
Saat Luna sedang duduk sendiri, tiba-tiba dia dikejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya. "Luna bolehkah aku bicara sebentar denganmu?"
Mendengar sebuah suara dari arah samping, Luna lalu mengangkat wajahnya, dan melihat Alvaro yang saat ini tengah berdiri di sampingnya. Ya Alvaro, yang saat ini menjadi tetangganya, teman masa kecilnya, sekaligus putra dari Vallen yang baru saja menyelesaikan study di Singapore sudah menyukai Luna sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Namun, ungkapan cinta yang berulang kali terucap, selalu ditolak oleh Luna. Laki-laki yang beberapa hari ini selalu mengamati kehidupannya dengan Devano, harus kembali merasakan patah hati, patah hati berulang kali pada wanita yang sama.
"Oh Alvaro."
"Luna, apa aku boleh bicara sebentar denganmu?" tanya Alvaro. Luna kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya Alvaro, duduklah!" jawab Luna. Alvaro kemudian duduk di samping Luna. "Apa kabarmu Alvaro? Kemarin kita memang sudah bertemu tapi kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Luna.
"Aku baik, seperti yang kau lihat. Aku sehat, aku baik-baik saja."
"Syukurlah."
"Tapi tidak dengan hatiku," balas Alvaro lirih. Mendengar jawaban Alvaro, Luna kemudian menatap Alvaro dengan tatapan yang begitu dalam.
"Apa rasa itu masih ada, Alvaro? Bukankah semua sudah lama berlalu?"
"Iya Luna aku tahu itu, hari ini aku akan berhenti. Aku akan menghapus semua tentangmu, mengubur semua kenangan masa lalu, dan aku akan mengikhlaskan semua rasa ini. Semua rasa yang pernah kusimpan dan kuberikan padamu."
"Terima kasih Alvaro, maaf jika aku tidak pernah membalas rasa yang kau berikan padaku. Alvaro, kau berhak bahagia. Tapi, maaf bukan aku yang akan mengisi kebahagiaan di dalam hatimu, aku yakin suatu saat nanti kau pasti akan menemukan cinta sejatimu."
"Iya Luna, aku tahu itu. Luna, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja, memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"
"Luna, tolong berikan alasanmu. Apa yang membuat kau jatuh cinta pada Devano?"
Luna pun tertegun mendengar pertanyaan Alvaro, dia kemudian menatap Alvaro sambil mengerutkan keningnya.
"Luna, tolong jawab aku. Tolong jawab pertanyaanku sebelum aku menghapus rasa dan mengubur semua tentangmu. Berikan alasanmu kenapa kau bisa mencintai Devano dan tidak pernah bisa mencintaiku?"
"Alvaro, ini masalah hati."
"Masalah hati? Luna, tolong berikan alasanmu, ada apa dengan hatimu? Tolong berikan jawabanmu pada laki-laki yang sudah sepuluh tahun jatuh cinta padamu tapi tak pernah mendapatkan hatimu."
"Alvaro, ini masalah hati dan sulit untuk dimengerti, yang aku tahu, semua yang ada pada Devano begitu merasuk dan membekas ke dalam kalbu. Entah mengapa, aku merasa tidak bisa hidup tanpa dirinya, semua sikap Devano membuatku merasa ingin selalu bersamanya, meskipun itu sifat manjanya ataupun sikap anehnya."
"Dan semua itu tidak pernah kau rasakan saat bersamaku kan Luna?"
__ADS_1
Luna hanya bisa tersenyum. "Terima kasih atas jawabanmu, Luna. Semoga kau hidup bahagia bersama Devano."
"Iya Alvaro, terima kasih."
Baru saja Luna selesai berbicara, tiba-tiba Vallen mendekat ke arah mereka. "Alvaro! Ayo cepat ke rumah sakit sekarang!"
"Aku pamit Luna, terima kasih atas semua jawabanmu. Semoga kau bisa hidup bahagia dengan Devano."
"Terima kasih, dan sekali lagi aku minta maaf."
Alvaro lalu tersenyum, kemudian bergegas mengikuti langkah Vallen keluar dari pesta itu. Sementara itu Devano yang sejak tadi mengamati perbincangan antara Luna dan Alvaro, kini tampak mendekat ke arah Luna.
"Sayang..."
"Devano."
"Laki-laki itu? Anak Dokter Vallen, dulu dia dekat denganmu?"
"Ya, karena kita sudah saling mengenal sejak di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai SMA."
"Oh, jadi kalian selalu satu sekolah yang sama?"
"Apa dia pernah menyukaimu?"
"Hahhahaha, memangnya kenapa Devano? Kau cemburu? Apa kau lupa saat ini aku sudah menjadi istrimu?"
"Aku sangat cemburu dengan semua laki-laki di masa lalumu. Aku ingin menggantikan posisi Alvaro saat menjadi temanmu dulu. Aku ingin lihat unyu-unyunya istriku, bermain dengan Luna yang unyu-unyu dan menggemaskan pasti menyenangkan sekali."
"Devano, usia kita saja berbeda. Bagaimana kau mau jadi teman sekolahku. Lalu kalau kau jadi Alvaro, aku tidak akan pernah menikah denganmu karena aku tidak pernah menyukai Alvaro."
"Jadi Neng cuma jatuh cinta sama Abang nih? Ya udah abang jadi Devano aja ya Neng, ga usah jadi Alvaro, Alvaroan."
"Ga usah, cukup jadi Devano."
"Neng..."
"Apa? Cium? Malu Devano!"
"Bukan."
__ADS_1
"Terus apa?"
"Mulai saat ini Neng ga boleh liat cowok lain ya selain Abang."
"Apa maksudmu?"
"Ya pokoknya ga liat cowok lain, kalo lagi ngomong sama cowok lain kamu liatnya wajah abang aja yang ganteng ya, Neng."
"Laki-laki yang boleh Neng tatap cuma abang sama Papa Dimas, Kak Darren juga boleh. Selain itu ga boleh ya Neng."
"Astaga, Devano. Itu gimana konsepnya? Ngomong sama orang lain tapi cuma liat wajah kamu?"
"Iya..."
"Susah, Devano. Masa ngomong sama orang liatnya wajah kamu sih?"
"Pasti Neng bisa kok, yang penting semangat."
"Astaga, ini benar-benar dagelan."
"Dagelan akun instagram, Neng?"
"Bukan Devano..."
"Ya ampun, ngegemesin banget sih Neng. Pulang yuk, kangen."
"Pestanya belum selesai Devano, ini masih siang."
"Ijin pulang aja Neng, pura-pura sakit kaya pas jaman sekolah dulu. Bilang aja kamu cape, Devano kecil yang ada di perut pengen istirahat. Aku ijin dulu ya."
"Dasar kau!" gerutu Luna sambil melihat Devano yang berjalan mendekat ke arah orang tua mereka.
Luna tersenyum saat melihat Devano. "Alvaro, kalau kau bertanya padaku apa alasan yang membuatku jatuh cinta pada Devano, aku pun tak tahu. Terlalu sulit untuk kujelaskan. Aku mencinta Devano di setiap lapis waktu, di setiap gores takdir, dan di setiap jalan hidupku, karena hati tidak perlu memiliki banyak alasan untuk jatuh cinta."
***
Seorang wanita tampak masuk ke sebuah kantor polisi, dia tampak mendekat pada polisi yang berjaga lalu diarahkan ke sebuah pojok ruangan yang ada di kantor polisi tersebut. Sebuah ruangan berpintu besi dengan seorang wanita muda yang ada di dalamnya.
"Dea!" panggilnya.
__ADS_1
"Akhirnya kau datang juga!" sahut Dea sambil tersenyum menyeringai.