
"Dora? Siapa itu Dora Devano? Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau tidak pernah berselingkuh? Lalu, siapa Dora?"
"Devanooo, kau memang selalu membuat ulah," gerutu Luna.
"Tenang sayang," bisik Devano.
"Begini Ma, Dora itu panggilan kesayanganku untuk istriku tersayang, Ma. Kalau tidak percaya, tanyakan saja ke Luna. Iya kan, Sayang?"
"Iya," jawab Luna sambil tersenyum getir.
"Tapi kenapa harus Dora? Bukankah lebih cantik Luna, atau mulai sekarang kau bisa memanggil dia Sachi," tanya Shakila.
"Oh begini, itu karena Sachi chuby dan juga berponi, sama seperti Dora. Jadi aku memanggilnya dengan sebutan Dora, dan panggilan kesayangan Sachi untukku itu adalah Joni. Jadi Dora dan Joni, itu nama panggilan kesayangan kami, Ma."
"Oh begitu," jawab Delia.
"Devano, kapan aku pernah memanggilmu Joni?" bisik Luna.
"Memang tidak pernah Sachi, tapi kau suka sekali mengelusnya kan? Bahkan, kau lebih suka karokean dengan Joni dibandingkan dengan mic portable kan?"
"Ada-ada saja, kenapa aku harus memiliki suami sepertimu," gerutu Luna.
"Tapi Neng cinta mati kan? Ditinggal abang nikah sama Dea pasti nangis, cie, cie, cie..."
"Terserah mau saja!" gerutu Luna yang selalu kalah berdebat dengan Devano.
"Emh, Devano, Luna. Aku masih penasaran saat kau mengatakan chuby dan berponi? Apa kau tidak salah lihat Devano? Bentuk wajah Sachi saja oval, rahangnya tirus. Bagaimana kau bisa mengatakan kalau Sachi itu chuby? Lagipula potongan rambut Sachi juga tidak berponi," ucap Shakila.
"Oh kalau itu, begini. Kechubyan dan poni milik Sachi cuma aku yang bisa melihatnya, Kak Shakila. Itu rahasia tersembunyi milik kami berdua."
"Astaga, kau ada-ada saja Devano. Jadi kalian sudah berpacaran lama?" tanya Delia.
"Belum Ma, cuma sering putus nyambung gara-gara Mama tidak setuju hubungan kami."
__ADS_1
"Karena saat itu kau harus bertunangan dengan Shakila? Lalu, kalau kau mencintai Sachi, kenapa kau mau melakukan pertunangan itu?"
"Oh itu karena saat itu hubungan kami sedang tidak baik, kami sedang ada masalah salah paham, dan aku juga diancam oleh Mama agar melanjutkan pertunangan itu kalau tidak, keluarga Bu Rahma yang terkena imbasnya karena Arka, adik Sachi juga bekerja di perusahaanku."
"Astaga sampai seperti itukah Viona bersikap padamu Sachi?" tanya Delia, yang tiba-tiba merasakan kesedihan saat mendengar tingkah Viona pada putrinya.
Luna pun menganggukan kepalanya, rasa sedih kembali merasuk ke dalam hatinya, mengingat semua penghinaan dan sikap Viona saat ini.
"Jadi Tante Viona sering bersikap buruk padamu, Sachi?" tanya Shakila.
Luna pun menganggukan kepalanya. "Ini tidak bisa dibiarkan, Tante Viona harus tahu siapa kau yang sebenarnya," geram Shakila.
"Kak Shakila, tenang saja. Aku akan selalu melindungi Sachi dari sikap buas Mama. Dan, aku yakin, kalau Mama tahu Luna adalah Sachi yang sebenarnya, dia pasti akan sangat malu."
"Iya Devano. Aku tahu itu. Besok akan kuberikan bukti pada Mamamu, siapa Luna yang sebenarnya."
"Terima kasih, Kak."
"Devano, memangnya apa yang membuatmu mencintai putriku? Bukankah saat kalian berpacaran, bahkan saat kalian bertemu, kehidupan kalian sangat berbeda?"
"Polos?"
"Ya, dia sangat polos. Apalagi saat dia polos tanpa sehelai benang pun," ujar Devano sambil terkekeh.
Luna kemudian mencubit perut Devano. "Jangan banyak bicara," ucap Luna sambil memelototkan matanya.
"Bilang aja udah kangen kan Neng, mau abang kissss?"
"Malu Devanooo...."
Shakila dan Delia yang melihat tingkah Devano dan Luna pun hanya saling berpandangan. "Sachi, Devano, kami pulang dulu. Sebentar lagi Papa dan Oma pulang, kami harus membicarakan ini dengan mereka. Kami juga harus menjelaskan semua ini pada Viona secepatnya."
"Iya Ma, terima kasih banyak," sahut Luna dan Devano. Delia dan Shakila lalu pulang dari rumah itu, setelah berpelukan kembali dengan Luna cukup lama. Setelah Shakila dan Delia masuk ke dalam mobil dan keluar dari rumah itu, Devano lalu menatap Luna dengan tatapan nakalnya.
__ADS_1
"Sachiiiii, jadi kau Sachi, Neng... "
Luna hanya tersipu malu. Melihat tingkah Luna yang terlihat begitu menggemaskan di mataya, hasrat Devano pun tak bisa lagi dibendung. 'Oh shhitttt kenapa dia selalu bertingkah menggemaskan seperti ini, bagaimana aku bisa mengendalikan diri,' batin Devano. Dia lalu menarik pinggul Luna hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
"Aku menginginkanmu," bisik Devano di telinga Luna. Belum sempat Luna menjawab kata-kata Devano, tangan kuat laki-laki itu sudah membopong tubuh Luna ke dalam gendongannya, dan membawanya ke dalam kamar mereka.
"Devano, kau mengagetkanku saja!" cicit Luna.
"Tapi Neng suka kan digendong abang?" sahut Devano sambil mengedipkan matanya. Luna hanya bisa tersenyum pasrah, dia kemudian menempelkan kepalanya pada dada bidang Devano.
"Luna...."
"Geli-gelian, ya?"
Belum sempat Luna menjawabnya, Devano sudah melummat rakus bibir Luna, lalu menaruh tubuh itu di atas sofa.
"Kenapa di sofa, Devano?"
"Aku ingin sensasi yang berbeda."
"Apa maksudmu?'"
"Ikuti saja."
NOTE: mampir juga ya ke karya bestie othor novelnya Kak Sutihat Bastie Wibowo judulnya Esmeralda canduku, dijamin keren banget loh.
Blurb:
"Jangan coba merayuku dengan ketampanan dan uang, karena aku tidak butuh semua itu! Yang utama bagiku adalah integritas tinggi dari seorang pria, bukan tingkah menye-menye yang menyebalkan. Sekali lagi, jangan mengandalkan tampang dan harta di hadapanku!"
Esmeralda (21 tahun), tidak pernah menyangka bahwa pria yang ditemuinya di gedung tua saat dia tersesat ternyata menaruh hati padanya. Pria itu bernama Maheer (29 tahun), telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap sosok Esmeralda yang cantik, bersuara merdu, memikat dan penuh pesona. Hingga berbagai cara pun dilakukan untuk menaklukkan gadis pujaannya tersebut.
__ADS_1
Akankah Esmeralda luluh dan membalas cinta Maheer?