Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Kantor Cabang


__ADS_3

"Lunaaaa kenapa kau menamparku?" gerutu Devano.


"Dasar messum!" bentak Luna kembali.


"Lunaaaa aku kan pacarmu. Apa aku tidak boleh melihat bagian tubuhmu?"


"Nanti kalau aku sudah jadi istrimu, Devano!"


"Kalau begitu, ayo menikah sekarang Luna! Aku juga sudah tidak sabar sarapan sussu dan makan malam dengan paha, ahhh rasanya pasti sungguh nikmat," ujar Devano sambil mengedipkan matanya.


"Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki seperti ini? Menyebalkan sekali!"


"Dan, sialnya kau harus jatuh cinta pada laki-laki sepertiku kan Luna?" ucap Devano sambil mengedipkan matanya.


"Iya kau benar. Oh Tuhan, apa salahku hingga harus jatuh cinta padamu?"


"Tidak ada yang salah Luna, karena kau sebenarnya sangat beruntung punya pacar sepertiku. Bukankan aku sangat tampan?"


"Ya, sangat tampan."


"Sangat keren?"


"Sangat keren, Devano."


"Dan spektakuler. Iya kan?"


"Ya, kau sangat tampan, keren, dan spektakuler bahkan lebih tampan, keren, dan spektakuler dari kata itu sendiri, lalu apa lagi?" gerutu Luna.


"Tidak, itu cukup. Tapi semua itu sia-sia kalau aku tidak bisa menikahimu, Luna. Ayo menikah! Menikahlah secepatnya denganku!"


Luna tersenyum kecut mendengar perkataan Devano. "Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau pikir aku sedang becanda? Apa kau tidak mau menikah denganku? Atau jangan-jangan kau sebenarnya tidak mencintaiku dan semua kata cintamu itu palsu, Luna?"


"Astaga Devanooooo, picik sekali kau!" gerutu Luna.


"Lalu, kenapa kau tersenyum seperti itu?"


Luna menatap lekat wajah Devano. "Lihat aku, apa kau pikir aku berbohong padamu?" tanya Luna yang menatap Devano dengan manik mata cokelatnya.


Devano tersenyum simpul. "Aku tahu, kau tidak pernah berbohong, kau berbeda. Itulah alasannya sejak pertama bertemu denganmu, aku begitu sulit untuk melepasmu, itulah alasanya saat aku tahu kau sedang membutuhkan bantuanku, aku membuat alasan agar kau hidup bersamaku, agar kau tidak jauh dariku. Awalnya kupikir itu hanyalah sebatas nafsuku semata, nafsu nakalku seperti pada wanita yang lain. Tapi ternyata aku salah. Ternyata tidak hanya raga ini yang tidak bisa jauh darimu. Tapi, hati ini juga sudah jadi milikmu. Menikahlah denganku, Luna. Kau mau kan menikah denganku?"


Manik cokelat itu kini berembun, lalu meneteskan butiran bening dari kedua sudutnya. "Luna, kenapa kau menangis? Aku serius Luna."


Luna kemudian memegang tangan Devano. "Menikah bagi orang lain, itu mudah. Tapi tidak bagi kita, kau akan bertunangan dengan wanita lain. Sedangkan aku? Aku masih meragukan jati diriku yang sebenarnya, Devano. Aku meragukan jati diriku. Bagaimana jika ternyata aku mempunyai orang tua kandung yang harus aku mintai restunya saat aku menikah? Bagaimana jika ternyata ayahku masih hidup? Ayahku, laki-laki yang tangannya harus kau jabat saat mengucapkan janji sucimu di hadapan Tuhan. Kau mengerti maksudku kan? Jadi, maaf bukannnya aku menolak untuk menikah denganmu ataupun tidak mempercayai Mama sebagai orang tua kandungku. Tapi, masih banyak yang harus kita pikirkan Devano, termasuk restu dari kedua orang tuamu. Benar kan?"

__ADS_1


Devano pun termenung. "Kau benar, Luna. Tapi kau tenang saja. Aku pasti akan menyelesaikan semua ini. Aku akan mencari tahu jati dirimu yang sebenarnya, membatalkan pertunanganku, dan meminta restu pada kedua orang tuaku."


"Kau?"


"Ya, aku. Memangnya siapa?"


"Kita Devano, ini kisah cinta kita berdua, bukan hanya kisah cintamu saja. Karena kisah cinta ini adalah aku dan kamu. Iya kan?"


"Astagaaaaa pacarku memang sangat pintarrrr, karena kau sangat pintar, aku jadi ingin menciummu Luna. Ciummm ya, ciummm."


"Devano ini tempat umum, nanti saja di kantor, atau di apartemen."


"Kalau begitu cepat habiskan makanannya. Ayo cepat kembali ke kantor. Joni juga sepertinya sudah tidak tahan."


"Joni? Siapa Joni?"


"Oh, adik."


"Adik siapa?"


"Adikku."


"Jadi kau punya adik yang bernama Joni?"


"Benarkah?"


"Ya, nanti kukenalkan padamu."


"Kapan?"


"Nanti malam."


"Dia mau ikut makan malam bersama kita maksudmu?"


"Ya, tentu saja karena dia sangat menyukai sussu chery yang kenyal dan paha."


"Baiklah nanti akan kupersiapkan untuk Joni."


"Terima kasih, Luna sayang."


"Sama-sama."


Luna kemudian menikmati makan siangnya. Sementara Devano menatapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


'Anjay, marijay, bajayyyyy kau dengar sendiri kan Joni, nanti malam dia mau memberikan sussu chery yang kenyal dan paha. Cihuyyyyy,' batin Devano.


Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya, mereka kemudian keluar dari food court, lalu masuk ke dalam sebuah butik khusus yang menjual berbagai baju tidur untuk membeli lingerie yang diinginkan oleh Devano.


"Jangan lupa pilih yang seksi, Sayang," ujar Devano sambil terkekeh.


"Hih, menyebalkan," gerutu Luna saat sedang memilih lingerie.


Tak berapa lama, mereka pun keluar dari butik itu untuk kembali ke kantornya.


"Luna, kau tolong masuk dulu ke dalam. Aku harus ke kantor cabang untuk melakukan kunjungan rutin," ujar Devano saat menghentikan laju mobilnya di depan lobi kantor miliknya.


"Oh baiklah, aku masuk dulu. Hati-hati di jala, Sayang."


"Luna!" panggil Devano sambil mencekal tangannya.


"Apa? Cium lagi?"


"Bukannn, tapi tolong selesaikan semua pekerjaanku yang ada di atas meja. Kau mau kan? Jadi, nanti aku cukup menjemputmu untuk pulang ke apartemen. Tanpa mengerjakan pekerjaan yang menyebalkan itu lagi."


"Oh baiklah."


"Luna. Tadi kau sendiri yang mengatakan cium kan? Jadi cium aku dulu," ujar Devano sambil meringis.


"Tidak Devano! Aku turun dulu!" bentak luna sambil turun dari mobil.


"Pelit sekali, lihat saja nanti malam kau pasti akan merengek lagi, awww, eh, ohhh, ahhh Devanooo kau hebat sekali sayang," ujar Devano dengan bibir menye-menye sambil mengendarai mobilnya keluar dari halaman gedung kantornya.


Setengah jam kemudian, dia pun sudah sampai di sebuah ruko dua lantai yang ada di kawasan urban ibu kota.


"Selamat siang Tuan Devano, anda ingin bertemu dengan kepala cabang? Mari saya antar," kata salah seorang staf yang ada di kantor tersebut yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Devano.


Dia kemudian masuk ke ruang kepala cabang kantor itu dan menyuruhnya untuk memanggil salah seorang anak buahnya.


"Kedatanganku ke kantor ini bukan untuk bertemu denganmu. Tolong panggilkan Arka untuk menghadap padaku!" perintah Devano pada seorang kepala cabang yang ada di dalam kantor itu.


"Baik Tuan Devano, sebentar," jawabnya. Dia kemudian memanggil anak buahnya untuk menyuruh memanggil Arka.


Tak berapa lama, Arka pun masuk ke ruangan itu. Melihat kedatangan Devano, Arka pun sontak terkejut. Dia pun hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. "Tolong tinggalkan kami, aku mau bicara empat mata dengan Arka!"


"Baik Tuan," jawab kepala cabang di kantor itu. Dia kemudian meninggalkan Devano dan Arka di dalam ruangan miliknya.


"Apa kabar Arka?" tanya Devano sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Ba-baik Tuan Devano."


__ADS_2