Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Hilang


__ADS_3

Vallen yang tengah sarapan pagi tampak mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Shakila.


"Ada apa Ma?" tanya Cleo saat melihat Vallen yang kini sedang menatap ponsel miliknya.


"Shakila mengirim pesan pada mama."


"Ada apa? Apa kata Shakila? Apa dia sudah bisa mengambil sampel bagian tubuh dari Dea?"


"Belum, dia kesulitan mengambil bagian tubuh Dea karena hubungannya dengan Dea sedikit tidak baik."


"Kurang baik? Apa maksud Mama? Hubungan Dea dan Shakila kurang baik? Bukankan mereka kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu, Ma?"


"Entahlah, Shakila hanya bercerita jika Dea kurang nyaman di dekatnya, dia merasa hidup mereka tidak adil karena mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda dan sangat bertolak belakang."


"Aneh sekali," gerutu Cleo.


"Jadi, Shakila tidak bisa mengambil bagian tubuh dari Dea kan, Ma? Termasuk air liurnya?" tanya Kenzo.


"Ya, karena Dea tidak mau meminum minuman yang dibuat oleh Shakila."


"Oh begitu, bagaimana kalau aku saja yang membantu kalian mendapatkan sampel itu?" ucap Kenzo sambil tersenyum.


"Kenzo, apa maksudmu? Jadi, kau mau membuatkan minuman untuk Dea? Nakal sekali kau!"


"Tidak Cleo. Aku mana mungkin berbuat seperti itu, kau ada-ada saja!"


"Kenzo, memang apa rencanamu?" tanya Vallen.


"Nanti Dea datang ke kantor. Biar aku saja yang mengambil sample itu, Ma. Nanti kuberikan pada Mama kalau aku sudah mendapatkan sample itu."


"Bagus, mama tunggu."


"Iya Ma."


***


Devano turun dari lantai atas menuju ke meja makan dan melihat Luna yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.


"Sayang," ucap Devano sambil mengecup pipi Luna dan melingkarkan tangannya ke perutnya. "Devano, ini sudah siang, sebaiknya kau sarapan sekarang lalu berangkat ke kantor."


"Sebentar saja," bisik Devano sambil menelusupkan tangannya ke bawah pakaian Luna.


"Apa ini Luna?" tanya Devano sambil merremas gundukan kenyal milik Luna.


"DEVANO!!!" pekik Luna yang terkejut mendapat remmasan seketika dari Devano.


"Luna..., aku mau."


"Apa belum cukup tadi malam? Kita sudah melakukannya tiga kali."


"Benarkah tiga kali? Kupikir hanya sekali."

__ADS_1


"Tidak usah pura-pura, dasar menyebalkan!"


"Aku tidak pura-pura, Luna. Aku memang hanya mengingatnya sekali. Mungkin Joni yang melakukan semua itu, bukan aku."


"Memangnya apa bedanya Joni denganmu?"


"Tentu saja beda, Luna. Ingat, Devano bisa mengendalikan nafsunya, sedangkan Joni tidak."


"Deva..."


Saat baru saja Luna akan berteriak, secepat kilat tiba-tiba Devano sudah memutar tubuh Luna, lalu merengkuh wajahnya dan mellumat bibir tipis itu dengan begitu bergairah.


Luna yang terkejut tiba-tiba Devano menciumnya dengan sangat rakus, mau tidak mau, akhirnya membalas ciuman itu. Bahkan, tangannya kini melingkar di leher Devano.


Devano kemudian mengangkat tubuh Luna dan mendudukannya di atas meja makan, jemari Devano pun menelusup masuk ke bawah piama yang dikenakan oleh Luna, mencari pengait bra, lalu membuka pengait bra itu hingga terjatuh ke atas lantai. Setelah bra itu terlepas, Devano kemudian membuka kacing piama yang dikenakan oleh Luna. Namun, saat baru saja menepelkan bibirnya di gundukan kenyal milik Luna, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Devanoooo, angkat dulu ponselmu. Siapa tau penting, ini sudah pukul delapan pagi. Mungkin ada urusan kantor," ujar Luna.


"Ohhh shhiiitttt!" desis Devano setelah melepaskan bibirnya dari gundukan kenyal milik Luna.


"Menggangu sarapan pagiku saja," ujar Devano. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu. Sedangkan Luna hanya mengamati perubahan wajah Devano.


"Luna, aku harus berangkat ke kantor sekarang," ujar Devano pada Luna.


"Sarapan dulu, Devano. Aku sudah memasak untukmu, dan kau mau mengabaikan masakanku begitu saja. Awas kau, aku tidak mau gelli-gellian lagi denganmu," gerutu Luna.


"Tapi aku benar-benar ada urusan penting, Luna."


"Iya, Sayang. Pake rantang aja, Neng. Jangan pake tuppe*ware, yang ga gampang dimakan tikus, awet kaya cinta Abang sama Neng, ea ea ea."


"Ada-ada saja," gerutu Luna.


***


TOK TOK TOK


"Masuk!" jawab sebuah suara dari dalam ruangan. Perlahan, Dea membuka gagang pintu itu.


"Oh Dea, silahkan duduk," ujar Kenzo saat melihat Dea yang masuk ke dalam ruangannya.


"Iya Tuan Kenzo."


"Kau sudah mengambil berkasmu dari HRD?"


"Sudah. Saya ke sini untuk berpamitan dengan anda."


"Oh iya, terima kasih banyak Dea. Terima kasih karena sudah pernah menjadi bagian dari perusahaan ini, dan kau bekerja dengan baik di sini. Meskipun sebentar."


"Sama-sama, Kenzo."


"Ini, tolong diterima. Aku tahu, uang ini pasti tidak seberapa bagimu karena kau pasti jauh memiliki lebih banyak dibandingkan yang kuberikan padamu. Tapi anggap saja ini bagian dari apresiasi dari kinerjamu di perusahaan ini, Dea. Jadi tolong diterima," ucap Kenzo sambil memberikan amplop berwarna cokelat.

__ADS_1


"Aku terima, terima kasih banyak, Kenzo."


"Dea!" panggil Kenzo saat melihat Dea yang kini termenung.


"Oh, emh iya. Ada apa Kenzo? Maaf aku tidak terlalu mendengar apa yang kau katakan."


"Apa kau mau minum kopi sebentar bersamaku?"


"Oh, apa tidak mengganggu pekerjaanmu? Bukankah kau sedang sibuk, Kenzo?"


"Oh tidak. Sama sekali tidak, Dea. Silahkan duduk!" kata Kenzo sambil mempersilahkan Dea duduk di sofa.


"Terima kasih," jawab Dea.


Mereka kemudian duduk di sofa, setelah sebelumnya Kenzo menelepon sekretaris barunya terlebih dulu untuk menyuruh OB membuatkan kopi untuk mereka berdua.


"Silahkan Dea!" kata Kenzo saat seorang OB menghidangkan secangkir kopi untuk mereka.


"Terima kasih Kenzo," jawab Dea, dia kemudian meminum kopi tersebut. Sedangkan Kenzo saat ini tampak tersenyum menyeringai.


***


CEKLEK


Devano tampak membuka pintu kerjanya. Saat pintu itu terbuka, tampak seorang laki-laki sudah duduk dan menunggunya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.


Devano lalu menghampiri laki-laki itu sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya.


"Tuan Devano, anda sudah datang?" ucap laki-laki itu saat melihat Devano yang sudah menghampirinya dan duduk di dekatnya.


"Bagaimana Fabian, apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang Sachi?" tanya Devano pada anak buahnya.


"Sangat sulit, mereka sangat tertutup. Bahkan banyak yang tidak tahu dimana keberadaan Sachi. Sejak dulu, tidak ada yang pernah melihat Sachi."


"Banyak yang tidak tahu apa maksudnya?"


"Ya, tidak ada yang tahu keberadaan Sachi. Keberadaan Sachi sangat misterius, tidak seperti Shakila yang sejak kecil sudah dititipkan pada sepasang suami istri yang bernama Roy dan Aini saat orang tuanya masuk ke dalam penjara."


"Jadi, keberadaan Sachi sangat misterius?"


"Ya, tidak ada yang tahu keberadaan Sachi."


"Mungkin karena sejak dulu Sachi hidup di luar negeri. Oma Fitri mengatakan kalau selama ini Sachi hidup di luar negeri."


"Tuan Devano, tidak ada keluarga dari Oma Fitri yang hidup di luar negeri. Saya bahkan sudah menyuruh anak buah saya yang ada di Yogyakarta, untuk menanyakan hal itu pada kerabat dan tetangga Oma Fitri di sekitar rumahnya."


"Kenapa misterius sekali?"


"Ya, bahkan banyak yang mengatakan kalau Sachi sebenarnya hilang sejak dulu."


"Sachi hilang?"

__ADS_1


__ADS_2