
Luna tampak sedang duduk di dalam kamar, dan mengamati sebuah foto yang ditemukan oleh Devano kemarin. Sebuah foto dirinya saat masih bayi.
"Kenapa kalau aku merasa semuanya begitu aneh? Kenapa foto ini ada di rumah Dokter Vallen? Aku yakin keberadaan foto ini di rumah Dokter Vallen bukan karena hanya sebuah kebetulan," ujar Luna. Dia kemudian memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Beberapa saat kemudian, matanya pun kembali terbuka. "Aku baru ingat, bukankah kemarin di rumah Dokter Vallen ada tamu? Apa kemungkinan tamu tersebut ada hubungannya dengan foto ini? Apa ada salah seorang dari mereka yang membawa foto ini? Kalau benar salah seorang ada yang membawa foto ini, pasti salah seorang dari mereka tahu masa laluku. Bahkan mungkin mereka adalah bagian dari masa laluku? Atau bahkan keluargaku?" ujar Luna sambil mengerutkan keningnya.
"Ah sebaiknya aku tanyakan saja pada dokter Vallen, mungkin aku bisa tahu teka-teki dari semua ini."
Luna kemudian beranjak dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamar itu. Saat Luna sedang menaiki tangga suara bel pun terdengar.
TET TETTT
"Siapa yang datang? Apakah Devano sudah pulang? Ada-ada saja kalau sampai siang ini dia pulang ke rumah hanya untuk menyelesaikan sarapan pagi hari," gerutu Luna. Dia lalu berjalan kearah pintu dan membuka pintu tersebut. Namun, betapa terkejutnya Luna saat membuka pintu tersebut dan ternyata Viona yang berdiri di depan pintu itu. Viona tampak mengamati Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil menyunggingkan senyum menyeringai
"Ma-Mama..." ucap Luna terbata-bata.
Mendengar sapaan Luna, Viona lalu mendecih pelan. "Cih, apa kau bilang? Mama? Yang benar saja!" bentak Viona.
Luna hanya tersenyum mendengar perkataan Viona. "Dengarkan baik-baik! Aku tidak sudi kau memanggilku dengan sebutan mama! Camkan baik-baik kalau sebenarnya aku tidak pernah mengakui mu sebagai menantuku! Aku melakukan semua ini hanya karena Devano, dan paksaan dari dokter lucknut itu. Jadi, jangan pernah berfikir kalau aku mau menganggapmu sebagai menantuku! Kau seharusnya sadar kalau kita berbeda, dan kau tidak akan pernah pantas menjadi menantuku!"
Luna hanya tertunduk mendengar perkataan Viona, hatinya sebenarnya terasa begitu sedih, tapi dia mencoba untuk tegar dan tetap tersenyum dihadapan Viona.
"Kenapa kau menunduk? Angkat wajahmu cepat! Bukankah wajahmu itu sangat cantik?"
Luna kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Viona. "Mama, lebih baik kita bicara di dalam. Silakan masuk ke dalam rumah, Ma."
"Di sini saja aku tidak mau berlama-lama bertemu denganmu! Aku hanya ingin memberi peringatan padamu kalau hari ini adalah hari terakhirmu memanggilku dengan sebutan Mama, karena sebentar lagi kau harus bersiap-siap meninggalkan Devano!"
"Tapi Ma, aku sedang mengandung anak Devano."
"Itu bukan urusanku karena sebentar lagi Devano juga akan menikah dengan wanita lain! Wanita yang sudah dijodohkan dengannya dan wanita yang sederajat dengan kami! Tidak sepertimu yang tidak jelas asal-usulnya!"
__ADS_1
"Tapi Devano sudah janji untuk tidak meninggalkan aku, Ma. Dia janji untuk memutuskan pertunangan itu dan lebih memilihku dan anak yang ada di dalam kandunganku."
"Hahaha jangan bermimpi dasar wanita bodoh! Kau mau saja ditipu oleh Devano!"
"Ma aku percaya pada Devano. Setelah semua yang kami lalui, aku sangat percaya pada dia, Ma. Aku tahu Devano sangat mencintaiku."
"Apa sangat mencintaimu? Jangan pernah bermimpi, Luna. Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kalau Devano hanya menginginkan tubuhmu dan tertarik pada kecantikan wajahmu! Itu saja, tidak lebih!"
"Aku percaya pada Devano Ma."
"Hahaha percaya daripada Devano? Sekarang kau bisa mengatakan seperti itu, tapi mungkin kau akan berubah pikiran setelah melihat foto ini," ucap Viona sambil memperlihatkan sebuah foto pada Luna.
Di foto itu tampak Devano sedang duduk di ruang tamu sebuah rumah mewah. "Kau lihat ini baik-baik dan perhatikan tanggal di foto ini! Tadi pagi Devano pergi ke rumah tunangannya. Dia ingin bertemu dengan tunangannya, dan menginginkan pernikahan mereka untuk dipercepat. Jadi, jangan pernah berfikir kalau Devano sudah memilihmu!"
Luna pun hanya terdiam sambil menahan perasaannya yang begitu berkecamuk. Sedangkan Viona mulai tersenyum saat melihat Luna yang saat ini mulai terlihat kebingungan. "Mungkin saja Devano pergi ke rumah itu untuk memutuskan pertunangan mereka."
"Hei, lancang sekali kau berkata seperti itu! Kalau kau tidak percaya, lihat ini pesan dari orang tua tunangan Devano, kalau hari ini dia pergi kesana untuk membicarakan pernikahan mereka!" ujar Viona sambil memperlihatkan sebuah pesan percakapannya dengan Delia. Namun, Luna tidak melihat nama pengirim pesan tersebut, hanya melihat percakapannya. Pada pesan itu, tertulis kalau Devano mulai tertarik pada tunangannya.
Retina Luna pun tampak berembun, hatinya terasa begitu hancur. "Kenapa kau harus menangis? Bukankah sudah kukatakan agar kau jangan terlalu berharap banyak pada putraku? Dia hanya menginginkan tubuhmu yang montok itu. Jadi lebih baik kau terima saja nasibmu! Putraku menikahimu karena ancaman dari dokter itu, tidak lebih Luna! Ingat putraku tidak pernah mencintaimu, jadi lebih baik sekarang kau pergi dari rumah ini! Karena cepat atau lambat kalian pasti akan berpisah! Devano tidak mungkin selamanya menjadi suamimu, karena dia pun sadar kau bukan wanita yang pantas untuknya!" bentak Viona yang kini meninggalkan Luna yang masih menangis.
****
Darren tampak beberapa kali melirik pada Shakila yang saat ini terlihat begitu murung di dalam mobil. "Shakila, kau kenapa? Kenapa kau terlihat kesal?"
"Aku sebenernya sangat kesal, Kak."
"Hahahaha...."
"Kak Darren, kenapa kau malah tertawa? Aku tidak sedang becanda, Kak."
"Kau kesal kenapa?"
__ADS_1
"Kak Darren, aku yakin Dea bukanlah adikku. Meskipun tes DNA belum keluar aku yakin dia bukan adikku. Aku bisa merasakan itu, Kak."
"Kapan tes DNA nya keluar, Sayang?"
"Satu atau dua minggu lagi. Dan itu terlalu lama buatku untuk membuktikan dia adalah adikku. Aku memang membutuhkan hasil tes DNA itu sebagai bukti valid, tapi aku juga ingin menyelidiki apakah dia memang adik kandungku atau bukan."
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Shakila?"
"Kakak, temani aku ke Panti."
"Panti?"
"Ya, panti asuhan tempat Dea dirawat dulu. Ayo temani aku sekarang, Kak!"
"Baik, baiklah Shakila. Kita ke panti sekarang."
Darren kemudian mengendarai mobilnya ke panti asuhan tempat Dea dibesarkan. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di panti asuhan tersebut. Setelah mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya pun membuka pintu panti asuhan itu.
"Selamat sore."
"Selamat sore, maaf mengganggu. Bisakah kita mengobrol sebentar, Bu?" tanya Shakila.
"Oh iya, tentu saja."
Mereka kemudian masuk ke dalam panti tersebut. "Ibu Panti, bolehkah saya bertanya sesuatu tentang Dea?"
"Dea? Ada apa dengan Dea, nak?"
"Ibu Panti, benarkah Dea ditemukan oleh seseorang di dalam gerbong kereta api? Apa anda tahu siapa wanita itu? Maaf saya bertanya seperti ini karena saya hanya ingin berterima kasih pada wanita yang menemukan Dea," dusta Shakila.
"Oh jadi anda ingin tahu wanita yang menemukan Dea?"
__ADS_1
"Ya, apakah anda mengenalnya?"
"Ya, tentu saja. Namanya Ibu Rahma, dia bahkan selalu rutin mengunjungi panti asuhan ini untuk menemui Dea."