
Luna yang saat ini sudah ada di halaman rumah Vallen, tampak terkejut saat melihat ada dua buah mobil yang ada di halaman rumah itu.
"Sepertinya ada tamu, ah mungkin saja itu tamu Tuan Kenzo dan Nyonya Cleo. Lebih baik aku tetap masuk saja ke dalam," ujar Luna. Meskipun ragu, Luna akhirnya tetap berjalan ke arah rumah Vallen.
TOK TOK TOK
"Masuk," jawab sebuan suara dari dalam rumah.
"Permisi Dokter Vallen," ucap Luna, yang saat ini tampak terkejut karena banyak tamu yang ada di rumah itu.
'Astaga, oh tidak. Aku datang di waktu yang tidak tepat,' batin Luna. Dia sebenarnya sungkan, ingin rasanya dia kembali ke rumahnya, namun orang-orang yang sedang duduk di ruang tamu itu sudah melihatnya.
"Oh Luna!" ucap Vallen saat melihat Luna yang saat ini berdiri di ambang Pintu rumahnya.
"Oh ternyata ada tamu, maaf jika saya mengganggu, Dokter Vallen."
DEGGGGG
"Tidak Nak," sahut Delia sambil menahan rasa sesak yang kini semakin menyesakkan dadanya.
"Kau sama sekali tidak mengganggu. Kami hanya sedang membicarakan hal ringan. Silahkan, silahkan duduklah bersama kami, Nak."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja Luna. Ayo duduk!" perintah Vallen sambil menepuk sofa, memberi kode pada Luna untuk duduk di sampingnya.
"Iya Dokter," jawab Luna. Dia lalu memasuki rumah itu kemudian duduk di samping Vallen.
"Luna, ini tamu tante. Perkenalkan, ini Tante Aini, Tante Delia, dan Om Dimas."
Luna lalu menyalami ketiga tamu Vallen, baru kemudian duduk di samping Vallen. meskipun, tak dapat dipungkiri jika perasaan hangat dan begitu nyaman merasuk ke dalam hatinya, saat sedang bersalaman dengan sepasang suami-istri yang dikenalkan oleh Vallen.
"Perkenalkan, dia Luna. Dia tinggal di rumah samping kananku. Luna, ada apa?" tanya Vallen setelah memperkenalkan Luna pada mereka.
"Sekali lagi, maaf jika kehadiranku mengganggu kalian. Sebenarnya begini Dokter Vallen, sejak tadi pagi, aku merasa perutku sangat tidak nyaman. Apa ini masih ada kaitannya dengan flek yang kualami beberapa waktu yang lalu?"
Vallen tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang berat, Luna?"
__ADS_1
Mendengar perkataan Vallen, Luna menundukkan kepalanya. "Kau kenapa, Luna? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak apa-apa."
"Apa suamimu berulah lagi?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa kondisimu menurun lagi? Apa yang menyebabkan kau seperti ini?"
"Maaf Dokter, sebenarnya aku malu mengatakan ini," ucap Luna sambil meneteskan air matanya.
"Nak, kau kenapa? Kalau kau sedang hamil, kau sebaiknya jangan seperti ini. Jangan terlalu banyak berfikir, Nak."
Luna menyangkat kepalanya, lalu menatap Vallen dan Delia yang saat ini menatapnya.
"Maaf."
"Kenapa harus minta maaf lagi, Nak? Memangnya ada apa?"
"Luna, kau belum mengatakan apapun. Jadi, tolong jangan bicara seperti itu. Kau tidak perlu sungkan, Nak. Kalau kau mau, sekarang kau ceritakan apa yang terjadi? Apa yang sudah mengganggu pikiranmu, Luna?" ucap Delia sambil menggengam tangan Luna yang membuat perasaan Luna kian begitu campur aduk.
"Sebenarnya aku mengkhawatirkan nasib anakku. Terus terang saja, sebenarnya suamiku saat ini sudah bertunangan dengan seseorang. Dan, itu sangat membuatku takut, aku takut dengan masa depan anak yang ada di dalam kandunganku."
"Aku tahu itu, aku tahu dia sudah memiliki tunangan Luna. Kupikir, dia sudah memutuskan pertunangannya dengan wanita itu saat sudah menikah denganmu," potong Vallen.
"Sebenarnya, apa yang sedang kalian bicarakan? Luna, apa maksudmu? Jadi, kau menikah dengan seorang lelaki yang sudah menjadi milik orang lain?" tanya Aini sambil mengerutkan keningnya.
"Emhhh, Aini. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Suami Luna, bertunangan dengan seorang wanita karena dijodohkan oleh keluarganya, tapi sebelum pertunangan itu, Luna sudah mengandung terlebih dulu. Jadi, ini bukan kesalahan dari Luna."
"Dasar laki-laki kurang ajar! Tega-teganya menghamili seorang wanita lalu bertunangan dengan wanita lain!" gerutu Delia.
"Ya, dan untungnya aku memaksa laki-laki itu untuk menikahi Luna!"
"Kau benar, Vallen. Laki-laki seperti itu memang harus diberi pelajaran."
"Dan, sepertinya aku harus memberi pelajaran lagi untuk suamimu. Sebaiknya sekarang kau istirahat saja, tenangkan pikiranmu! Urusan suamimu biar aku yang mengurusnya. Tolong jangan berfikir terlalu berat, pikirkan kandunganmu. Kau mengerti kan?"
__ADS_1
"Iya Dokter."
"Luna, kalau kau ingin membutuhkan bantuan. Jangan segan untuk minta tolong pada kami," sahut Aini.
"Iya Tante, terima kasih."
"Luna, berapa usiamu? Sepertinya kau masih sangat muda?" sambung Delia.
"Usia saya? Oh, usia saya 20 tahun, dua bulan lagi genap 21 tahun. Tahun ini saya baru saja menamatkan diploma saya dan mengambil jurusan kesekretarisan, dan langsung bekerja di kantor suami saya."
"Oh, usiamu sama seperti putriku. Putriku yang hilang," sahut Delia sambil meneteskan air matanya. Dimas yang melihat Delia yang kini mulai meneteskan butiran bening dari sudut matanya, lalu menggenggam tangannya.
'Putri yang hilang?' batin Luna. Entah kenapa hatinya saat ini terasa begitu bergetar. Perasaan sedih, dan sesak kini semakin berkecamuk di dalam hatinya.
"Kita pasti akan menemukan putri kita," ucap Dimas, menenangkan Delia.
Luna yang melihat pemandangan yang ada di hadapannya hanya bisa menatap Delia dengan tatapan pilu.
"Tegarkan hatimu, Tante. Saya yakin, suatu saat Tante pasti bisa bertemu dengan anak Tante," ucap Luna dengan bibir bergetar, entah kenapa tubuhnya pun terasa ikut bergetar.
'Kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan seperti ini saat melihat Tante Delia. Apa karena kisah kami sama? Sama-sama kehilangan,' batin Luna.
"Iya, Luna."
"Kalau begitu, saya pamit dulu. Maaf jika kedatangan saya sudah mengganggu kalian."
"Tidak Luna, kami tidak terganggu," jawab Vallen.
"Iya, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Luna sambil berpamitan pada mereka semua. Dia kemudian keluar dari rumah itu, sambil melirik pada Delia yang kini masih terisak. Sementara Delia yang melihat kepergian Luna, hatinya seakan meronta dan ingin berkata "Jangan pergi Nak," Namun, Delia berusaha menangkis semua perasaan itu.
'Ah mungkin saja, aku terlalu tertawa perasaan karena Luna seumuran dengan Sachi,' batin Delia.
'Kasihan sekali Tante Delia. Oh Tuhan, mungkinkah orang tuaku juga melakukan seperti yang mereka lakukan? Mencariku dengan berbagai cara? Mungkinkah orang tuaku meraskan seperti apa yang mereka saat ini rasakan? Sakit dan hancur,' batin Luna sambil melangkah menuju ke rumahnya. Langkah yang juga diiringi derai air mata.
Saat baru saja masuk ke halaman rumahnya, tiba-tiba Luna sudah dikejutkan oleh sebuket bunga mawar merah yang ada di meja di dekat pintu rumahnya. Luna kemudian mendekat ke arah meja itu, di samping buket bunga itu juga ada sebuket cokelat yang tertata rapi serta sebuah kolase foto antara dia dan Devano saat masih pacaran. Perasaan sedih yang sejak tadi dia rasakan pun mulai hilang, begitu pula rasa sesak yang mengisi relung hatinya, seakan memudar. Apalagi setelah melihat sebuah sebuah catatan kecil yang bertuliskan:
"Saling percaya adalah kunci sebuah hubungan, karena terkadang sebuah hubungan itu hancur bukan karena orang ketiga, melainkan runtuhnya tembok kepercayaan. Luna, percayalah padaku. Aku akan selalu ada tanpa kamu minta, aku akan selalu berusaha untuk tidak membuatmu menangis, dan aku akan selalu berusaha untuk mengukir senyuman di bibirmu. Luna, every time I see you, I fall in love over again. You're special to me in every way."
__ADS_1