Sekedar Pelampiasan

Sekedar Pelampiasan
Kau?


__ADS_3

Dea memiringkan kepalanya dan menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyuman seringai di wajahnya.


Setelah mengambil tali di bagasi mobil, Devano dan Arka lalu masuk kedalam mobil milik Devano. Mereka kemudian mengikat tangan Dea, setelah tangan itu terikat, Devano duduk di bangku depan, sedangkan Arka duduk di bangku belakang bersama Dea.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah di sampai di kantor polisi. Arka kemudian membuat laporan tentang semua kejahatan Dea, serta memberikan bukti dari kejahatan yang Dea lakukan pada Rahma.


Melihat semua bukti yang dibawa oleh Arka dan Devano, berupa pisau yang digunakan untuk menusuk Rahma serta video pengakuan yang direkam oleh Devano saat Dea sedang bertengkar dengan Shakila ketika mereka berada di ruang perawatan, akhirnya atas pertimbangan keselamatan Rahma, Dea langsung diamankan ke dalam sel yang ada di kantor kepolisian tersebut.


Arka kemudian mendekat ke arah Dea yang saat ini sudah ada di balik jeruji besi. "Kak Dea, kau sudah dewasa, seharusnya kau bisa belajar untuk memahami arti kehidupan. Hidup memang terkadang tidak seperti yang kau inginkan, tapi Tuhan tahu mana yang terbaik bagimu, dan jika rencana Tuhan tidak seperti yang kau inginkan, belajarlah untuk ikhlas dan menerima semua dengan lapang dada. Percayalah, Tuhan tahu mana yang terbaik bagimu, Kak."


"Jangan bersikap sok bijak di depanku, Arka! Kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu, dan semua masa lalu burukmu?"


"Karena semua kesalahanku di masa lalu itulah aku belajar dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik, Kak."


"Cih! Simpan saja semua kata-kata sok bijakmu itu! Aku tahu kau membela mereka karena kau banyak berhutang budi pada Devano kan?"


Saat Arka akan membuka mulutnya, tiba-tiba Devano mencengkram tangan Arka sambil menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya tidak usah ditanggapi, percuma bicara dengan keledai dungu seperti itu."


"Lancang sekali kau Devano!"


Devano tersenyum menatap Dea. "Jadi kau merasa kau adalah keledai dungu? Baiklah keledai dungu, sekarang ingat kata-kataku. Bagaimanapun juga kepura-puraan itu hanya akan berdampak buruk bagi dirimu sendiri. Keserakahan yang ada di dalam hatimu hanya akan menjadi bumerang bagimu, karena bagaimanapun juga menjadi dirimu sendiri jauh lebih baik dibandingkan dengan berpura-pura menjadi orang lain. Kau bisa lihat sendiri kan? Keserakahan akibat kepura-puraan yang kau lakukan, akhirnya membuatmu berakhir seperti ini," ucap Devano sambil tersenyum kecut.


"Dasar kurang ajar kau Devano! Lihat saja, tidak akan kubiarkan kau dan Luna hidup bahagia!"


"Cih, bisa apa kau?" kekeh Devano.


Mereka kemudian pergi dari kantor polisi itu, meninggalkan Dea yang terus mengumpat pada mereka.


"Awas saja akan kubalas secepatnya perbuatan kalian berdua!" teriak Dea.

__ADS_1


***


Selang satu jam kemudian, Devano dan Luna sudah sampai di rumah mereka. "Luna, ini sudah pukul sepuluh malam, kenapa kau malah berdiri di situ? Lebih baik kau istirahat, karena besok kita akan menikah kan? Dan, aku harus mengantarmu pagi-pagi ke rumah Papa Dimas, sebaiknya kita tidur sekarang, biar besok tidak terlambat!" ujar Devano sambil mendekat ke arah Luna, lalu memeluk tubuhnya dari arah belakang. Seraya mengusap perut Luna yang mulai terlihat membuncit.


Luna hanya tersenyum sambil menatap bintang. "Aku hanya tidak menyangka, setelah kisah panjang dan berliku yang kita alami. Akhirnya besok kita bisa menikah, bahkan ternyata kau ada laki-laki yang sudah dijodohkan denganku. Ini rasanya seperti sebuah mimpi. Devano, apakah kau tahu, dulu saat mendengar kata perjodohanmu adalah momok yang begitu menakutkan bagiku. Tapi, ternyata wanita yang dijodoh denganmu adalah diriku sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka kisah kita akan berakhir bahagia seperti ini."


Devano kemudian mengecup tengkuk Luna. "Kau percaya takdir kan? Inilah yang disebut takdir Tuhan. Kau adalah bagian dari takdir Tuhan dalam hidupku. Kau adalah jodohku, jodoh terindah yang diberikan Tuhan untukku. Sachi atau Luna adalah Jodohku, begitu pula dengan Dora yang menjadi bagian dari takdir untuk bertemu dengan Joni. Hahaha..."


"Dasar kau!"


"Lunaaaa..."


"Apa? Cium?"


"Bukan..."


"Terus?"


"Karokean..."


"Ya udah geli-gelian. Coba kau tanya Dora, pasti udah kangen sama Bang Joni."


"Dasar modus!"


"Modus? Mo dielus? Mananya Neng yang mau dilelus?"


"Devanoooo..."


Tanpa mereka sadari, sepasang mata dari arah samping rumah mereka tampak mengamati mereka dengan tatapan yang begitu sayu. Tak berapa lama, sosok tersebut menaiki mobilnya, dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan begitu tinggi.


***

__ADS_1


Sebuah tenda pengantin terpasang dengan begitu kokoh dihiasi dengan dekorasi cantik yang dipenuhi dengan bunga-bunga warna-warni. Sebuah janur pun melengkung tepat di depan tenda menandakan jika rumah tersebut akan melangsungkan proses pernikahan.


Suasana rumah itu memang masih terlihat sepi, belum banyak tamu yang berdatangan. Beberapa buah mobil tampak berhenti di depan rumah itu.


Seorang wanita paruh baya tampak keluar dari salah satu mobil itu sambil menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.


"Akhirnya, putraku bisa menikah dengan Sachi tampa halangan dari wanita sialan itu," ujarnya lirih sambil menatap suaminya dan putranya yang juga keluar dari mobil yang mereka naiki.


"Ayo Ma!"


"Iya Devano."


Saat mereka berjalan memasuki rumah itu, tampak wanita muda dan seorang laki-laki tampan menyembut kedatangan mereka.


"Selamat pagi Tante Viona, Om Roni, Devano."


"Selamat pagi Shakila, selamat pagi Darren."


"Shakila, dimana Sachi?" tanya Viona.


"Sachi? Dia masih dirias di kamar, Tante Viona."


"Bolehkah aku bertemu dengan Sachi?"


"Oh tentu saja, mari kuantar Tante," jawab Shakila. Dia kemudian mengantar Viona ke salah satu kamar tempat Sachi sedang dirias.


"Sachi ada di dalam," ucap Shakila saat mereka sudah ada di depan pintu sebuah kamar. Shakila kemudian membuka pintu kamar itu.


CEKLEK


Mereka kemudian masuk ke dalam kamar itu. "Sachi, Tante Viona ingin bertemu denganmu!"

__ADS_1


Wanita yang baru saja selesai dirias itu kemudian membalikkan tubuhnya, yang seketika membuat Viona begitu terperanjat.


"KAU!" pekik Viona.


__ADS_2