyonya Aini ada di dalam, sebentar saya panggilkan. Silahkan masuk Tuan Dimas, Nyonya Delia."


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah tersebut, setelah dipersilahkan oleh pembantu rumah tangga itu. Beberapa saat kemudian, saat mereka sudah duduk di ruang tamu, Aini tampak mendekat ke arah mereka.


"Aini, apakah kedatangan kami mengganggumu?"


"Oh tentu saja tidak. Ada apa?"


"Aini, aku tidak ingin berbasa-basi denganmu karena waktu kami tidak banyak. Bolehkah kami minta bantuanmu untuk mengantar kami pergi ke rumah Vallen?"


"Ke rumah Vallen? Memangnya ada apa Dimas?"


"Ini tentang anak kami, tentang Sachi."


"Sachi? Apa hubungannya Vallen dengan Sachi?"


"Aini, bukankah Vallen itu seorang dokter? Bahkan dia adalah dokter kandungan. Menurutku, dia bisa membantu kami untuk menemukan Sachi."


"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti."

__ADS_1


"Begini Aini, sudah beberapa hari ini, kami mengunjungi beberapa fasilitas umum yang ada di sekitar stasiun tersebut. Seperti rumah sakit, puskesmas dan klinik terdekat. Tapi usaha kami tidak membuahkan hasil, karena ada beberapa rumah sakit yang tidak mau membuka data identitas pasien secara terbuka. Itulah sebabnya, kami mau minta bantuan Dokter Vallen untuk membantu kami berbicara dengan pihak rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya yang sudah kami kunjungi. Barangkali saat seseorang menemukan Sachi di dalam gerbong kereta api tersebut, dia tidak melaporkan pada pihak stasiun tapi langsung membawanya ke puskesmas atau rumah sakit terdekat, jadi pihak stasiun tidak tahu-menahu tentang bayi yang hilang di dalam gerbong tersebut."


"Oh, kalau begitu baiklah, kita pergi ke rumah Vallen sekarang."


"Ya, kita pergi sekarang!"


Setengah jam kemudian, mereka pun sudah sampai di rumah Vallen.


"Ada apa Delia?" tanya Dimas saat mereka sudah sampai di rumah tersebut.


"Entahlah Dimas, dadaku terasa begitu sesak. Bahkan tiba-tiba rasanya amat sakit," ucap Delia sambil meneteskan air matanya.


"Kau menangis? Kenapa kau menangis Delia?"


"Entahlah."


"Mungkin hanya terbawa perasaan saja Delia."


"Iya Dimas, rasanya tiba-tiba hati ini terasa sangat sedih, sakit sekali rasanya, bahkan untuk bernafas saja terasa begitu sesak. Mungkin aku sudah begitu berharap bisa menemukan putriku secepatnya."


"Ya, mungkin saja. Aku juga ingin secepatnya bisa menemukan Sachi. Semoga Vallen bisa membantu kita."


"Iya," jawab Delia sambil memegang dadanya.


"Ayo kita turun!"


Delia kemudian menganggukan kepalanya, mereka berdua lalu turun dari mobil dan mendekat ke arah Aini yang tampak sudah berdiri di depan pintu rumah itu.


***


"MAMAAAA!" teriak Luna yang baru saja bangun dari tidur siangnya. Dia kemudian duduk di atas tempat tidurnya.


Keringat dingin tampak membasahi seluruh tubuhnya. "Astaga aku mimpi buruk! Sebuah mimpi buruk yang sebenarnya adalah kenyataan hidupku, saat Mama meninggalkanku di gerbong kereta api."


Luna lalu memejamkan matanya, seraya mengambil nafas dalam-dalam dan merasakan sebuah rasa sesak yang kini mulai merasuk ke dalam hatinya.


"Tuhan, bolehkah aku bertanya padamu. Aku ingin tahu siapa diriku yang sebenarnya? Siapakah orang tuaku? Apakah mereka juga merasakan rindu yang sering kurasakan pada mereka? Sebuah rindu yang sampai saat ini belum pernah tersampaikan. Mama, apakah kau pernah mencariku? Apakah kau pernah mencari keberadaanku?" ujar Luna.


Dia kemudian memegang dadanya yang kini terasa begitu sesak. "Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang begitu dalam, sakit sekali rasanya, bahkan untuk bernafas saja rasanya begitu sesak."

__ADS_1


"Awww! Kenapa tiba-tiba perutku juga sakit," ujar Luna kembali sambil memegang perutnya.


"Ah, sebaiknya aku ke rumah Dokter Vallen saja, siapa tahu Dokter Vallen bisa membantuku," ujar Luna kembali sambil bangun dari tempat tidurnya.


__ADS_2