
"Mama Rahma!" teriak Luna yang membuat Dea spontan menghentikan langkahnya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Rahma yang kini terjatuh dari atas tempat tidurnya.
Seketika semua orang yang ada di ruang perawatan itu pun panik, Delia dan Shakila mendekat ke Rahma yang saat ini tampak memejamkan matanya, sambil memegang perutnya.
Delia dan Shakila yang akan membantunya untuk berdiri, tiba-tiba terkejut saat melihat darah yang kembali keluar dari perutnya dan membasahi pakaiannya.
"Astaga Bu Rahma anda berdarah lagi!" pekik Delia, saat melihat perut Rahma.
"Shakila, tolong panggilkan dokter!" sambung Delia. Shakila kemudian bergegas keluar dari ruangan perawatan itu untuk memanggil dokter. Sedangkan Luna membantu Delia menaikkan tubuh Rahma ke atas tempat tidur.
Melihat Dea yang hanya termenung melihat keadaan Rahma, Devano lalu mencekal tangan Dea. "Apa-apaan ini Devano?" teriak Dea saat Devano mencengkram tangannya dengan begitu kuat.
"Kau harus kulaporkan pada pihak yang berwajib! Kau telah melakukan kejahatan dengan melukai ibu kandungmu sendiri yang membuat kondisinya parah seperti itu, Dea!"
"Silakan saja jika kau mau melaporkanku, tapi itu percuma Devano, karena korban yang sebenarnya disini adalah Mamaku. Dan hanya dia yang bisa melaporkanku! Sedangkan Mamaku, dia tidak mau melaporkan putrinya pada pihak yang berwajib karena tadi dia sudah berjanji padaku untuk tidak melaporkanku pada pihak yang berwajib. Bukan begitu Ma?" tanya Dea pada Rahma, padahal saat ini Rahma tengah meringis kesakitan karena jahitan di perutnya robek.
Rahma hanya terdiam karena merasakan sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya, akibat pendarahan itu kembali. "Mama kenapa kau hanya bisa diam? Bukankah tadi kau sudah berjanji padaku untuk tidak melaporkanku? Kenapa kau hanya diam, Ma?" bentak Dea. Melihat Dea yang membentak Rahma yang tengah kesakitan, Luna pun begitu kesal.
"Dea, apa kau tidak lihat bagaimana keadaan Mama Rahma? Mama saat ini tengah kesakitan Dea, dan kau tidak sepantasnya bertanya seperti itu pada Mama Rahma!"
"Apa urusanmu ikut campur urusan keluargaku, Luna? Apa kau sudah lupa kalau kau bukanlah bagian dari keluargaku!"
"Memang, tapi bagaimanapun juga Mama Rahma adalah Mamaku! Dia yang sudah merawatku sejak kecil hingga aku dewasa."
"Cih kau benar, memang dia yang merawatmu dan kau adalah anak kesayangannya! Aku memang tidak berarti bagi dirinya, tidak sepertimu!"
__ADS_1
"Cu-cukup Dea," ujar Rahma dengan begitu terbata-bata, menahan rasa sakit di perutnya.
"Kenapa? Kau mau membela anak kesayanganmu itu, Ma? Jadi itu sebabnya kau mau melanggar janjimu demi putri kesayanganmu itu kan?"
"Tidak Dea, tidak seperti itu."
"Kalau begitu kau masih ingat janjimu itu kan untuk tidak melaporkanku ke pihak yang berwajib!"
"Iya, Dea. Iya, Nak. Aku tidak akan melaporkanmu pada pihak yang berwajib."
"Bagus, kau dengar sendiri kan Devano. Mamaku saja tidak mau melaporkanku ke polisi. Jadi sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan urusan keluargaku! Ingat, kau bukanlah siapa-siapa, Devano! Kau bukanlah bagian dari keluargaku! Jadi lebih baik kau urusi saja istri kesayanganmu itu yang jadi kebanggan semua orang!"
"Dasar, licik kau Dea!"
"Sama liciknya sepertimu! Hampir saja aku jatuh ke dalam rayuan busukmu itu! Sekarang kau lihat sendiri kan? Kau bahkan tidak bisa melaporkanku ke polisi karena korban yang sebenarnya yaitu mamaku tidak menghendakiku untuk dilaporkan ke polisi kan??
"Tidak usah mengumpat Devano, terima saja kenyataan kalau kau tidak bisa melaporkanku ke polisi," ujar Dea sambil tersenyum menyeringai.
"Kata siapa?" teriak sebuah suara dari arah pintu. Mereka kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu. Tampak di ambang pintu kamar perawatan itu, Arka berdiri. Dia lalu berjalan masuk ke ruangan itu.
"Arka!" ujar semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kata siapa kau tidak bisa dilaporkan ke polisi? Karena akulah yang akan melaporkanmu ke polisi!"
"Apa hakmu? Kau tidak berhak melakukan itu!"
__ADS_1
"Tentu saja aku berhak karena aku adalah anak dari Bu Rahma, dan aku tidak terima perlakuan kakakku sendiri! Aku berhak untuk melaporkanmu ke pihak yang berwajib, Kak Dea."
"Tapi kau dengar sendiri kan kalau Mama tidak mau melaporkanku ke polisi?"
"Kak Dea, aku adalah anak dari korban yang tidak terima dengan perlakuanmu. Jadi, aku tetap berhak melaporkan ke polisi!"
Devano pun tersenyum miring. "Arka kita bawa ke kantor polisi sekarang!"
"Iya Tuan Devano," jawab Arka.
"Hei kalian tidak boleh membawaku ke kantor polisi! Mama tolong aku, Ma. Tolong aku! Jangan biarkan mereka membawaku ke kantor polisi, Ma. Tolong aku, Ma!" teriak Dea.
Rahma yang masih kesakitan pun hanya bisa merintih. "Arka!" panggil Rahma lirih.
"Tidak, Ma. Tidak akan kubiarkan Kak Dea bersikap semena-mena seperti ini! Kita harus memberi pelajaran pada Kak Dea agar dia bisa menyadari semua kesalahannya."
"Tapi Arka...."
"Tidak ada tapi-tapian. Ini untuk kebaikan kita semua!"
Saat Rahma kembali merajuk, tiba-tiba seorang dokter dan beberapa orang perawat masuk ke ruangan itu.
"Mama Rahma sebaiknya Mama diobati terlebih dulu," ucap Luna.
"Mama tolong aku, Mama! Tolong aku!" teriak Dea. Namun, Rahma tak bisa berkutik karena dokter dan perawat itu mulai mengobati dirinya kembali. Devano dan Arka kemudian menarik Dea keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Arka, kau dan Dea duduk di belakang! Jaga Dea baik-baik!" perintah Devano. Arka dan Devano lalu menghempaskan tubuh Dea ke jok mobil dan mengunci mobil itu, namun saat Arka dan Devano sedang mengambil tali di bagasi mobil untuk mengikat Dea, tiba-tiba Dea mengambil ponselnya, dan mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.