
Devano kemudian bergegas masuk ke mobilnya dan mengendarai mobil itu menuju ke rumahnya. "Luna.., I'm coming. Neng Luna, neng abang kangen, Neng," kekeh Devano di dalam mobil.
"Ahaaaaa, aku punya ide," ujar Devano. Dia kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah komplek ruko pertokoan.
Setengah jam kemudian, setelah Devano selesai keluar dari deretan ruko tersebut. Dia pun sampai di rumahnya. Saat baru memarkirkan mobilnya, senyum pun tersungging di bibir Devano saat melihat Luna yang sedang berdiri di samping pagar yang berbatasan dengan rumah Vallen. Sedangkan di rumah Vallen tampak Cleo berdiri dengan seorang laki-laki muda.
"Neng Luna udah di depan pasti udah nggak sabar nih nungguin Abang. Sabar ya Neng, ntar kita karokean lagi Neng, enaknya pake lagu apa ya? Western apa K-Pop Neng?" kekeh Devano. Dia kemudian melirik paper bag dan sebuket bunga mawar merah muda yang dia letakkan di jok sampingnya. Devano lalu mengambil barang-barang tersebut, dan keluar dari mobilnya.
Dia kemudian mendekat ke arah Luna lalu memeluk pinggang dan mengecup pelipisnya. "Selamat sore, Sayang," ucap Devano.
"Hari ini kamu pulang cepat, Devano."
"Kangen," bisik Devano yang membuat Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ini untukmu, Sayang," kata Devano sambil memberikan sebuket bunga dan sebuah paper bag.
"Apa ini?"
"Kaca mata, dan masker. Nanti dipake ya, abang mau liat Neng pake kaca mata sama masker warna merah."
Mendengar jawaban Devano, wajah Luna pun bersemu merah. Tanpa mereka sadari, seorang laki-laki yang berdiri di samping Cleo, tengah menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Selamat sore, Devano," sapa Cleo.
"Selamat sore, Cleo."
"Kau romantis sekali, Devano. Bahkan Kenzo pun jarang sekali membelikan oleh-oleh untukku, apalagi sampai membelikan kaca mata dan masker. Kau perhatian sekali sampai membelikan masker untuk Luna, padahal Luna jarang keluar rumah kan? Tapi kau berinisiatif membelikan masker untuk Luna."
"Oh tentu saja, Cleo. Bahkan masker yang kubelikan ini sangat cocok dipakai Dora."
"Dora? Siapa Dora, Devano?"
"Panggilan kesayangan."
"Wow, luar biasa. Sepertinya Kenzo perlu banyak belajar darimu."
"Tentu Cleo, Kenzo harus banyak belajar dariku. Sebentar lagi kami juga mau karokean bersama."
"Astaga, oh em ji. Romantis sekali, memangnya kalian suka karokean lagu apa?"
"BTS, karena luna adalah Army."
"Devano, jangan mengada-ada. Oh iya sayang, kenalkan dia temanku namanya Alvaro. Kami berteman sejak di bangku sekolah dasar sampai bangku SMA. Dan, dia ternyata adalah putra dari dokter Vallen. Selama ini aku tak tahu kalau Alvaro adalah putra dari dokter Vallen. Aku hanya tahu Cleo, kakaknya Alvaro tapi aku tak tahu kalau mereka ternyata anak-anak dari Dokter Vallen."
"Wow ini kebetulan sekali," ujar Devano. Dia kemudian mengulurkan tangannya pada Alvaro. Beberapa detik setelah mengulurkan tangannya, uluran tangan itu baru dibalas oleh Alvaro.
__ADS_1
"Devano," ucap Devano memperkenalkan dirinya. Sedangkan Alvaro terdiam sejenak, lalu baru baru menyebutkan namanya beberapa saat kemudian, sambil menatap Devano dengan tatapan kosong.
"Senang bisa mengenal anda, Alvaro. Tampaknya kita harus sering ngobrol. Tolong kau ceritakan masa lalu istriku, pasti dia dulu unyu-unyu sekali, kan?" kekeh Devano. Alvaro hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat sulit untuk diartikan.
"Cleo, Alvaro, kami masuk dulu. Mau karokean," ujar Devano sambil meringis.
"Iya Devano," jawab Cleo. Sedangkan Alvaro hanya menatap Luna dan Devano dengan tatapan yang begitu dalam.
"Aku gendong?" tanya Devano.
"Tidak usah Devano."
"Aku gendong," titah Devano. Belum sempat Luna menjawabnya, tiba-tiba Devano sudah mengangkat tubuhnya.
"Aaaaaaaa Devano!" pekik Luna.
"Luna jangan lupa pakai masker dan kacamatanya."
"Lebih baik kau mandi dulu, Devano. Badanmu sangat lengket."
"Kau benar Luna, aku memang harus mandi karena aku baru saja bertemu Mimi Peri."
"Mimi Peri? Siapa Mimi Peri?"
"Astaga kau ada-ada saja, Devano. Dea juga punya nama, bukan Mimi Peri."
"Tapi dia memang sangat menyebalkan, makanya kusebut saja dia Mimi Peri."
"Kau jangan berkata seperti itu, Devano."
"Memang kenyataannya seperti itu, kau tahu tadi Shakila mengirim pesan padaku dan menceritakan kalau tadi malam Dea sudah menusuk Bu Rahma."
"Apa? Menusuk Mama Rahma?"
"Iya tadi Shakila mengirim pesan, dia menceritakan kejadian tadi malam di rumah Bu Rahma dan juga mengirimkan sebuah video padaku yang berisi pengakuan Bu Rahma tentang jati diri Dea yang sebenarnya."
"Devano, tolong ceritakan bagaimana bisa Dea menusuk Mama?"
"Tadi malam Dea datang ke rumah Bu Rahma, dan menyuruhnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya tentang jati diri Dea."
"Astaga kenapa dia bisa bersikap seperti itu?"
"Entahlah Luna, semua bisa dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi kau tenang saja, aku dan Shakila sudah memberinya pelajaran pertama!"
"Pelajaran pertama?"
__ADS_1
"Ya, karena masih ada pelajaran kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai dia sadar."
"Terserah kalian saja, yang terpenting dia harus mendapatkan balasan atas perbuatannya. Lalu, bagaimana keadaan Mama, Devano?"
"Mamamu baik-baik saja Luna sayang, untung lukanya tidak terlalu dalam dan saat ini, dia masih ada di rumah sakit. Tadi Shakila dan Mama Delia juga sudah menjenguknya."
"Aku ingin bertemu dengan mama, Devano."
"Tidak untuk saat ini, kita tidak bisa bertemu dengan Bu Rahma terlebih dulu karena sangat membahayakan bagimu Luna.
"Tapi aku ingin bertemu Mama, Devano."
"Tidak untuk saat ini, tapi aku bisa mengantarmu bertemu Bu Rahma besok, setelah kita menikah."
"Janji?"
"Aku janji."
"Kalau begitu, lebih baik kau mandi dulu. Setelah itu, kita makan malam."
"Ya, aku mandi dulu kau disini dulu ya, Sayang. Tunggu Abang mandi!"
Devano lalu menurunkan tubuh Luna di atas ranjang. Sementara itu, dia masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, setelah selesai mandi, Devano keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang menutup bagian tubuh bawahnya.
Namun, betapa terkejutnya dia saat melihat Luna tampak mengenakan lingerie merah berbahan brukat menerawang, yang memperlihatkan dalaman berwarna merah, terlihat duduk di atas ranjang dengan pose menantang.
Paha kanannya, dia letakkan di atas paha kirinya yang memperlihatkan paha putih mulusnya.
"Astaga, dia seksi sekali. Seperti bukan istriku, yang polos," ujar Devano sambil menelan salivanya dengan kasar. Melihat Devano yang diam terpaku sambil menatapnya, Luna lalu berjalan ke arah Devano.
"Joni, kau sudah siap bertarung?" ujar Devano sambil melirik bagian bawahnya yang mulai mengeras.
Luna kemudian berdiri di hadapan Devano, lalu memainkan jemarinya di atas dada bidang Devano. "Suamiku Sayang, kau ingin karokean kan?"
Devano pun menganggukkan kepalanya, tubuhnya masih diam membeku. 'Sial, bukannya aku begitu brengsekkk. Tapi kenapa sekarang malah aku yang gugup seperti ini?' batin Devano.
"Kita lakukan sekarang!" ujar Luna. Dia kemudian berjongkok di depan Devano, lalu memasukkan batang yang sudah mengeras ke dalam mulutnya. Devano pun mulai mengeram.
"Ahhhhh Luna! Shhittttt!" dessah Devano.
Namun tiba-tiba ponsel milik Devano dan Luna terdengar beberapa kali berbunyi. Awalnya mereka mengabaikan bunyi ponsel itu, namun kemudian Luna menghentikan aksinya, lalu berjalan ke atas nakas, dan mengambil ponsel Devano.
"Mengganggu saja!" keluh Devano.
"Devano, Kak Shakila berulang kali menelepon! Apa ada sesuatu yang terjadi?" ujar Luna panik.
__ADS_1