Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Kerjasama


__ADS_3

"Akhirya, kau datang juga Kayla!"


"Kau sungguh merepotkanku, Kak Dea!"


"Merepotkanmu? Apa kau lupa kalau aku sampai seperti ini, itu karena ulah suamimu? Bukankah suamimu sendiri yang membuatmu repot seperti ini?"


"Bukan suamiku! Tapi ini semua terjadi karenamu! Karena keserakahan dan kebodohanmu lah kau sampai mendekam di balik jeruji besi ini! Coba saja kalau kau mau menerima keadaanmu yang sebenarnya, kau pasti tidak akan hidup menderita seperti ini."


"Helowww, anak kecil! Kau tidak perlu mengurusiku seperti ini! Kau tidak perlu ikut campur dalam masalahku! Aku tahu tindakan apa yang terbaik untukku."


"Hahahaha tindakan yang baik untukmu? Apa kau tidak lihat bagaimana dirimu sekarang ini? Ini yang menurutmu baik? Mendekam di penjara seperti ini? Kau jangan becanda, Kak!"


"Brengsek kau! Kau tidak usah menghinaku, Kayla! Aku tidak akan tinggal diam! Lihat saja aku pasti akan berbuat sesuatu dan keluar dari tempat terkutuk ini secepatnya!"


"Kak Dea, kau mau melakukan apa? Apa kau tau lihat keadaanmu? Keadaanmu bahkan sangat memprihatinkan seperti ini! Apa kau tidak sadar kalau saat ini sudah tidak ada yang peduli padamu! Hanya mama yang masih memikirkanmu! Jika mama tidak menyuruhku untuk membawakan perlengkapanmu dan makanan ini, untuk apa aku repot-repot datang ke kantor polisi ini. Kau benar-benar merepotkanku!"


"Dan itu semua terjadi karena suamimu!"


"Lebih baik kau diam dan merenungi semua kesalahanmu disini, Kak Dea! Aku mau pulang sekarang, aku tidak mau lama-lama di tempat seperti ini!"


Kayla kemudian membalikkan tubuhnya saat baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba Dea memanggilnya kembali.


"Kayla!" panggil Dea. Meskipun kesal, Kayla akhirnya membalikkan tubuhnya. "Ada apa lagi Kak Dea? Aku tidak mau direpotkan seperti ini lagi! "


"Hei siapa yang mau merepotkanmu? Aku bahkan ingin memberikan penawaran padamu!"


"Penawaran? Penawaran apa?"


"Bekerjasama lah denganku, Kayla!"


"Bekerja sama?" tanya Kayla sambil mengerutkan keningnya. Sedangkan Dea yang melihat Kayla mulai terpengaruh kata-katanya hanya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman seringai di bibirnya.


"Iya Kayla bekerjasamalah denganku!"


***


Luna mengernyitkan keningnya saat melihat Devano yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Kau kenapa Devano?" tanya Luna.


"Luna orang tua kita jahat sekali, kita tidak diperbolehkan pulang. Padahal aku sudah mengatakan pada mereka kalau kau butuh istirahat. Kau sedang hamil, kenapa mereka tidak bisa mengerti?"


"Lalu, apa kata mereka?"

__ADS_1


"Mereka malah menyuruh kita beristirahat di kamar pengantin yang sudah mereka persiapkan. Papa Dimas juga menyuruh kita untuk tidur di rumah ini. Jadi, khusus malam ini, kita tidur di rumah ini. Mereka mengatakan kalau banyak tamu yang datang ke rumah ini, dan kita harus menemui mereka."


"Hahaha...."


"Kenapa kau tertawa Luna?"


"Devano wajar saja orang tua kita menyuruh untuk menginap di sini. Hari ini adalah hari pernikahan kita Devano, tentu banyak tamu undangan yang datang."


"Tapi aku mau berdua denganmu Luna! Kangen, tadi baru kiss dikit kan? Kiss lagi boleh ya!"


"Devanooo yang benar saja, banyak orang Devano!"


"Ya udah, kita masuk ke kamar aja yuk! Lumayan bisa colek-colek dikit," kekeh Devano.


"Baiklah, kita ke kamar. Aku juga sudah lelah," balas Luna. Mereka kemudian bergandengan tangan, beranjak meninggalkan pesta itu, lalu masuk ke kamar pengantin yang telah disiapkan oleh Delia untuk Luna dan Devano selama mereka di rumah itu.


Devano tampak tersenyum nakal setelah menutup pintu kamar pengantin itu. "Kau kenapa Devano? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Neng, Neng Luna!" ucap Devano. Dia kemudian mengangkat tubuh Luna.


"Devano apa-apaan sih! Di luar masih banyak tamu!"


"Kan di luar, bukan di dalem Neng. Abang kan udah bilang kangen, Neng! Tadi malem belum sempet geli-gelian, udah kangen nih. Mau nyobain Neng Luna rasa nikah resmi, pasti sensasinya udah beda Neng."


"Dasar kang modus, sensasi apa? Rasanya pasti sama Devano!"


"Memang kau pikir permen?"


"Bukan, itu iklan air mineral."


Devano kemudian meletakkan tubuh Luna di atas ranjang. "Neng, kok tambah gede? Kepala abang sampe mau pecah nih!"


"Apanya?"


"Itu yang gantung di dada, Neng."


"Astaga, Devano!"


"Sekarang ya!"


"Tapi De... "


Belum sempat Luna menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Devano sudah melummat bibir mungil itu dengan begitu rakus. Saat Luna membalas paggutan bibir Devano, tiba-tiba hujan pun turun.

__ADS_1


"Neng ujan tuh, ga bakalan ada tamu yang dateng kan? Kalo ada yang ketuk pintu, pura-pura aja tidur."


"Terserah kau, memangnya aku bisa menolakmu?"


"Nggak Neng, kan maha benar Devano!"


"Me...."


Belum sempat Luna menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba bibir Devano sudah mendarat di bibirnya, lalu melummat benda kenyal itu dengan begitu bergairah, bahkan sesekali menggigit bibir mungil yang terlihat begitu menggemaskan baginya.


Ciuman Devano lalu turun ke bagian leher, dia menyeesap dan menghirup wangi melati yang ada pada leher dan tubuh Luna, harum dari tubuh seorang pengantin wanita yang terasa begitu menggodanya dan menggugah hasratnya.


Semakin lama, Devano semakin ingin menjelajahi lebih jauh lagi setiap jengkal tubuh Luna. Dia mulai membuka gaun pengantin yang dikenakan oleh Luna, lalu mengusap punggung halusnya dan melepaskan kait bra yang dikenakan oleh Luna.


"Ahhhh..."


Sebuah ******* lolos begitu saja saat Devano mulai menghisap salah satu gundukan kenyal milik Luna dan meremas gundukan kenyal yang lain. Dia lalu memainkan dua gunung kembar itu dengan begitu brutal.


Setelah puas memainkan gundukan kenyal milik Luna, Devano kemudian menghentikan aksinya lalu melihat wajah Luna yang tampak memerah, dan mulai dipenuhi oleh nafsu. Menatap manik cokelat itu yang seolah menatapnya dengan tatapan meminta.


"Devanoooo!"


"I will give you..."


Wajah pasrah Luna bagi Devano terlihat begitu seksi, apalagi tubuhnya yang kini terlihat jauh lebih montok, semakin membuat gairah Devano menggebu-gebu.


Devano lalu mendekatkan wajahnya, melummat kembali bibir itu, dan mulai memasukkan kejantanannya pada liang hangat milik Luna.


"Akh...."


Leguhhan Luna tertahan, saat Devano semakin melummat bibir Luna dengan begitu brutal, padahal Luna sedang merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya.


Devano kemudian melepaskan paggutan bibinya, lalu memainkan pinggullnya dengan tempo yang semakin kencang, dan membuat tubuh Luna mengeliat, dan menggelinjing bak cacing kepanasan. Apalagi sesekali Devano kembali memainkan kedua gundukan kenyal milik Luna saat sedang memancu gerakan pinggullnya.


"Berteriak saja sayang, seperti biasa, di luar hujan. Tidak ada yang bisa mendengarkan kita!" bisik Devano.


"Oughhhhh Devano."


"Oh shiittt Luna!"


Leguhhan panjang keduanya akhirnya menggema di seluruh ruangan, bersamaan dengan rintik hujan yang mulai terhenti.


***

__ADS_1


Kayla tampak menatap sebuah pintu, pintu ruangan kamar perawatan di sebuah rumah sakit. Perlahan, Kayla membuka pintu itu.


CEKLEK


__ADS_2