
Devano tampak memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Setelah itu, dia bergegas masuk ke rumah tersebut lalu memanggil Luna.
"Lunaaaa!"
"Neng Lunaaaa sayang, Abang datang!" panggil Devano.
"Neng Luna, Abang datang Neng!" teriak Devano.
Luna yang saat itu mendengar teriakan Devano hanya diam, dan tampak sibuk memasak makanan untuk makan malam di dapur.
Devano yang melihat Luna sedang sibuk di dapur, lalu mendekat ke arah Luna. "Eh Neng Luna lagi masak? Abang datang Neng!"
Namun Luna masih terdiam. "Neng kok cemberut terus sih?"
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya Devano? Aku akan tetap bersikap seperti ini sampai kau bisa mengambil keputusan! Kau memilih tunanganmu itu atau aku dan anak yang ada di dalam kandunganku!"
Devano kemudian mendekat ke arah Luna, lalu melingkarkan tangannya di perut Luna. "Devano lepaskan aku!"
"Aku memilihmu! Aku memilih kalian! Bukankah sejak tadi sudah kukatakan. Aku memilih kalian," bisik Devano di telinga Luna sambil mengecup telinga Luna.
"Aku perlu bukti!"
"Kita ke rumah Oma Fitri besok!"
"Kau tidak bohong kan?"
"Apa aku terlihat sedang berbohong? Jika aku berbohong...."
"Maka perusahaanmu akan bangkrut dan kau berubah jadi buruk rupa? Itu maksudmu?"
"Ecieee, cieee, Neng Luna masih inget aja kata-kata Abang. Ecie, cieeee.... " kekeh Devano sambil terus mendekap tubuh Luna, dan menyapukan lidahnya ke leher dan pundak Luna.
"Hentikan Devano!"
"Tidak mau! Tanggung!"
"Astaga, kau manja sekali!"
"Neng... "
"Apa?"
"Kangennnn..." Luna hanya menjulurkan lidahnya.
"Astaga, Luna. Memangnya tidak boleh? Aku suamimu, Luna... "
Luna masih terdiam.
"Lunaaaa..."
"Apa?"
__ADS_1
"Ciummm... "
Luna kemudian mengecup bibir Devano.
"Tanggung, Neng. Neng, coba tanyakan pada Dora kangen nggak sama Bang Joni? Neng Luna kan lagi hamil, Dora makin chuby, Neng. Joni tambah kangen kepengin ketemu Dora Neng..."
"Astaga, kenapa aku harus memiliki suami gila seperti ini?"
"Tapi Neng suka kan? Ecie, cie, cie... "
Luna pun tetap mengatupkan bibirnya, meskipun ingin rasanya dia tersenyum. Meskipun baru sehari tidak bermesraan, tapi rasanya seakan sudah begitu lama dia tidak tidak bermesraan dengan Devano. Meladeni sifat manja Devano, dan kesal karena sifatnya yang menyebalkan, sebenarnya Luna sangat merindukan semua itu. Saat sedang termenung, tiba-tiba Devano sudah menempelkan bibirnya pada bibir Luna, lalu melahapnya dengan begitu rakus. Luna pun membalas ciuman itu, ciuman khas dari Devano yang sangat menggebu-gebu, dan tak segan beberapa kali menggigit bibirnya.
"Ecieee, cieee, kangennn nih yeee, udah ha marah nih yeee," ucap Devano setelah melepaskan ciumannya. Luna pun ikut tersenyum simpul. Dia memang begitu merindukan semua yang ada pada diri Devano.
"Lunaaaa...."
"Apa... "
"Gelli-gellian..." ucap Devano sambil tersenyum genit. Namun, belum sempat Luna menjawabnya, tiba-tiba suara bel pun terdengar.
TETTT TETTTT
"Mengganggu saja!" gerutu Devano.
Sementara Shakila dan Delia yang berdiri di depan pintu, tampak begitu cemas menunggu pintu itu terbuka.
TETTTT TETTTT TETTTTT
"Ah mengganggu saja!" omel Devano.
TETTTT TETTT TETTT
"Devano lepaskan pelukanmu!" rengek Luna. Devano kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu perlahan melepaskan pelukannya pada Luna.
"Aku mandi dulu, Sayang."
"Ya," jawab Luna. Dia kemudian berjalan ke arah ruang tamu untuk membukakan pintu. Saat pintu terbuka, tampak sesosok wanita paruh baya yang berusia sekitar hampir lima puluh tahun, dan seorang wanita muda yang kira-kira dua tahun lebih tua darinya.
Melihat seorang wanita paruh baya yang dikenalnya, Luna kemudian menyunggingkan senyumnya. "Tante Delia," ucap Luna.
Delia yang sudah tak mampu lagi membendung gejolak yang ada di dalam hatinya, kemudian langsung memeluk Luna. Luna yang dipeluk secara tiba-tiba oleh Delia pun begitu terkejut. Namun, dia tak bisa menolak pelukan itu dan akhirnya membalas pelukan Delia sambil mengulaskan senyum tipis di bibirnya. Meskipun, tak dapat dipungkiri berbagai tanya tanya begitu menyelimuti hatinya.
'Ada apa ini?' batin Luna disertai raut wajah yang terlihat begitu bingung. Dia kemudian melirik ke arah Shakila yang saat ini juga tampak menatap mereka dengan raut wajah haru sambil meneteskan air matanya.
'Ada apa ini sebenarnya?' batin Luna kembali yang semakin bingung dengan sikap Shakila dan Delia. Apalagi saat ini Delia, kian erat memeluknya dengan begitu terisak.
"Putriku," ujar Delia lirih.
'Apa maksud dari semua ini? Kenapa Tante Delia menyebutku dengan sebutan putrinya?' batin Luna kembali. Luna kemudian menatap Shakila, masih dengan raut wajah yang begitu bingung.
Shakila yang baru menyadari raut kebingungan yang terlihat di wajah Luna, kemudian memegang pundak Delia. "Ma, tenangkan diri Mama. Tolong beri penjelasan dulu pada Luna, jangan buat Luna bingung seperti itu Ma," ucap Shakila. Setelah mendengar perkataan Shakila, Delia pun baru menyadari sikapnya yang sedikit berlebihan dan membuat Luna kebingungan.
__ADS_1
Dia kemudian melepaskan pelukannya pada Luna, dan tersenyum pada wanita cantik itu sambil memandang raut wajah polos yang saat ini masih terlihat begitu kebingungan.
"Maafkan aku," ujar Delia. Luna kemudian menyunggingkan senyum di bibirnya. "Tidak apa-apa Tante, tidak apa-apa," jawab Luna.
Mendengar sebutan tante dari bibir Luna, hati Delia pun begitu teriris. 'Bukan tante, tapi mama. Ah kenapa aku lupa kalau aku belum menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya. Aku yang bodoh, aku sudah bersikap seperti ini, padahal aku belum menjelaskan siapa sebenarnya diriku,' batin Delia.
"Tante Delia, ayo kita masuk ke dalam!" ucap Luna. Delia dan Shakila kemudian menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Luna masuk ke dalam rumah itu, dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu tersebut.
"Luna perkenalkan ini putri pertama tante, namanya Shakila."
Shakila kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangannya, dan dibalas uluran tangan oleh Luna. Seketika Shakila pun tak dapat membendung air matanya saat uluran tangannya dibalas oleh Luna. 'Adikku,' batin Shakila.
Sementara Luna yang mendengar nama Shakila, hanya bergumam dalam hati. 'Shakila? Bukankah tunangan Devano juga bernama Shakila? Astaga jangan-jangan dia adalah Shakila tunangan dari Devano? Kalau benar Shakila ini adalah Shakila tunangan dari Devano berarti tante Delia adalah calon mertua dari Devano? Tapi, ah, bukankah nama Shakila itu banyak? Mungkin saja dia Shakila yang lain?'
"Luna!" Panggil Delia yang saat ini melihat Luna yang masih termenung.
"Oh iya Tante."
"Luna, bolehkah tante mengganggu waktumu sebentar?"
"Oh iya tante, memangnya ada apa? Saya tidak merasa terganggu dengan kedatangan Tante Delia dan putri Tante."
Delia kemudian tersenyum. "Bolehkah tante menceritakan sebuah kisah padamu?"
"Iya tentu saja, memangnya apa yang ingin tante ceritakan padaku? Katakan saja Tante."
"Luna dengarkan tante, setelah mendengar kisahku, kau boleh marah padaku, kau boleh membenciku, dan kau pun boleh meluapkan semua amarahmu. Tapi percayalah dibalik semua cerita ini ada sebuah rasa sayang yang begitu besar, ada sebuah kerinduan yang teramat dalam, dan sebuah rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."
"Iya Tante, memang apa yang akan Tante ceritakan padaku? Ceritakan saja, Tante."
"Luna tante memiliki dua orang putri, yang duduk di samping tante adalah Shakila, putri pertama tante. Pada suatu hari tante mengalami sebuah musibah besar yang membuat tante dan suami tante harus mendekam dalam penjara. Saat itu, suami tante sudah sudah ada di dalam penjara karena kesalahan di masa lalunya, sedangkan tante sebagai seorang istri hanya ingin membela martabat suaminya. Tapi ternyata pembelaan yang dilakukan oleh tante, ternyata berbuah sebuah musibah yang begitu besar, yang membuat tante juga terancam hukuman yang yang berat. Jadi saat itu tante yang tinggal di Jogja, memutuskan untuk menitipkan kedua anak kami pada salah seorang sahabat kami yang berada di Jakarta bernama Roy dan Aini."
Kata-kata Delia terhenti, dia tampak menyeka air matanya, sementara Shakila tampak menggengam tangannya, mencoba menguatkan hati Delia.
"Saat itu, tante pergi ke Jakarta dengan membawa dua orang putri tante, dengan menaiki sebuah kereta api. Saat itu, pikiran tante begitu kacau dan mengalami tekanan mental yang begitu besar. Tante mengalami berbagai pergolakan batin sebagai seorang ibu yang harus meninggalkan dua putrinya dan masuk ke dalam dinginnya lantai penjara. Bahkan, boleh dibilang saat itu tante merasa sangat depresi. Karena itulah saat tante menaiki kereta api itu, tante sampai melupakan putri kedua tante yang saat itu masih masih bayi yang baru berusia tiga bulan."
Delia pun kini semakin terisak, hatinya terasa begitu sakit, seolah tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya. Namun, saat Shakila membisikkan sesuatu agar dia saja yang melanjutkan kisahnya, Delia menolak.
"Biar aku saja?" ujar Shakila lirih.
"Tidak, mama saja," jawab Delia. Sedangkan Luna yang mendengar penuturan Delia hanya bisa termenung.
'Anak Tante Delia tertinggal di kereta api? Bukankah, dulu Devano juga mengatakan kalau aku juga tertinggal di kereta api? Apa yang Tante Delia maksud, bayi itu adalah aku? Apakah ini artinya, aku adalah anak dari Tante Delia? Ah tidak, jangan bermimpi. Aku tidak mungkin menjadi bagian dari keluarga mereka yang kaya raya,' batin Luna.
Setelah sedikit tenang, Delia kemudian membuka suaranya kembali. "Tante tanpa sengaja meninggalkan putri kedua tante di gerbong kereta api tersebut. Namun, saat tante menyadarinya dan kembali ke dalam gerbong kereta api tersebut, putri kedua tante sudah tidak ada di kursi itu. Tante sangat panik dan bingung, tante menanyakan pada seluruh orang yang ada di stasiun dan gerbong tersebut, tapi hasilnya nihil. Tante tidak berhasil menemukan putri tante, namun kesempatan untuk mencari mencari putri tante itu tidak banyak, karena saat itu tante harus masuk ke dalam penjara."
Delia menutup kalimatnya sambil menangis, diiringi suara yang begitu parau. Melihat Delia yang saat ini terlihat begitu sedih, hati Luna bergejolak. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang kini ada di hadapannya, tapi dia sadar jika dia bukanlah siapa-siapa. Namun, mendengar kisah itu, hati Luna terasa begitu sesak.
"Luna tahukah kau, bayi yang kutinggalkan di dalam gerbong kereta api itu adalah kau, Luna. Bayi itu adalah kau!"
Delia kemudian bangkit dari sofa, lalu berlutut di depan Luna. "Luna, aku ibumu. Ibu kandungmu, tolong maafkan aku. Maafkan wanita bodoh ini Luna. Aku ikhlas jika kau membenciku, aku ikhlas jika kau marah padaku, kau berhak melakukan itu. Kau berhak marah pada wanita bodoh ini, Luna."
__ADS_1
Luna pun hanya bisa terdiam, air mata mulai melelah dari kedua sudut matanya, bersamaan dengan sebuah kata yang terucap dari bibirnya. "Mama."