
"Astaga Devanooooo! Kendalikan dirimu!" ujar Luna sambil memelototkan matanya.
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh bahagia? Coba kau pikir, setelah begitu banyak kisah tragis, jalan terjal, dan berliku yang banyak turunan dan tanjakan, sekarang ternyata kau adalah Sachi? Sachi jodohku? Hahahhaha, bukankah itu sangat luar biasa, Luna? Kita memang sudah berjodoh, bahkan mungkin saat orang tua kita baru merencanakan membuat kita berdua, hahahahhaaa..."
"Terserah kau!"
"Neng bisanya ketus mulu. Tante, lihat kelakuan putrimu, dia selalu ketus padaku," gerutu Devano pada Delia. Delia pun tersenyum.
"Luna, jangan seperti itu. Kau harus jadi istri yang baik untuk suamimu."
"Tuh denger kata Emak, Neng. Harus jadi istri yang baik buat Abang, kiss dulu Neng!"
"Devanooooo...."
"Iya, iya, galak banget si Neng. Iya kan Tante?"
"Panggil aku Mama, Devano. Kau sudah menikah kan? Panggil saja aku Mama. Nanti aku bicara pada Papamu, dan orang tuamu agar kalian bisa menikah resmi secepatnya."
"Terima kasih banyak, Ma. Emh, begini Ma.., jadi ini alasannya kenapa kalian tidak pernah memberikan foto Sachi padaku karena sejak dulu ternyata Sachi hilang?" tanya Devano.
Delia lalu menganggukkan kepalanya. "Iya Devano, inilah alasannya kenapa sejak dulu kami tidak mempertemukanmu dengan Sachi. Sebenarnya Sachiku hilang sejak masih bayi, saat dia baru berumur 2 bulan. Maaf, kami memang sengaja bohong padamu dan mengatakan kalau Sachi masih ada di luar negeri karena kami tidak mau mengecewakanmu dan keluargamu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti, Ma. Sachi hilang dan ditemukan oleh Bu Rahma lalu dirawat oleh Bu Rahma sebagai putrinya. Iya kan Ma?"
"Kau tahu darimana Devano? Bagaimana kau bisa tahu semua cerita ini?"
"Karena ku pun sudah menyelidikinya, Ma. Aku tahu kalau Luna bukanlah anak kandung dari Bu Rahma. Sebenarnya tadi pagi saat aku datangan ke rumah Mama, untuk menyelidiki apakah Luna adalah Sachi. Karena saat kita bertemu di depan, aku melihat Mama Delia menjatuhkan sebuah foto dan foto itu adalah foto bayi Luna. Jadi, aku curiga kalau Luna adalah Sachi, tapi tadi Mama mengatakan kalau ada Sachi di rumah, jadi aku langsung mengambil kesimpulan kalau Luna bukanlah Sachi."
Mendengar perkataan Devano, Delia terlihat salah tingkah. "Itu memang kesalahanku Devano, aku yang salah karena terlalu cepat mengambil kesimpulan kalau Dea adalah Sachi."
"Jadi, saat itu yang ada di rumahku adalah Dea, lalu Shakila dan Deren mencoba menyelidiki dengan cara mereka, dan ternyata ternyata mereka baru tahu kebenaran kalau Luna adalah Sachi saat aku sudah menganggap Dea jadi putriku," tambah Delia.
__ADS_1
"Astaga, jadi benar ada kesalahpahaman, Ma?"
"Iya memang telah terjadi kesalahpahaman, dan untuk saat ini Mama sangat bingung untuk menjelaskan semuanya pada Dea, Devano."
"Kenapa harus bingung Ma? Jelaskan saja pada Dea."
"Tapi semua ini terjadi karena kesalahan mama, Devano. Mama yang salah, dan Dea pasti akan tersakiti kalau tahu yang sebenarnya."
"Tapi kebenaran tidak bisa disembunyikan terus menerus, Ma. Minta maaf dan mengakui kesalahan adalah jalan terbaik. Mama harus bicara pada Dea."
"Iya Devano, nanti Mama jelaskan pada Dea. Semoga saja dia mau mengerti dan memaafkan Mama."
"Dia harus sadar diri, Ma. Karena itulah kenyataannya, dia bukanlah adikku," tambah Shakila.
"Kau jangan seperti itu Shakila, semua ini terjadi karena kesalahan mama."
"Tapi Dea sangat menyebalkan, Ma. Kalau saja dia tidak menyebalkan, aku pasti mau menganggap dia sebagai adikku."
"Luna asal kau tahu, Dea sangatlah menyebalkan," ujar Shakila.
"Kau jangan berkata seperti itu."
"Memang kenyataannya seperti itu Ma."
"Memangnya apa yang telah Dea lakukan padamu, Shakila?" tanya Devano.
"Dia sangat menyebalkan Devano, dia bahkan berani menghinaku dan berkata yang tidak-tidak padaku."
"Benarkah separah itu? Lancang sekali."
"Iya Devano."
__ADS_1
"Shakila, bagaimana kalau kita beri pelajaran pada Dea?"
"Memberi pelajaran? Bagaimana caranya?"
"Nanti kuberi tahu."
"Baiklah, terserah kau saja, Devano."
Di saat itulah, ponsel Delia pun berbunyi. "Mama Fitri?" ujar Delia saat melihat nama Fitri di layar ponsel tersebut. Delia kemudian mengangkat panggilan itu. Saat sedang berbicara dengan Fitri, raut wajah Delia pun terlihat aneh. Mulutnya tampak terbuka dan keningnya berkerut disertai tatapan mata penuh tanda tanya. Setelah menutup panggilan telepon itu, Delia kemudian menatap Devano.
"Ada apa Ma? Kenapa Mama Delia tiba-tiba menatapku seperti itu? Apa Mama ragu padaku? Sungguh aku hanya mencintai Sachi, Ma."
"Devanooo..."
"Ya, Ma. Sungguh aku tidak pernah berselingkuh, Ma."
"Aku belum bertanya padamu, Devano..."
"Oh iya, maaf aku lupa, Ma. Memangnya Mama mau tanya apa?"
"Devano, aku butuh jawaban jujur darimu."
"Iya Ma, aku selalu jujur, yang sering boong Neng Luna, Ma. Mama mau tanya apa?"
"Devano, apa kau impotten? Tadi Oma Fitri mengatakan padaku kalau tadi siang kau meneleponnya dan mengatakan kau mau membatalkan perjodohan kalian karena kau impotten. Apa kau benar-benar impotten Devano?"
"Astaga, tidak Ma. Tadi siang aku hanya berbohong agar Oma Fitri menggagalkan pernikahanku dengan Sachi abal-abal alias Dea. Suer, Ma. Aku tidak impotten, kekuatan rudal Joni'ku bahkan setara dengan tiga juta kecepatan cahaya yang mampu menembus antariksa, lihat buktinya di perut Sachi, kekuatan kecambahku tertanam begitu sempurna dan tiada duanya, menghasilkan bibit unggul yang luar biasa. Bahkan, Dora pun sangat menyukainya, iya kan sayang?"
"DEVANOOOOO!!" teriak Luna.
"Dora? Siapa Dora?" tanya Delia dan Shakila.
__ADS_1