
Devano pun kembali terdiam. "Apa kau mengerti?" bentak Vallen kembali.
"Iya Tante Dokter saya mengerti!"
"Bagus, kutunggu realisasimu untuk menikahi Luna secepatnya! Kalau perlu besok!"
"Besok apa itu tidak terlalu cepat, Tante?"
"Baik, kalau begitu kutelepon Kenzo sekarang juga!"
"I-iya Tante, besok saya akan menikahi Luna."
"Masih kurang."
"Apanya yang kurang, Tante?"
"Menikahi Luna dan bersikap baik serta selalu menjaganya!"
"Iya itu, Tante."
"Cepat katakan!"
"Saya akan menikahi Luna, bersikap baik padanya, dan selalu menjaganya."
Vallen kemudian menatap Luna. "Luna, tolong kau katakan padaku jika dia menyakitimu. Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidup Devano jika dia berani berbuat macam-macam padamu, apa kau mengerti, Luna?"
"Tapi Dokter, apakah ini tidak berlebihan? Dalam hal ini Devano juga tidak sepenuhnya salah."
"Tidak, tidak ada yang berlebihan karena sudah sepantasnya dia melakukan itu! Dia tidak pantas menuduh hal yang tidak-tidak padamu! Dan satu hal, wanita tidak pernah salah," ucap Vallen sambil terkekeh. Luna pun tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
"Terima kasih Dokter Vallen."
"Iya Luna," jawab Vallen sambil melirik Devano dengan tatapan tajam.
"Kalau kau masih mempertanyakan mengenai kandungan Luna, akan kubuktikan kalau janin yang dikandung Luna adalah darah dagingmu! Yang perlu kau ingat adalah waktu kapan terakhir kalian berdua berhubung!" bentak Vallen.
"Sekarang cepat minta maaf pada Luna!" tambah Vallen.
"Kenapa kau diam Devano! Cepat minta maaf pada Luna lalu ikut aku ke ruanganku!"
'Astaga menyebalkan sekali, kenapa aku harus bertemu dengan wanita tua comel seperti dia?' gumam Devano.
"Kenapa kau diam?"
"Maafkan aku Luna," ujar Devano.
"Luna sayang, kau tenang saja. Aku akan selalu ada untuk menolongmu. Kau jangan pernah sungkan padaku. Jika Devano berbuat buruk padamu, tolong katakan saja padaku. Aku melakukan semua ini juga untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu. Aku ingin kau dan bayimu bisa dalam kondisi sehat saat kau melahirkan, kau mengerti kan Luna?"
"Iya Dokter, sekali lagi terima kasih banyak. Dokter, apa benar dokter mertua dari Pak Kenzo?"
"Ya, Kenzo menantuku. Memangnya ada apa Luna?"
"Saya bekerja di perusahaan milik Pak Kenzo, Dokter."
"Astaga, jadi kau bekerja pada Kenzo? Dunia memang sesempit ini! Hahahahaha."
"Iya Dokter."
__ADS_1
"Sekarang, beristirahatlah dan tenangkan pikiranmu. Nanti aku yang bicara pada Kenzo. Kalau ada kesalahpahaman diantara kalian, aku harap masalah ini bisa dibicarakan dengan menggunakan kepala dingin."
"Iya, terima kasih, Dokter."
Vallen pun mengangguk. Sedangkan Luna, dia tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya. 'Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka semua ini akan terjadi di dalam hidupku. Membayangkan Devano mau bertanggung jawab pun aku tidak berani,' batin Luna sambil memejamkan matanya.
Saat hampir saja terlelap, tiba-tiba Luna dikejutkan oleh sebuah belaian hangat yang mendarat di rambutnya. Luna kemudian membuka matanya, dan melihat Devano sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Dia anakku?"
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau pergi ke ruangan Dokter Vallen untuk mendengar penjelasan darinya jika anak kandung ini adalah darah dagingmu?"
"Bukankah memang ada yang harus dibicarakan dengan menggunakan kepala dingin?"
"Apa kau bisa menahan emosimu padaku? Emosimu begitu besar, Devano."
"Aku akui, itulah kekuranganku. Aku selalu kesulitan mengendalikan emosiku."
"Kau masih marah padaku?"
"Entahlah, karena rasanya masih sangat sakit saat melihatmu melihatmu masuk ke dalam kamar hotel dengan laki-laki lain. Tapi kenyataannya, jika dibuktikan dari usia kehamilanmu, dia memang anak kandungku karena saat itu kita selalu bersama."
"Tolong percaya padaku, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun, termasuk dengan Brian. Aku memang tidak memiliki bukti, tapi jika kau benar-benar mencintaiku, kau pasti tahu aku tidak pernah berbohong padamu."
Devano kemudian mengangkat sudut bibirnya sambil tersenyum kecut. "Benarkah kau tidak pernah berbohong padaku, Luna? Apa kau sudah lupa kalau kau pernah berpura-pura sedang menstruasi padaku. Sekarang, aku tanya padamu. Kau atau aku yang tidak pernah berbohong padamu? Seharusnya kau ingat kalau aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu. Termasuk hal sekecil apapun dalam hidupku, aku tidak pernah berbohong padamu. Kau seharusnya tahu, aku begitu mencintaimu. Sekarang aku tanya padamu, apa aku pernah mengecewakanmu setelah menjalin hubungan denganmu? Apa aku pernah menyakitimu? Bahkan semua kulakukan hanya untukmu."
"Kalau kau tidak percaya padaku, untuk apa kau akan menikahiku? Apa karena Dokter Vallen memaksamu? Kalau alasanmu hanya itu, aku yang akan bicara pada Dokter Vallen kalau aku yang tak mau menikah denganmu. Tolong, jangan memaksaku ke dalam sebuah hubungan yang hanya membuatku semakin terluka."
"Apa kehadiranku membuatmu terluka?"
"Aku hanya perlu sebuah bukti, sebuah bukti saja agar aku percaya padamu."
Luna kemudian memejamkan matanya, rasanya dia begitu putus asa dan hatinya juga begitu lelah menerangkan semua pada Devano. Tiba-tiba, suara ponselnya pun berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel miliknya dan membuka sebuah pesan dari Kenzo jika Vallen sudah memberikan ijin padanya.
Melihat pesan itu, Luna pun mengulaskan sebuah senyum di bibirnya, dia lalu menatap Devano yang saat ini sedang termenung.
"Kau ingin sebuah bukti kan Devano?"
Devano pun hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Bagaimana dengan ini? Tolong kau baca pesan ini!" ucap Luna sambil memberikan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan dari Kenzo.
"Lihat daftar panggilan di ponselku dan baca pesan ini baik-baik, itu pesan dari Kenzo kalau dia yang menyuruhku untuk datang ke hotel itu untuk memberikan berkasnya yang tertinggal di kantor. Bukankah kau tahu, saat itu aku juga memang berniat keluar dari perusahaan Kenzo untuk pergi denganmu? Jadi, terpaksa aku menyusul Kenzo ke hotel itu."
Devano lalu mengecek panggilan telepon dan mengamati pesan yang dikirimkan oleh Kenzo beberapa hari yang lalu. "Sekarang bagaimana? Kau percaya padaku kan? Aku ada di hotel itu untuk mengirimkan berkas pada Kenzo, lalu aku tidak sengaja bertemu dengan Brian karena dia menabrakku. Asal kau tahu Devano, saat aku akan menyebrang jalan di depan hotel tersebut, mobil Brian menyerempetku, jadi dia menyuruhku beristirahat di dalam salah satu kamar sambil menunggumu selesai pada pertemuan itu."
Devano pun kini terdiam, hatinya terasa begitu berkecamuk. "Apa kau percaya padaku? Aku minta maaf padamu, aku minta maaf jika seringkali membuatmu terluka. Aku tahu kau sangat mencintaiku, dan sering kali tersakiti oleh sikap acuhku padamu," ucap Luna.
Devano kemudian menatap Luna dengan tatapan begitu dalam, raut wajah emosi dan sorotan mata tajamnya yang menakutkan sekarang terlihat memudar. "Maaf," ucap Devano lirih.
"Maaf untuk apa? Bukankah aku yang menyakitimu? Aku tahu kau hampir saja mengakhiri hidupmu di atas gedung sampai ada seorang karyawan yang mencegahmu kan? Itulah alasannya malam itu kau masih ada di dalam kantor, iya kan?"
"Darimana kau tahu?"
"Tadi aku diperintahkan menggantikan meeting oleh Pak Kenzo, dan ternyata aku meeting dengan salah satu stafmu, dia yang sudah menceritakan semua padaku. Maaf jika aku tidak berhati-hati dan kurang menjaga sikapku, maaf jika ternyata aku sudah begitu menyakitimu sampai membuatmu bertindak sejauh itu."
Devano terdiam, perlahan dia menggenggam tangan Luna. "Aku memang tidak bisa mengendalikan emosiku jika ada hubungannya denganmu karena cintaku padamu, mungkin terlalu dalam hingga terkadang aku kehilangan kewarasanku. Aku terlalu mencintaimu..."
Belum selesai Devano melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
__ADS_1
NOTE:
Gaes, jangan lupa mampir ke karya bestie othor juga ya! Novelnya Kak Sutihat Basti Wibowo, dijamin keren abis deh. Nyesel kalo ngga mampir 😍😍
Andhira tertidur dalam keadaan kusut. Meski
matanya terpejam, tapi jiwanya bergemuruh seakan ramai oleh kegaduhan. Bayangan perlakuan Daffa yang sangat kasar, membuat Andhira memeluk ketakutan, menyesap kepahitan di awal pernikahan yang seharusnya jadi momen bahagia.
Dini hari, pukul 02.00 WIB. Kala sepi menyelimuti seluruh ruangan di rumah tempat mereka tinggal, Daffa terbangun. Dia terperanjat kaget melihat ada wanita yang tidur dengan posisi nyaris terjatuh di tepi ranjangnya.
"Ahh, siaal! Aku lupa kalau sekarang aku sudah menikah," cicit Daffa tersadar. Dia menepuk dahinya pelan.
Daffa menggeser tubuh Andhira agar lebih ke tengah. Kemudian, ditatapnya lekat wajah Wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. "Aku tidak tertarik sama sekali padamu. Jadi, jangan berpikir dengan aku menidurimu akan merubah perasaanku. Selamanya kau hanyalah pakaian kusut bagiku," hardik Daffa dengan senyuman tidak simetris.
Laki-laki itu bangkit dan mengambil segelas air putih. Dengan hanya menggunakan celana boxer dan bertelaanjang dada, dia meneguk air minumnya sampai habis tak bersisa. Lantas, dia duduk kembali di tepi ranjang pengantinnya.
"Ayaaah, tolong Dhira, ayah," igau Andhira dengan suara yang sangat ketakutan.
"Dasar anak manja. Ayahmu sudah tidak ada lagi di dunia ini," cerca Daffa seraya memicingkan matanya ke arah Andhira.
Ya, ayah Andhira memang sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu. Sampai saat ini, Andhira masih berkabung duka dan sangat terpukul atas kepergian ayahnya tersebut. Walaupun, Andhira tidak pernah menceritakan seberapa besar kesedihannya pada siapa pun, kecuali pada ketiga sahabatnya saja.
Semakin lama, suara Andhira semakin sering menyebut-nyebut nama ayahnya. Namun, matanya tetap terpejam. Entah mimpinya yang terlalu buruk dan menyeramkan sehingga Andhira terus mengigau, atau mungkin rasa takutnya yang begitu besar setelah menerima perlakuan kasar dari Daffa kepada dirinya.
"Berisik sekali," keluh Daffa yang terus mendengar igauan Andhira.
Lantas, Daffa menyeringai licik dan mendekatkan wajahnya kepada Andhira. "Akan kusumpal mulutmu dengan bibirku, Sayang," ujarnya bengis.
Daffa melancarkan aksinya itu dengan meraup buas bibir Andhira yang sedang mengalami mimpi buruk. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki berwajah bengis tersebut, hingga dia tampak senang dan menikmati permainan kasarnya itu. Andhira yang kala itu kesulitan untuk bernapas pun terbangun dan mendapati Daffa yang sedang memaagut bibirnya dengan liar.
"Eemmmph ...," dengus Andhira dengan mulut yang tersumpal bibir Daffa. Dia mendorong tubuh Daffa agar menjauh darinya.
Daffa meraih lengan Andhira dan mencengkeramnya dengan kuat. "Beraninya kau padaku," kesal Daffa dengan tatapan membunuh.
"Aduuuh, sakit, Mas," raung Andhira dengan air mata yang kembali menghujani pipinya.
Daffa kemudian menghempaskan lengan Andhira dengan kasar. Tatapan mata Daffa dipenuhi amarah yang menggelora. Baru malam pertama setelah menikah, tapi Daffa sudah mengukir kesan buruk di hati Andhira.
"M-maaf, Mas. Apa sebenarnya kesalahanku? Mengapa kamu begitu kasar padaku?" tanya Andhira lirih, diiringi tangis yang begitu sedih.
"Kau mau tahu apa kesalahanmu?" tandas Daffa seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Andhira.
Andhira menunduk dalam dengan rasa tidak nyaman. Dia tidak berani menatap Daffa yang seolah memiliki dendam padanya. Dia tidak berbicara lagi. Hanya suara tangisan yang berusaha dia tahan sekuat tenaga agar tidak keluar. Dan percayalah, itu terasa begitu sesak di dalam dada.
"Tatap mataku, Bodooh!" bentak Daffa.
Andhira terperangah dan langsung mengangkat wajahnya. Ceruk matanya terlihat penuh oleh genangan air mata. Bibirnya bergetar dengan perasaan takut yang semakin menjadi.
"Kesalahanmu adalah menjadi istri yang tidak pernah aku harapkan!" tegas Daffa penuh penekanan.
Kata-kata Daffa menjadi pukulan yang sangat menyakitkan bagi Andhira. Kalau boleh jujur, dirinya pun sama perihal tidak mengharapkan pernikahannya dengan Daffa terjadi. Namun, Andhira masih punya hati untuk menjaga perasaan Daffa. Lagi pula, mengapa Daffa tidak mengatakan sejak awal kalau dirinya tidak ingin perjodohan itu berlanjut? Shingga, kemungkinan untuk tidak menikah akan mudah bila dari awal Daffa menyatakan keberatannya. Akan tetapi, saat itu Daffa mengiyakan semuanya seolah dia memang menginginkan pernikahannya dengan Andhira.
Lalu, kalau memang Daffa tidak menginginkan Andhira, mengapa dia mau merenggut kegadisan Andhira? Bukankah itu membuat dirinya tampak seperti orang yang munafik?
Bersambung ....
__ADS_1