
Sementara Devano yang melihat Luna turun dari mobilnya hanya bisa menatapnya sambil meremmas dadanya.
"Sakit, itu aku karena rasa cinta ini hanya ada aku tanpa ada kamu. Luna, apa kau tahu, selama aku hidup, aku baru pernah jatuh cinta, dan rasa cinta itu hanya kuberikan padamu. Sebuah rasa yang membuatku hampir gila, bahkan aku hampir saja mati karena begitu tergila-gila padamu. Tapi apa yang kudapat? Hanya rasa sakit setelah semua yang kuberikan padamu, sama sekali tidak pernah berharga dalam hidupmu. Sakit itu aku," ujar Devano. Setelah menghapus air matanya, dia kemudian mengendarai mobilnya pergi dari rumah Luna.
***
Keesokan harinya.
Devano beserta kedua orang tuanya, tampak berjalan masuk ke sebuah rumah mewah beraksen jawa modern, yang saat ini sudah ramai dengan kehadiran para tamu undangan. Saat memasuki rumah itu, rasa sesak begitu merasuk ke dalam hatinya.
'Cinta itu tidak pernah ada, cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, dan aku harus menjalani kepalsuan ini, siapapun wanita yang akan kusematkan cincin di jarinya hari ini. Just sexxx no love,' batin Devano.
Mereka kemudian duduk di tempat yang telah disediakan oleh keluarga dari Oma Fitri. Devano pun tampak resah menunggu wanita yang akan bertunangan dengannya.
Setengah jam kemudian, tampak seorang wanita cantik memakai kebaya modern warna putih keluar dari sebuah kamar yang ada di rumah tersebut.
'Jadi itu Shakila? Cantik juga! Tapi kenapa dia mirip dengan Luna? Ahhhh ssshiittt Luna lagi. Kenapa aku harus memikirkan dia lagi?' batin Devano.
Shakila kemudian dituntun mendekat ke arah keluarga Devano, dan berkenalan dengan mereka. Namun, saat Devano menyalami Shakila, dia melihat raut sedih begitu tergambar di wajahnya. Bahkan sisa-sisa air mata yang telah mengering pun masih tampak jelas ada di wajahnya.
'Kenapa dia? Kenapa dia tampak begitu sedih? Apa dia juga sebenarnya menolak perjodohan ini?' batin Devano.
"Kita mulai sekarang, Tante Fitri?" tanya Viona.
"Iya, kita mulai sekarang."
"Ayo Devano!" perintah Viona. Devano kemudian berdiri di samping Shakila sambil meliriknya.
'Memang dia cantik, tapi berdiri dan bertunangan dengan wanita yang tak kukenal rasanya memang sangat aneh. Aku seperti orang gila berdiri dengan wanita murung ini,' batin Devano. Namun, saat Devano akan menyematkan cincin di jari Shakila, tiba-tiba sebuah teriakan mengagetkan mereka.
"Tunggu!" teriak sebuah suara.
"Ada apa Dimas?" bentak Fitri. Dimas kemudian tersenyum, dia lalu menatap Viona dan Roni, orang tua dari Devano.
"Tuan Roni, Nyonya Viona maafkan saya."
"Ada apa sebenarnya Tuan Dimas?"
"Sekali lagi saya minta maaf, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada anda sekalian, tolong dengarkan dulu penjelasan dari saya."
__ADS_1
"Dimas ada apa ini?" bisik Fitri.
"Mama, Shakila adalah putriku, aku yang berhak mengambil keputusan dalam hidup putriku," jawab Dimas lirih.
"Kau memang kurang ajar Dimas! Kau sudah berani lancang pada Mama!"
"Ma, aku mohon beri aku kesempatan menentukan nasib putriku, setelah 20 tahun lamanya aku hidup dalam penjara." Fitri hanya tersenyum kecut.
"Ada apa Tuan Dimas? Apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Roni.
"Begini Tuan Roni, Nyonya Viona, dan Devano. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, sebenarnya ada hal yang perlu saya ceritakan kepada anda semua sebelum pertunangan ini berlangsung."
Devano dan kedua orang tuanya tampak mengerutkan keningnya. Dimas kemudian mulai membuka suaranya kembali. "Perjodohan antara Devano dan putri dari keluarga kami adalah sebuah keharusan karena sudah menjadi wasiat dari orang tua kita, tapi sebenarnya dalam perjodohan ini bukan Shakila yang akan dijodohkan dengan Devano."
"Apa? Apa maksud anda Tuan Dimas?" teriak Roni dan Viona.
"Begini Tuan Roni, tampa mengurangi rasa hormat kami pada keluarga anda, sebenarnya yang di jodohkan dengan Devano adalah putri kami yang bernama Sachi."
"Sachi?" tanya mereka bersamaan.
"Ya, yang dijodohkan dengan Devano sebenarnya adalah Sachi. Namun saat ini Sachi masih ada di luar negeri. Kami sebenarnya sudah meminta Sachi pulang, tapi saat ini dia sedang menyelesaikan tugas akhir pendidikannya, sehingga sangat sulit untuk ditinggalkan. Jadi terpaksa Shakila yang berdiri disini untuk menggantikan Sachi," dusta Dimas.
"Maafkan saya, maaf jika ini terdengar aneh, tapi untuk saat ini, kami tidak punya pilihan lain. Terpaksa Shakila berdiri di sini menggantikan adiknya. Saya terima jika keluarga Tuan Roni marah karena ketidaksopanan ini."
"Bukankah Shakila yang dijodohkan dengan Devano?" tanya Viona.
"Maaf Nyonya Viona, Shakila sebenarnya juga sudah memiliki tunangan yang bernama Darren. Maaf jika kami baru menceritakan keberadaan Sachi sekarang."
Keluarga Devano pun saling berpandangan. "Tapi Tuan Dimas... " belum sempat Viona menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Devano sudah membuka suaranya.
"Tidak apa-apa Om Dimas, tidak apa-apa. Sachi? Sungguh nama yang indah, aku terima perjodohanku dengan Sachi,"ujar Devano sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Devano."
"Devano kemudian menganggukan kepalanya. "Sachi?" gumam Devano lirih.
***
TOK TOK TOK
__ADS_1
Minggu yang indah, namun tak seindah biasanya bagi Luna, entah karena merasa patah hati dengan pertunangan Devano, ataupun dia memang benar-benar tidak enak badan. Sejak tadi pagi, dia sudah beberapa kali muntah-muntah, bahkan kepalanya terasa begitu berat.
"Ahhh, kenapa rasanya kepalaku sakit sekali," ujar Luna. Dia kemudian bangkit dari atas tempat tidurnya lalu bergegas membuka pintu kamarnya.
"Luna, apa kau sakit, Nak?"
"Hanya sedikit tidak enak badan, Ma."
"Oh, mungkin menjelang masa menstruasi, bukankah biasanya kau seperti ini saat memasuki masa PMS?"
Luna pun hanya tersenyum getir saat mendengar perkataan mamanya. 'Menstruasi?' batin Luna.
'Astaga, ini sudah melewati masa menstruasiku?' batin Luna sambil menelan salivanya dengan kasar.
"Ma, aku pergi sebentar!" ujar Luna.
"Pergi ke apotek Ma, beli obat sakit kepala."
"Oh, iya Luna! Hati-hati!" sahut Rahma, mamanya dengan setengah berteriak karena Luna sudah berjalan keluar rumah.
"Iya Ma," sahut Luna, sayup-sayup terdengar di telinganya.
Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.
Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.
CLUP
Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.
"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.
"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.
Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.
"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.