Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Karma


__ADS_3

"Iya Oma setelah membaca pesanmu, aku langsung datang ke rumah sakit ini."


"Jadi kau masih punya muka untuk menemuiku, Viona?"


"Oma, sekali lagi maafkan aku. Sungguh aku tidak tahu kalau ternyata Luna adalah Sachi, kalau aku tahu Luna adalah Sachi, aku tidak mungkin berbuat seperti itu, Oma. Bukankah sejak pertunangan itu kalian mengatakan kalau Sachi hidup di luar negeri? Jadi aku tidak tahu kalau Sachi yang sebenarnya telah hilang dan dia ternyata adalah Luna. Sekali lagi, tolong maafkan aku, Oma. Sungguh aku tidak berniat membuat Luna menderita ataupun menyakiti hatinya seperti yang pernah kulakukan dulu, kalau tahu dia ternyata adalah Sachi aku tidak mungkin berbuat seperti itu."


"Apapun alasanmu, aku tidak akan pernah terima kalau kau menyakiti cucuku! Kau tahu kan siapa diriku?"


"Iya Oma, saya tahu. Anda bukanlah dari kalangan sembarangan."


"Dan kau begitu beraninya sudah menginjak-injak harga diriku! Asal kau tahu, aku sudah mendengar semuanya, Viona! Masalah yang terjadi tidak hanya sebatas tentang harga diri Luna yang kau injak-injak. Tapi karena aku tahu ada rencana lain yang kau pikirkan dari pernikahan Devano dan Sachi kan?"


"Rencana lain? Rencana lain apa, Oma? Aku benar-benar tidak mengerti? Tadi Dimas dan Delia juga tidak mengatakan apapun padaku saat Oma baru saja menelepon Dimas."


"Untuk saat ini aku memang belum mengatakan pada Dimas karena aku tahu Dimas pasti tetap akan membela putrinya agar tetap bisa melanjutkan pernikahannya dengan Devano. Karena itulah aku mengirim pesan padamu agar kita bisa bertemu empat mata dan menyelesaikan masalah tentang rencana busukmu sekarang juga!"


"Rencanaku? Rencana apa Oma? Aku benar-benar tak mengerti."


"Jangan pura-pura bodoh Viona! Aku sudah mendengar semua rekaman suaramu itu! Rekaman suara saat Dea meninggalkan ponselnya ketika dia sedang izin ke kamar mandi dan di saat itulah kau secara tak sadar mengatakan kalau kau ingin menguasai harta kami seutuhnya dengan cara menikahkan Devano dan Sachi kan? Karena kau sadar sebentar lagi Shakila dan Darren akan menikah, jadi otomatis yang mengelola perusahaan kami adalah Dimas dan Devano? Dan itu adalah salah satu jalanmu agar menjadikan Devano satu-satunya pemilik perusahaan keluarga kami. Itu kan sebenarnya yang kau inginkan dari pernikahan Devano dan Sachi?"


"Oma, sungguh aku tidak berniat seperti itu. Aku menikahkan Devano dan Luna hanya didasari oleh janji yang telah dilakukan oleh keluarga kita, tidak lebih Oma Fitri. Sungguh aku tidak berbohong padamu."


"Tapi aku mendengar dengan jelas suaramu yang mengatakan kalau kau ingin menguasai seluruh perusahaanku!"

__ADS_1


"Tidak Oma, aku tidak mengatakan seperti itu. Aku benar-benar telah difitnah. Sungguh aku tidak mengatakan seperti itu, ini fitnah Oma."


"Jangan mengada-ngada Viona, aku bisa mendengar dengan jelas suaramu itu."


"Oma, aku bener-bener difitnah."


"Jangan pernah mengada-ngada untuk membuat alibi, Viona. Aku tidak akan pernah percaya pada kata-katamu itu!"


"Oma tolong percaya padaku! Aku tidak pernah melakukan semua itu, ini benar-benar fitnah."


"Fitnah? Baiklah kalau itu hanya sebuah fitnah, tolong tunjukkan kebenarannya padaku! Tolong tunjukkan bukti kalau kau tidak pernah mengatakan seperti yang kudengar dalam rekaman suara itu! Kalau kau tidak dapat membuktikan jika dirimu tidak bersalah maka aku akan menyuruh Devano dan Luna untuk bercerai secepatnya! Meskipun aku tahu saat ini Luna sedang mengandung darah daging Devano, aku tidak rela perjodohan ini hanya sebagai batu loncatan untukmu agar bisa menguasai seluruh harta keluarga kami!"


"Oma aku tidak pernah menginginkan hal seperti itu."


"Baik Oma, kalau begitu aku akan mencari bukti kalau aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu."


"Kutunggu bukti darimu ,Viona!"


"Oma, aku akan mencari bukti itu. Sekarang tolong katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untukmu sebagai rasa penebus rasa bersalahku karena sudah menghina Luna."


"Oh baiklah, kau ternyata cukup tahu diri!"


"Oma, aku hanya ingin menebus rasa bersalahku."

__ADS_1


"Aku tidak butuh semua itu Viona, yang kubutuhkan adalah kau hanya cukup bersikap baik pada cucuku, Luna."


"Baik Oma, aku akan menebus semua rasa bersalahku pada Luna."


"Dan, aku hanya memberimu waktu maksimal tiga hari untuk membuktikan kalau kau tidak bersalah! Kalau tidak, aku bisa berbuat apa saja pada hubungan Devano dan Luna!"


"Baik Oma, aku pasti akan mencari bukti itu karena aku tidak pernah mengatakan semua itu."


"Kalau begitu kau boleh pergi sekarang juga!"


"Baik Oma, terima kasih banyak."


Fitri hanya terdiam, dan menatap tajam pada Viona saat dia pergi dari ruangan itu. Setelah Viona pergi, tampak Fitri memencet alarm di sampingnya untuk memanggil salah seorang perawat. Beberapa saat kemudian, salah seorang perawat masuk ke dalam ruangan Fitri."


"Nyonya Fitri, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong antarkan aku ke kamar salah satu pasien yang bernama Rahma," jawab Fitri pada perawat itu.


Sementara itu, Viona yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit itu, kini tampak begitu kesal. "Sial! Dulu aku sudah mengedit rekaman suara Luna untuk mengadu domba Devano dan Luna, lalu sekarang aku yang mendapat fitnah yang hampir sama gara-gara rekaman suara. Cih, kurang ajar! Kenapa semua tiba-tiba berbalik padaku! Apa ini yang disebut dengan karma? Oh tidak-tidak! Apakah di dunia ini benar-benar ada karma?" gerutu Viona.


***


Dea yang saat ini masih berada di ruang tahanan, tampak tersenyum menyeringai sambil bergumam. "Pasti saat ini Tante Viona juga sudah bertemu dengan Oma Fitri, hahahahahah. Aku memang sengaja mengedit rekaman suara itu agar Viona seolah-olah mengatakan kalau dia ingin menguasai harta keluarga Oma Fitri! Aku yakin, Oma Fitri pasti juga akan tersulut emosinya saat mendengar perkataan Viona yang sudah kuedit itu, hahahahhaha!"

__ADS_1


Saat asyik hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Dea. "Halo cantik, bidadariku tersayang? Apa kabarmu baby, honey, sweety semanis buah chery?"


__ADS_2