Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Jati Diriku?


__ADS_3

Luna pun hanya terdiam, dia kemudian menundukkan kepalanya. Hatinya terasa begitu berkecamuk, antara malu, bahagia tapi juga masih diselimuti oleh amarah. Devano kemudian mengangkat dagu Luna.


"Luna, tolong jawab aku. Kau mau kan menikah denganku? Aku sangat mencintaimu, Luna."


"Bohong! Kau pembohong! Kalau kau memang mencintaiku, aku tidak perlu menunggu selama dua bulan untuk mendengar penjelasan darimu!"


"Lalu apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku? Luna, jujur saja selama dua bulan ini aku pun sangat sakit. Aku begitu tersakiti karena kupikir kau meninggalkan aku begitu saja! Aku tidak tahu kalau selama ini kita ternyata diadu domba, Luna. Kita selama ini diadu domba oleh Mama!"


"Adu domba? Kau jangan mengada-ada, Devano!"


"Aku tidak pernah mengada-ada, Luna. Kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk memberi penjelasan, meskipun aku juga tidak tahu apa yang Mama katakan padamu. Tapi percayalah semua yang dikatakan oleh Mama tentangku itu adalah sebuah kebohongan. Tahukah kau saat itu aku pulang ke apartemen ini dengan membawa sebuket bunga mawar dan satu kantung cokelat, sama seperti yang ada di dalam kamarmu. Tapi ternyata saat aku pulang, kau sudah tidak ada di apartemen ini dan aku menemukan sepucuk surat yang kupikir darimu. Aku begitu hancur membaca surat itu. Tak hanya itu, barang-barang di apartemen ini dan sebagian uang di brankas ini juga hilang. Kupikir itu semua karena ulahmu, tapi ternyata itu semua karena ulah Mama. Mama yang sudah mengadu domba kita Luna. Tolong maafkan aku, maafkan aku Luna."


"Aku tidak pernah mengambil barang-barangmu Devano!"


"Aku tahu itu. Aku tahu kita hanya sedang diadu domba oleh Mama. Sekarang kau mengerti kan?"


"Ya, pagi itu Mamamu memutar rekaman suara tentangmu. Rekaman suara jika semua yang kau lakukan semuanya adalah sandiwara agar aku jatuh ke dalam pelukanmu, dan menyerahkan kesucianku begitu saja padamu."


"Astaga Luna, dulu aku memang memiliki pemikiran seperti itu, tapi ternyata aku jatuh ke dalam permainanku sendiri. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, Luna. Kau sangat polos, tidak seperti wanita lain yang begitu agresif padaku."


Devano pun mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menatap Luna yang saat ini sedang termenung.


"Luna," ucap Devano sambil membelai wajah Luna dengan begitu lembut.


"Apakah yang kau katakan itu benar?" jawab Luna lirih. Dia kemudian menatap Devano, tampak jelas ketulusan dari sorot matanya. Mata yang biasa nakal, kini berubah terlihat sayu dan teduh.


'Devano? Benarkah yang dia katakan?' batin Luna.


"Apa yang perlu kulakukan agar kau percaya padaku?"


Luna masih saja terdiam. "Jadi kau belum percaya padaku? Baik kalau begitu, ayo pergi sekarang!"


"Pergi kemana Devano?"


"Menikah! Kita menikah sekarang juga!"


"Astaga, tidak Devano! Masih banyak yang harus dipikirkan. Aku juga belum bicara dengan Mama."


DEG


'Sial, kenapa aku tidak mempertimbangkan tentang orang tua Luna? Saat ini aku juga belum tahu siapa orang tua Luna yang sebenarnya!'


"Emh Luna, kau boleh tidak percaya padaku. Tapi, tolong percaya ceritaku kali ini."


"Cerita? Cerita apa, Devano?"

__ADS_1


"Tentang orang tuamu."


"Orang tuaku?"


"Ya. Emh, Luna. Benar apa yang Arka katakan. Mamamu bukanlah orang tua kandungmu."


DEG


Mendengar perkataan Devano, jantung Luna pun seakan berhenti berdetak. Hatinya terasa begitu sakit, dan hancur.


"Be-Benarkah? Benarkah apa yang kau katakan, Devano?"


Devano pun perlahan menganggukkan kepalanya. "Ya, kau bukanlah anak kandung Ibu Rahma. Aku dan Arka sudah lama menyelidiki tentang semua kebenaran ini, dan kemarin Arka baru saja menceritakan semuanya padaku. Termasuk kesalahpahaman yang terjadi diantara kita berdua. Kedatangan Arka juga yang membuka mataku kalau ternyata kita telah diadu domba. Kita telah diadu domba, Luna."


Luna kemudian menutup mulutnya, lalu butiran-butiran bening perlahan keluar dari sudut matanya. Melihat Luna yang saat ini begitu hancur. Devano kemudian menggengam tangan Luna, lalu menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


"Lalu, siapa aku sebenarnya Devano? Siapa orang tuaku?"


"Luna sayang, kau tenang saja. Aku janji Luna, aku janji akan membantu mencari siapa orang tua kandungmu. Aku janji akan berusaha mencari jati dirimu yang sebenarnya."


"Apa orang tuaku sudah membuangku dan tidak menginginkan diriku sebagai anaknya?"


"Tidak Luna, kau tidak dibuang. Ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Percayalah padaku, orang tua kandungmu pasti sangat menyayangimu."


"Lalu, bagaimana aku bisa dirawat oleh Mamaku? Bu Rahma?"


"Ya, tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi Devano?"


"Luna, saat itu Bu Rahma kembali ke Jakarta setelah melahirkan putrinya di kampung halamannya dengan menaiki sebuah kereta api. Namun, saat dia hendak turun, dia menemukanmu yang sedang menangis tertinggal di atas kursi di dalam gerbong kereta api tersebut."


"Jadi orang tuaku meninggalkanku di gerbong kereta itu?"


"Tidak Luna, aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyelidiki tentang kejadian itu, dan ternyata pernah ada beberapa orang yang mencari keberadaanmu. Mencari seorang bayi yang tertinggal di dalam kereta, dan itu kau. Keluargamu masih mencarimu, Luna. Tapi mereka tidak bisa menemukanmu karena Bu Rahma membawamu pulang ke rumahnya, dan mengatakan pada semua orang kalau kau putri kandungnya yang baru dia lahirkan."


"Aku benar-benar tidak mengerti, Devano. Kenapa Mama sampai melakukan semua itu?"


"Luna, dia mengambilmu, lalu menitipkan anak kandungnya ke panti asuhan karena anak kandungnya menderita penyakit jantung bawaan. Dia takut kalau Papamu marah karena saat itu kondisi keuangan mereka sangat pas-pasan."


"Astaga!" pekik Luna sambil menutup mulutnya.


"Devano, aku benar-benar tidak menyangka kalau wanita sebaik Mama sampai tega berbuat seperti ini. Jadi itu alasan Mama yang sebenarnya mengapa dia sering mengunjungi panti asuhan di dekat stasiun itu?"


"Ya, itu alasannya. Dan kita tidak pernah tahu seberapa dalam hati manusia, Luna."


"Kau benar."

__ADS_1


"Sekarang tenangkan hatimu. Aku akan selalu ada untukmu."


"Jadi kau menyelidiki tentang jati diriku sampai sejauh ini?"


"Ya."


"Tapi kenapa kau melakukan semua itu?"


"Apa itu perlu kau tanyakan lagi? Apa masih belum cukup untuk menunjukkan seberapa besar rasa cintaku padamu? Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu."


Luna kemudian mengangkat wajahnya yang saat ini bersandar pada dada bidang Devano, hingga wajah keduanya kini sejajar.


"Terima kasih, Devano."


"I love you? Will you marry me?"


Meskipun rasa sedih masih menguasai hatinya, perlahan Luna pun menganggukan kepalanya. Devano pun berteriak.


"TERIMA KASIH, LUNA! TERIMA KASIH LUNA SAYANG! I LOVE YOU! I LOVE YOU, LUNA!"


"Dasar gila!"


"Gila karena cintaaa, ea ea ea. Cie cie cie... Lunaaaaa... "


"Apa? Cium?" tanya Luna.


"Pintar, ah iya iya Luna. Iya disitu enak sekali Luna!"


"Belummm! Dasar messum!"


"Maaf Neng, Abang Lupa!"


CUP


"Kenapa hanya seperti itu? Yang lebih menantang Luna! Aku contohkan!" ucap Devano. Dia kemudian menatap lekat wajah Luna dengan begitu dalam. Melihat tatapan Devano, Luna pun menundukkan kepalanya.


"Lihat aku, Sayang!" Luna kemudian mengangkat wajahnya, balas menatap wajah Devano dengan manik mata cokelat dan ekspresi wajah yang terlihat begitu menggemaskan.


Devano geram melihat ekspresi wajah polos itu, mata yang bulat, hidung mancung dan bibir tipis yang mengerut. Detik selanjutnya, dia kemudian merampas bibir mungil itu, dan mellummatnya dengan begitu rakus.


Ciuman itu berubah menjadi semakin panas, bahkan tanpa sadar Devano telah mengubah posisi tubuhnya hingga kini menindih tubuh Luna. Tautan bibir mereka tak terlepas sedikitpun, sampai suara deccapan bibir basah diantara keduanya terdengar mengisi seluruh sudut kamar.


Devano melepaskan ciumannya, dan memilih untuk berpindah ke leher Luna. Dia mengunci kedua tangan Luna di atas kepala wanita itu. Lidahnya kini menjelajahi setiap inchi leher Luna, dan meninggalkan tanda kemerahan di sana.


"Hmmmm.., ahhhhh..."

__ADS_1


"Lunaaa, aku sangat merindukanmu.. "


"Ahhhh..."


__ADS_2