
"Astaga Devanooooo!" teriak Luna yang panik karena perbuatannya sendiri. Dia kemudian jongkok lalu menepuk-nepuk pipi Devano. Namun, Devano tetap terdiam dan masih memejamkan matanya.
"Oh tidak, apa yang harus kulakukan? Maafkan aku, Devano. Aku tak berniat membuatmu seperti ini. Aku hanya takut kau berbuat hal yang tidak-tidak padaku. Astaga, lalu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin kuat menggendong tubuhnya," ujar Luna sambil mengigit kukunya. Raut wajahnya terlihat begitu panik, apalagi saat melihat tubuh Devano yang seolah tak berdaya terkapar di atas lantai.
"Aku minta bantuan security saja!" ujar Luna. Dia kemudian menelepon bagian keamanan apartemen. Beberapa saat kemudian, seorang petugas security pun datang ke unit apartemen mereka.
"Pak tolong teman saya, tadi dia pingsan."
"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja, Nona?"
"Tidak usah, dia cuma pusing karena tekanan darahnya rendah. Sebentar lagi juga sadar," jawab Luna.
"Oh baik, kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya Pak."
Security tersebut lalu keluar dari unit apartemen itu, sementara Luna kini berjalan masuk ke dalam kamar Devano. Dia kemudian duduk di samping ranjang Devano. Menatap wajah tampan itu. "Lebih baik aku melihatmu tidur seperti ini, Devano. Itu jauh lebih baik, kau benar-benar laki-laki messum yang menakutkan!" gerutu Luna.
"Apa yang perlu kau takutkan dari pria tampan sepertiku, Luna!" sahut sebuah suara. Dia kemudian menatap Devano yang kini perlahan membuka matanya.
"Astaga! Jadi kau sudah sadar? Kau mau mengerjaiku, Devano! Kau tidak benar-benar pingsan kan?"
"Kenapa kau selalu berfikiran buruk padaku, Luna! Tadi aku benar-benar pingsan, bahkan sekarang aku sedikit amnesia."
"Kau jangan berbohong! Kau tidak mungkin amnesia. Apalagi aku tidak terlalu keras memukulmu!"
"Memangnya kenapa kau memukulku? Apa sebenarnya salahku padamu?"
"Kau mau berbuat jahat lagi padaku kan Devano? Memangnya apa tujuanmu menarikku ke dalam kamar kalau kau tidak bermaksud jahat padaku?"
"Astaga! Kau memang selalu berfikiran buruk padaku Luna!"
"Memangnya apa yang mau kau lakukan?"
"Cuma memerintahmu untuk mengambil barang di laci nakaskul!"
"Aku tidak mau! Tolong jangan memaksaku!"
Devano kemudian menghembuskan nafasnya dengan teratur. "Baik kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu, Luna. Sekarang kau harus bertanggung jawab padaku."
"Bertanggung jawab apa?"
"Apa kau sudah lupa? Bukankah kau baru saja memukul kepalaku dengan tongkat baseball itu? Lihat ini! Lihat kepalaku sampai benjol seperti ini!" ujar Devano sambil menarik tangan Luna pada kepalanya.
"Astaga, besar sekali!" gerutu Luna.
"Apanya? Joni memang besar, apa kau baru menyadarinya?"
PLAK
"Kenapa kau menamparku, Luna? Bukankah benar Joni'ku itu besar?"
"Bukan Joni'mu tapi benjolan di kepalamu itu!"
__ADS_1
"Aku pikir kau membicarakan Joni, sebenarnya aku pun yakin Dora pasti juga sudah merindukan Joni."
"Devano! Aku sedang membicarakan benjolan di kepalamu!"
"Baiklah! Dan memang semua ini karenamu!"
"Kau yang memulai karena kau yang menyuruhku untuk masuk ke dalam kamarmu secara paksa!"
"Memangnya kenapa kalau masuk ke dalam kamarku? Aku hanya ingin memberimu sesuatu. Kau saja yang selalu berfikiran buruk padaku."
Luna pun hanya terdiam, dia dalam lubuk hatinya, dia mengakui kesalahannya karena sejak tadi dia selalu berfikiran buruk pada Devano, padahal dia tidak melakukan sesuatu hal yang aneh kecuali ciuman ganasnya di dalam mobil.
"Kenapa kau diam?" tanya Devano saat melihat Luna yang kini termenung.
"Maafkan aku," ucap Luna pelan.
Mendengar Luna yang meminta maaf padanya, Devano kemudian mengangkat salah satu ujung bibirnya.
"Bagus, jadi kau sudah menyadari kesalahnmu?"
Luna pun terdiam, meminta maaf saja sudah begitu berat baginya. Apalagi untuk mengakui kesalahannya lagi.
"Sudahlah, sekarang suapi aku."
"Apa?"
"Suapi aku makan malam! Cepat! Apa kau juga belum sadar? Aku jadi seperti ini karenamu?"
Luna pun hanya bisa diam, tak bisa membantah. Dia kemudian bangkit dari sisi ranjang, lalu berjalan keluar dari kamar.
"Ada apa?"
"Satu piring dua sendok!"
Luna kemudian menganggukan kepalanya, lalu berjalan keluar dari kamar. Tak berapa lama, dia masuk ke dalam kamar itu dengan membawa sepiring makanan untuk Devano, dan mulai menyuapi makanan yang dibawanya untuk Devano.
"Buka mulutmu!" perintah Devano yang juga menyuapkan makanan untuk Luna.
"Kenapa diam? Buka mulutmu!"
Luna pun membuka mulutnya, dan Devano menyuapkan makanan padanya. Debano pun meringis saat mereka kini begitu mesra saling menyuapi satu sama lain.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
"Memangnya tidak boleh? Galak sekali!"
"Sudah selesai! Aku tidur dulu!" ucap Luna setelah selesai menyuapi Devano. Namun saat Luna akan meninggalkan kamarnya tiba-tiba Devano berteriak.
"Ahhhh, kepalaku sakit sekali! Luna kepalaku sakit sekali!"
"Astaga, kau manja sekali!"
"Luna kau harus bertanggung jawab! Lihat kepalaku jadi seperti ini! Itu gara-gara kau! Rasanya sakit sekali, bahkan Joni pun ikut merasakan sakitnya!"
__ADS_1
"Ada-ada saja!"
"Benar Luna, aku tidak bohong! Apa kau tahu setelah kau pergi hatiku sakit, jiwaku rapuh, bahkan Joni juga meriyang, merindukan kasih sayang. Cie, cie, cieeeee...."
"Mana ada yang seperti itu?"
"Tentu saja ada, Luna. Sekarang keloni aku sampe aku tidur!"
"Tidak mau, aku tidak mau! Nanti kau yang berbuat tidak-tidak padaku!"
"Kau tenang saja, Devano masih bisa mengendalikan nafsu."
"Bagus kalau begitu."
"Tapi tidak dengan Joni," gerutu Devano pelan sambil meringis.
BUKKKKK
Luna kemudian memukul Devano dengan bantal. "Aduh sakit! Kau mau kepalaku benjol di kepalaku bertambah besar?"
Luna pun kembali terdiam. "Sudah cepat, sekarang temani aku tidur!"
"Kau pikir aku siapa?"
"Calon istri halalku, ea ea ea!"
'Kurang ajar! Devano memang benar-benar brengsekkk! Di saat seperti ini masih saja merayu! Dasar buaya darat busuk!' batin Luna.
"Apa kau sudah lupa? Ini juga salah satu tugasmu yang harus kau selesaikan! Cepat tidur! Aku sudah ngantuk Luna!"
Luna kemudian merebahkan tubuhnya di samping tubuh Devano dengan perasaan takut dan begitu cemas. Dia kemudian bergegas memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur secepatnya.
"Luna! Luna sayang! Tolong maafkan aku. Aku minta maaf Luna. Aku tidaklah seperti yang kau pikirkan, awalnya aku memang berniat buruk padamu Luna. Tapi ternyata aku terjebak dalam permainanku sendiri dan aku benar-benar jatuh cinta padamu. Luna, waktuku tinggal tiga hari denganmu. Aku hanya minta kepastian jawaban darimu, Sayang. Kalau kau mau menerimaku, aku akan menikahimu secepatnya Luna. Luna apa kau mau menikah denganku?"
Devano pun menunggu jawaban Luna sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Beberapa saat dia menunggu jawaban dari Luna. Tapi Luna masih terdiam.
"Lunaaaa!" panggil Devano. Akhirnya, dia pun membalik tubuh Luna, namun ternyata hanya dengkuran halus yang keluar dari bibirnya.
"Sial! Susah-susah aku merangkai kata! Dia malah tidur!" gerutu Devano. Dia pun memejamkan matanya sambil mendekap erat tubuh Luna.
***
Pagi ini, Luna terbangun. Dia merasakan kehangatan di seluruh tubuhnya. Dan ketika dia membuka matanya, dia merasa sangat terkejut karena sekarang dia ada di dalam pelukan Devano. Apalagi saat melihat jakun yang bergerak naik turun di depan matanya. Detik itu, dirinya menyadari jika semalaman mereka tidur berpelukan.
DEG
Jantung Luna berdebar tak karuan, bola matanya membulat sempurna ketika Devano semakin mendekap tubuhnya agar semakin merapat. Diam-diam Luna menarik wajahnya ke atas, dan kini wajah mereka berhadapan.
Pandangan Luna terus mengitari setiap inchi kulit Devano. Memperhatikan semua lekuk wajahnya yang seolah terpahat begitu sempurna, dia kemudian meraba wajah tampan itu dan jarinya berbenti di bibir Devano. Wajah Devano yang terlihat menggemaskan saat tidur membuat Luna tak sanggup lagi membendung hasratnya. Dia kemudian mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Devano.
CUP
"Kau, masih mencintaiku kan Luna? Maukah kau menikah denganku?"
__ADS_1
Seketika jantung Luna pun seakan terhenti, saat menyadari jika ternyata Devano sudah bangun.